
Rumah Sakit Keluarga Bahagia
Siang itu, Daniel sedang makan siang di kantin. Nathan dan Dion menyusulnya. Dua dokter itu berbisik-bisik di depan Daniel. Karena mereka berada dalam satu meja, Daniel dapat mendengar meski dia tidak mengerti apa yang mereka bicarakan.
Mereka berbisik kemudian tertawa sembari melihat Daniel seperti sedang membicarakan Daniel. Dan memang iya, mereka membicarakan spesialis jantung itu.
"Bahahah, nggak nyangka Bro." (Nathan).
"Elu kalah jauh Bro." (Dion).
"Bukan gue doang, elu juga kali!" (Nathan).
"Lain kali kita nggak boleh anggep dia remeh Bro, bener-bener di luar perkiraan bahahah." (Dion).
"Ckckck nggak nyangka, padahal pendiem begini." (Nathan).
"Siang pendiem, malam ganas." (Dion).
"Jangan-jangan bininya lecet-lecet!" (Nathan).
"Eh jangan salah, Pretty Boy ini kan jelmaan Ironman, bininya kan Black Widow, sama-sama superhero." (Dion).
"Iya ya, pantesan nggak ada capeknya." (Nathan).
Daniel memandangi mereka berdua.
"Ehem ...." Daniel hanya berdehem.
Dion pun tersadar harus menyampaikan sesuatu yang penting kepada Daniel. "Niel, tadi pagi, emakmu nelpon. Katanya aku disuruh nasihatin kamu," kata Dion.
Nathan menutup mulutnya dengan tangan, menahan tawa. Sedangkan Daniel menunggu nasihat apa yang dimaksud.
"Gimana ya ngomongnya, bantuin Bro!" Dion bingung sendiri.
"Kamu 'mainnya' jangan sering-sering, kasih jeda!" (Nathan).
"Atur tempo!" (Dion).
"Hush, bukan tempo. Itu mah urusan dia. Frekuensi maksudnya." (Nathan).
"Oh iya betul. Frekuensinya diatur, kasih kesempatan biar adonannya jadi. Oke?" (Dion).
"Oke!" Daniel memandangi mereka berdua bergantian. Kemudian mengangguk sembari mengernyitkan dahi.
Seusai makan siang, mereka kembali ke poli masing-masing.
Aku nggak boleh sering main, oke aku akan kurangi main di ruang komik. Atur frekuensi? Frekuensi gelombang radio? Kasih kesempatan biar adonannya jadi? Aku kan nggak pernah bikin kue. Sebenarnya yang aneh itu aku apa mereka sih? (Daniel).
***
Beberapa hari berikutnya
Kantor Ren's Writer
Karen sedang sangat sibuk menyelesaikan banyak pekerjaan. Beberapa hari ini ada penulis yang kembali membuat masalah.
"Dayang dayang dayangku, ayo masuk ruangan," kata Karen memberi kode kepada para pegawai kepercayaannya.
Inda dan Citra masuk ke ruangan Karen.
"Lhoh kok cuma berdua?" Karen keluar lagi. "Mas Ang, aku kan bilang dayang dayang dayang, berarti 3. Mas Ang ikut masuk, cepetan!"
"Aw, jadi aku sekarang termasuk dayang? Oke deh Bos Black Widow." Anggoro merasa senang sekarang dia termasuk jajaran orang kepercayaan bosnya.
"Hey you, Mas Ang, kamu berprestasi dalam perhosyipan lokal, interlokal, dan internesyenel. Cari tahu 3 penulis itu kenapa begitu. You and you," katanya sambil menunjuk Inda dan Citra, "kita bereskan sisa-sisa kekacauan, semangat lembur!"
"Siap Bos Black, tapi jangan malem-malem ya pulangnya?" protes Inda yang khawatir suami di rumah terlantar.
"Tenang semua, kita tetep pulang jam 4. Lemburan dibawa pulang. Ngapain juga di sini lama-lama, serem tahu!"
__ADS_1
"Bos emang the best," puji Citra.
"Ya iyalah, masak ya iya dong. Kan bukan sundel bolong."
Ngomong apa bos ini. (Inda).
"Eh Mas Ang, katanya waktu aku ke Jogja sebulan yang lalu, kamu investigasi. Mana hasilnya?" tagih Karen.
"Maaf Bos, hasil temuan yang pasti cuma konfirmasi hubungan 2 karyawan di sini yang ternyata bukan cinlok."
"Itu doang?!"
"Iya Bos, habis itu kan Bos pulang dari honeymoon bawain oleh-oleh banyak jadinya aku terlalu bahagia, lupa sama investigasi perhosyipan," jawab Anggoro.
"Ya udah, sekarang tugas kamu itu tadi ya, selikidiki, hayah maksudnya selididik, hayah salah lagi, maksudnya se-li-di-ki 3 penulis itu. Oke? You and you jelas kan tugasnya? Sekarang bubaaar!"
"Mam yes mam!"
Mereka pun membubarkan diri.
~
Malam hari
Karen sedang mengerjakan pekerjaan di depan laptopnya. Sedangkan Daniel baru saja menyelesaikan membaca komiknya. Dia pun duduk di dekat Karen dan memeluk istrinya itu.
"Masih lama?"
"Dikit lagi. Eh Niel, perasaan yang sering lembur justru aku. Kamu nggak pernah lembur?"
"Lembur kok, jaga IGD."
"Bukan, maksudnya, di hari biasa, kamu nggak pernah pulang malam karena ada operasi atau apa gitu, kayak di film-film."
