
Karena tidak ada jawaban dari suaminya, Karen memulai. "Aku nggak bolehin kamu lapor ke atasan Tora karena bisa aja dia dipecat. Kalau dia dipecat, dia bisa aja pindah lagi ke Koja. Jadi biar aja dia tetap di sini."
"Kenapa tadi kamu melindungi dia? Apa kamu masih ..."
"Nah itu juga mau aku jelasin. Justru aku lindungin kamu. Kalau kamu mukul dia, lalu dia visum, kamu bisa masuk penjara. Dan banyak CCTV di sana."
"Oke." Daniel menerima penjelasan itu. Masuk akal.
Mereka terdiam sejenak.
"Soal pasien kamu, aku nggak suka dia chat pakai emot-emot kayak gitu."
Daniel memejamkan memikirkan bagaimana mewujudkan keinginan istrinya itu. "Baik. Tolong kasih tahu aku gimana caranya membuat dia chat tanpa emot icon."
Karen seperti kena smash dalam pertandingan badminton, tepat di wajahnya "Ehm ...."
Karen sendiri tak tahu caranya. Dan lagi, emot yang dipakai oleh Puspa masih sangatlah standar. Akan berbeda jika Puspa menggunakan emot yang ekstrim seperti emot hati atau emot cium.
Seperti sudah kalah telak, dia mengalihkan topik. "Pokoknya aku nggak suka kamu sering kontak sama dia. Dia jelas suka sama kamu. Dia mengada-ada banget tanya cara minum obat segala. Semua orang juga tahu cara minum obat itu ditaruh di mulut, terus minum air putih."
Daniel menghela napas. Meski dalam pikirannya dia bergelut dengan logika, dia akan tetap bersikap lembut kepada istrinya.
Daniel mendudukkan istrinya yang sedari tadi berdiri itu. "Aku tunjukkin. Handphoneku?"
Karen menyerahkan ponsel itu kepada pemiliknya. Daniel kemudian mencari gambar obat di mesin pencari Tugel. Dia menunjukkan sebuah gambar obat kepada Karen.
"Ini yang ditanyakan pasienku kemarin. Namanya Isosorbide Dinitrate, termasuk nitrogliserin. Kamu lihat tulisan di label ini, 'sublingual'. Itu bukan untuk diminum seperti obat lain pada umumnya, tapi ditaruh di bawah lidah."
"Ough ...." Dalam hati, Karen sedikit malu sudah marah-marah tidak jelas. "Aku kan nggak tahu."
Kalau nggak tahu kan nanya dulu bukan marah-marah dulu. (Daniel).
"Maaf bikin kamu cemburu."
Karen mengangguk. "Iya. Bukan salah kamu juga sih."
Syukurlah kamu nyadar itu bukan salahku. Ternyata kamu pakai logika. (Daniel).
"Tapi aku tetep nggak suka ada pasien yang keganjenan gitu sama kamu." Karen tetaplah wanita, yang ... begitu pokoknya. (Author: Samaan kita Ren, tos👋)
Daniel memejamkan matanya lagi. "Iya." Jurus terakhir, di-iya-kan saja.
Mereka terdiam lagi.
"Kok tadi kamu semarah itu sampai mau pukul bedebah gila itu? Perasaan, aku bertingkah kayak gimana pun kamu nggak pernah marah. Kenapa kamu tadi nggak bisa tahan emosi? Kerasukan Bucek Lee?"
"Dia menghina istriku."
Tiba-tiba Karen memeluk Daniel. Dia terharu mendengar jawaban itu. Mereka pun terlelap, tidak jadi mengakhiri hari dengan keadaan marah.
***
Keesokan harinya
Pagi hari mereka membeli oleh-oleh dan sorenya kembali ke Koja.
***
Satu bulan kemudian...
Karen dan Daniel sedang menginap di rumah orang tua Daniel. Mami Seli meminta mereka menginap beberapa hari.
Kini, mereka sedang sarapan pagi. Namun, Karen belum terlihat di ruang makan.
"Di mana istrimu, Niel?"
"Lagi keringin rambut, Mi."
"Oh," jawabnya ringan.
Namun, tak lama kemudian, Mami Seli terhenyak. Dia lalu memandangi putranya penuh selidik.
Daniel juga sekarang hobi banget keramas setiap hari. Apa jangan-jangan mereka ...? Setiap hari? (Mami Seli).
__ADS_1
Karen datang dan bergabung bersama mereka.
"Sini Ren, makan. Ehm, kamu sekarang kok hobi banget keramas."
Karen dan Daniel saling berpandangan.
"Iya, Mi. Emangnya kenapa?" tanya Karen.
"Oh, hehem, nggak apa-apa kok," kata Mami Seli canggung.
Stella dan Papi Danu hanya memandang keheranan.
Halah, apaan lagi si Mami nih. (Papi Danu).
~
Malam hari Mami Seli mengajak Karen untuk tidur bertiga bersamanya dan Stella. Mereka tidur di kamar Stella.
"Pokoknya kamu tidur di sini ya Ren. Kamu di tengah, nggak boleh pergi-pergi," titah Mami Seli.
"Iya, Mi," jawab Karen.
Karen mengkode Stella, seolah bertanya ada apa dengan Mami Seli. Namun Stella mengangkat kedua bahunya pertanda tak tahu.
