
"Ehm ... errr ... maaf, aku cuma lihat-lihat kok."
Daniel tidak menjawab, hanya memandangi Karen dengan wajah datarnya.
"Sumpah, nggak ada yang rusak. Aku balikkin deh." Karen mengembalikan ke tempat semula.
"Kamu boleh memainkannya kalau mau. Kamu istriku, semua barang di sini jadi milikmu juga."
Karen bergidik ngeri mendengarnya. Status istri yang disandang masih sangat terasa aneh.
Ditambah, Daniel yang jarang bicara mengeluarkan kalimat sempurna tanpa cela. Setiap kali dia bicara, kata-katanya seperti sudah dipikirkan dengan baik sehingga terstruktur sangat rapi.
Apa dia itu perfesionis ya? (Karen).
Karena sudah diijinkan, Karen melihat-lihat dan mengagumi koleksi figur Ironman itu.
Kebetulan dia juga sangat suka tokoh itu selain Black Widow yang dikaguminya. Hanya saja, dia tidak sampai memiliki figur mainan sebanyak yang Daniel punyai.
Tidak lama berselang, suara mobil membuyarkan kegiatan mereka. Seseorang datang bertamu. Karen buru-buru membuka pintu depan disusul Daniel di belakangnya yang berjalan lebih lambat.
Ternyata tamunya tidak lain adalah Mama Puri bersama Kendrik yang mampir mengantar kado-kado pernikahan dan foto pernikahan Karen-Daniel yang dicetak sangat besar lengkap dengan bingkai berwarna keemasan.
Mereka meletakkan semua barang yang diantar di ruang televisi.
"Mama kok ke sini sih? Nanti aku sama Daniel aja yang ambil ke rumah," kata Karen sembari memindahkan barang-barang itu.
"Nggak apa-apa, Mama sekalian pengen lihat rumah ini. Kan sebelum menikah, Mama sama sekali belum pernah mampir." Mama Puri penasaran dengan kehidupan anaknya. Tentu saja ingin memastikan Karen baik-baik saja dan berkecukupan di sana.
"Iya, Ma, aku juga baru aja hilang penasarannya," kata Karen, kemudian dia mengecilkan suaranya. "Ternyata rapi dan bersih banget."
"Berarti kamu harus rajin bersih-bersih, Ren! Jangan ceroboh!" Mama Puri juga berbisik.
"Ppsstt, ada ART. Tenang aja, Ma!"
Mama Puri manggut-manggut dan memberikan jempolnya.
"Daniel, apa Karen nyusahin?"
"Enggak, Ma," jawab Daniel singkat sembari tersenyum kecil.
"Yah, baru sehari sih. Nanti kalau udah berbulan-bulan, baru tahu Kak Karen tuh aslinya kayak singa haha ...." Kendrik berkelakar.
Karen menyipitkan mata dan mengatupkan bibirnya. Dia meletakkan tangan di wajah Kendrik. "Nih, ngomong sama tangan!"
"Mama sama Kendrik mau minum apa?" Daniel bertanya sembari tersenyum manis.
"Nggak usah, Mama nggak lama. Cuma anter kado sama foto ini sekalian liat-liat rumah aja. Ini mau pulang lagi. Teman-teman Mama banyak yang mau datang ke rumah." Mama Puri mengambil tasnya. "Ayok, Ken, udah selesai."
Mereka berpamitan.
Karen dan Daniel melepas kepergian mereka di depan gerbang. Daniel merangkul Karen dan melambaikan tangan kepada mereka.
__ADS_1
Jantung Karen berdesir karena kaget dengan rangkulan tiba-tiba itu. Setelah mobil Mama dan Kendrik tidak terlihat lagi, Daniel segera melepaskan rangkulannya.
Karen harus membiasakan diri dengan acting sebagai sepasang suami istri yang bahagia. Itu juga adalah salah satu permintaan Daniel untuk bersikap layaknya suami istri entah itu ada atau tidak ada orang lain.
"Senyum!" kata Karen kepada Daniel.
Dengan canggung, Daniel menarik bibir hingga giginya terlihat.
"Kok aneh? Mingkem! Kamu tadi senyum manis sama Mama, kenapa sama aku nggak bisa? Sini aku bantu."
Karen mencubit pipi kanan dan kiri Daniel sehingga membuat bibir itu tersenyum kecil.
"Aduh ...," erang Daniel.
"Oh, bisa ngomong juga?"
Karen langsung masuk ke rumah. Melihat gundukan kado, hatinya sedikit bahagia. Dia memang tipe yang sangat suka dengan hadiah.
