
"Kalau nggak hamil, kenapa ini bisa positif? HCG itu terdeteksi kalau hamil atau kalau ada penyakit di rahim."
"Oh, gitu ya." Karen bingung bagaimana menjelaskan. "Begini, itu positif karena hamil, tapi bukan aku. Itu, ehm ... Lana."
Daniel tidak percaya begitu saja. "Itu hasil test Lana? Kok bisa? Dia masih nyimpen hasil test pack-nya terus dia kasih ke kamu?"
"Bukan. Ehm, itu aku yang beli test pack-nya, terus beberapa hari yang lalu aku main ke rumah singgah, aku minta dia tes pake test pack yang aku beli."
"Dan dia mau?"
"Iya, aku yakinin dia."
"Oke. Terus kenapa ada di kamar mandi kita?"
Keringat Karen semakin deras. "Aku niatnya mau bikin kamu shock aja. Aku kan tahunya kamu lagi main gila sama perempuan lain."
Daniel mencerna semua keterangan Karen dan mengangguk.
"Lagian, kamu kan dokter. Meski bukan dokter kandungan, masak percaya aja kalau aku hamil? Kita kan baru 8 hari yang lalu, belum ada sebulan."
"Yang namanya konsepsi itu meski langkahnya panjang, waktu kejadiannya sekitar 45 menit sampai setengah hari. Jadi, sehari aja bisa hamil."
"Oh, gitu. Tapi yang sekarang sih aku nggak hamil."
"Yakin?"
"Yakin banget. Yakin seyakin-yakinnya."
"Ya udah, aku mau kasih tahu Kendrik kalau kamu nggak hamil." Daniel berdiri hendak keluar dari kamar.
"Lhoh, ini tadi sama Kendrik?"
Daniel mengangguk kemudian meminta kunci mobil Karen untuk dibawa pulang Kendrik.
Mereka pun ke ruang TV. Ternyata sedang Kendrik tidur di sofa.
Pelan-pelan Karen membangunkan adiknya itu, "Ken, bangun. Ken."
Kendrik membuka mata dan melihat dua kakaknya. "Kak Ren!" Kendrik langsung memeluk Karen. "Selamat udah mau jadi ibu."
"Nah, itu yang mau aju lurusin sebenernya ...."
"Dan aku jadi om, dan Mama jadi nenek ...."
"Ken! Aku nggak hamil!"
Kendrik langsung menutup telinganya mendengar teriakan Karen.
"Begini ya adikku sayang, aku nggak hamil. Jadi jangan histeris begitu, oke?"
"Waduh." Kendrik nampak panik.
"Kenapa mukamu kayak gitu? Kamu udah kasih tahu siapa aja soal kehamilan?"
"Tenang, cuma Mama doang kok."
"Fyuh." Karen lega hanya mamanya yang mengetahui kabar palsu tersebut. Mama Puri sangat kooperatif dan dapat memahami keadaan sehingga nanti pasti bisa menerima penjelasan Karen.
"Cu-cuma, Mama udah ngasih tahu siapa aja, nah, itu yang entah. Kamu tahu sendiri mama kita kayak gimana."
"Hah?"
Karen meraih ponselnya dan menelpon Mama Puri. Dan ternyata benar dugaan Kendrik, Mama Puri sudah memberitahu keluarga besar melalui group Chatsapp.
📞"Mama, aduh kenapa bisa langsung ngabarin saudara-saudara di group sih?"
📞"Ya kan Mama pikir itu kabar baik."
📞"Selain ngasih tahu saudara-saudara, Mama kasih tahu siapa lagi?"
📞"Bentar, oh, Mama ngasih tahu mertua kamu."
📞"Apa?! Mama kasih tahu Mami?!"
📞"Iya, maaf, kan Mama nggak tahu."
Mereka mengakhiri panggilan telepon itu.
"Kendrik Damartyo, ini semua salahmu! Kenapa kamu langsung kasih tahu Mama? Kamu harusnya konfirmasi dulu kabarnya bener apa nggak jangan langsung kas- hmmmppp."
