Emak Aku Pengen Kawin

Emak Aku Pengen Kawin
49. Pertanyaan Frontal


__ADS_3

Menjelang tidur malam, seperti biasa, Daniel melakukan ritual menjelang tidur yaitu membaca komik. Dia juga sudah mempersiapkan beberapa komik untuk berjaga-jaga jika Karen merebutnya.


Namun, istrinya sama sekali tidak tertarik untuk merebut komik. Di samping guling penyekat, Karen melihat-lihat penelusuran gambar pada aplikasi Outstagram sembari sesekali melirik suaminya.


Dia menghela napas berkali-kali dan mengumpulkan keberanian untuk bertanya. Lagipula, dia telah mendapat jurus karate dari Kendrik, adiknya. Jika Daniel memberikan reaksi yang ekstrim, dia bisa meminimalisir dengan menangkis sebisanya.


Dia juga menyiapkan rekaman pada ponselnya untuk merekam pembicaraan mereka.


“Niel ....” Dengan ragu-ragu, Karen memulai.


Dokter itu menengok menunggu apa yang akan ditanyakan oleh Karen.


“Dulu kamu sekolah di SMA Pioneer?”


“Iya.”


“Kenapa pindah ke SMA Vincitore?”


Daniel menghela napas. Dia tampak frustasi dengan pertanyaan itu.


Karena belum mendapat jawaban, Karen sedikit mengejar. “Apa kepindahan kamu ada hubungannya sama pemukulan yang pernah kamu ceritain? Kejadiannya pas kamu SMA, kan?”


Tangan Daniel mengepal. Mata Karen menangkap perubahan sikap Daniel itu. Dia pun bersiap untuk kemungkinan terburuk.


Sangat nampak Daniel tidak nyaman dengan pembicaraan ini. Beberapa kali punggungnya naik turun karena napasnya yang tidak teratur.


Kemudian dia meletakkan komik dan menjatuhkan badannya di tempat tidur ditambah selimut yang dia tutupkan ke seluruh badan dan kepalanya.


Karen menganga melihat suaminya itu dan terheran lagi dengan responnya.


Kayaknya nggak ada tanda-tanda dia mau pukul aku. Tapi kenapa dia nggak mau jawab dan kelihatan nggak nyaman ya? Apa emang bener yang dibilang Haris? (Karen).


***


Paginya, Daniel dan Karen sudah siap di meja makan untuk sarapan pagi. Daniel bersikap seperti semalam tidak terjadi apa-apa.


Benar-benar ajaib si patung purba ini. Semalam kelihatan frustasi, paginya udah balik ke mode ‘mute’ plus muka datar. (Karen).


Karena sepertinya mood Daniel sudah membaik, Karen mencoba peruntungan untuk bertanya lagi.


“Ehem, Niel. Pertanyaanku semalam belum kamu jawab." Karen membuka dengan penuh kehati-hatian.


Respon Daniel jauh lebih terkontrol kali ini. Mungkin karena cuaca pagi ini sangat cerah sehingga moodnya sangat baik, atau semalam dia sudah memikirkan jawaban untuk pertanyaan istrinya.


“Maaf, aku belum bisa jawab. Kamu bisa tanya Mami.”

__ADS_1


Hanya itu jawaban Daniel. Dia menyelesaikan sarapan dan pergi untuk berangkat mendahului Karen.


“Kamu bisa tanya Mami." Karen menirukan omongan Daniel sembari memonyongkan bibirnya. "Dasar, sok misterius!"


Bibi Sum yang sedang mencuci piring di belakang Karen terheran dengan interaksi keduanya.


Kok mereka berdua masih kayak orang asing begitu ya? Akh, kayak nggak tahu den Daniel aja. Dia kan memang antik. (Bibi Sum).


Sesampainya di kantor, dia melayangkan pandangan mencari sosok mantan kekasihnya semasa SMA. Namun, dia belum ada di mejanya.


"Mas Ang, mana pegawai baru kita yang baru sebulan kerja itu? Jam segini kok belum dateng?"


Pria itu melirik jam tangannya.


Masih kurang 10 menit, ini sih bos aja yang terlalu pagi datangnya. (Anggoro).


"Mas Haris maksud Bos? Belum nongol tuh, Bos."


Dia berlalu dan masuk ke ruangannya. Di sana sudah ada Inda yang sedang menghidupkan laptopnya.


"Cat Woman." Karen mengambil kursi dan duduk di hadapan Inda. "Kalau kamu nemu keburukan suamimu yang nggak pernah kamu kira sebelumnya, kamu bakal gimana?"


Hayah, dari dulu aku di sini merangkap konsultan percintaan si Bos. Jadi, aku di sini tuh serabutan. (Inda).


"Buruknya gimana dulu, Bos Black Widow? Kalau sekedar hobi ngupil sih nggak masalah."


"Berkaitan dengan orang lain?" Inda nampak berpikir keras. "Apa dokter Daniel selingkuh?"


