
Setelah Inda pergi, Karen juga berjalan menuju pintu keluar. Para tim penulis melongo melihat 2 orang penting di kantor itu masing-masing pergi dengan tujuan berbeda.
"Nanti editing-nya dikerjain sama Citra ya, tenang aja, ada bonusnya."
"Oke, Bos. Bos nanti balik ke sini lagi nggak?"
"Iya, aku pergi sekitar 2 sampai 3 jam. Nanti kalau Inda udah balik, tugas editing bisa dibantu sama Inda."
Karen menuju ke sebuah salon langganannya. Sudah lama dia tidak berkunjung ke tempat yang membahagiakan seluruh kaum hawa di dunia ini. Dia akan mengubah penampilannya menjadi penampilan yang sudah lama dia dambakan, mengecat rambut hitamnya menjadi warna merah bata.
Pewarnaan ini membutuhkan waktu beberapa jam karena sebelum dicat, rambut Karen yang memiliki pigmen kuat itu harus di-bleaching terlebih dahulu.
***
Di rumah sakit Keluarga Bahagia
Inda mendapat surprise, sahabatnya melahirkan di rumah sakit itu. Setelah beberapa saat dia berkumpul bersama sahabatnya dan melihat seorang bayi mungil, anak sahabatnya, Inda pamit pergi untuk kembali ke kantor.
Saat keluar dari bangsal Lavender (tempat di mana sahabatnya dirawat), Soni sudah menunggu.
"Sayang ...." Soni menyapa.
"Lhoh kok malah di sini? Nggak kerja?"
"Cuma aku tinggal bentar ke sini, ada yang jaga kok."
"Aku udah mau balik ke kantor lagi."
"Aku mau ngomong, sebentar aja."
Soni menarik tangan Inda. Mereka pun keluar dari rumah sakit bersama-sama. Sesampainya di lahan parkir rumah sakit, Soni meminta Inda menunggu beberapa saat di sana.
"Kamu di sini sebentar, aku mau ambil sesuatu."
"Iya, tapi jangan lama-lama ya! Aku banyak kerjaan."
Soni segera menuju motor untuk mengambil sesuatu di dalam jok. Dia meraih sebuah bouquet bunga kecil yang di atasnya tersemat tulisan will you marry me. Sepasang cincin juga menempel di tulisan itu.
"Inda, maukah kamu jadi istriku?" kata Soni sambil menyerahkan bunga itu.
Inda ternganga. Dia tidak menyangka akan mendapat banyak kejutan hari itu. Pertama, dari sahabatnya yang melahirkan. Kedua, dari kekasihnya sendiri. "Aku ... aku ...."
"Kamu bingung? Jawabnya nggak harus sekarang."
"Nggak, nggak, aku jawab sekarang aja. Iya, aku mau."
Dia tidak membutuhkan waktu lama untuk berpikir. Mereka menjalin hubungan memang tujuannya ingin hidup bersama suatu saat. Dan saat yang tepat itu adalah sekarang. Soni memasangkan cincin ke jari manis Inda. Inda juga melakukan hal yang sama kepada Soni karena cincinnya memang berjumlah dua. Jika cincinnya hanya satu, maka mungkin mereka kebingungan untuk membagi dua.
"Dah, sana balik kantor!"
"Astaga, habis ngelamar jadi begitu?" protes Inda.
__ADS_1
"Heheh, bukan gitu sayang. Kita harus kerja lagi dan harus lebih keras buat biaya resepsi."
Pipi Inda seketika memerah karena malu. Kemudian dia kembali ke kantor dengan membawa bunga pemberian Soni.
Astaga, aku dilamar Soni. Gimana ngomongnya ke si Bos? Bisa-bisa dia marah. (Inda).
Sesampainya di kantor, dia menuju ruangannya. Dia merasa sangat lega bosnya tidak berada di sana.
Citra, teman kerja Inda, memasuki ruangan Karen dan Inda. "Nda, tadi Bos pergi, aku gantiin tugas editing sementara. Terus kalau kamu udah sampai di kantor, editing-nya dipasrahkan ke kamu. Gitu, kata Bos."
"Oke, eh, dia ke mana? Lama nggak perginya? Mood-nya lagi bagus nggak?"
"Kayaknya lagi seneng kok. Dia nggak bilang mau ke mana sih, tapi dia bilang sekitar 2 sampai 3 jam." Citra pun keluar dan melanjutkan pekerjaannya.
Ya Tuhan, mudah-mudahan mood si bos lagi bagus. (Inda).
Selang 1,5 jam, Karen sudah berada di kantor dengan warna kepala baru. Rambutnya berwarna merah bata. Penampilannya menjadi lebih eksotik.
Dia memasuki ruangannya, tapi Inda tidak ada di sana. Dia sedang berada di toilet. Mata Karen menangkap sesuatu di tas Inda yang sedikit menyembul keluar. Dia pun mendekati benda itu yang tak lain adalah buket bunga kecil.
Ha? Will you marry me? Inda dilamar sama pacarnya? (Karen).
