Emak Aku Pengen Kawin

Emak Aku Pengen Kawin
11. Akulah Selingkuhan Itu


__ADS_3

Seketika Karen merasa dirinya tidak berarti. Banyak orang yang menyepelekan unggahan foto di laman media sosial. Jika memang itu perkara sepele, kenapa hanya fotonya yang tidak diunggah? Banyak orang mengatakan untuk tidak terlalu membawa perasaan saat berhubungan dengan media sosial. Tapi, bukankah orang yang mengoperasikan media sosial tersebut adalah manusia yang punya hati?


Apa yang tertulis di sana terkadang merupakan perwujudan lahir dari suara hati. Kecuali untuk kaum yang pura-pura baik dan pura-pura bijak.


Kecoak buntung! Mana fotoku? (Karen).


Dia membuka komen-komen yang ada di bawah foto itu. Banyak sekali yang mengucapkan selamat. Dia bingung, apa dia harus menulis komen di sana dan mengatakan bahwa dirinya adalah orang yang telah dilamar oleh Tora?



~


Kendrik telah sampai di rumah. Dia berdiam di kamar menatap nomor ponsel Ratih. Harus bilang apa pada gadis itu? Kendrik tidak tahu gadis itu sedang apa dan sedang bersama siapa. Jika dia sedang bersama Tora, maka rencana mengiterograsinya akan gagal dengan mudah. Tora pasti akan menyuruhnya untuk tidak mempercayai Kendrik.


📞"Halo, Ratih?"


📞"Iya, ini siapa?"


📞"Aku, ehm, aku Damartyo, dari fakultas MIPA, kita sekampus kok di Universitas Vanguard. Aku temennya Monica, temen sekelas kamu."


📞"Ah, ya ya. Ada apa ya?"


📞"Boleh kita ketemu?"


📞"Mau bahas apa ya?"


📞"Sesuatu, ehm, kita ketemu di tempat umum aja."


📞"Oke, kapan?"


📞"Sekarang, bisa?"


Ratih menyanggupi untuk bertemu dengan Kendrik sore itu di kafe Senarai. Sebenarnya dia cukup mengambil risiko karena kemungkinan Ratih akan memberitahu Tora tentang pertemuan ini. Tapi dia tidak ambil pusing, jika benar Tora ikut, dia bisa langsung sekalian mengkonfrontasi Tora.


Jika terjadi keributan, dia sangat bisa mempertahankan diri. Dia adalah seorang senpai (karateka senior) di dunia karate, mudah baginya menghajar Tora.


~


Setibanya Kendrik di kafe itu, dia mengelilingkan pandangan. Ratih sudah berada di sana, sendirian. Dalam hati dia bersyukur atas keberuntungannya bermain gambling dengan nasib itu.


"Ratih? Hai, aku Damartyo."


"Iya, silahkan duduk."


"Begini, to the point aja. Aku mau tahu kamu punya hubungan apa dengan lelaki yang bernama Tora."


"Oh, kamu kenal Kak Tora?"


"'Kak'? Apa dia kakakmu?"


"Bukan, itu cuma karena dia lebih tua aja. Boleh tahu alasan kamu tanya hal pribadi ini?"


"Ehm, kamu jawab dulu, nanti aku kasih tahu alasannya."


Apa dia lagi deketin aku? Kalau iya, cara ini aneh banget. (Ratih).

__ADS_1


"Dia ... Pacarku."


Sudah kuduga. Pantesan, pertama kali aku ketemu sama laki-laki sampah itu rasanya familiar. Dia punya pacar di kampusku dan sering seliweran. (Kendrik).


"Berapa lama kalian pacaran?"


"2 tahun." Jawaban Ratih kali ini membuat Kendrik melongo.


"Apa!"


"Tunggu-tunggu, aku udah ngomongin hubunganku sama dia, kamu harus tepati janji kamu dong kenapa kamu tanya hal pribadi kayak gini?"


Kendrik bingung sekarang. Apa haknya memberitahu Ratih? Tugasnya bertemu Ratih hanyalah memastikan reputasi laki-laki yang mengencani kakaknya. Jika dia mengungkapkan bahwa Tora juga menjalin hubungan dengan kakaknya, esok hari tidak ada lagi live show yang akan dia tunjukkan kepada Karen.


Ya, dia berencana mengajak Karen untuk menyaksikan sendiri kebejatan Tora. Dia tahu sifat kakaknya yang butuh konfirmasi sejelas-jelasnya untuk membuktikan.


"Ehm, aku lagi bikin skenario untuk film pendekku. Boleh tahu gimana kalian ketemu, terus gimana dia sama kamu?"


Skenario film? Dia bukan dari fakultas bahasa da seni kan? Atau mungkin hobi? Akh, bodo amat, jawab aja biar cepet selesai. (Ratih).


"Aku sama dia ketemu di acara malam keakraban, waktu masuk kuliah dulu. Dia dan temen sekampusnya kebetulan di villa yang sama dengan jurusanku."


"Ada yang spesial dari dia? Kebiasaannya? Atau gimana dia bersosial media? Soalnya aku lihat akun dia, nggak ada satu pun foto bersama kamu."


"Ehm, dia orangnya baik. Kalau di sosial media, dia nggak ingin mengekspos hubungan kami. makanya dia punya 2 akun Faecesbook. Akun yang kedua statusnya berpacaran sama aku. Di sana pertemanannya terbatas."


"Oh. Aku add Faecesbookmu ya?"


Ratih mengangguk. "Eh, sebentar. Kamu tadi nanyain soal Tora, lalu nanyain hubungan kami untuk skenario film? Kok bisa? Maksudnya, kenapa bisa kami? Kenapa nggak orang lain?"


