Emak Aku Pengen Kawin

Emak Aku Pengen Kawin
102. Sedikit Kecewa


__ADS_3

Jam 6 pagi Bibi Sum sudah tiba di kediaman Daniel seperti hari-hari biasanya. Dia memulai pekerjaannya dengan membersihkan ruang komik. Dia langsung membuka ruangan yang terbuka sedikit itu.


"Aaaaaaaaaa ...." Bibi Sum berteriak melihat pemandangan di hadapannya. Buru-buru dia menutup pintu itu lagi. "Maaf, Non. Maaf, Den. Saya nggak tahu kalau ada orang."


Karen dan Daniel pun membuka mata mendengar teriakan Bibi Sum.


"Kami nggak ngapa-ngapain kok, Bi!" teriak Karen dengan suara serak khas bangun tidurnya.


Padahal Daniel dan Karen sama-sama hanya mengenakan selimut. Orang dari penjuru dunia mana pun tahu mereka habis melakukan ritual tralala trilili.


Ya ampun, majikan majikan! Anu anu kok di situ, mana nggak dikunci pula pintunya, kan saya jadi lihat pemandangan. (Bibi Sum).


~


Jam 7 di ruang makan


Kekakuan tercipta di rumah itu. Karen dan Daniel malu, Bibi Sum lebih malu lagi. Entah karena perputaran jaman atau apa, yang melihat justru lebih malu daripada yang dilihat.


Mereka bertiga tertunduk seperti sedang mencari sendal hilang di lantai. Tidak ada yang berani saling menatap.


Untuk mengurangi kekakuan, Bibi Sum keluar dari sana.


Karen menutup wajahnya dengan kedua tangan.


"Kenapa?" tanya Daniel.


"M-A-L-U. Kamu nggak malu?"


"Dikit."


Karen malah sama sekali tidak melihat Daniel merasa malu berkat hemat ekspresi wajah Daniel.


"Bisa-bisanya kamu nggak malu setelah kepergok sama orang lain cuma pakai selimut begitu ... hmmmppphhh ...."


Daniel mencium bibir Karen.


Bibi Sum yang hendak memasuki dapur mendapat pemandangan bonus lagi. Dia menutup mulutnya dengan tangan, mencegah dirinya menjerit seperti tadi pagi. Dia pun memilih mlipir tidak jadi masuk.


Majikan sekarang suka menggoyahkan iman dan taqwa begitu, kan pikiran saya jadi tamasya berkeliling-keliling kota, sambil melihat-lihat keramaian yang ada. (Bibi Sum).


***


Dua bulan kemudian


Kehamilan Asa sudah memasuki bulan ke-9. Sebentar lagi dia akan menghadapi persalinan. Sementara itu kehamilan kedua Lana memasuki bulan ke-5.


Lana menyelenggarakan baby shower untuk Asa jelang kelahiran. Acara kecil itu dihadiri teman-teman dekat wanita Asa termasuk Karen. Para penghuni rumah singgah juga turut berbahagia bersama dan memberi semangat kepada Asa.


Acara itu berlangsung singkat mengingat Asa juga membutuhkan banyak istirahat. Setelah yang lain meninggalkan lokasi baby shower itu, Lana, Karen dan Asa berkumpul di kamar Asa.


Mereka duduk di sofa, Karen berada di tengah. Menengok ke kanan dan ke kiri sama saja, ada 2 perut besar di sana. Hanya saja perut Lana lebih kecil karena usianya baru memasuki 5 bulan. Karen pun mengelus perut ratanya sendiri.


Mereka bersiap melihat video dalam sebuah CD yang dibawa Lana. Namun Lana ragu untuk mengijinkan Asa melihatnya.


"Mbak Asa yakin mau lihat?" tanya Lana mengkonfirmasi.


"Iya. Udah, lihat aja."


"Apaan sih?" tanya Karen yang sedari tadi belum mengerti.


Lana memberikan CD itu kepada Karen. Terbaca di sana 'giving birth'.


"Hah? Giving birth!" pekik Karen.


"Sssttt jangan keras-keras, Ren. Mas Dion nggak tahu. Dia nggak ngijinin."

__ADS_1


Asa segera memasukkan CD itu ke dalam alat pemutar. Pada awalnya, mereka biasa saja menyaksikan seorang ibu menahan rasa sakit.


Namun, kamera bergerak dan memperlihatkan area keluarnya bayi. Proses persalinan ditampilkan dengan jelas di sana.


Lana mengantuk melihatnya. Dulu waktu dia bekerja sebagai perawat, dia sudah terbiasa melihat proses medis.


Dia menoleh ke arah Karen dan Asa. Dia terkejut melihat 2 temannya itu menganga mulutnya.


"Ren ... Mbak Asa ...," panggilnya.


Mereka berdua kompak menoleh ke arah Lana dengan gerakan slow motion. Frustasi tergambar jelas di wajah mereka.


"Hashhh, udah dibilang jangan nonton," kata Lana sembari mematikan video itu. Tapi sudah terlambat, Karen dan Asa sudah melihat proses persalinan hingga selesai.


"Ka-kamu yang udah pernah melahirkan, Na. Kayak gitu juga?" tanya Asa, tergagap.


"Iya, aku kan persalinan spontan. Sama kayak gitu, persis. Tapi, nggak semua orang kayak gitu lho ya, yang operasi juga ada."


"Sakit?"


"Ya sakit dong, diodel-odel begitu masak nggak sa--" Lana tersadar dua pendengarnya makin shock, "--kit."


Karen dan Asa tidak bisa berkata apa-apa.