Inda masuk ke dalam ruangannya dan mendapati bosnya sedang memperhatikan bunga miliknya. "B-bos ...." Inda memanggil pelan.
Karen menengok dan memeluk Inda. "Selamat, Cat Woman!" Dia tak kuasa menahan air mata karena haru.
"Ma-makasih, Bos Black Widow. Ehm, btw rambut Bos cakep."
"Diem! Jangan ngalihin pembicaraan! Ceritain semuanya!"
"Jadi, pacarmu udah ngatur biar kamu ijin ke rumah sakit untuk ngelamar kamu?"
"Nggak gitu sih, Bos. Temenku emang bener-bener dirawat di sana. Itu lho, temen kosku yang aku ceritain hilang 9 bulan lalu, dia melahirkan."
"Lhoh, tapi kan belum menikah."
"Sekarang udah kok, menikah sama dokter yang kerja di rumah sakit itu juga."
"Dia itu temen sekosmu yang seumuran sama aku kan? Udah nikah dan punya anak?" Seketika nada Karen menjadi sedih.
Tanda-tanda si bos kumat lagi. (Inda).
"Oh ehm, temen kosku yang satu lagi, umur 28 juga kok, dan masih single."
"Cat Woman! Aku 27 tahun!"
"Lhoh, kan besok ...."
"Diaaaaaaam!"
Nah kan, kumat. (Inda).
__ADS_1
"Ampun, Bos, tenang ya! Jangan marah-marah dan teriak-teriak, kata ahli kecantikan, itu bikin kita jadi mudah berkeriput."
"Keriput? Kamu kira aku ini nenek-nenek?!"
"Enggak, enggak, Bos. Bos itu cantik, muda, sukses, kayak ulzang gadis remaja Korea. Bener deh Bos."
"Remaja? Kamu ngeledek aku ya?!"
"Aduh Bos, aku ini lagi memuji."
Hash, dasar. Begini nih si bos, ngomong apa aja jadi sensitif. Ya Tuhan, pertemukan dia dengan jodohnya, biar dia nggak kayak orang kesetanan terus. (Inda).
***
Keesokan paginya, ulang tahun Karen ke 28.
Karen masih di tempat tidur. Dia menyembunyikan wajah di bawah bantal. "Inda udah dilamar pacarnya. Temen Inda udah nikah dan melahirkan. Aaarrrggghhh ...." Karen menjerit.
Dia meraih ponsel dan buru-buru mematikan benda itu.
Nanti pasti banyak yang kasih selamat dengan embel-embel doa segera dikasih jodoh. Aku nggak suka. (Karen).
Karen senang didoakan, tapi dia ingin agar doanya tidak usah dikatakan kepadanya karena itu justru mengingatkan dia bahwa dia belum memiliki pasangan hingga saat ini.
Aku nggak mau masuk kantor. (Karen).
Setelah mengurung diri beberapa jam di kamar, Karen mulai merasa bosan sendiri. Dia pun mandi. Setelah itu, dia merias wajah dan menggunakan pakaian yang baik.
Aku mau menghibur diri. Sendiri aja. Only me. (Karen).
Dia menuju ke sebuah pusat perbelanjaan dan duduk di sebuah bangku di sana. Pagi hari, mall belum begitu ramai. Semakin lama, bermunculan orang-orang yang berkunjung ke mall itu. Banyak sekali pasangan-pasangan yang sedang berjalan-jalan. Ada juga keluarga kecil yang sedang bermain dengan anak mereka yang masih balita.
Kirain ke sini bakal fresh, kok malah tambah frustasi ya. (Karen).
Karen membeli minuman kekinian, berharap bisa lebih fresh perasaannya setelah meminum minuman manis. Kemudian dia menuju ke gedung bioskop untuk menonton film. Tapi, salah satu studio yang digunakan untuk memutar film yang ingin dia tonton sedang disewa.
"Di studio lain nggak ada yang muter film ini, Mbak?"
"Mohon maaf Kakak, di jam ini, studio lain memutar film ini, ini dan ini. Untuk film yang Kakak ingin tonton, hanya di studio 1 tapi sedang direservasi sampai jam 12. Setelah itu dibuka untuk umum lagi, Kak."
"Direservasi buat apa sih, Mbak? Kok berasa kayak restoran aja. Ini kan bioskop."
"Seorang crazy rich mau melamar pacarnya."
"Ha?!" Karen terkejut.
Petugas tiket bioskop itu lebih terkejut lagi. "Ups, maaf Kak, saya membocorkan informasi yang tidak seharusnya. Apalagi ini surprise proposal. Mohon informasi ini dirahasiakan buat Kakak aja ya," katanya sembari menepuk dahinya berkali-kali.
Aduh, kenapa aku bocorin informasi rahasia ke customer sih? Jangan-jangan Kakak berambut merah itu pacar si crazy rich yang mau dilamar. Kalau aku merusak surprise, bisa kena SP ni. (Petugas tiket bioskop).
"Ya udah, Mbak, lain kali aja saya nontonnya." Karen pergi dari sana.
__ADS_1
To be continued...
Jogja, April 15th 2021