
(disclaimer: Daniel berusaha membujuk Karen ini hanya suatu pandangan pribadi tokoh dalam novel ini yang menunjukkan keinginannya memiliki anak, tidak bermaksud mendiskreditkan para wanita yang memilih untuk tidak memiliki keturunan mau pun yang memilih childfree).
Karen tak kuasa menahan tangisnya. Meski Daniel tak berkata apa-apa, dia merasa direndahkan dengan kekagetan Daniel tentang alasannya tak ingin memiliki anak.
Daniel mengulurkan tangan untuk memeluk Karen.
Akan tetapi, Karen menepis kedua tangan itu lebih dulu dan berlari menuju ruang komik. Dia mengunci diri di ruang komik.
Ketukan pintu Daniel tak dihiraukannya. Dia meluapkan segala sesak di hatinya dengan menangis hingga lega.
**Setelah 1 jam**, dia merasa sedikit tenang. Dia membuka pintu dan keluar dari ruangan itu. Dia pun terkejut mendapati suaminya tertidur dalam posisi duduk di samping pintu ruang itu.
"Niel," panggil Karen.
Laki-laki itu membuka mata perlahan.
"Maaf ya, aku tadi emosi."
Daniel mengucek mata. Entah ada pohon sawo berbuah kiwi, atau ada keajaiban apa mendengar Karen meminta maaf lebih dulu.
"Apa kamu takut melahirkan normal? Kamu bisa *sectio caesarea*."
"Astaga, Daniel! Aku baru aja tenang dan minta maaf sama kamu, kenapa kamu seolah masih nawar terus keputusanku?!"
"Bukan gitu, aku cuma ..."
Karen sudah berlalu meninggalkan Daniel dan masuk ke dalam kamar.
Daniel berlari mengejarnya.
"Ren, aku cuma nawarin opsi. Banyak orang yang takut, sama kayak kamu dan memilih operasi."
"Operasi juga aku takut, Niel. Ini kayak kamu dengan *selective mutism* kamu. Aku pun sama. Aku nggak punya kuasa untuk mengontrol rasa takut."
"Tapi aku sembuh. Dan kamu juga bisa sembuh dari rasa takut itu."
"Daniel! Kalau kamu masih coba-coba cari celah buat bujuk aku lagi, aku bakal kabur dari rumah."
Daniel pun terdiam.
*Aku kira ini masalah prinsip childfree. Tapi ternyata bukan. Kalau ini masalah rasa takut, bukankah sama dengan selective mutismku yang bisa aja sembuh? (Daniel*).
~
Malam hari
Diam-diam Karen menghidupkan tablet milik Daniel dan membuka-buka gambar yang membuat Daniel menyembunyikan tablet itu darinya.
*Nggak ada yang aneh dengan gambar ini. Kenapa dia takut banget aku lihat? Apa karena gambarnya belepotan? (Karen*).

Karen terus memandangi gambar kartun kepala anak perempuan berambut merah dikuncir dua itu. Tak menemukan hal yang aneh pada gambar itu, dia menggeser layar.
Di slide berikutnya, gambar yang sama terpampang namun terdapat tulisan 'Darelle'.

*Darelle? Tokoh kartun di film apa? (Karen*).
Dia pun mencari di situs pencarian namun tak mendapat apa pun tentang tokoh kartun.
Daniel pun masuk ke kamar.
Melihat Karen sedang melihat gambar itu, Daniel kembali merebut tablet itu.
"Haih, kenapa sih kok gitu amat? Siapa itu Darelle? Aku nyari-nyari nggak ada tokoh kartun namanya Darelle. Oh, apa kamu lagi bikin tokoh komik? Kamu mau jadi komikus?"
Daniel menggeleng sembari menggaruk tengkuknya.
"Ya udah terus itu apaan?"
__ADS_1
Dengan amat lirih, Daniel menjawab, "*Our late daughter*."
"Apa?! Tuh kan Niel, kamu terus aja nyari celah buat bikin aku terharu dan merasa bersalah nggak bisa ngasih kamu anak."
"REN!" bentak Daniel.
Untuk pertama kali Daniel menghardik Karen.
Karen terhenyak dengan nada bicara Daniel.
Daniel mengusap wajahnya dan menurunkan kembali emosinya.
Dia berbicara sepelan mungkin. "Kamu ingat tadi aku rebut tablet ini biar kamu nggak lihat? Aku sama sekali nggak punya niat untuk membuat kamu merasa bersalah."
Karen memalingkan wajahnya.
"Aku menerima keputusan kamu untuk nggak punya anak.
Tapi apa itu artinya aku nggak boleh punya kenangan dengan anakku yang bahkan belum sempat aku temui?
Aku belum sempat membelikan baju pertamanya, sepatunya, mainan yang mungkin dia suka.
Aku cuma bisa ngasih dia nama di gambar ini tanpa bisa benar-benar memanggilnya."
Suara Daniel bergetar menahan kepedihan...
Dia pun berpaling menyembunyikan setitik buliran bening di wajahnya...
Sudah lama sejak terakhir laki-laki itu menangis...
Meski air matanya tak sederas tangisannya saat kecil, kali ini dia merasakan air matanya begitu emosional...
Setelah peristiwa ini, keduanya tak mampu berkata-kata...
