
Karen menarik Daniel ke tempat tidur.
Hedeh, jangan lagi panggil si bangk3 cicak itu ke sini. (Karen).
Mereka saling berpandangan. Daniel menelusuri wajah istrinya yang bertingkah aneh itu.
"Kalau dipikir-pikir, aku juga suka nonton lewat Konflix kok hehe, bisa diputer ulang kalau ketinggalan adegan." Karen beralibi.
Padahal tadi sampai pengen pindah hotel gara-gara tv. Kok sekarang bilangnya suka nonton lewat Konflix? Akh, dia kan emang gampang berubah-ubah. (Daniel).
"Kakimu?" tanya Daniel sembari membuka-buka ponselnya dan bersandar di tempat tidur.
"Udah mendingan kok, besok kita bisa jalan-jalan lagi ya." Karen duduk di samping Daniel sembari menggandeng mesra lengan suaminya dan menyandarkan kepala di bahu Daniel. "Ehm, Niel, kamu berapa kali jatuh cinta?"
"Lupa."
"Berarti udah berkali-kali dong ya?"
Yes, aku nggak kelihatan jahat-jahat amat punya banyak mantan. (Karen).
"Iya."
"Kalau mengungkapkan cinta, berapa kali?"
"Satu kali."
Sial, jangan-jangan cuma ke aku doang. (Karen).
"Hehem ...." Karen tertawa canggung. "Maksud kamu, cuma sama aku doang?"
Daniel menggangguk. "Aku SM, lupa?" (SM\=Selective Mutism).
"Oh iya. Tapi kan mengungkapkan cinta nggak musti ngomong langsung juga, bisa pakai surat atau lewat temen."
Daniel menggeleng.
Karen menenggelamkam wajahnya di lengan Daniel.
Sial sial sial. (Karen).
Biasanya orang akan bahagia menjadi satu-satunya. Tapi kali ini Karen berharap paling tidak Daniel memiliki seseorang di masa lalu yang pernah dia berikan kata cintanya.
Daniel meletakkan ponselnya dan memeluk Karen. Wajah Karen kini di dada Daniel.
Tadi browsing di Mbah Tugel, kalau istri ngusek-ngusek begini berarti dia minta dimanja. Begitu kan, Mbah Tugel? (Daniel).
(Mbah Tugel: Yo embuh!)
Padahal Karen sedang menyembunyikan wajah bingungnya di dada Daniel.
Lama mereka berpelukan. Setiap Daniel bergerak, Karen mengeratkan pelukan seolah menahan suaminya.
Wajahnya juga semakin menempel di dada Daniel seperti dilem dengan lem merk Cantol, sahabat tambal ban.
Pemandangan itu pun menjadi seperti koala yang enggan melepaskan batang pohon. Cengkeram, cengkeram, cengkeram.
Ini mau pelukan begini aja? Mau ditingkatkan ke level berikutnya nggak ini? (Daniel).
"Ren."
"Hm?"
"Sakit."
Karen tersadar pelukannya terlalu erat dan membuat Daniel lama kelamaan sesak.
"Oh, maaf maaf." Karen melepaskan pelukan.
"Aku mau mandi."
"Ya, ya, oke."
Daniel ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Sementara itu, Karen merebahkan raganya di atas tempat tidur. Dia memejamkan mata tapi tangannya menghitung dengan jari.
__ADS_1
"Si itu pertama, si itu kedua, si itu ketiga, si itu keempat, si Haris kelima, si anu keenam, si bangk3 cicak ketujuh."
Sebelum nikah sama yayang Kudanil, mantanku ada 7? Kalau dulu waktu rumpi-rumpi saat masih muda, mantan banyak itu prestasi. Di umur segini, itu semua berubah jadi aib! Aib! Aib! (Karen).
7 mantan yang dihitung Karen itu hanya yang resmi berpacaran. Masih ada juga mantan 'orang dekat spesial' yang tidak diresmikan.
Namun, jika ditanya, Karen biasanya mengaku mantannya hanya 3 saja yaitu Haris, mantannya saat kuliah dan kini ditambah Tora. Jaga image.
Dia bangkit dari tidurnya dan keluar melihat pemandangan di balkon. Di bawah sana, orang berlalu lalang. Ada banyak penjual makanan di pinggir jalan, becak-becak mengantar para turis dan banyak lagi.
Beruntung mereka mendapat kamar yang mepet dengan jalan sehingga dapat menikmati suasana di luar dari balkon.
Seseorang keluar dari hotel dan menyeberang ke toko elektronik di depan hotel. Tora.
Karen melotot. Dia segera masuk dan menutup pintu kaca balkon rapat-rapat. Tidak lupa, tirai di pintu itu dia bentangkan untuk menutupi pandangannya.
"Bangk3 cicak sialan!"
"Di mana?" Daniel yang baru saja selesai membersihkan diri berdiri di belakang Karen.
"Di-di balkon, udah pergi kok."
"Bangkai? Pergi?"
"Maksudnya, bangk3 cicaknya udah jatuh ke jalan tadi."
"Oh."
Karen kini memandangi suaminya yang hanya mengenakan bathrobe dengan bagian dadanya terbuka. Terlihat dada bidang suaminya ditambah aroma segar keluar dari badan tinggi itu membuat pikiran Karen ke mana-mana.
Daniel berbalik hendak mengambil baju untuk dipakai. Tapi Karen tidak membiarkan santapan menggiurkannya itu pergi begitu saja. Dia memeluk suaminya dari belakang.
Wangi banget, roaaarrr kucabik-cabik kamu. (Karen).
Dan ....
Titik titik titik ....
