
Orang sabar rejekinya lebar. Tapi kali ini Karen tidak percaya kata-kata itu.
Kalau aku sabar, bakalan ambyar, ajur, remuk-remuk, tinggal dikasih tepung, digoreng, terus jadi santapan Mila si sepupu rasa musuh bebuyutan dendam kesumat Jumat kliwon itu. (Karen).
Malam itu Karen kesulitan tidur. Dia memikirkan bagaimana caranya mendapatkan pasangan dengan cepat. Atau minimal teman laki-laki. Dia memanjatkan doa semalaman agar diberi petunjuk dan diberikan jodoh yang diinginkannya.
***
Keesokan paginya
Karen telah siap untuk berpindah ke rumah barunya yang tidak begitu jauh dari rumah orang tuanya. Barang yang dia bawa sudah tidak banyak.
Sebelumnya, dia telah mengangkut barang-barang yang besar dengan jasa angkut barang. Tidak semua barang dia bawa karena dia juga membeli barang baru.
Rumah barunya tidak begitu jauh dari rumah Mama Puri dan Kendrik. Waktu tempuh yang dibutuhkan hanya sekitar 30 menit.
Sampai di rumah baru dan telah menata semua barang hingga beres, dia kembali berkutat dengan rencana untuk mencari jodoh.
Dia melihat-lihat beberapa platform media sosial. Dia mencari-cari sosok laki-laki idaman yang berdomisili di Koja, Praga dan Batalu. Hanya 3 kota itu yang terjangkau untuk ditemui. Dijelajahinya akun-akun Outstagram, sebuah jejaring sosial berbasis foto. Kecewa dengan hasil pencarian yang nihil, dia beralih ke Faecesbook.
Ada beberapa kandidat yang dia sukai. Tidak menunggu waktu lama, dia menambahkan orang-orang tersebut sebagai teman. Tak disangka seorang laki-laki bernama Tora langsung merespon. Dia mengirim pesan melalui Faecesbook messanger.
Setelah berbasa basi dan berkenalan, mereka saling bertukar nomer ponsel. Percakapan itu pun berlanjut melalui Chatsapp.
Ya Tuhan, apa ini jawaban doaku? Akhirnya aku segera mengakhiri status jombloku, yeaaa. (Karen).
Semua yang ada pada diri Tora sangat memenuhi syarat yang pernah dia katakan pada ibunya. Hanya saja, umur Tora 3 tahun lebih muda dari dirinya. Tora berumur 23 tahun. Dia masih kuliah dan tahun ini adalah tahun terakhirnya. Dia akan segera melaksanakan sidang skripsinya.
Ya Tuhan, terimakasih. Ini bener-bener sepaket istimewa sekaligus membuktikan ke Ken tentang cinta yang tidak pandang usia. (Karen).
Karen terharu doanya telah dijawab oleh Tuhan dalam sekali waktu. Dia dan Tora akan bertemu di sebuah kafe.
***
Di sebuah kafe
Di hari dan jam yang dijanjikan
Jantung Karen berdebar kencang saat menunggu sang pangeran. Dia berdoa agar semua berjalan lancar. Tora pun datang. Penampilannya seperti mahasiswa masa kini pada umumnya.
Karen merasa takjub dengan pemandangan wajah tampan dan penampilan keren di hadapannya itu.
"Karen ya?" kata Tora sambil mengulurkan tangan untuk berjabat tangan.
"Iya. Tora?"
Tora mengangguk. "Udah lama nunggu?"
"Ng-nggak kok." Karen sedikit tergagap. Maklum, sudah sangat lama dia tidak dalam situasi seperti ini.
__ADS_1
Mereka saling mempelajari satu sama lain tentang asal usulnya. Karen sama sekali tidak masalah dengan status Tora yang masih mahasiswa. Meski masih mahasiswa, 23 tahun adalah angka yang sudah matang. Dia yakin Tora adalah orang yang tepat untuknya.
"Kamu kerja di mana?"
"Aku punya usaha kecil-kecilan. Rens Writer."
"Kok kayaknya pernah denger ... oh, yang di samping minimarket Indomacet itu ya?"
Karen mengangguk sambil tersenyum.
Sedikit merasa bangga tapi juga merasa khawatir. Dia takut Tora akan mundur karena minder jika tahu Karen sangat mandiri bahkan sudah mendirikan usaha sendiri meski tidak besar.
"Wow, kamu hebat, pinter dan mandiri. Aku jadi malu, kuliah aja belum selesai," kata Tora.
Pujian Tora membuat Karen terbang tinggi. Tapi kata penutupnya membuat ketakutan Karen mewujud nyata. Sejenak dia tersenyum kemudian tertunduk. Dia sudah pasrah jika Tora akan mundur meski mereka belum sempat memulai apa-apa.
