Emak Aku Pengen Kawin

Emak Aku Pengen Kawin
55. Tetap Saja Aneh


__ADS_3

Setelah membereskan semuanya, Karen masuk ke kamar tidur. Daniel sudah terlelap. Karen masih keheranan karena ternyata Daniel tahu banyak tentang dirinya bahkan lebih tahu daripada dia sendiri.


Ternyata dia memperhatikan, ya? Dasar makhluk aneh bin ajaib. (Karen)


Dia memperhatikan wajah Daniel ketika tidur, memegang-megang hidung lelaki itu hingga pemiliknya bergerak tidak nyaman.


Tetep aja kamu Patung Anubis si patung Mesir yang cuma ham hem ham hem angguk-angguk geleng-geleng. (Karen).


Karena gemas, dia pun mencubit pipi Daniel hingga laki-laki itu terbangun dan reflek menampar pipinya sendiri. Karen langsung pura-pura tidur.


Ada nyamuk? Perasaan tiap hari dibersihin dan disemprot anti nyamuk. (Daniel).


Tidak lama, dia kembali terlelap.


"Pppfffttt." Karen tertawa kecil.


Berkali-kali dia mengganggu tidur Daniel sehingga beberapa kali pula Daniel menampar pipinya sendiri.


***


Rumah Sakit Keluarga Bahagia


"Habis berantem sama Karen, Niel?" tanya Nathan sembari memperhatikan pipi Daniel yang merah.


"Enggak," jawab Daniel.


"Itu pipi kenapa bisa merah begitu?" tanya Dion.


"Banyak nyamuk."


"Oh, kirain digampar bini," kata Nathan.


"Eh, Bro, bini lu tuh." Dion menunjuk Lana, istri Nathan, datang ke rumah sakit.


"Nah itu dia yang tadi gue bilang mau minta tolong hehe, tolong periksa dia sekarang ya, please," mohon Nathan.


"Ini kan masih jam istirahat."


"Makanya namanya minta tolong. Kalau jadi pasien biasa, nggak minta tolong namanya. Cuma bentar kok."


"Ya udah bentar, habisin makan dulu." Dion buru-buru menghabiskan makanannya.


Mereka meninggalkan Daniel sendiri di sana.


~


Di ruangan Dion, Nathan melihat ke langit-langit, Lana melihat ke lantai. Sedangkan Dion melipat tangannya di dada, tampak kesal melihat pasangan suami istri itu.


"Kalian tahu kan Althan umur berapa? Baru 4 bulan!" kata Dion.


Lana dan Nathan saling melirik.


"Apa kalian nggak tahu teknologi yang bernama kontrasepsii? Kalian kan orang medis semua!"


"Ta-tahu, Dok. Tapi aku masa menyusui. Kirain kan kontrasepsi alami," kata Lana.


Dion menggaruk-garuk kepalanya. "Nyatanya sekarang kamu udah hamil lagi, berarti kontrasepsi alaminya gagal alias nggak jalan."


"Terus gimana, Bro?" Nathan meminta solusi.


"Ngapain nanya gimana gimana? Ya minum vitamin, makan makanan bergizi. Emangnya mau apa lagi?"


Lana dan Nathan berpandangan lagi.


"Bini gue baru hamil anak pertama kami, belum lahir pula. Kamu udah mau anak kedua aja."


"Ehm, nah itu dia, Dok! Kan dulu aku sama mbak Asa janjian pengen hamil bareng. Jadi ya sekarang beneran hamil bareng. Ajaib ya? Hehe." Lana mencoba melawak tapi garing karena dokter di depannya kini sedang geram.

__ADS_1


"Hamil bareng di anak pertama dan kedua? Dulu waktu kamu hamil Althan ke 9 bulan, Asa juga mulai hamil. Udah bareng itu namanya! Masak sekarang bareng juga?"


Lana dan Nathan hanya terdiam.


"Ya udah, udah terlanjur juga. Makannya yang bener dan bergizi! Kamu bakal tandem nursing."


Lana dan Nathan mengangguk.


"Habis anak kedua ini lahir, pakai KONTRASEPSII! Jarak anak harus diatur biar emaknya nggak stres dan finansial tetep aman."


Lana dan Nathan mengangguk lagi.


Mereka sudah tidak mampu menjawab seperti terdakwa sedang menerima vonis hukuman.


"Udahan, jam istirahat habis. Hush hush, out out!" Dion meminta mereka keluar dari ruangan.


"Kamu sih, ngajak olahraga melulu." Lana menyalahkan Nathan.


"Kamu juga, salah sendiri pakai baju mini-mini melulu, kan si imin jadi gemeteran."


"Anterin pulang dong!"


"Hayah, aku mau kerja. Udah habis jam istirahatnya. Sana pulang sendiri, orang deket gitu kok."


***


Kantor Ren's Writer


"Gilaa bener deh," celetuk Inda.


"Apa yang gilaa, Cat?"


"Ini, Bos Black Widow, Lana istrinya dokter Nathan udah hamil lagi. Aku aja belum."


"Hah? Bukannya baru melahirkan beberapa bulan lalu ya?"


