
Karen membuka tas dan mengambil obat yang dibelinya di apotek dalam perjalanan pulang tadi. Dia membeli obat tidur untuk berjaga-jaga karena hari ini dia takut gelisah dan tidak dapat tidur setelah mengetahui beberapa fakta yang dia temukan.
Satu jam lamanya Karen mencoba tidur secara alami tetapi gagal. Dia pun meminum obat itu sesuai dosis yang dianjurkan.
***
Pukul 4 pagi, Karen membuka mata. Meski telah dibantu obat tidur, tetap saja dia gelisah dalam tidurnya. Apalagi dengan mimpi buruk yang baru saja mampir ke dalam alam mimpinya.
Melihat suaminya terlelap di sampingnya dia kembali menitikkan air mata. Tapi dengan sigap dia menyingkirkan buliran bening itu dengan tangannya. Dia harus kuat.
Matanya menangkap bayangan ponsel Daniel tergeletak tanpa penjagaan. Hati Karen dilanda penasaran. Batinnya bergejolak antara rasa ingin tahu dengan takut kecewa.
Apabila dia menemukan foto atau chat mesra dengan perempuan lain, hancurlah hatinya.
Dia menarik napas dan menguatkan hati untuk membuka ponsel itu. Jika memang benar Daniel berselingkuh, apakah lelaki itu akan sedikit ceroboh meninggalkan jejak di ponsel yang dia gunakan sehari-hari?
Atau dia sudah pada level expert dengan ponsel bersih dan memiliki ponsel cadangan rahasia?
Dia mengambil ponsel itu. Dia memencet tombol power sekali untuk membuka pengunci layar. Namun, ternyata ponsel itu dalam kondisi mati.
Sial, kenapa mati sih? (Karen).
Dia memencet tombol power agak lama tapi tidak dapat juga menghidupkan ponsel. Ternyata dayanya habis.
Dia menancapkan ponsel itu pada kabel pengisi daya. Tak lupa dia menancapkan ujung yang lain pada sumber listrik.
Beberapa menit setelah sedikit terisi, dia menghidupkan ponsel itu. Belum sempat melihat apa pun di ponsel itu, Daniel menggeliat.
Jangan bangun dulu. (Karen).
Daniel terlihat semakin banyak bergerak membuat Karen panik. Dia pun meletakkan ponsel Daniel kemudian kembali memejamkan mata.
Tak lama, Daniel terbangun. Seperti kebiasaan manusia milenial, hal yang pertama dicari saat bangun tidur adalah ponsel. Dia ingat terakhir kali menggunakan benda yang terkadang laknat itu mati karena baterai yang kosong.
Lhoh, handphoneku udah dicharge? (Daniel).
Dilihatnya jam dinding. Pukul 4 pagi. Dia beranjak ke dapur mengambil air minum karena tenggorokannya terasa sangat kering.
Sebenarnya saat Daniel keluar dari kamar, Karen memiliki kesempatan melihat ponsel Daniel. Tapi dia sudah kehilangan rasa penasarannya.
Lagipula, dia tidak tahu akan berapa lama Daniel di luar. Dia takut Daniel segera masuk dan memergokinya sedang menginvestigasi ponselnya.
Mungkin memang hari itu dia belum digariskan untuk mengetahui apa yang ada di dalam ponsel. Kesempatan pagi itu pun terlepas karena dia sudah tidak ingin membuka ponsel suaminya.
~
Kantor Ren's Writer
Haris tersenyum sangat bahagia. "Aku baru ngerasa semesta lagi baik banget sama aku. Aku menginginkan seseorang dan kondisinya sangat mendukung untuk aku sama dia." Haris tiba-tiba meracau ketika sedang minum teh bersama Anggoro di meja kerja masing-masing yang saling berdekatan itu.
Citra yang mendengar suara Haris itu menengok ke arah sumber suara dan memutar bola matanya ke atas.
Dia minum teh apa minum alkohol, sih? Pagi-pagi udah ngelindur. Atau mungkin teh basi? Atau kencing kebo? (Citra).
__ADS_1
"Ya udah, Mas Haris. Kalau memang kondisi sudah pas dan cocok, langsung aja dilamar!" saran Anggoro sembari meneguk teh hangatnya.
"Sedikit lagi, Mas Ang! Selangkah lagi langsung cling. Ini yang namanya semesta mendukung. Aku mau dia, eh suaminya selingkuh. Doakan dia segera cerai dengan suaminyanya, ya."
Anggoro melotot hingga matanya terlihat seperti telur ceplok. "Lhoh, jadi dari tadi kita ngomongin perempuan bersuami? Jangan gitu, Mas Haris! cari yang single aja!"
"Ya, sebentar lagi dia juga single kok ... setelah cerai."
"Jangan nyari jodoh dari hasil doain orang cerai! Suatu saat kalau Mas Haris lagi adem ayem berumah tangga terus ada yang doain persis kayak gitu, gimana jal?"
"Hahaha, kalau aku yang jadi suaminya, aku nggak akan selingkuh. Kan emang rumah tangganya nggak lagi adem ayem. Nggak salah dong aku, Mas Ang."
"Tapi sebaiknya jangan masuk ke kehidupannya sekarang. Tunggu udah ketok palu, nah langsung mau slurrrrppp srupat-sruput, nggak apa-apa dah tuh."