Daniel membekap mulut Karen dengan tangan, "Ssshhh, udah malam, jangan keras-keras!" Daniel berbisik di telinga Karen. Dia memberi kode pada Kendrik untuk segera pergi agar terbebas dari amukan kakaknya. "Pulang, Ken! Udah malem. Tuh kunci mobil Karen. Besok Karen pulang sama aku."
__ADS_1
Kendrik mengangguk dan segera pergi dari sana.
"Hmmmppp, lepasin!"
Karen dapat lepas dari bekapan Daniel. Akan tetapi, Kendrik sudah pergi dan tak sempat menerima amukan tahap dua kakaknya itu.
"Kamu nggak panik, Niel?!"
"Ehm, nggak terlalu. Apa mungkin karena obatnya ya? Kamu mau minum juga biar nggak panik?"
"Heh! Malah bercanda! Cepet telepon Mami!"
Daniel menelepon Mami Seli untuk memberitahu bahwa Karen tidak hamil. Namun, ternyata, Mami marah besar.
📞"Apa? Karen nggak hamil? Lha terus kenapa tadi Jeng Puri ngomong kalau dia hamil?"
📞"Itu salah paham, Mi. Besok kami jelasin. Sabar ya, Mi."
📞"Mami marah, Niel! Marah banget!"
📞"Maaf ya, Mi."
Karen dan Daniel kini duduk di atas tempat tidur. Karen menutup wajahnya dengan kedua tangan, Daniel menutup dua telinganya.
"Kita harus gimana, Niel?"
"Kita harus tidur, udah malem."
"Ikh, kok kamu bisa cuek banget?"
"Karena aku punya planning, besok sore kita ketemu Mami dan jelasin pelan-pelan, aku yakin Mami ngerti kok."
"Kenapa musti sore? Pagi nggak bisa?!"
"Pagi, kita ke psikiater, setelah itu kita kerja, baru bisa ketemu Mami."
"Ambil ijin sih, penting lho ini. Habis dari psikiater terus ketemu Mami."
Daniel berpikir-pikir sejenak. "Oke, nanti aku telepon dokter lain yang bisa gantiin aku. Sekarang, ayo tidur."
Karen berdiri dan memandangi tempat tidur. Daniel juga berdiri memandangi tempat tidur itu. Mereka berdua canggung setelah sama-sama menyatakan perasaan mereka.
Daniel mengangguk kaku dan merebahkan badannya lebih dulu. Dia melihat langit-langit dan memejamkan mata.
Melihat mata Daniel sudah terpejam, Karen merebahkan dirinya di samping Daniel dengan posisi miring membelakangi suaminya.
Kenapa rasanya deg-degan, kayak pengantin baru aja. (Karen).
Dia memejamkan mata, tapi tidak dapat tidur. Dia menengok ke belakang untuk melihat suaminya. Ternyata Daniel sedang melihat ke arahnya dengan mata terbuka lebar.
Sontak Karen menarik pandangannya dan kembali ke posisinya.
"Kenapa? Nggak bisa tidur?" tanya Daniel.
"Bisa kok. Aku cuma lihat kamu udah tidur belum. Tadi udah merem kok sekarang melek lagi."
Karen memejamkan matanya lagi. Beberapa menit memejamkan mata belum juga membuahkan hasil. Dia menengok lagi ke arah suaminya. Daniel masih di posisi yang sama, melihat ke arah Karen. Karen menarik lagi pandangannya dan segera kembali ke posisi semula.
"Barusan kamu nengok lagi," kata Daniel sembari memiringkan badannya ke arah Karen dan menyangga kepalanya dengan tangan. "Kamu lagi ngelihatin aku, ya?"
"Enggak tuh, aku nengok karena lihat jam dinding."
Daniel beringsut mendekat dan tepat di belakang Karen tanpa jarak. Dia menunjuk jam dinding, "Padahal jam dindingnya ada di tembok depan kamu tuh."
