
Karen merasa berat untuk menjawabnya.
Namun, dia mengingat banyak kejadian minggu ini yang sungguh bermakna baginya. Obrolan ringannya dengan Lana dan Asa berhasil menunjukkan bahwa Daniel pun turut berjuang meski berbeda dari kebanyakan orang.
Dia juga banyak bertemu orang di dalam angkutan umum menyadarkan bahwa setiap orang memiliki ujiannya sendiri-sendiri.
Yang paling berkesan adalah ketika dia bertemu dengan seorang ibu yang sedang memperjuangkan pengobatan untuk sang anak.
Daniel seperti anak itu. Dia lain dari teman-temannya. Meski begitu, keluarga tetap mencintai, menerima kekurangan dan memperjuangkan kesembuhannya.
Lama Karen belum menjawab membuat pikiran Daniel melayang ke mana-mana. Dia khawatir Karen akan memberikan jawaban yang membuat kecewa.
"Ehm, sebenernya kemarin hampir. Tapi hari ini aku mutusin. I'm not giving up."
Daniel memandang Karen sembari menyunggingkan senyum di tipis di bibirnya.
"That's it? Kamu cuma senyum gitu doang?" protes Karen dengan senyum tipis Daniel. Bahkan karena saking tipisnya, mungkin hanya kamera mikroskop yang dapat menangkap ekspresinya. (Karen kok bisa lihat? Yah, dia pawangnya Daniel).
"Harus gimana?"
"Rangkul kek, cium kek."
"Oh." Daniel merangkul dan mencium kening Karen.
Karen memandangi boneka tokoh kesayangannya dalam komik Eyeshield 21 itu. Hanya Daniel yang tahu dia mengidolakan sosok antagonis di komik itu.
Selain adiknya, hanya Daniel yang tahu Karen menyukai hal absurd itu.
"Kamu mau tanya apa?" Daniel ganti bertanya.
"Aku? Oh, ehm ...."
Tadinya aku mau tanya apa kamu akan sama-sama berjuang? Tapi, aku lihat kamu ke sini meski pastinya disuruh Dokter Nathan dan Dokter Dion. Dan kamu rela minum obat itu lagi demi bisa ngomong sama aku. Bener kata Lana, perjuanganmu emang nggak kelihatan. Nggak kelihatan bukan berarti nggak berjuang. (Karen).
"Nggak jadi. Udah kejawab kok," ujar Karen. "Oh iya, obat yang ada di kamu mulai besok nggak usah diminum lagi. Ganti pakai obat yang ada di aku."
"Apa bedanya?"
Karen terkejut dengan pertanyaan itu. Dia harus memberikan jawaban yang bagus agar Daniel tidak curiga. Mudah bagi seorang dokter untuk mengetahui tentang obat.
Karen berpikir keras memikirkan alasannya.
"Ehm, obat baru yang di aku itu untuk penyembuhan jangka panjang."
Semoga masuk akal jawabanku, aku nggak ngerti obat Ya Tuhan. Tolong jangan sampai dia curiga. (Karen).
Daniel mengangguk. "Kamu naik apa?"
"Naik bus."
"Aku antar pulang."
"Kamu nggak pulang ke rumah kita?" tanya Karen sembari menyelipkan harapan di sana.
"Mami masih marah. Tapi aku udah ngomong sama Mami tentang semuanya dan dia kurangi hukumannya."
Karen mengangguk. "Oke. Ehm, take me on a date."
Daniel mengernyit.
"Ini kan malam minggu. Aku mau makan di luar, nonton bioskop. Kamu kan nggak pernah ngajak aku kencan."
__ADS_1
"Waktu kita ke anniversary restoran itu bukan kencan?"
"Bukan, itu kan kita gantiin Dokter Dion bukan kamu yang inisiatif ngajak sendiri. Habis itu kamu kelihatan marah pula waktu pulang." Meski Karen menyatakan kekesalannya, namun bibirnya melebar menunjukkan senyum mengingat dansa mereka di restoran itu dan kejadian setelahnya di rumah. (Anu itu lho๐).
"Oh, ehm, maaf aku bukan suami yang baik."
"Iya, kamu emang bukan suami yang baik." Karen mulai iseng dan menikmati raut wajah Daniel yang menjadi sedih. "Kamu bakal jadi suami terbaik sedunia kalau kamu ngajak aku kencan sekarang. Ayo!"
Mereka berpamitan kepada para penghuni rumah singgah kemudian pergi berkencan. Ini adalah pertama kali mereka berkencan sesungguhnya.
Sebelumnya, saat belum menikah, mereka pernah berkencan. Akan tetapi, itu atas inisiatif Mami dan saat itu mereka seperti dua orang asing yang bahkan tak saling menatap.
"Niel, aku punya rules buat kencan kita sekarang. Kamu harus tanya-tanya sama aku dan harus kamu yang ngajak ngomong duluan."
Daniel mengangguk.
"Dan kalau kita ngomong, kamu nggak boleh jawab pakai anggukan atau gelengan. Harus pakai kata-kata."
"Oh, oke."
Daniel tidak begitu khawatir saat itu karena dia masih dalam pengaruh obat. Bagaimana saat obatnya tidak diminum? Mungkin dia kembali ke mode mute.