Mereka berbaring bertiga berjajar seperti ikan keranjang siap goreng, untel-untelan.
"Mi, aku ke kamar bentar ya, nanti ke sini lagi kok." Karen meminta ijin.
"Lama nggak?"
"Cuma satu jam kok, Mi, nanti aku balik lagi. Tidurnya di sini."
Pandangan Mami Seli langsung setajam silet. "Nggak boleh, pokoknya kamu di sini aja!"
"Emang kenapa sih Mi, kan nanti Kak Ren tidur di sini juga," bela Stella.
"Hehehem, nggak apa-apa. Pokoknya Mami pengen girls night," kata Mami Seli sembari memeluk Karen.
Waduh, udah dikunci badanku. Nggak bisa ke mana-mana lagi. (Karen).
"Mau ke mana?" Mami Seli langsung sigap dengan gerakan Karen.
"Cuma mau ambil handphone Mi, di samping bantal ini lho," jawab Karen.
"Jangan kelamaan main hp. Terus merem, tidur. Ayo merem sekarang."
"Iya Mi, iya, bentar lagi merem."
Sementara itu, Daniel tidak bisa tidur di kamar sendirian.
📱Daniel: Mami udah tidur belum?
📱Karen: Belum. Ini aku disuruh tidur sama Mami, dipaksa merem.
📱Daniel: Jangan tidur😢😘.
📱Karen: Iya, aku pura-pura aja. Tunggu😘
Karen bertahan, dia memejamkan mata tapi tidak tidur. Setelah Mami Seli memastikan menantunya tertutup matanya, dia pun tidur. Dengkuran Mami Seli terdengar. Baik Stella mau pun Mami Seli sudah terlelap.
📱Karen: Mami udah tidur. Bentar ya, musti ati-ati turun dari kasur, soalnya aku di tengah.
📱Daniel: Iya, pelan-pelan aja.
Dengan hati-hati, Karen turun dari tempat tidur dan keluar dari kamar Stella. Ternyata Daniel sudah menunggu di depan kamar Stella. Dia pun langsung menggandeng istrinya itu dan pergi menuju kamar mereka sendiri.
***
Keesokan paginya, Mami Seli duduk di meja makan dengan kesal. Tak lama, Daniel dan Karen muncul dengan rambut mereka yang sama-sama lembab.
Mami Seli menepuk dahinya.
Keramas lagi keramas lagi. Hadeh. (Mami Seli).
__ADS_1
Mami Seli hanya bisa mengusap-usap dahinya. Dia tidak punya tenaga untuk mengkonfrontasi menantunya itu.
"Mami, kenapa?" tanya Karen.
"Pusing. Eh tapi nggak usah dipijitin. Mami pakai minyak kayu putih aja."
Karen tersenyum geli mengingat pijatannya yang malah membuat mertuanya tambah sakit itu. "Oh ehm, maaf ya Mi semalam aku balik ke kamar. Soalnya ...."
"Ya ya ya, nggak apa-apa," potong Mami Seli.
Harus pakai cara lain. Bergerak sendiri selalu gagal. (Mami Seli).
"Nanti kami pulang ya, Mi," kata Daniel.
"Iya. Oh iya, gimana pengobatan kamu?"
"Hampir sembuh, dosis obatnya tinggal sekali sehari."
Meski awalnya sulit, seiring berjalannya waktu, Daniel menunjukkan peningkatan. Itu karena Karen yang telaten menjalankan perannya sesuai arahan psikiater, ditambah dengan keinginan Daniel yang kuat untuk sembuh.
~
Setelah Stella, Karen dan Daniel pergi, Papi Danu memandangi istrinya yang sedang mengutak-atik ponsel tersebut.
"Mami."
"Hm."
"Mami tuh ngapain lagi? Grecokin mereka lagi?"
"Iya lah! Bayangin, mereka ehem tiap hari, Pi. Gimana mau jadi anak?"
"Akh, bisa aja."
"Tapi berisiko, akh Papi nggak se-tim sama Mami."
"Awal-awal dulu Mami grecokin mereka biar cepet nyatu. Sekarang mereka udah layaknya suami istri pada umumnya, eh Mami grecokin juga. Biar aja, Mi. Mereka lagi menikmati awal-awal, nanti juga berkurang sendiri."
"Ikh Papi. Gini deh, ini usaha terakhir Mami," kata Mami sembari menunjukkan nomer ponsel Dion. "Kalau ini nggak berhasil, selanjutnya Mami cuma bisa doa supaya menantu kita cepet hamil."
Papi mengangguk-angguk.
Dasar Mami. (Papi Danu).
Mami Seli pun menelpon Dion untuk meminta bantuan.
to be continued...
Jogja, August 5th 2021
***
👸Author: Heh, keramas mulu!
👰Karen: Heleh, kayak situ enggak aja.
👸Author: Kamu mau nyaingin eike?
👰Karen: Iya dong!
👸Author: Merem! 😑
👰Karen: Nggak maokkkk
👸Author: Cepet tidurrr.
👰Karen: Danieeelll tulunggg.
🤵Daniel: (bawa karung) Ayo Ren, masuk.
👰Karen: Hah? Masuk karung?
🤵Daniel: Iya. (karungin, bawa kabur)🏃🏻♂️🏃🏻♂️
__ADS_1
👸Author: Buset dah, kabur lagi😒