Sebagian dibungkus koran yang sudah pasti dari orang terdekat Karen. Sebagian lagi dibungkus dengan kertas kado biasa.
Daniel dan Karen sudah duduk di ruang televisi untuk membuka kado.
"Mulai dari yang mana dulu ya? Ehm ... yang besar aja ya."
Karen membuka pelan-pelan kado besar itu dan melipat kertas kadonya dengan rapi. Daniel menatap keheranan. Dengan tatapan itu, Karen langsung menjelaskan.
"Kertas kado ini disimpan buat kita bungkus kado untuk nikahan siapa yang bakal kita datangi. Hemat penggunaan kertas, bisa ikut melestarikan lingkungan. Kalau yang dibungkus koran bekas, terserah gimana bukanya."
"Kamu nggak mau bantu buka kado, Niel?"
Dokter itu kemudian mengambil kado dan ikut membukanya. Dia melakukan dengan cara Karen yaitu sangat hati-hati untuk memininalisir sobekan pada kertas kado, dan untuk yang dibungkus koran, dia membuka dengan biasa saja.
Sebenernya dari tadi aku ngomong sama siapa sih? Ada orang tapi diajak ngomong nggak jawab sama sekali. Musti diperiksa dia ini orang apa patung Anubis. (Karen).
"Pppfffttt ...." Karen tertawa dalam diamnya karena mendengar kata hati sendiri.
Dia berusaha menyembunyikan tawa sebisa mungkin, tapi tetap saja badannya bergerak naik turun disertai gelak tawa kecil.
Daniel menatap heran lagi. Karen menyeringai merasa berdosa sudah mengejek suami sendiri di dalam hati.
Kenapa sih dia tertawa-tawa sendiri? (Daniel).
"Hey, Patung Anubis, apa itu isinya?"
Apa? Dia panggil aku apa? Patung Anubis? (Daniel).
Daniel menunjukkan kepada Karen.
"Oh, selimut." Karen membaca kartu ucapan yang terselip di kado selimut itu keras-keras. "Selamat menempuh hidup baru Bos Black Widow dan Dokter Daniel. Sekarang Bu Bos udah punya guling hidup, makanya aku kasih kado selimut aja, from: Inda 'the Cat Woman' dan Soni 'the Cat Man' ...." Karen tiba-tiba malu.
"Pppfffttt ...." Sekarang Daniel yang tergelak kecil mendengar kata Black Widow.
__ADS_1
Sialan! Berani-beraninya dia ngetawain aku. (Karen).
"Ketawa kenapa? Karena Black Widow? Nggak ngaca ya, Mr.Ironman?"
Daniel menghentikan tawa kecilnya dan sadar diri.
Daniel mengambil kado lain yang berbentuk seperti buku dan ya, isinya adalah buku komik. Dia tersenyum bahagia.
"Dari temen kamu ya?"
Daniel mengangguk.
"Kamu udah pesen sama temen kamu buat kasih kado komik kesukaan kamu?"
Dia mengangguk lagi.
Karen menelan ludah. "Mendingan aku puterin dialog film, terus kamu komat kamit lipsync."
Daniel hanya melirik Karen sebentar lalu tenggelam dalam bacaan komiknya lagi.
"Hey, Patung Anubis setengah Ironman, kenapa malah enak-enakan baca komik sih? Bantuin buka kado."
Daniel meletakkan komik kemudian mengambil bungkusan kado berikutnya. Kado itu cukup seukuran buku agak besar dengan ketebalan sekitar 10 cm. Dia mengira itu kado dari temannya yang lain yang memberikan satu seri komik.
Bingkisan warna biru tua itu tidak menggunakan kertas kado melainkan kotak khusus yang sering dipakai untuk meletakkan hadiah. Dia mengangkat penutup dan terlihat kecewa karena isinya bukan lah yang diharapkan.
Apa ini? (Daniel).
Diangkatnya isi kado itu tinggi-tinggi.
Apa itu? Lingerie? (Karen).
Buru-buru Karen merebut dari Daniel dan menyembunyikannya dibalik punggung. Di kotak itu masih terdapat beberapa lingerie. Ternyata isinya tidak hanya satu tetapi 3 buah lingerie.
Daniel mengernyit.
"Ini pasti dari temenku hehe," kata Karen.
"Oh," jawab Daniel singkat.
"Ehm ... kita lanjutin separuhnya besok lagi ya." Karen panik jika nanti menemukan kado aneh-aneh dari temannya.
Daniel mengangguk dan mulai mengangkut sisa kado ke kamar mereka.
To be continued...
Jogja, May 8th 2021
***
***
__ADS_1