Citra mengetuk pintu ruangan Karen dan Inda.


"Kenapa, Cit?"


"Anu, Bos Black Widow, ini ada e-mail dari Gansan Tech. Mereka complaint karena beberapa artikel terlambat tayang."


"Ha? Kok bisa? Sekian banyak penulis udah aku plot tugas dengan jumlah yang pas biar nggak pada stres dan nggak terlambat lho. Apa aku salah nge-plot job?"


"Aku juga kurang tahu, Bos."


"Baru 1 client aja yang terlambat, kan? Aku kasih toleransi. Artikel mana aja yang belum beres, tolong dioper ke penulis yang jobnya udah selesai."


"Baik, Bos." Citra keluar dari ruangan itu.


"Tenang, Bos Black Widow, human error itu biasa." Inda menenangkan.


"Iya, Cat Woman, aku tenang dan sabar, masih kasih toleransi."


Ponsel Karen berbunyi, panggilan telpon datang dari sang mertua.


📞"Halo, Mi."


📞"Halo, Ren. Kamu sama Daniel kapan nginep di rumah lagi?"


📞"Ehm ... Sabtu ya, Mi. Kalau hari biasa gini aku sibuk banget. Ini juga lagi ada masalah sedikit di kantor."


📞"Oh, ya udah, Mami tunggu hari sabtu ya. Eh, kamu jangan capek-capek, sama jangan lupa susu persiapan kehamilannya diminum."


📞"I-iya, Mi."


Hari itu, topik kehamilan memekakkan telinga Karen. Entah itu datang dari Lana yang baru 4 bulan lalu melahirkan, sekarang sudah hamil lagi, dari Inda yang beberapa bulan menikah belum hamil dan dari mertuanya sendiri yang menyuruhnya meminum susu persiapan kehamilan.

__ADS_1


Belum lagi complaint yang ditujukan pada perusahaannya. Selama ini dia sudah mengatur jumlah job yang ideal agar para penulis tidak stres dan bisa menyelesaikan job tepat waktu. Selama itu juga, jarang ada complaint dari para client.


***


Hari Sabtu sore, saatnya menginap di rumah Mami Seli.


Perjalanan ke rumah Mami Seli diwarnai dengan suara Karen yang berbicara kepada Inda dan Citra dalam sambungan telepon.


Rupanya dalam satu minggu, complaint bertambah.


Deadline yang tidak terkejar tidak hanya untuk client Gansan Tech tapi juga dari sebuah produk olahan jamu tradisional Air Muncrat.


Dia mengakhiri panggilan teleponnya.


"Kok bisa sih deadline-nya nggak terkejar begini?" Karen meracau sembari melihat keluar jendela mobil.


Sesampainya di rumah orang tua Daniel, mereka disambut hangat oleh anggota keluarga itu. Setelah saling menyapa, Karen beristirahat di kamar.


Mami Seli hendak menyusul ke kamar, tetapi dicegah oleh Daniel.


"Jangan, Mi! Biar dia di kamar. Nanti atau besok aja ngobrolnya, dia lagi banyak pikiran."


"Kenapa emangnya? Kalian lagi sering ribut?"


Dia ngeributin aku tiap hari sih tepatnya. (Daniel).


"Enggak, client perusahaannya lagi banyak yang complaint. Banyak deadline artikel nggak terkejar."


"Oh." Mami Seli menganggukan kepala. "Nanti kalau jamnya makan malam, Mami panggil kalian. Sana kamu temenin istrimu!"


"Iya, Mi."


Daniel memasuki kamarnya dan mendapati Karen berbicara dengan dua pegawai kepercayaannya, Inda dan Citra.


📞"Ya udah, sisanya ada berapa artikel yang belum selesai?"


📞"Banyak. Bos nggak mau evaluasi para penulis dulu?" tanya Inda.


📞"Kita selesaiin dulu kekacauannya. Kalau udah baru nanti evaluasi. Kalau evaluasi sekarang takutnya jadi nggak fokus ngejar."


📞"Betul sih, Bos. Ini yang dari Air Muncrat yang belum selesai aku kirim lewat e-mail ya," kata Citra.


📞"Ehm, aku punya solusi biar kita nggak gila. Aku hire penulis freelance buat selesaiin sisa job yang belum beres. Soalnya aku sama kalian juga udah ikut nulis tapi tetep sisa banyak yang belum beres."


📞"Tapi fee-nya gimana, Bos?"


📞"Tenang aja ada dana darurat."


📞"Oke, Bos! Bos Black Widow emang the best!"


📞"Problem solved, kita bisa tidur nyenyak, guys," kata Karen mengakhiri pembicaraannya.


Dia memandangi Daniel yang sedari tadi berdiri di dekat pintu.


"Kamu ngapain di situ?"


Daniel menggeleng kemudian merebahkan diri di samping Karen. Dia memejamkan mata kemudian tidur.


Yeh, malah tidur. Tetep aja kamu itu aneh. (Karen).


to be continued...


Jogja, June 14th 2021


***


find me on Instagram: @titadewahasta

__ADS_1


__ADS_2