"Aku spesialis jantung, bukan ahli bedah jantung."
Daniel mengangguk.
Karen menutup laptopnya.
"Selesai?"
Karen mengangguk.
Belum sih, kurang dikit. Kasihan kamu aja kelamaan nunggu. (Karen).
Mereka pun menghabiskan malam berdua dengan peperangan sengit di atas tempat tidur. Pergelutan yang seru dan yah, berisik. Peperangan yang mengherankan karena dua-duanya kalah.
***
Keesokan paginya
Karen dan Daniel sarapan pagi bersama seperti biasa. Karen berdiri untuk mengambil minum. Tiba-tiba dia merasa nyeri di perutnya. Dia memegangi perutnya dan mengaduh.
"Kenapa Ren?"
"Sakit Niel, tolong!"
"Mau ke toilet?"
"Enggak, bukan. Ini yang sakit." Karen memegangi perut bagian bawah.
Daniel menuntun Karen untuk duduk, tapi istrinya itu tak mampu menggerakkan kaki karena menahan nyeri di perutnya. Dia pun membungkuk dan merosot ke lantai.
Tak lama, lantai yang diduduki Karen terdapat bercak darah.
"Kamu datang bulan?"
"Kayaknya iya, tapi nggak pernah sakit banget kayak gini," jawab Karen lirih sembari menahan sakit.
__ADS_1
Daniel memgambilkan baju ganti, obat pengurang rasa sakit dan pembalut. Tapi saat dipapah, Karen belum mampu berdiri. Darah yang keluar pun semakin banyak.
Darahnya langsung banyak. (Daniel).
"Aku bawa kamu ke rumah sakit," kata Daniel sembari bersiap mengangkat badan Karen.
"Cuma mens, nggak usah. Malu." Karen bersikeras tidak ingin ke rumah sakit. Padahal, dia sudah meringkuk di lantai. Sekedar berdiri saja dia tidak sanggup.
"Kayaknya bukan, ini perdarahan." Daniel mengangkat badan Karen yang tak kuat melawan itu.
Daniel memacu kendaraan secepat kilat ke rumah sakit.
Nathan dan Dion yang sedang berjalan memasuki gerbang rumah sakit dibuat kaget dengan mobil Daniel yang mengebut.
"Kenapa tuh si Pretty Boy kebut-kebutan, dipikirnya ini arena balap kuda?" komentar Dion.
"Bro, dia bawa bininya ke IGD. Kenapa tuh?" Nathan menarik Dion. Mereka pun berlari menuju IGD.
Daniel langsung menidurkan Karen di brankar. Para perawat membawa dan menangani Karen.
Dion dan Nathan akhirnya sampai setelah berlari dari pintu masuk hingga IGD.
"Niel, nggak usah ikut masuk. Yang menangani biar yang lain, jangan nanganin istri sendiri!" Dion mencegah Daniel yang akan ikut masuk ke ruang penanganan.
"Karen kenapa Niel?" tanya Nathan.
"Perdarahan."
~
Karen sudah dipindahkan ke bangsal. Para keluarga sudah berkumpul di rumah sakit untuk melihat keadaannya.
Mama Puri sudah berurai air mata. Meski belum tahu apa yang terjadi pada anaknya, suasana rumah sakit telah membuatnya trauma dan mengingat kembali dahulu saat kehilangan suaminya yaitu ayah Karen dan Kendrik.
Sesampainya di kamar bangsal, Mama Puri langsung menghambur dan memeluk Karen yang terbaring.
"Kamu kenapa Ren?" tanya Mama Puri dengan suara tangisnya.
"Tenang, Ma!" Karen mengelus punggung ibunya.
Setelah itu, Mami Seli juga memeluk Karen. Sedangkan Kendrik berada di dekat wanita berambut merah itu.
Setelah tangis Mama Puri reda, Karen mulai memberitahu apa yang terjadi padanya.
"Ehm, kata Dokter Dion aku keguguran."
Mami Seli dan Mama Puri saling pandang dan tidak percaya dengan apa yang didengar. Kendrik pun terkejut.
"Keguguran? Jadi kamu hamil? Kenapa nggak ngabarin Mama?" protes Mama Puri.
"Iya, Ren. Kenapa nggak kasih tahu Mami juga." Mami Seli juga ikut memprotes Karen.
Mendengar itu, entah kenapa Karen merasa sangat sedih dan kesal. Dia memandangi dua ibunya itu bergantian. Detik berikutnya, air matanya tidak terbendung dan keluar dari sarangnya.
Semakin lama tangisan Karen semakin keras. Mama Puri dan Mami Seli pun bingung sendiri.
Mendengar tangisan Karen, Dion dan Daniel masuk ke bangsal. Daniel menenangkan Karen, sedangkan Dion mempersilahkan Mama Puri, Mami Seli dan Kendrik untuk keluar dari sana.
"Begini Bu Puri, Tante Seli, Ken, Karen sendiri masih shock. Dia juga nggak tahu kalau lagi hamil. Tolong dihindari dulu bertanya-tanya yang menyudutkan." Dion menjelaskan.
"Saya niatnya pengen tahu keadaan anak saya aja, Dok," terang Mama Puri.
"Karen baik-baik aja kok, Bu."
"Dokter Dion ini gimana, keguguran kok dibilang baik-baik aja." Mami Seli tiba-tiba sewot.
to be continued...
Jogja, August 7th 2021
__ADS_1