Emak Aku Pengen Kawin

Emak Aku Pengen Kawin
19. Makan Siang


__ADS_3

Hari ke 7


Saat istirahat siang, Nathan dan Dion mengajak Daniel untuk makan siang di sebuah tempat makan di depan rumah sakit. Menu utama di sana adalah nasi bakar yang terkenal sangat enak. Padahal, tempat itu baru 1 tahun dibuka, namun tingkat popularitasnya sangat tinggi.


Mereka bertiga menempati sebuah meja.


"Eh itu si Soni, kan? Sama calon istrinya?" tanya Dion.


"Iya, calon istrinya itu dulu temen kosnya bini gue," jawab Nathan.


"Terus cewek satunya yang berambut merah itu?"


"Nggak tahu kalau yang itu."


Rambut merah? (Daniel).


Daniel pun menengok ke belakang untuk memastikan siapa yang dimaksud Nathan. Ternyata Karen.


"Kenapa, Niel? Naksir? Sana ajak kenalan!" kata Dion.


Daniel tidak menjawab.


"Kalau kamu nggak ke sana, aku aja yang ke sana." Nathan berdiri.


"Eh ...." Daniel panik sendiri.


"Apa? Pokoknya aku mau ke sana!" Nathan bersikeras.


Daniel tidak bisa mencegah Nathan.


"Hai, Inda, Son," sapa Nathan, kemudian mengangguk dan tersenyum pada Karen yang masih asing baginya. "Aku udah terima undangannya, selamat ya! Aku sama Lana (istrinya) pasti datang."


"Iya lah, Dok, wajib datang. Oh iya, ini Bos Karen, bosku di kantor."


Karen mengangguk dan menjabat tangan Nathan.


Dari jauh, Dion memperhatikan interaksi Nathan dengan 3 orang itu dan menjadi reporter pandangan mata bagi Daniel. "Niel, Nathan salaman sama si rambut merah. Buwahahah tuh anak nekat juga ya," kata Dion.


Daniel melanjutkan makan siangnya tanpa menghiraukan omongan Dion.


"Heh, Pretty Boy, halooo!" kata Dion sambil melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Daniel. 'Pretty Boy' adalah salah satu panggilan Dion kepada Daniel. "Kayaknya cocok kok sama kamu. Kok diem aja sih, akh payah!"


Nathan kembali ke meja mereka. "Ehem, Niel, aku sampaikan salam kamu ke dia, katanya salam balik. Heheh, jadul banget ya. Perlu aku mintain nomer handphone sekalian biar kalian bisa chatting di Chatsapp?"


Salam? Siapa yang kirim salam? (Daniel).


"Gimana, Niel? Ada lampu hijau tuh dari si rambut merah. Eh Than, lu tanya nggak siapa namanya?" kata Dion.


Namanya Karenina Damartya, umur 28 tahun, pemilik Ren's Writer, anak dari Ibu Puri, memiliki 1 adik laki-laki bernama Kendrik Damartyo. (Daniel).


"Iya, namanya Karen. Dia bosnya Inda, calon istri Soni," jelas Nathan.


"Wueh, sungguh wanita karir yang memesona," puji Dion. Namun, dia gemas sendiri melihat Daniel yang datar-datar saja. "Niel, coba kamu nengok, terus senyum. Kalau dia senyum juga, mungkin dia jodoh kamu."

__ADS_1


"Nengok,Niel, cepetan!" Nathan juga ikut gemas.


Karena Daniel tidak kunjung menengok, Nathan mengarahkan kepala Daniel dengan tangannya agar menengok ke arah Karen. Daniel kini sedang menatap Karen dengan ekspresi datar.


"Senyum, Dokter Daniel, tunjukkan pesonamu!" kata Nathan sembari menunduk. Dia membuat seolah hanya Daniel saja yang memperhatikan Karen. "Senyum, dodol!"


Bibir Daniel tak kunjung terkembang. Namun, wanita berambut merah di seberang sana tersenyum kepada Daniel.


"Goal! Dia senyum! Sekarang, sana minta nomer handphone-nya!" Dion memberi saran.


Daniel kembali makan dengan konsentrasi tinggi.


"Kamu nih ngrebut predikat 'gedebok pisang' dari Nathan." Dion makin gemas dengan sikap Daniel.


"Kapan gue dapet predikat begituan? Gue lancar aja tuh sama bini gue."


"Itu kan sekarang, lu nggak inget dulu lu juga cuma berdiri melongo ngelihatin Lana?"


"Heheh, iya sih."


Setelah menyelesaikan makan siang, 3 dokter itu kembali ke rumah sakit. Sementara Inda, Karen dan Soni masih berada di sana.


"Bro, si rambut merah tadi beneran kirim salam balik buat Pretty Boy?" Dion penasaran.


Nathan mendekat dan berbisik, "Sssttt ... enggak, gue nggak ngomong apa-apa, ngarang doang heheh."


"Buwahahah ...." Dion tertawa lepas.


Mereka ngetawain apa? (Daniel).


