
"Hm?" Daniel berdiri menghampiri istrinya.
Karen menutup wajahnya dengan tangan. "Aku kecolongan."
"Kenapa?"
Karen menjelaskan semuanya kepada Daniel. Namun, Daniel tidak bisa berbuat banyak untuk membantu istrinya.
"Daniel, peluk! Cepet!"
"Oh, iya."
Terlalu memikirkan apa yang bisa dia lakukan membuat Daniel lupa akan hal kecil yang bisa sedikit menghibut saat ini yaitu memeluk dan menenangkan Karen. Dia pun mendekati dan memeluk istrinya.
"Besok aku harus ..."
"Nggak boleh, kamu udah janji besok istirahat."
"Tapi ..."
Daniel menggeleng.
Dia sudah mengijinkan istrinya untuk pergi ke kantor malam hari ini. Padahal, kondisi Karen masih lemah. Besok, Karen benar-benar tidak diijinkan untuk pergi ke kantor.
Tenang, nanti pelan-pelan bujuk Daniel biar ijinin ke kantor besok. Siapin trik termutahir. (Karen).
Mereka pun pulang ke rumah.
~
Di rumah
Daniel membantu Karen ke tempat tidur.
Mau tidur aja musti dibantu gini, berasa lansia. (Karen).
Di tempat tidur, Karen sengaja bermanja di pelukan suaminya.
"Daniel sayang," panggilnya dengan lembut.
"Hm?"
"Kamu tahu kan kalau sedang ada tikus di tempat usahaku?" kata Karen dengan tempo sepelan mungkin dan intonasi selembut mungkin.
"Tikus?"
"Akkk, ehm, maksudnya traitor. Kamu kan tahu traitor yang kumaksud itu sepupumu." Karen melembutkan lagi suaranya. "Jadi, besok aku harus ke kantor buat nyidang 4 orang itu. Bentar aja sayaaang."
Apa hubungan antara traitornya sepupuku dengan dia harus ke kantor? (Daniel).
Daniel melirik Karen yang masih melancarkan aksi manja-manja ala kucing minta kawin itu. Dia memutar bola matanya ke atas kemudian menggeleng.
"Kamu udah janji besok di rumah," kata Daniel dengan nada datar namun sangat pelan, mengimbangi tempo Karen.
"Ya udah, oke deh. Aku di rumah aja. Aku kan nurut sama suamiku," kata Karen sembari tersenyum manja.
Mereka pun berpandangan sembari masing-masing tersenyum.
Kamu besok kan harus kerja sampai jam 4. Aku bisa pergi ke kantor sebentar diem-diem. (Karen).
Kamu pikir aku nggak tahu apa yang di pikiranmu? Pasti kamu mau ngebandel. (Daniel).
Mereka masih saling menatap dengan pikiran masing-masing dan dengan senyum palsu mereka. Daniel membelai rambut merah Karen, sementara Karen mengelus-elus dada Daniel.
Aku bisa ke kantor besok, dan kamu nggak bakalan tahu syalalala🎶... (Karen).
Coba aja kalau berani kabur ta-dam ta-dam des🥁. (Daniel).
***
Keesokan paginya
__ADS_1
Pukul 7.30 pagi Karen membuka mata. Raganya terasa pegal dan letih. Sebenarnya, memang benar kata suaminya bahwa dia harus istirahat di rumah setidaknya beberapa hari. Tapi perkara tikus-tikus di kantor itu tidak bisa dibiarkan berlarut-larut.
Karen menuju ruang makan. Daniel tidak ada di sana. Tidak ingin membuang banyak waktu, Karen pun bergegas kembali ke kamar untuk bersiap ke kantor.
Yes, dia udah berangkat kerja. Soal sarapan gampang, bisa sarapan di deket kantor. (Karen).
Setelah siap, dia keluar dari rumah dengan tas dan kunci mobil di tangan.
Alangkah terkejutnya dia, ternyata Daniel sedang minum teh sembari membaca komik di gazebo depan. Dokter itu pun tersenyum kecil sembari melambaikan tangannya.
Dia meneguk teh dari cangkir kemudian berdiri dan mendekati Karen. Dari dekat, dia mengamati Karen dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"Ha-hai, Niel. Ini aku lagi main drama, pura-puranya mau ke kantor, hehehem. A-aku balik ke dalem lagi deh, udah selesai dramanya."
Karen kembali ke dalam rumah. "Sialan," gumamnya.
Daniel mengikuti di belakangnya kemudian membelokkan badan Karen menuju ruang makan.
"Dari mana kamu tahu aku belum sarapan?" tanya Karen.
"Mata kamu kuning."
Dasar dokter, jeli amat sih. (Karen).
Daniel mendudukkan Karen kemudian mengambilkan nasi, sayur dan lauk untuknya. Hari ini masakan Bibi Sum memenuhi 4 sehat, 5 sempurna, 6 eneg.
"Ya ampun, mentang-mentang habis keguguran terus dikasih segini banyak menunya. Aku nggak sanggup habisin, Niel."
"Sekuatnya."
"Kamu nggak ke rumah sakit?"
Daniel menggeleng.
"Kamu ke rumah sakit aja, kalau keseringan ijin nanti gaji kamu dipotong lho."
"Nanti kamu kabur ke kantor."
Daniel menggeleng. Dia menolak pergi bekerja karena tahu istrinya pasti kabur jika ditinggal.
Karen pun tak tahan dan memohon. "Daniel please, aku kan mau beresin pegawaiku. Tolong ijinin aku ke kantor bentar aja."
Daniel menggeleng lagi.
"Daniel!!!" Suara Karen sudah naik beberapa oktaf menuju ke ultrasonik. "Terus gimana urusan pegawaiku?!"
