Emak Aku Pengen Kawin

Emak Aku Pengen Kawin
74. Mengumpulkan Bukti


__ADS_3

"Bentar, aku belum yakin lho kalau Daniel beneran selingkuh. Ini baru 2 dokumentasi yang belum dikonfirmasi sama pelakunya."


"Kira-kira kalau ditanya, orangnya bakal langsung ngaku gitu? Mana ada yang begitu, Ren. Lagian bagian mana dari kedua gambaran ini yang menurutmu bukan aksi perselingkuhan? Fotonya sih bisa lah dibantah. Kalau videonya? Apa perlu kamu lihat liveshownya di dalam kamar itu?"


"Cukup! Enggak!"


"Kalau butuh bukti kuat untuk nyerang dia di pengadilan sih kamu butuh video yang kamu rekam sendiri."


Karen tidak mampu membayangkan jika dia harus menangkap basah suaminya dan harus mengabadikan di dalam bentuk video dengan tangannya sendiri.


"Ya, nanti aku pikirin caranya bisa nangkap basah mereka. Terus foto dan video ini, sebaiknya aku simpen di mana? Aku juga tetep mau pegang filenya sendiri."


"Simpen aja di gadget yang kira-kira nggak pernah dia pegang. Kamu bisa nyimpen di laptopmu yang di kantor," saran Haris.


Karen mengangguk mengerti. Haris pun mengirimkan file foto dan video itu kepada Karen.


Meski tahu suamimu selingkuh, kesedihanmu segini aja Ren? Aku jadi tambah yakin kalau kalian bener-bener nggak ada rasa cinta. (Haris).


Padahal, Karen bukannya tidak bersedih. Dia hanya tidak nyaman mengekspresikan kesedihan di hadapan lelaki yang juga berstatus sebagai mantan kekasihnya.


"Aku cabut dulu, ya. Nanti sore kalau aku ke expo, aku cari lagi bukti yang baru."


Karen mengangguk, Haris pergi dari sana.


Inda yang sudah menunggu sejak tadi akhirnya bisa kembali masuk ke ruangan dan ke meja kerjanya.


"Pada ngomongin apa sih, Bos? Lama amat," kata Inda yang disambut dengan tatapan kosong bosnya.


Tak lama, air mata menetes di pipi Karen. Awalnya, Karen masih tenang sembari mengusap buliran air di pipinya.


Inda mendekati Karen, menepuk bahu dan memeluk bosnya yang sedang rapuh itu. Lama kelamaan tangis itu semakin keras dan pecah menjadi tangisan yang menyayat hati.


"Bos, nangis aja nggak apa-apa, keluarin semuanya."


Inda menemani Karen menangis tanpa berani bertanya apa masalahnya.


~


Karen pulang dengan masih membawa kepedihan di dada. Dia melihat tempat tidur di kamar, tempatnya dan Daniel pernah saling melengkapi.


Dia bahagia mengingat kejadian malam itu, membuatnya menjadi istri yang paling bahagia di seluruh dunia. Dia juga mengingat bahwa di tubuh Daniel sama sekali tidak ada tanda lahir yang pernah disebutkan oleh Mami Seli.


Dari situ lah Mami Seli tahu bahwa beberapa waktu lalu dia belum menerima nafkah batin dari suaminya.


Bibirnya melengkungkan senyum tetapi matanya tak berhenti mengeluarkan buliran bening.


Nafkah batin memang terlambat dia terima. Namun, nafkah lahir, Daniel selalu mencukupi. Dia selalu memberikan setengah dari penghasilannya.


Jika tidak ada perselingkuhan, sungguh Daniel adalah figur suami yang sangat sempurna.

__ADS_1


Daniel tidak pernah peduli sebesar apa penghasilan istri, dia tetap dengan gagahnya memberikan nafkah. Kebutuhan rumah sampai hal yang terkecil sekali pun ditanggung olehnya.


Dalam hati dia terus bertanya pada diri sendiri, mampukah dia berpura-pura tidak tahu? Mampukah dia seperti para istri yang kuat untuk 'main cantik' atas kondisi ini?


Kemarin-kemarin aku bahkan khawatir Daniel makan apa, udah istirahat atau belum? Aku jadi kayak orang bodoh. (Karen).


Bibi Sum datang pada pukul 6 sore dan langsung menyiapkan makan malam karena tidak ada tanda-tanda Karen memasak.


"Non, makan!" kata Bibi Sum.


"Iya, Bi, makasih."


Karen menyantap makanannya dengan enggan. Hanya dua suapan yang mampu ditelan. Suapan berikutnya tidak bisa lagi masuk ke mulutnya. Dia pun minum.


"Bi, saya pergi dulu ya."


Karen bersiap-siap dan pergi ke Hotel Grand Astan.


Dia memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia bahkan hampir menabrak pengguna jalan yang lain karena emosi tidak terkontrol.


Menyadari kecerobohannya di jalan raya, dia memperlambat laju mobil dan mencoba menenangkan diri sendiri.