"Oh iya, aku lupa."
Daniel memegangi lengan Karen.
"Apa, Niel? Pindahin tanganmu!"
"Oh, oke." Daniel memeluk Karen kali ini.
"Dipindah itu maksudnya disingkirin, kok malah meluk sih?"
Karen yang beberapa waktu lalu percaya diri menggoda suaminya berubah drastis menjadi pemalu. Benar-benar persis seperti pengantin baru.
"Ren, je t'aime," kata Daniel sembari mengeratkan pelukannya.
"Kamu kok jadi nggak ada malunya bilang gitu?"
"Yah, memanfaatkan pengaruh obat yang mungkin hilang beberapa jam lagi."
__ADS_1
"Oh ya? Besok aku bisa naruh obat itu diam-diam ke minuman kamu kok. Sekarang tidur, Kudanil."
"Je t'aime, Karen," katanya lagi sembari mencium Karen pada bagian yang paling dekat dengan wajahnya yaitu tengkuk dan telinga.
Karen meringis dan mengangkat bahunya, kegelian. Dokter itu kemudian menarik bahu Karen dan memposisikan mereka berhadap-hadapan.
"Kudan- hmmmppp."
Sebelum Karen mengoceh lagi, Daniel sudah melahap bibirnya. Lama mereka bericiuman.
Setelah itu, bibirnya turun ke area leher Karen.
"Daniel ...," bisik Karen, lirih.
Laki-laki itu tidak berhenti.
"Kudanil!"
"Hm ...," jawabnya, tapi tidak juga menghentikan aktivitasnya. Dia sudah berada di kancing piyama Karen dan melepas 2 kancing di sana.
Karen memegangi bajunya, mencegah Daniel membuka kancing ketiga. "Kamu mau apa sih?"
Akhirnya Daniel berhenti dan memandangi Karen. "Aku juga nggak tahu mau ngapain, badanku gerak sendiri dari tadi."
"Oh, hahah."
Daniel menciumnya lagi. Karen memegangi kedua pipi Daniel dengan tangannya, menahan suaminya.
"Apa lagi sekarang?" Daniel mulai hilang kesabarannya.
"Mau denger cerita lucu, nggak? Hehe."
"Nggak!"
"Tapi aku mau cerita. Ehm, aku sekarang lagi 'dapet'."
"Apa!"
"Iya, hehe. Makanya tadi aku bilang aku yakin nggak hamil, karena aku lagi haid." Karen memandangi suaminya dengan canggung dengan tawanya yang juga tak kalah canggung. "Heheh. Ehm, aku minum dulu ya, haus. Bye."
Karen kabur dari sana.
Daniel pun tidur dengan sedikit kesal.
to be continued...
Jogja, July 7th 2021
***
epilog:
Beberapa hari lalu saat Karen di rumah singgah.
"Lana, aku mau minta tolong boleh nggak?"
"Boleh. Apa, Ren?"
Karen mengeluarkan test pack dari dalam tas. "Ehm, tolong kamu tes pake test pack ini."
Lana dan Asa langsung saling berpandangan.
"Eh, kok pada gitu sih ekspresinya? Dengerin dulu! Aku belum hamil, udah 3 bulan lebih menikah. Nah, aku pengen segera ketularan gitu, hehe."
Lana memutar bola matanya ke atas.
Waktu itu Inda minta diinjek kakinya. Akh, ya udah lah, mungkin mereka butuh semangat dan motivasi. (Lana).
"Ya udah, sini!" kata Lana meminta test pack itu.
Asa menganggukan kepala. "Yah, dulu waktu masih jadi pejuang dua garis, aku juga begitu. Semangat ya, Ren! Semoga kamu segera garis dua."
Asa dan Lana tidak tahu mereka sedang dimanfaatkan oleh Karen untuk melancarkan rencananya menge-prank Daniel dengan test pack.

__ADS_1