Emak Aku Pengen Kawin

Emak Aku Pengen Kawin
48. Reaksi


__ADS_3

Keesokan harinya


Rumah Sakit Keluarga Bahagia


Dion, Nathan, dan Daniel sedang makan siang di kantin seperti biasa.


"Eh, happy first monthsary, Daniel. Gimana, udah ada tanda-tanda kehamilan belum istrimu?" (Nathan).


"Heh, nggak sopan tahu nanya-nanya kehamilan. Lu nggak inget gue berjuang bertahun-tahun?" (Dion).


"Iya ya, kehamilan emang bukan buat ditanya-tanya. Terus, enaknya ngobrolin apa sama pengantin baru?" (Nathan).


"Gini gue contohin," kata Dion, kemudian beralih pada Daniel. "Pretty Boy, udah bisa gaya apa aja?"


"Buwahahahah ... betul, Bro! Pertanyaan bagus. Kita dengerin jawaban dari Dokter Daniel, Sp.JP." (Nathan).


Gaya? Gaya hidup? Gaya foto? People should finish their questions completely. (Daniel).


Daniel tampak sedikit bingung mencerna pertanyaan kedua temannya itu.


~


Kantor Ren's Writer


Karen sedang membaca daftar pekerjaan yang harus diselesaikan hari itu. Dia menelpon Haris yang sedang berada di studio dan menambah daftar ilustrasi tambahan yang harus dikerjakan Haris di sana.


Haris harus berada di studio hingga pukul 2 siang dan mengerjakan editing setelahnya. Tak lama setelah Karen menutup teleponnya, Mami Seli tiba di kantor Karen.


"Lhoh, Mami ... kok nggak ngabarin kalau ke sini?"


"Akh ini tadi spontanitas."


"Ada apa, Mi?"


"Mami mau ngajak kamu ke rumah sakit tempat Daniel kerja."


"Oh, mau makan siang bareng Daniel?"


"Enggak lah, ini kan udah lewat jam istirahat. Mau konsultasi kehamilan."


"Se-sekarang?"


"Iya, nggak usah ditunda-tunda. Nanti kalau kamu bermasalah, bisa langsung diobatin. Kamu tenang aja, Mami ini orangnya fair kok, besok-besok Daniel juga harus diperiksa."


"Bebebebbebebbbhshwhwbjdnsvsnj ...."


Hayah, ngomong apa aku ni. (Karen).


Saking shock-nya, bibir Karen ba bi bu mengeluarkan kata-kata tak bermakna.


"Kerjaan kamu bisa di-handle yang lain, kan? Kamu kan bosnya."


"Bebebebebshhsgshjdushksiwj ...."


Astaga, ngomong apa lagi aku ini. Kenapa nggak ada kata normal keluar dari mulutku? (Karen).


"Udah, ayo, jangan ba bi bu aja!"


Pegawai Karen hanya saling pandang melihat bos mereka dibawa pergi mertuanya sendiri.

__ADS_1


Sampai di rumah sakit, mereka menuju ke pendaftaran. Tentu saja para pegawai mengenali Karen dan Mami Seli. Beberapa menyapa.


Mereka pun langsung menuju poli kandungan. Dokter Dion yang sedang bertugas di sana.


"Wah, ada pasien spesial. Silahkan ...." Dion mempersilahkan dua wanita itu untuk duduk.


Mami Seli langsung menyampaikan maksudnya. "Begini, Dok, Daniel sama Karen udah 1 bulan lebih menikah, tapi belum ada tanda-tanda kehamilan. Saya mau memeriksakan keadaan menantu saya ini."


Dion manggut-manggut mendengar maksud ibu Daniel. "Baik, mari kita periksa keadaan rahim Karen!"


Perawat membantu membaringkan Karen di tempat tidur pasien dan mengoleskan gel di sana. Dengan alat USG, Dion memeriksa kondisi kandungan Karen.


"Rahimnya tidak bermasalah. Kalau siklus haid, apa ada masalah?"


"Sebenarnya lancar tapi kadang terlambat."


"Sering?"


"Selang seling, Dok. Misalnya bulan ini terlambat, bulan berikutnya nggak terlambat, berikutnya terlambat."


"Apa itu menjadi kendala, Dok?" tanya Mami Seli.


"Sepertinya enggak, mungkin memang polanya begitu."


"Kalau tidak ada masalah, apa dokter bisa memberi kiat agar dia cepat hamil, Dokter Dion?"


"Pertama frekuensi berhubungan." Dion menjelaskan seperti menjelaskan pada pasien pada umumnya, tapi pasiennya kali ini memberi reaksi tidak biasa.


Baru disebut begitu, dia sudah melotot.


"Tidak boleh terlalu sering tapi tidak boleh juga terlalu jarang." Dion melanjutkan.


Karen langsung menelan ludahnya yang tiba-tiba terasa seperti biji kedondong, susah ditelan.