"Ehm, kamu juga hebat, kan sebentar lagi lulus. Kamu juga mandiri, kuliah sambil kerja," puji Karen. Tora juga adalah sosok yang mandiri.
"Iya, makanya aku butuh penyemangat biar sidang skripsi nanti tambah baik."
"Aku mantan cheerleader, mau aku bawain pom-pom pas sidang?"
"Buwahahah, bisa aja kamu. Berarti waktu SMA kamu populer ya. Bener-bener bikin minder."
Senyum Karen hilang lagi. Sepertinya dia salah telah membicarakan tentang masa SMA Karen yang gemilang.
Ngapain juga aku ngmongin itu? Moga-moga dia nggak minder. (Karen).
"Ehm, kamu tinggal di mana?"
"Bukan asli sini ya?"
Tora menggeleng. "Aku dari Surbaya."
"Oh, dari kota besar kok malah ke Koja?"
"Kalau aku kuliah di sana, nggak ketemu kamu dong."
Karen tersipu dan tersenyum malu. Sepertinya Tora telah berhasil mengambil sebagian hatinya. Cinta kilat sudah menyambar Karen saat ini.
"Kalau kamu tinggal di mana?" Tora menanyakan sesuatu yang Karen bingungkan sejak tadi.
Karen terdiam sejenak memikirkan jawaban yang akan dilontarkan. Jika dia jujur, ada kemungkinan Tora akan mundur. Tapi jika bohong, nantinya jika hubungan mereka berlanjut, lama-lama akan tahu juga.
Aku jujur aja kali ya. Ya Tuhan, semoga Tora nggak mundur. (Karen).
"A-aku tinggal di rumah sendiri, di Koja barat."
"Orang tua dan saudara?"
"Mereka di Koja selatan."
__ADS_1
Tora mengangguk-angguk sembari menyantap makanannya. Kemudian tersenyum. Sepertinya, meski dia sempat minder dengan kemandirian Karen, dia tidak terlalu bermasalah dengan itu.
Mereka mengakhiri pertemuan yang menurut Karen menyenangkan sekaligus menegangkan itu. Meski dia mandiri, perusahaan yang dia punyai bukan mega bisnis yang membuat orang ternganga. Jadi, dia tetap optimis hubungannya dengan Tora akan berjalan lancar tanpa ada rasa rendah diri yang berlebihan dari Tora.
Mereka berjalan menuju kendaraan masing-masing.
"Ehm, Ren. Boleh kita ketemu lagi?"
Jantung Karen berdebar kencang karena bahagia. Itulah yang dia tunggu sejak tadi yaitu second date. Itu artinya ada kemungkinan mereka berlanjut.
"Bo-boleh. Nanti Chatsapp aja."
"Oke, kasih jadwal waktu luang kamu ya."
"Aku bisa kapan aja kok."
"Oh iya, kamu kan CEO perusahaan kamu ya, bisa pergi kapan aja."
Aduh, kok begitu lagi sih. Please jangan, kan bingung mau jawab apa. (Karen).
"Hey, usahaku itu kecil. Nggak pake CEO-CEO-an. Jangan ngomong gitu sih!"
Tora tersenyum dan berlalu.
~
Di kamar, Karen gelisah. Dia berusaha santai dan tidak berharap lebih. Tapi apalah daya, hatinya tidak semudah itu menuruti perintah pemiliknya. Meski memaksakan diri untuk santai, dia tetap saja berharap.
Dia tengah membaca buku tapi matanya selalu melirik ke ponselnya.
"Aaarrrggghhh ...," teriak Karen.
Kenapa dia belum hubungi aku? Dia online kok. (Karen).
Dia memantau Chatsapp Tora. Beberapa menit berikutnya, Tora meng-update status di Chatsappnya.
Revisi skripsi bikin pusing. (Status Chatsapp Tora).
Oh, dia lagi sibuk revisi skripsinya. Apa aku chat duluan? Jangan Karen, tahan. (Karen).
Tangannya gemetar karena dalam pikirannya sedang terjadi pergelutan antara hati (yang ingn segera menghubungi lebih dulu) dengan logika (yang memaksa untuk berpikir logis mempertahankan harga diri).
Dia terus memandangi ponsel di tangannya sembari pikirannya tetap mengembara. Tiba-tiba, ponsel yang sedang dipegangi dengan tangan gemetar itu berdering keras. Saking kagetnya dengan deringan dan vibrasi ponselnya, ponsel itu terlepas dari tangan Karen dan terjatuh ke atas tempat tidurnya.
Dilihatnya caller id si penelpon.
Tora! (Karen).
To be continued...
Jogja, April 5th 2021
__ADS_1
***