Bahkan dalam waktu yang cukup lama...
\*\*\*
Inda menuangkan air panas dari dalam dispenser di ke dalam cangkir. Dia mengeluarkan sebotol madu dari tasnya dan membuat secangkir minuman madu.
Anggoro dan Citra pun masuk ke ruangan itu. "Minuman apaan tuh, Nda?"
"Madu buat menunjang kesuburan," balasnya.
Karen yang sedang duduk di singgasananya langsung memegangi kepalanya yang mendadak pusing.
*Perkara hamil hamil hamil mulu, nggak ada topik lain apa? (Karen*).
"Kenapa Bos? Apa gundulnya sakit?" tanya Anggoro.
"Iya, pusing, tahu! Dan mual! Pengen muntah! Eneg!"
"Ampun Bos, sentimen amat sih lagi PMS ya?" seloroh Citra.
"Mbuh! Tolong panggil Haris dong."
Citra pun memanggil Haris untuk masuk ke ruangan itu.
"Hai mantan pacarku, beberapa hari terakhir di sini gimana rasanya?" sambut Karen.
"Sedih sih, *part* yang paling sedih adalah aku nggak mampu balikan sama bosnya Ren's Writer."
*Astaga, kenapa bisa segamblang itu ngomong sama mantan? Sama-sama sedeng. (Citra*).
*Gila ya nih orang berdua, nggak bisa bayangin gimana mereka dulu pacarannya. (Inda*).
*Aku suka yang modelan frontal begini. Mantap. (Anggoro*).
"Ckck, gombal. Jangan lupa bantu *recruitment* fotografer baru dulu."
__ADS_1
"Oke. Jangan lupa janji kamu buat bantu usaha kulinerku nantinya."
"Siap."
"Kenapa kalian bertiga ngelihatin aku begitu? Terpesona?" kelakar Haris.
"Kami sedih juga mau kehilangan fotografer tercinta." Anggoro terharu.
"Nggak bener-bener kehilangan kok, aku masih bakal menghantui kalian," kata Haris sembari berlalu dari sana.
\*\*\*
Sudah **beberapa minggu** sejak pertengkaran Karen dan Daniel, sepasang suami istri itu dalam fase canggung. Mereka berbicara hanya seperlunya.
Bagai tinggal bersama orang asing, itu lah kalimat yang cocok menggambarkan situasi mereka saat ini.
Ranjang terasa dingin karena tidak ada kegiatan pergelutan. Dua jiwa yang sebenarnya tinggal berdekatan itu terasa sangat jauh.
Daniel pun merasa perlu mengajukan proposal perdamaian. Semoga tawaran perdamaian itu diterima dengan baik oleh sang istri, begitu doa Daniel.
Daniel mengeluarkan sebuah map.
"Ren, aku minta maaf," katanya sembari menyodorkan map itu kepada Karen.
Karen membuka map itu. Dahinya mengernyit mendapati list nama-nama wanita. "Apa maksudnya ini? Karena aku nggak mau hamil terus kamu mau nikah lagi?"
Hati Karen sudah panas menduga apa kira-kira yang diinginkan Daniel dengan list nama-nama wanita itu.
"Bukan, denger dulu. Ini adalah orang-orang yang membutuhkan transplantasi rahim. Gimana kalau kamu mendonorkan rahimmu?"
"Hah?"
Di luar ekspektasi, apa yang didengarnya ini jauh lebih mengejutkan dari pada dugaan bahwa Daniel ingin menikah lagi.
Dia tidak mampu memberikan respon apa-apa. Mulutnya sedikit terbuka, matanya melotot.
"Ren?" panggil Daniel sembari melambaikan tangan di depan wajah Karen.
"Kamu mau ngajak damai apa ngajak perang, Niel?"
"Begini, maksudku, ini sebagai tanda aku menerima keputusanmu untuk nggak punya anak. Kamu mendonorkan rahimmu pun nggak apa-apa."
"Kamu mau bikin aku sengsara, Niel?"
"Lhoh, salahnya di mana?" Daniel benar-benar tidak mengerti. Dia berpikir eksak.
"Hiiihhh!" Karen \*\*\*\*\*\*\*-\*\*\*\*\* map itu dan melemparkannya ke lantai.
Dia masuk ke kamar mandi dan memandangi wajahnya di cermin. Dia menjambak-jambak rambutnya sendiri.
*Dia itu makan apa, kenapa bisa kepikiran hal-hal yang nggak masuk akal begini. (Karen*).
**to be continued**...
Jogja, August 23rd 2021
\*\*\*
👸 Author: Heh Kudanil, ngapain kamu usul Karen jadi pendonor rahim?
🤵Daniel: Lhoh ya cuma berpikir logis, daripada nggak dipake mending disumbangin, gitu kan?
👸 Author: Ya nggak gitu juga, tunggu dulu siapa tahu Karen berubah pikiran.
🤵Daniel: Ya udah, kalau gitu aku aja yang nyumbangin punyaku.
👸 Author: Hah?! apa yang mau kamu sumbangin?
🤵Daniel: Timun.
👰Karen: Kudaniiillll!!!!! jangan berani-berani nyumbangin timun!!! Gimana nasibku hah?!
🤵Daniel: Ya tinggal beli timun lagi.
__ADS_1
🥒🥒🥒