Belajar dari si Koreng, kalau perempuan dipuji biasanya lupa daratan kan? Sudah ya, jangan tanya alasanku. Aku janji, nanti kalau urusan kak Ren dan Tora udah selesai, aku kasih kamu bonus informasi tentang laki-laki sampah itu. (Kendrik).


Benar saja, Ratih tesipu malu. Sedari tadi, diam-diam juga dia memperhatikan Kendrik yang tampan. Sedngkan pemuda itu malah bergidik sendiri melihat perubahan di wajah Ratih. Dia berterima kasih dan segera berpamitan.


~


Di rumah


Karen akhirnya bercerita bahwa Tora melamar Karen secara pribadi. Saat ini, dia dan Mama Puri sedang berbincang-bincang mengenai pernikahan. Kendrik tiba di rumah dan bergabung bersama mereka. Dia kaget mendengar pembicaraan Karen dan ibunya.


Ingin dia berteriak, tetapi dia tidak ingin ibunya mengetahui bahwa anak perempuan kesayangannya sedang disakiti.


Setelah ibu mereka tidur, Kendrik mengambil kesempatan ini untuk bicara dengan Karen. "Kak, kenapa malah ngomongin pernikahan kamu dengan Tora. Kirain kamu udah terbuka matanya."


"Mama tadi nanyain Tora soal ribut-ribut kemarin. Jadi aku bilang aja kami ribut karena rencana nikah ini."


Kendrik mengeluarkan ponselnya dan memutar hasil pembicaraannya dengan Ratih. Karen mendengarkan dengan seksama. Mendengar itu, pipi Karen basah.


"Dia udah punya pacar, Kak. Udah sejak 2 tahun yang lalu."


"Bisa aja dia ngaku-ngaku." Sambil sesenggukan, Karen masih mencari celah membela Tora.


"Aku udah menduga kamu masih bakal belain laki-laki itu. Besok ikut aku ke kampus, di taman kuliner dekat rektorat. Cewek ini bilang kalau mereka makan bareng jam 12.30. Kakak lihat sendiri."


Karen mengangguk.

__ADS_1


***


Keesokan harinya, pukul 12.30 di taman kuliner rektorat Universitas Vanguard.


Tora dan Ratih sedang makan bersama. Dari kejauhan, Kendrik dan Karen yang hari itu mengenakan masker, menyaksikan sepasang kekasih itu. Belum ada tanda-tanda gesture yang menunjukkan bahwa mereka pasangan. Mata Karen tajam menatap mereka sambil berdoa dalam hatinya.


Tuhan, tunjukkan, kumohon. (Karen).


Beberapa saat kemudian, mereka bermesraan, saling menyuapi, minum dari gelas yang sama, berpegangan tangan. Semua adegan mesra itu seolah diberondong dalam satu waktu dipersembahkan khusus untuk Karen. Dia melihat ke arah lain, tak kuat melihat adegan itu. Sesaat kemudian dia berdiri.


"Cukup, Ken!" Dia beranjak menuju kolam air mancur yang berada di belakang gedung rektorat, duduk di pinggiran kolam itu. Mulai menangis lagi.


Kendrik menyusul duduk di sampingnya. "Maaf ya, Kak." Dia menepuk bahunya sendiri, menawarkan sandaran untuk kakaknya menangis.


Karen bersandar di bahu Kendrik. "Kok kamu yang minta maaf, kamu kan nggak salah. Oh iya, dari rekaman yang kemarin, mereka udah dua tahun pacaran ya? Berarti aku dijadiin selingkuhan. Sialan!"


"Kamu udahan kan sama dia?"


Karen mengangguk. "Ehm, sebaiknya aku ketemu untuk putusin atau gimana ya, Ken?"


"Apa kalian masih kontak secara intens?"


Karen menggeleng.


Ya ampun, kakakku sayang, kamu yang ngarep kebangetan sampai hampir dimanfaatin. (Kendrik).


"Kalau gitu, ya udah nggak usah ada kontak-kontak lagi. Nggak usah pamit. Ghosting aja."


"Pppfffttt." Karen tertawa dengan mulut tertutup. "Kamu nyuruh aku ghosting? Jahat dong aku jadinya."


"Enggak, yang ini ghosting yang positif. Melindungi diri dari disakiti lebih dalam."


Karen mengangguk setuju. "Terus aku gimana, Ken? Aku nggak jadi nikah, gimana ngadepin keluarga yang udah lihat aku sama Tora di nikahan Mila?"


"Booyah! Yang begituan kamu pikirin? Jangan terforsir kepengen nikah cuma karena takut dighibah orang. Nikahlah dengan orang yang tepat di waktu yang tepat. Everything will be okay." (Semua akan baik-baik saja).


Dari belakang, Monica melihat Kendrik dan Karen yang sedang duduk di pinggir kolam air mancur itu.


Tanpa ragu-ragu, dia mendatangi dua orang itu. "Hey hey hey, dilarang mesra-mesraan di area kampus!"


"Hai, Mon." Kendrik dan Karen mendongak. "Kenalin, ini Kak Karen, kakakku."


Kakak? Aku baru aja bentak calon kakak iparku? Nooo. (Monica).


To be continued...


Jogja, April 11th 2021


***


(ditambahkan pada tgl 24 agustus 2021)


Untuk kebegoan Karen yang masih aja belain Tora ini mirip dengan kebegoan tokoh drakor 'Nevertheless' yaitu Yu Na Bi. Dia tahu kalau Park Jae Eon cuma main-main tapi tetep aja dia suka wkwkwkwk. Yah begitulah cintrong. Hati2 ya, jaga pikiran tetap waras jangan sampai dimanfaatkan.


__ADS_1


__ADS_2