(Sensor akh nanti pada kepengen🤪)
***
Seperti manusia yang takut akan sesuatu atau jijik akan sesuatu, justru sesuatu itu kan muncul di mana-mana. Contohnya, seseorang takut akan hewan melata. Entah kenapa, matanya justru sigap menangkap posisi hewan melata tersebut berada.
Sama halnya dengan yang Karen alami saat ini. Orang yang sangat dibenci dan dihindarinya justru berkelebat di sekitarnya.
Semalam saat makan malam di resto hotel, dia kembali melihat Tora. Sebenarnya pria itu tidak melihat Karen, dia sibuk wara-wiri bekerja di hotel itu.
Tapi tetap saja, pikiran Karen terganggu.
Pagi ini, deringan telepon membangunkan Karen dan Daniel.
Tertera di layar ponsel itu, Dion.
🎥 "Halo."
🎥"Halo, eh ini kenapa gambar kuping gede banget gini sih. Hoy Pretty Boy, ini video call, kok malah dikasih kuping."
🎥"Oh, maaf."
Karena baru saja membuka mata, Daniel tidak begitu jelas melihat tulisan dan lambang video call.
🎥"Hai Niel, cieee, habis ngapain?" Dion kini dapat melihat pencitraan Daniel. "Bro bro, lihat si Pretty Boy nih," kata Dion kepada Nathan.
Daniel membetulkan selimut untuk menutupi dadanya.
🎥"Cuacanya panas."
🎥"Halah, kamu pikir kami nggak ngerti begituan? Apaan panas-panas?" (Nathan)
"Kan emang bener panas Bro, 'hot' gitu." (Dion)
"Iya juga ya." (Nathan).
🎥"Ehem, ada apa?"
__ADS_1
🎥"Hey Pretty Boy, kamu kebangetan piknik nggak bilang-bilang." (Dion).
"Iya! Dan kami lagi lari pagi, kamu malah enak-enak indehoy." (Nathan).
"Heh, itu mah terserah dia mau ngapain. Sama bininya sendiri juga," (Dion).
🎥"Ehem."
Seperti biasa, dua sahabatnya itu malah ribut sendiri.
🎥"Kami mau nitip oleh-oleh ya. Ehm, yang paling banyak bakpia buat para penghuni rumah singgah. Terus kaos batik, sendal slewah yang kanan kiri beda itu, jangan lupa kaos batiknya kalau ada yang ukuran kecil buat Althan, terus yang kerajinan silver itu, terus apa lagi ya?" (Nathan).
"Heh, nggak efektif ngomong begitu, bisa aja si Pretty Boy lupa, mending kita tulis di Chatsapp bisa dibaca-baca kalau lupa." (Dion).
"Ya udah Niel, dikirim lewat chat aja, salam buat Karen." (Nathan).
🎥 "Iya."
Karen yang sedari tadi memiringkan kepalanya agar tidak terlihat di kamera itu menggeleng-gelengkan kepalanya.
~
Mereka bersiap untuk menikmati keindahan Yogyakarta kembali. Karena sudah hampir habis waktu mereka di sini, mereka akan mengunjungi tempat yang dekat dengan hotel saja dan berburu oleh-oleh.
Penampilan Karen sedikit berbeda kali ini. Dia menguncir rambutnya. Kemudian rambut itu sengaja ditutup dengan jaket. Tak lupa topi juga dia kenakan. Terakhir, masker. Penampilannya benar-benar mirip detektif yang sedang melakukan investigasi.
Daniel keheranan menyaksikan istrinya itu.
"Kok?" kata Daniel sembari menunjuk masker dan topi yang dipakai Karen.
"Oh hehe, sinar ultraviolet bisa ngerusak kulit, jadi biar hemat skincare, mending dilindungi, ya kan?"
Dahi Daniel mengernyit.
Dia belum nerima alasanku? (Karen).
"Ehm, kalau nggak kayak gini takutnya my skin is ngelothok-ngelothok dan nggak cantik lagi."
"Hm." Daniel akhirnya membiarkan Karen dengan penampilan itu. Yang penting Karen tidak bepakaian terbuka, itulah yang akan membuat Daniel marah.
"Biar kita serasi, kamu juga pake topi ya." Karen mengambilkan topi untuk Daniel.
Mereka keluar dari kamar hotel.
Di sekitar front office, mereka berpapasan dengan Tora.
Di mana-mana ya begitu. Yang dihindari malah fashion show mulu di depan mata. Bangk3 cicak berjalan. (Karen).
Karen menunduk, berharap Tora tidak melihatnya. Dan memang Tora tidak mengenalinya dengan penampilan Karen yang seperti itu.
Dapat dipastikan siapa pun yang melihat akan sulit mengenalinya, kecuali Daniel tentunya yang hafal dengan seluruh wardrobe yang dikenakan Karen.
Daniel menghentikan langkahnya.
"Kenapa, Niel?" bisik Karen.
Daniel menengok ke belakang dan memandangi punggung Tora yang baru saja berpapasan.
"Ayo, Niel. Kita pergi " Karen menarik tangan Daniel agar mereka segera pergi dari sana.
Daniel kokoh tidak bergeming sedikit pun. "Tunggu," bisiknya sembari mengamati Tora.
Apa Daniel tahu itu mantanku ya? Dia pernah bilang 2 tahun lalu dia lihat aku dan Tora di rumah sakit sih. Tapi apa dia masih inget sama muka si bangk3 cicak itu? (Karen).
Jantung Karen tidak karuan melihat suaminya memandangi mantan pacarnya itu.
to be continued...
Jogja, July 25th 2021
***
👸Author: Mantan kamu banyak amat!
👰Karen: eheheheh.
__ADS_1
👸Author: Mau buat apa sih banyak banyak?
👰Karen: Mau bikin kesebelasan "barisan para mantan".