Tenang, Ren, simpan tenaga untuk hajar pasangan selingkuh itu. Jangan habiskan energi buat ribut sama pengendara lain di jalan. (Karen).


Pukul 7 malam dia sampai di hotel. Di parkiran dia melihat Haris yang sudah akan pergi dari sana. Dia pulang lebih awal rupanya, begitu pikir Karen.


Dia memasuki atrium di mana stand-stand makanan sedang mengadakan acara di sana. Dia pun ke bagian stand non makanan.


Karen bertanya kepada EO (Event Organizer) yang mengawasi jalannya acara.


"Mari, Kak, ada yang bisa dibantu?" sapa seorang anggota EO melihat Karen mendekat.


"Maaf mau tanya, ini kok stand-nya kosong ya? Apa lagi istirahat?"


"Stand yang non kuliner memang hanya dari pagi sampai jam 6 saja, Kak."


"Oh gitu, makasih ya."


Ternyata seharusnya Daniel pulang pukul 6 sore. Kenyataan ini makin menguatkan segala dugaan di hati Karen.


Kemudian dia menyiapkan kamera di ponsel untuk menangkap basah Daniel dan wanita yang bersamanya. Dia masih ingat dengan jelas nomor kamar di video itu, 207.


Dia naik ke lantai 2 hotel itu dan mencari kamar nomor 207.


Kini kamar 207 ada di hadapannya. Dengan gemetar dia mengentuk pintu. Beberapa kali diketuk, pintu itu belum juga terbuka. Itu membuat Karen semakin membayangkan hal yang bukan-bukan di dalam sana.


Akhirnya, pintu dibuka oleh penghuninya. Namun, penghuni kamar adalah seorang laki-laki yang tidak dikenalnya.


"Ada apa, ya?"

__ADS_1


"Oh, ehm maaf, kayaknya saya salah kamar. Maaf ya."


Dia pun mematikan kamera di ponsel yang dia genggam. Untunglah Karen tidak gegabah untuk langsung marah-marah. Jika tidak, pasti dia yang malu sendiri.


Dia turun kembali ke atrium dan duduk sembari melihat stand-stand makanan sedang berjualan produk sekaligus berjualan bisnis mereka.


Dia menoleh dan menatap stand rumah sakit Keluarga Bahagia yang telah kosong. Dia mengeluarkan ponsel dan mengirim pesan kepada Daniel. Sebisa mungkin dia bersikap biasa. Jangan sampai Daniel tahu bahwa Karen sedang mengumpulkan bukti.


📱Karen: Niel, kamu masih di expo Hotel Grand Astan? Pulang jam berapa?


📱Daniel: Iya. Mungkin jam 10 atau 11. Baik-baik di rumah ya 🙂


📱Karen: Iya 🙂


Untuk pertama kali Daniel menggunakan emoticon dalam chatnya untuk Karen. Ironis sekali hal itu dilakukan di tengah dugaan perselingkuhan.


Jelas-jelas Karen berada di dekat stand rumah sakit Keluarga Bahagia, tidak ada satu orang pun di stand itu.


Dia meng-capture percakapan dengan Daniel di aplikasi chat. Dia juga memotret stand itu dan membuat collage foto kedua gambar (foto stand rumah sakit dan screen capture pesan Chatsappnya dengan Daniel).


Dengan penggabungan foto itu sangat terlihat perkataan Daniel yang berbeda dengan kenyataan.


Dia segera pergi dari tempat itu sebelum air matanya tidak bisa lagi ditahan.


Kemarin-kemarin dia sangat ingin bertemu dengan Daniel. Kini dia malah berharap tidak bertemu dengan suaminya. Dia takut tidak bisa berpura-pura baik-baik saja selama mengumpulkan bukti.


Aku nggak habis pikir, Niel. Kamu orang yang nyaris sempurna bisa ngelakuin hal hina kayak gini. Kenapa juga kamu lakuin ini setelah malam itu. Harusnya kamu jangan menyentuhku. Aku jadi jijik banget sama kamu. (Karen).


to be continued...


Jogja, July 2nd 2021


***


👰Karen: Thor😭


👸Author: Tenang, Nduk.


👰Karen: Kok jahat sih Mbah Thor.


👸Author: Namanya juga hidup, harus ada cobaannya. Namanya juga novel, harus ada konpliknya.


👰Karen: Jangan lama-lama Mbah😭


👸Author: Ya, paling 2 atau 3 episode deh. Kamu nangis aja dulu, tapi jangan lupa kompres matanya pake teh kantong biar nggak bengep.


👰Karen: Dasar simbah simbah author gemblung😒


👸Author: Heh, jangan main-main ya! Ini simbah simbah author rock n roll yeahhh🤘🤘🤘. Tak nyanyiin lagu 'Akulah Giant' baru tahu lu!

__ADS_1


👰Karen: Ampun, jangan Mbah! Kasian telingaku.


__ADS_2