***


Sebenarnya, dia udah muncul sekali lagi, kan? Artinya aku harus pilih dia, kan? Kenapa rasanya berat banget mau ambil keputusan? (Daniel).


Kembali dia mengamati foto Karen. Dia meragukan Karen. Apakah wanita yang sebelumnya sering berpacaran itu bisa mencintainya Daniel menarik napas dalam-dalam kemudian meraih ponselnya untuk mengirim pesan kepada ibunya.


πŸ“±Daniel: Karenina.


Mami Seli membaca pesan itu dan langsung menelpon Daniel untuk memastikan.


πŸ“ž"Halo, Daniel, kamu pilih Karenina?"


πŸ“ž"Hm ...."


πŸ“ž"Fyuh, syukurlah akhirnya kamu memilih juga. Nanti sebentar lagi Mami ketemu sama mamanya Karenina."


***


Setelah Mami Seli dan Mama Puri bertemu, mereka sepakat memberikan waktu bagi Daniel dan Karen untuk saling mengenal satu sama lain.


πŸ“ž"Kabar baik, Niel. Karen juga pilih kamu. Sekarang, Mami kasih nomer handphone-nya Karen, kamu ajak dia jalan ya."


πŸ“ž"Hm???"

__ADS_1


πŸ“ž"Lha terus gimana mau ketemu kalau kamu nggak ngajak dia jalan?"


Tiba-tiba Mami Seli ingat sesuatu yang teramat penting yang dapat mengancam keberhasilan perjodohan itu. Daniel tidak pandai mendekati gadis. Itu juga yang membuatnya harus dijodohkan. Jadi, akan sulit bagi Daniel mengajak Karen untuk berkencan.


πŸ“ž"Ehm ...." Daniel berpikir-pikir.


πŸ“ž"Eh eh, nggak usah nggak usah, nanti Mami aja yang atur. Kamu tinggal datang aja."


Daripada gagal lagi. (Mami Seli).


Mami Seli mengakhiri peembicaraan melalui telepon itu dan merancang makan siang bersama Karen. Dia akan mengenalkan Karen kepada seluruh anggota keluarganya. Setelahnya, Karen bisa memiliki waktu berdua saja dengan Daniel.


***


Acara makan siang bersama keluarga Daniel telah tiba. Di sebuah tempat makan semi out door, Karen telah menunggu di sana. Dadanya berdegup kencang. Ini adalah pertama kalinya dia di tahap perkenalan dengan keluarga secara khusus.


Sebelumnya, hubungannya hanya sekedar berpacaran tidak sampai ke jenjang yang lebih jauh. Hanya Tora yang waktu itu pernah melamar, tapi lamaran itu palsu, hanya modus agar mendapat 'akses' lebih kepada Karen.


Keluarga Daniel pun tiba: ayah, ibu dan adiknya yang bernama Stella. Tapi Daniel tidak terlihat di sana.


"Nak Karen udah sampai duluan ternyata, tunggu sebentar ya! Daniel sebentar lagi ke sini. Jam istirahatnya jam 12," jelas Mami Seli.


Sama sih Tante, tapi aku percepat ke sini karena aku bosnya. Bohong, alasannya bukan itu sih tapi karena aku nervous. (Karen).


"Iya, Tante, nggak apa-apa."


Tidak lama, Daniel datang. Mami Seli telah menyediakan tempat duduk untuk Daniel tepat di depan Karen agar mereka bisa lebih akrab. Daniel dan Karen bersalaman, saling menatap. Tapi hanya Karen yang tersenyum. Dokter itu menunjukkan ekspresi datar. Suasana pun menjadi canggung.


"Nak Karen, katanya punya usaha sendiri ya? Usaha apa?" Mami Seli mencoba mencairkan suasana.


"Saya buka agensi artikel SEO untuk internet marketing, Tante."


"Serasi banget lhoh kalian, sama-sama mandiri, sudah mapan semua. Memang semua lebih baik dipercepat saja kalau udah cocok. Iya kan, Nak Karen?"


"I-iya, Tante." Seketika Karen menjadi lebih gugup. Tak disangka pria pilihannya sulit didekati.


"Nanti kalau udah nikah, jangan panggil Tante lagi lho ya. Panggil 'Mami' kayak Daniel."


Karen dan Daniel saling melirik, tapi masing-masing tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Mereka berkutat pada makanannya masing-masing. Melihat kecanggungan yang terulang itu, Mami Seli memberi kode kepada ayah Daniel untuk mempercepat makan siangnya dan akan meninggalkan mereka berdua saja.


"Mami, Papi dan Stella pulang dulu ya, Niel. Kalian teruskan makannya, ngobrol juga biar cepet akrab!" Mami Seli berpamitan.


"Hati-hati, Om, Tante, Stella. Terima kasih makan siang bersamanya," kata Karen mengantar kepergian keluarga Daniel.


Tinggalah Daniel dan Karen di meja itu, saling tatap dalam diam.


To be continued...


Jogja, April 19th 2021


***


find me on Instagram: @titadewahasta

__ADS_1


find me on YouTube: Tita Dewahasta


__ADS_2