"Bisa video call atau suruh mereka ke sini. You're the bos."
"Oh iya ya, kok nggak kepikiran begitu sih. Makasih, suamiku sayang."
~
Karen sudah meminta keempat pegawai yang bermasalah itu untuk datang ke rumahnya. Dia sudah sangat geram ingin meluapkan segala emosinya kepada para pegawai itu.
4 orang pegawai itu, termasuk Haris, menunggu di ruang tamu. Karen memanggil satu persatu ke ruang televisi untuk disidang secara privat.
Haris mendapatkan kehormatan antrean pertama.
"Ris, kamu udah tahu kenapa dipanggil ke sini?"
Haris menggeleng.
"Aku udah tahu kalau kamu biang kerok kekacauan di kantor!"
Haris menengok ke arah Daniel yang juga ada di ruangan itu. Dia merasa privasinya terganggu karena sedang dievaluasi oleh bosnya di depan orang, meski orang itu adalah saudaranya sendiri.
"Harus ada Daniel? Kita kan ngomongin masalah kerjaan."
"Iya, harus ada Daniel. Kalau enggak, nanti emosiku nggak terkontrol."
"Oke."
__ADS_1
"Ris, aku nggak nyangka kamu kayak gini. Udah pernah aku bilang kan kalau aku ngelarang semua website yang berhubungan dengan barang dan kegiatan haram."
Haris mengangguk. Dia tidak menampik, tidak pula membela diri.
"Jadi, kamu mengakui kesalahan kamu dan siap menerima sanksi?"
"Apa sanksinya?"
"Fired."
Mendengar itu, Haris justru tersenyum. "Karen, di mata kamu, aku ini kayak penjahat ya?"
"Apa kamu nggak ngerasa begitu?"
Haris menggeleng. "Aku mau kasih tahu sesuatu. Kalau kamu masih punya hati nurani, kamu nggak akan mikir aku seburuk itu. Dan aku bukan peran antagonis di sini. Aku cuma berusaha berbuat baik."
"Nggak usah kepanjangan, langsung aja pada intinya."
"Mbak Olive, anaknya menderita hemangioma di lidah. Aku cuma bantu dia agar dapat penghasilan tambahan buat pengobatan anaknya."
"Apa?!" Karen terkejut. Pasalnya, Olive yang merupakan salah satu penulis di agensinya tidak pernah bercerita apa-apa padanya.
"Biasanya kamu ngatasin penulis yang berulah dengan memarahi mereka, menceramahi mereka tentang etos kerja dan lain-lain, tapi kamu nggak pernah nanya kenapa mereka begitu."
Karen masih terdiam. Dia berusaha mencerna setiap kata yang diucapkan oleh Haris. Daniel pun turut menyimak.
Apa bener yang dibilang Haris? Apa dia nggak bohong soal Mbak Olive? (Karen).
"Untuk aku, nggak usah repot-repot mecat. I'll walk out. Kamu tahu kan tujuanku kerja sama kamu itu apa. Tapi untuk Olive, aku minta jangan. Kasihan dia." Haris berdiri. "Niel, sampaikan salam buat Tante Seli, Stella dan Om Danu."
"Tunggu, Ris!" Karen menahannya. "Play fair. Aku belum tahu validitas ceritamu itu. Biar aku check. Dan kalau benar, kamu ... belum boleh keluar dari Ren's Writer."
Haris mengangguk.
"Terus gimana dengan 2 penulis yang lain, Linggom sama Neni?"
"Soal Linggom sama Neni, silakan kamu tanya sama mereka, apa motivasi mereka nerima project dari aku."
"Oke. Sekarang, tolong panggil Mbak Olive dulu."
Haris keluar dari ruang televisi dan memanggil Olive. Setelah saling bertatap muka, Karen bertanya tentang anak Olive. Wanita yang lebih tua dari Karen itu pun menunjukkan foto-foto anaknya, foto-foto dokumen pengobatan, struk-struk pembelian obat dan lain-lain.
"Kenapa Mbak Olive nggak cerita sama aku? Kenapa malah sama Haris?"
"Saya udah pernah mencari sumbangan atas nama anak saya. Tapi saya malah dicerca dan dibilang mengeksploitasi anak. Sejak itu, saya nggak lagi cerita ke siapa pun. Biar saya bekerja seperti biasa aja."
"Suami?"
"Ehm, dia sudah 1 tahun nggak ada kabar."
Seketika, raga Karen melemas. Ironis memang, Karen begitu terkejut dan terkulai, sementara ibu dari anak yang sakit itu justru tegar.
"Kamu tegar banget Mbak Olive," puji Karen, yang malah membuat batin Olive perih.
Olive pun menangis sejenak. Akan tetapi, tangisan itu sangat singkat. Dia pun mengusap airmata dan mengangkat kepalanya lagi. "Harus tegar, Bos. Saya harus kuat. Kalau saya sedih terus, siapa yang cari uang buat anak saya?"
Karen mengangguk. Otaknya buntu. Serangkaian kata yang di siapkan untuk menceramahi pegawai-pegawainya itu pun hilang dari pikirannya.
Karen pun mempersilakan semua untuk kembali ke kantor meski sebenarnya masih ada 2 pegawai yang belum dia urus.
to be continued...
Jogja, August 12th 2021
***
Hai readers, author lagi sedih nih. Beberapa episode lagi bakal tomat eh tamat.
Author lagi nyiapin endingnya. Sepertinya yang pernah author sampaikan sebelumnya, endingnya sad and happy sekaligus.
So please please please, jangan marahin author ya huks huks...
__ADS_1