"Heh, bukan itu. Maksudnya, attitude-nya buruk sama orang lain."


Selingkuh? Lihat dia pegang perempuan aja belum pernah. Perempuan\=aku maksudnya hehe. Pernah sih waktu nikahan sama waktu Mama dan Kendrik antar kado. Tapi semua itu acting, man! Acting! (Karen).


"Menurutku, kalau udah menyangkut orang lain dan merugikan, Bos harus bisa ngerubah dia jadi lebih baik." Inda masih belum puas dengan apa yang diceritakan oleh bosnya. "Tapi, bukannya dokter Daniel itu kalem ya? Kalau kata Soni, yang sering bikin ribut itu dokter Nathan sama dokter Dion. Malah mereka berdua pernah hampir berantem di kantin rumah sakit. Dokter Nathan itu orangnya temperamen tinggi, Dokter Dion usil jahil kayak anak kecil."


Inda menyerocos sembari tangannya sibuk mengetik. Dia pun tersadar sudah melantur dan melenceng jauh dari yang ditanyakan bosnya. Dia memandang bosnya yang wajahnya sudah terlihat kesal.


"Udah ceramahnya?"


"Heheh, maaf, Bos, ini mulut kayak jalan tol, maunya nyap nyap melulu. Pokoknya kita sebagai istri kalau bisa nasehatin. Eh Bos, Bos kan nikah udah sebulan lebih nih, kalau sikapnya sama Bos sebagai istrinya gimana? Sikap dia ke bapak, ibu dan saudaranya gimana? Bos lihat, kan?"


Karen menarik napas sembari mengingat-ingat. Selama ini Daniel bersikap biasa saja bahkan seperti patung.


Setiap hari rutinitasnya tepat waktu. Jika ada yang berubah, dia akan sedikit shock. Meski shock ala Daniel tetap saja dalam diam, Karen sudah bisa membacanya.


Karen pernah memindahkan meja di ruang televisi. Selama beberapa hari, Daniel shock dalam diam setiap melihat meja itu. Tapi setelah dapat beradaptasi, shock-nya hilang.

__ADS_1


Kecuali untuk masalah kebersihan, Daniel tidak bisa menahannya. Jika ada yang kurang bersih, Daniel sendiri yang membersihkan. Dokter itu terlihat senang dengan kegiatan bersih-bersih.


Sikap terhadap keluarga inti sangat baik terutama pada adik perempuannya, Stella. Mami Seli bawel dan typical mertua yang suka ikut campur.


Tapi, ikut campurnya Mami Seli bisa dimaklumi mengingat karakter anak lelakinya. Dan Daniel bisa menghadapinya dengan baik, mereka tidak pernah bertengkar. Bahkan, dokter itu sangat menurut kepada ibunya.


Papi Danu cenderung pendiam seperti Daniel sehingga mereka berdua amat betah diam-diaman dalam satu ruangan. Tidak pernah bertengkar atau berseteru sama sekali. Membayangkan Papi Danu dan Daniel, Karen tertawa kecil.


"Pppfffttt ...."


Dua patung anubis dalam satu ruangan, bener-bener kayak museum. Besok kalau mereka dalam satu ruangan diem-dieman gitu mendingan aku rekam aku jadiin konten, pasti viral. (Karen).


Eh si Bos malah ketawa dewek, bos gendeng. (Inda).


"Bos, halo ...." Inda mengagetkan bosnya.


"Hoah." Karen salah tingkah sendiri. "Ehm, sikapnya sama keluarga dan sama aku baik sih. Malah kadang aku yang ngamuk-ngamuk."


"Nah itu baru masuk akal, kalau Dokter Daniel kan kayaknya nggak mungkin ngamuk-ngam--"


Bosnya sudah memelototi dirinya.


"Ahahah, itu cuma 'kayaknya' kok Bos," kata Inda, canggung. "Yang tahu aslinya tetep Bos. Mungkin penampilan luarnya kalem tapi aslinya brutal."


Penampilan kalem, aslinya brutal? Bisa jadi. (Karen).


Ponsel Karen berbunyi. Sebuah panggilan telepon dari Haris tertera di layar.


📞"Halo, Ren. Kata Mas Ang, kamu nyariin aku ya? Kangen?"


📞"Hah, you wish. Kamu di mana kok belum sampai kantor?"


📞"Di studio. Kerjaanku kemarin banyak yang belum selesai. Kan kamu yang nyuruh aku langsung ke studio aja hari ini. Lupa ya?"


To be continued...


Jogja, June 7th 2021


***


Apology


Hello my readers, through this short notice, I'd like to apologize to you.


karena sekarang si junior lagi sibuk-sibuknya hadapin kelulusan dan daftar sekolah, plus kerjaan author yang sedang bejibun, jadi updatenya agak slow ya...

__ADS_1


sehat-sehat semua ya😍😍😍


Love Love from Karen dan Daniel😍😍😍


__ADS_2