"Bebebsbehsvjsksudhndkssjs ...." kata absurd kembali keluar.


"Nggak usah malu, Ren! Ini kan bicara masalah medis." Ibu mertuanya meyakinkan.


Karena Karen terus bungkam, Dokter Dion meneruskan, "Kemudian posisi berhubungan yang dianjurkan adalah posisi klasik."


Karen reflek menutup telinganya.


Aku nggak bisa lanjutin ini, aduh telingaku yang masih suci harus mendengar hal-hal beginian. (Karen).


"Maaf ya, Dok, sepertinya Karen malu-malu. Maklum pengantin baru."


"Oh ya, sebentar sepertinya saya masih punya sisa brosur," kata Dion sembari mencari-cari brosur di laci dan dia menemukan 1. "Ini kiat-kiat yang bisa dilakukan berikut makanan yang mendukung kesuburan."


"Terimakasih banyak, Dok. Ehm, kalau vitamin, bisa diresepkan?"


"Bisa, saya punya rekomendasi susu dan vitamin khusus. Tinggal pilih yang mana, susu atau vitamin."


"Ren, kamu suka susu, kan? Atau vitamin aja?"


"Su-susu aja, Mi."


"Kalau begitu nggak perlu saya resepkan ya, bisa dibeli di toko biasa. Merknya ini, ini dan ini. Pilih mana yang disuka."


Setelah itu mereka berpamitan dan pulang.

__ADS_1


~


Saat jam pulang, Daniel, Dion dan Nathan menuju ke parkiran.


"Niel, tadi mamimu sama Karen ke rumah sakit lho," kata Dion.


"Oh ya?" Jawab Daniel.


"Gue juga lihat tadi," sambung Nathan. "Eh, ayo cepet temenin gue beli pospak di supermarket situ, ntar gue dimarahin bini gue lagi." Nathan menarik Dion.


Daniel segera pulang dengan mobilnya.


Sesampainya di rumah, Daniel memasuki dapur untuk mengambil minuman. Karen sudah berada di sana menyelesaikan masakan untuk makan malam. Dia mendekati Daniel dan mencium tangan suaminya.


"Kamu sakit?" tanya Daniel.


"Enggak kok."


"Kok tadi ke rumah sakit?"


Karen tidak menjawab. Daniel menenggak segelas air putih kemudian terbelalak dengan 5 kardus susu persiapan kehamilan di rak dapur.


Kemudian dia menunjuk susu itu, minta penjelasan dari Karen.


"Ya itu, tadi mami kamu ngajak aku ke rumah sakit buat periksa kesuburan. Terus dibeliin itu."


"Oh."


'Oh' katanya? Aku udah malu ditanya soal pribadiku waktu di rumah sakit, dan kamu jawab 'oh'? (Karen).


"Hey patung Anubis, kira-kira dong kalau jawab. Masak 'oh' doang? Prihatin kek sama aku yang udah dikorek macem-macem sama temen kamu dokter Dion itu. Malu, tahu!"


"Ya, aku prihatin."


"Aaarrrggghhh, aku nggak mau tahu! Pokoknya, kamu bantuin habisin susu itu!" kata Karen sambil menyajikan capcay buatannya untuk makan malam.


Kemarin kamu suruh aku tes urine, sekarang kamu suruh aku minum susu hamil, jangan-jangan besok kamu suruh aku pakai daster. Kamu kira aku ini lelaki apakah? (Daniel).


Daniel menghela napas dan mengangguk pasrah.


Karen takjub dengan kepasrahan Daniel itu. Mereka pun mulai makan malam. Karen melirik suaminya seolah menunggu reaksi selanjutnya.


Saat memakan suapan pertama capcay dan nasi dari sendoknya, Daniel terkejut. Masakan Karen hari ini asin. Bukan tanpa alasan, Karen memang sengaja memberi garam sedikit berlebih.


Suaminya buru-buru meneguk air putih.


"Kenapa, Niel? Masakanku nggak enak?"


Daniel menggeleng. "Enak." Dia pun meneruskan makannya.


Karen menyangga kepalanya dengan tangan dan terus memandangi Daniel. Bisa-bisanya Daniel memuji masakan yang sudah jelas kelebihan garam itu.


Kok dia begitu reaksinya? Kok nggak marah? Nggak sampai pengen pukul orang gitu? Coba besok aku kasih garamnya sekilo. Atau merica sekilo. (Karen).


Karen pun mulai memakan makanannya. Dia merasakan masakannya asin dan tidak enak. Namun demi melihat reaksi Daniel, dia rela memakan masakan yang tidak enak itu dan mengorbankan lidahnya.


Setiap tiga suapan, Karen dan Daniel sama-sama meneguk air putih untuk menetralkan lidahnya.


To be continued...

__ADS_1


Jogja, June 3rd 2021


__ADS_2