"Ini aku cuma nyicil aja kok nggak langsung langsung nyerobot. Aku tahu etika kok."
Karen masuk ke kantor setelah makan siang sendirian.
"Pppsssttt, si Bos lagi jadi loner. Makan sendiri nggak ngajak Citra sama Inda kayak biasanya," kata Anggoro.
Haris tersenyum penuh kemenangan dan mengikuti Karen ke ruangannya.
"Eh, jangan-jangan orang yang dimaksud tadi itu Bos Karen," bisik Anggoro.
"Bisa juga sih. Dari awal dia kerja di sini, dia itu pegawai baru yang paling akrab sama si bos. Tapi, masak sih dia mau rebut si bos dari dokter Daniel. Kan mereka masih saudara."
"Kalau soal begitu, nggak peduli saudara atau sahabat. Pernah denger kan istilah 'temen makan temen'? Nah kalau ini namanya 'saudara makan saudara'."
"Heheh, kan ngikutin perkembangan selebriti, Cit."
Di dalam ruangan Karen terjadi kekakuan. Karen duduk di kursinya, Haris duduk di depan mejanya. Mereka saling bertatapan tapi tak saling bicara.
Sedangkan Inda merasa mungkin dua orang itu memerlukan privasi seperti sebelumnya.
"Aku keluar dulu, Bos Black," ijin Inda.
"Hmm."
Setelah Inda keluar, Haris angkat bicara. "Kemarin aku belum dapat bukti tambahan, tapi aku dapat nama perempuan di foto dan video itu."
"Siapa?"
"Wah bersemangat banget. Tapi bukan nama lengkap lho ya. Namanya Rose."
"Orang mana? Kamu tahu alamatnya?"
"Mau kamu datengin? Sayangnya aku belum tahu sejauh itu. Nanti aku cari tahu lagi. Tapi kalau udah dapet alamatnya, jangan langsung dilabrak. Intai dulu dan kalau bisa tunggu momen Daniel datang ke rumahnya."
Karen mengangguk kemudian menunduk. Dunia terasa gelap baginya saat ini. Semangat yang kemarin sempat berkobar sudah padam.
"Jadi gimana tawaranku?"
"Tawaran apa?"
__ADS_1
"Aku pernah bilang akan jadi pelindung buat kamu. Kamu mau jadi orang yang kulindungi?"
"Ris, masalahku sama Daniel itu baru hitungan hari. Dan misalnya kami cerai pun, nggak secepat itu lah cari ganti. Malah aku pengen sendiri aja dulu. Kayaknya, otakku overwhelmed sama kehidupan pernikahan."
Karen menyandarkan punggungnya di sandaran kursi sembari menggeliat dan menghela napas yang panjang.
"Hoahhhh, mungkin aku nenangin diri dulu jalan-jalan ke Italia, nikmatin makanan enak di sana biar kayak Eat, Pray, Love. Habis dari Italia, ke Thailand makan tomyam yang asli, terus ke Korea makan kimchi yang asli masakan orang sana."
"Aku ikut, hehe."
"Nggak! Aku mau sendirian aja."
"Aku juga nanti sendiri, tapi tanggal dan tujuannya sama dengan kamu. Kita bisa ketemu di sana tanpa sengaja."
"Pppfffttt." Sejenak Karen terhibur. Namun tawa itu segera lenyap. "Aku tadi malam ke expo. Daniel nggak ada di sana."
"Ya nggak ada lah, kan stand non kuliner cuma sampai jam 6 sore. Kalau malam ya nggak ada. Tunggu ... kamu nggak tahu?"
Karen menggeleng.
Tiba-tiba Haris teringat Karen yang pernah bertanya tentang expo itu. "Kamu tahunya semua stand tutup jam 9 malam?"
Karen mengangguk. "Dan dia pulang sekitar jam 10 malam."
Sekali lagi Haris merasa semesta memang sedang sangat mendukungnya. "Jadi paling enggak 2 sampai 3 jam Daniel nggak diketahui keberadaannya, ya."
"Semalam aku juga ke kamar yang ada di video itu, dan penghuninya udah ganti. Bukan perempuan yang namanya Rose, bukan juga Daniel."
Haris mengangguk. "Mungkin mereka udah merasa nggak aman di hotel itu terus pindah ke hotel lain?"
Karen terhenyak mendengar segala dugaan Haris yang dia rasa sangat masuk akal.
to be continued...
Jogja, July 3rd 2021
***
👸Author: ðŸ˜
👰Karen: Kenapa Thor? Cup cup sayang.
👸Author: Hari ini mulai PPKM, tgl 3 Juli sampai 20 Juli. Job nyanyi author pada cancel aaawww nggak bisa berdendang deh 💃💃💃💃ðŸ˜.
👰Karen: Cup cup Thor, sabar ya.
👸Author: Perlu aku masukin keadaan pandemi ke novel nggak?
👰Karen: JANGAN THOR! Dunia novel adalah dunia halu di mana kita bisa minggat dari segala kefanaan dunia ini, jangan kasih pandemi thorðŸ˜ðŸ˜.
👸Author: Hayah, gampang. Kalau di novel dimasukkin pandemi, aku kasih kalian pesawat luar angkasa buat pergi ke planet lain. Keren kan? Kayak Interstellar gitu. Mau?
👰Karen: Nggak mauðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜
__ADS_1