"Dan, besok seterusnya, kamu juga ngomong sama aku nggak boleh jawab pake anggukan atau gelengan." Skak!
"Hm?!"
"Itu kata psikiaternya lho, mau sembuh nggak?" goda Karen.
"Iya."
Daniel memacu mobilnya menuju sebuah mall di pusat kota.
Dalam perjalanan, Karen sibuk melihat jadwal film yang akan tayang di bioskop yang mereka tuju. Hampir saja dia memilih film roman.
Setelah makan malam di dalam restoran yang juga berada dalam mall, mereka menuju ke bioskop.
Daniel membeli popcorn dan minuman untuk mereka.
Di kursi yang disediakan di luar studio, mereka duduk menunggu jam pemutaran film.
Sebuah pesan Chatsapp muncul di ponsel Daniel.
๐ฑBibi Sum: Den, maaf ini Non Karen belum pulang.
๐ฑDaniel: Nggak apa-apa Bi, Karen lagi sama saya kok.
๐ฑBibi Sum: Oh syukurlah Den, saya kira Non Karen hilang lagi.
Karen ikut melihat pesan itu kemudian merebut ponsel milik Daniel. Dia melihat history chat suaminya dengan Bibi Sum. Isinya rata-rata menanyakan Karen dan meminta Bibi sum memotretkan Karen.
Karen memandangi suaminya. "Kamu chat sama Bi Sum terus, kenapa nggak chat aku?"
"Aku kira kamu nggak mau diganggu."
"Ya nggak salah sih, tapi bukan gitu. Kamu tetep harus nanyain kabar aku."
"Udah kok, lewat Bi Sum."
"Iya juga sih, aaarrrggghhh."
Kenapa sih aku selalu kalah debat sama dia. (Karen).
__ADS_1
Ponsel Daniel berdering lagi. Kali ini telepon dari Mami Seli. Dia khawatir Daniel belum pulang.
๐"Halo, kamu di mana Niel, kok belum pulang?"
๐"Aku lagi pergi sama Karen, Mi."
๐"Apa? Kalian kan lagi dihukum!"
๐"Maaf ya Mi, cuma bentar kok."
๐"Ini bukan masalah sebentar atau lama. Cepetan pulang!"
๐"Iya, Mi."
Daniel meng-iyakan saja agar Mami Seli segera menutup sambungan teleponnya.
Karen mendengar pembicaraan Mami dan Daniel di telepon.
"Mami masih marah karena kontrak atau karena kabar aku hamil?"
"Kontrak."
Mami Seli kembali menelpon. Namun, Daniel tidak menggubrisnya. Dia menolak panggilan telepon itu dan mematikan ponselnya.
"Lhoh kok dimatiin?"
"Iya, Mami bakal nelpon terus. Handphonemu mana?"
Karen memberikan ponsel miliknya. Daniel juga mematikan ponsel milik Karen. Jika Daniel tidak bisa dihubungi, Mami pasti akan menelpon dan memburu Karen.
Mereka berdua berpandangan kemudian tertawa kecil.
"Niel, dulu kamu naruh kontrak itu di meja kamar mau diapain sih?"
"Dulu rencananya aku mau kita batalin kontraknya. Itu juga kalau kamu setuju." Daniel tidak mengira meletakkan kontrak itu di atas meja kamar justru membuat Karen tambah salah paham kala itu. "Jadi, sekarang gimana kontraknya?"
"Aku juga nggak tahu. Gimana kalau kita bakar atau kita robek-robek?"
"Sounds good." [Terdengar bagus].
"Ehm, kalau waktu kamu nemuin test pack itu, gimana perasaan kamu waktu itu? Kaget?"
Daniel mengangguk. "Ya, aku kaget, tapi seneng."
"Seneng? Seneng karena kamu bakal jadi ayah, atau karena membuktikan kalau kamu bisa punya anak?"
"Menikah, berkeluarga, punya anak, semua itu sebelumnya rasanya mustahil. Buat aku, it's a kind of miracle." [Itu semacam keajaiban]
Tiba-tiba Karen membuang muka ke arah lain. Dia merasa sangat bersalah pada Daniel. Bagi Karen, alasannya menikah hanya karena gengsi demi menutup mulut orang lain agar tidak selalu bertanya tentang pernikahan kepadanya. Sedangkan Daniel benar-benar mengharapkan sebuah keluarga.
Melihat reaksi istrinya, Daniel khawatir. "Kenapa? Aku salah ngomong?"
"Enggak. Aku merasa bersalah aja. Alasanku menikah sama kamu bener-bener nggak bermutu cuma karena gengsi umur segini belum menikah."
Daniel malah tersenyum lebar. "Kalau gitu aku harus berterima kasih sama rasa gengsimu. Kalau kamu nggak merasa gengsi, kita nggak akan menikah."
"Oh, iya juga ya," kata Karen sembari menggaruk tengkuknya.
Jodoh memang misteri. Kadang, jodoh dipertemukan karena hal sepele dan receh. Ada yang berawal dari bercanda, bahkan ada pula yang berawal dari permusuhan yang kemudian berubah menjadi cinta.
to be continued...
__ADS_1
Jogja, July 12th 2021