Lana pun merasa bersalah. "Eheheh, ehm, tapi meski sakit, nanti sembuh kok. Dan nggak lama. Mbak Asa inget kan waktu aku melahirkan, besoknya udah petakilan."


Lana semakin tidak enak, dua temannya itu tidak merespon.


~


"Sa," panggil Dion kepada istrinya yang meringkuk di tempat tidur. "Habis dapat banyak hadiah kok malah ngeringkel di sini?"


Istrinya tak bergeming.


Dion segera memeriksa keadaan istrinya. Tiba-tiba Asa menangis di pelukan Dion. "Aku takut Mas. Aku takut melahirkan," ungkapnya sambil terisak.


"Ssshhh ...." Dion berusaha menenangkan istrinya.


"Kamu mau hamil terus? Nggak pengen ngeluarin dia dari perut kamu?"


"Eh, iya sih. Tapi tetep takut, Mas."


"Kenapa tiba-tiba takut? Kayaknya tadi sebelum baby shower, kamu semangat banget."


"I-itu karena ...."


"Hash, pasti kamu lihat video ya?" tebak Dion.


Perlahan Asa mengangguk.


"Itulah kenapa kemarin-kemarin aku larang! Kamu jadi takut beneran, kan?"


"Terus gimana?"


"Ya nggak gimana-gimana."


"Ikh, Mas Dion!" Asa mencubit perut suaminya itu.


"Gini aja, nggak usah dilahirin aja udah, biarin aja dia di perut terus."


Asa tambah marah dan memukul dada Dion. "Ikh ... ikh ... ikh ...."


~


Di rumah, Karen belum membuka suara pasca pulang dari baby shower Asa di rumah singgah. Entah kenapa, dia jadi enggan berbicara dengan suaminya. Bahkan, Karen membuang wajahnya ketika berhadapan dengan Daniel.

__ADS_1


Daniel melingkarkan tangan di perut Karen. "Ren."


Karen langsung memejamkan mata dan pura-pura sudah terlelap.


Tumben cepet banget tidurnya. Padahal beberapa detik yang lalu masih bangun. (Daniel).


***


Kurang lebih 3 hari setelahnya, Karen memikirkan masak-masak apa yang ada di kepalanya. Dia memikirkan suatu pendirian baru dalam hidupnya yang berpengaruh pada kehidupan pernikahannya kelak.


"Niel, aku mau ngomong sesuatu," kata Karen sembari memangku sebuah map di atas pahanya.


Daniel menutup komik yang sedang dibacanya dan memperhatikan istrinya yang hendak berbicara serius itu.


"Beberapa hari ini aku mikirin sesuatu."


Daniel menyimak.


"Ehm, aku kayaknya nggak pengen punya anak."


"Hm!" Sejenak Daniel terhenyak.


Karen pun mengeluarkan map yang berisi file tentang pasangan-pasangan yang memutuskan untuk tidak memiliki keturunan. Kebanyakan pasangan itu berasal dari negara barat. Orang-orang di negara barat kebanyakan memikirkan dengan hati-hati perihal memiliki anak.


Anak adalah keputusan penting yang menyangkut tanggung jawab dan kesanggupan orang tua untuk mendidiknya. Tidak hanya itu, mereka juga memikirkan jaminan pendidikan anak sejak sebelum memutuskan untuk memiliki keturunan.


Daniel memperhatikan file itu yang memperlihatkan banyak pasangan bahagia tanpa anak. Di masa tua, mereka tinggal di panti jompo. Uang untuk membayar biaya hidup mereka di panti jompo adalah hasil dari kerja keras semasa muda. Namun, panti jompo yang memiliki fasilitas lengkap kebanyakan dimiliki (lagi-lagi) oleh negara-negara barat.


Daniel memejamkan matanya.


Apa karena ini dia tidak mau kusentuh beberapa hari ini? (Daniel).


Beberapa saat berkutat dengan pikirannya sendiri, akhirnya dokter itu mengangguk meski dengan berat hati. Setia dengan ekspresi datarnya, wajah itu tidak menunjukkan akan marah atau kecewa walau ada kelebat kekecewaan itu dalam hatinya.


"Kamu kecewa ya?"


Setiap kali dia tanya perasaanku, selalu serba salah untuk jawab. (Daniel).


Karen selalu melontarkan pertanyaan yang bisa membuat Daniel seperti makan buah simalakampret.


"Aku punya keinginan memiliki keturunan. Tapi ini keputusan berdua. Kalau kamu nggak setuju, nggak apa-apa," jawab Daniel sembari sekuat tenaga mengembangkan senyum kecilnya agar Karen tidak bereaksi berlebihan.


"Kamu beneran nggak marah? Tapi kenapa?" Yah, seolah Karen minta dimarahi.


"Yang akan hamil itu kamu. Your body is your decision."


to be continued...


Jogja, August 20th 2021


***


Buibu, jangan ditiru ya. Yang nggak kuat jangan lihat video detail giving birth. Lihat video bikinnya aja yang hot hot pop indehoy hokya hokya wkwkwk (dosa ditanggung asuransi).


Simak bagaimana nanti Karen akan yakin untuk memiliki anak lagi di beberapa episode berikutnya.


Dan udah segera tamat ini duh author mbrebes mili, rasanya belum ikhlas melepas anakku yg judulnya 'emak aku pengen kawin' ini huhu T.T😭.


Dan terimakasih banget para pembaca yang baik hatinya di sini semua. sun sayang atu2.


Mungkin nggak nyampai 10 episode lagi akan tamat.


Slow aja ya, dariku author baperan yang susah move one😭😭😭


__ADS_1


__ADS_2