Emak Aku Pengen Kawin

Emak Aku Pengen Kawin
35. Tidur Malam


__ADS_3

Malamnya ....


Karen menonton televisi di kamar. Televisi itu berada di sisi kiri tempat tidur. Dia duduk di lantai bersandar pada kasur.


Daniel berada di atas tempat tidur. Sejak tadi mereka seruangan di kamar, tapi tidak saling bicara. Bahkan Daniel tidak mengeluarkan suara.


Karen sampai heran sendiri, bahkan napas suaminya itu hanya terdengar saat tidur dan mendengkur. Selebihnya, sunyi senyap.


Dia berbalik dan melihat suaminya. Ternyata, Daniel sedang asyik membaca komik baru yang diberikan teman-temannya sebagai kado pernikahan.


Karen keheranan lagi dengan keterampilan Daniel dalam mode sunyi senyap. Bayangkan saja, suara halaman buku yang dibalik pun tidak terdengar.


Apa dia itu baca komik mulu ya? Jangan-jangan dia nggak pernah pacaran gara-gara keasikan baca komik. (Karen).


Ponsel Karen berbunyi. Banyak sekali chat masuk dari teman-teman yang memberi selamat atas pernikahannya.


Malam setelah pernikahan, sebagian sudah banyak yang memberi ucapan. Kali ini banyak ucapan susulan datang bertubi-tubi jauh lebih banyak dari sebelumnya.


Karen membuka pesan chat dengan frustasi, menggaruk-garuk kepala. Sebentar-sebentar, dia meletakkan ponsel di bawah bantal di samping Daniel.


Ponselnya berbunyi lagi, dia membalikkan badan, mengambilnya dari bawah bantal dan menggaruk-garuk kepala lagi.


Sangat terlihat dia tidak nyaman dengan pesan yang diterima. Dia tidak berselera membalas chat itu. Diletakkannya lagi ponsel itu di bawah bantal.


Karena penasaran dengan tingkah istri barunya, Daniel meraih ponsel Karen dan hampir membuka benda gepeng tersebut. Untung Karen berbalik dan berusaha merebut kembali ponselnya.


"Heh, kamu mau apa ambil handphone aku?"


"Mau lihat."


"Nggak boleh!"


"Kenapa?"


"Kamu yang kenapa, handphone itu privasi, nggak boleh sembarangan dilihat!"


Daniel hanya menatap Karen. Tiba-tiba suara Daniel saat membicarakan kontrak pernikahan mereka terngiang-ngiang di pikiran Karen.


Akses tak terbatas pada handphone


Akses tak terbatas pada handphone


Akses tak terbatas pada handphone


Akhirnya dengan berat hati, dia merelakan ponselnya dilihat oleh sang suami.


Sialan! Aku lupa ada aturan begitu. (Karen).


Belum menyerah, Karen mencoba memintanya baik-baik. "Tapi Niel, ehm kali ini jangan dulu deh."


"Kenapa?"


"Hehehe ... itu banyak chat nggak penting, sumpah! Informasinya sama sekali nggak ada gunanya buat kamu. Bener deh."


Daniel bergeming, tak mengembalikan ponsel itu. Kata-kata Karen justru membuatnya semakin penasaran.


Dengan wajah datarnya, dia melihat-lihat isi pesan chat dari teman-teman Karen. Memang pesan itu dari teman wanita semua, tapi isinya sungguh membuat Daniel menyesal telah membaca.

__ADS_1


📱Kristi: Hoy, udah jebol belum Bu? Gimana malam pertama? Kesakitan nggak lo?


📱Mika: Kado lingerie dari aku udah dipake buat indehoy belum, nyonya baru? Dirobek-robek juga boleh kok, udah aku kasih banyak buat serep.


📱Tyara: Kamu pasti melek terus malam hari, lembur yang rajin sama suami haha. Jangan lupa pakai istirahat juga jangan digeber terus.


📱Nikita: Udah berapa ronde, Ren? Mau aku kasih obat kuat? Atau mau dikasih viagra biar tambah hot setiap hari?


📱Citra: Bu Bos, jangan lupa pakai peredam suara biar nggak kedengeran jeritan-jeritan malam hehe (ppsstt, jangan lupa ikutin saran si Cat Woman ya, rileksssss).


📱Inda: Bos Black Widow, selamat ihik-ihik hehe. (Ditunggu podcast edisi khusus malam pertama besok senin ya). Dan jangan lupa traktir donat Duncan Lucknut.


Daniel melotot dan terlihat shock. Keringatnya bercucuran membuat dia kegerahan sendiri membaca chat vulgar dari teman-teman Karen.


Dia pun mengembalikan ponsel itu pada pemiliknya tanpa menatap sedikit pun.


Dia berbaring dan menarik selimut hingga menutupi seluruh badan dan kepala. Tampaknya, isi chat itu benar-benar membuatnya ikut frustasi seperti Karen.


Komik yang tadinya dia baca sudah dia letakkan di dalam laci di samping tempat tidur.


Kamu shock ya? Aku malu, tahu! Eh, aturan ini reciprocal, kan? Kamu juga harus malu. (Karen).


"Hey, Patung Anubis! Aku juga boleh lihat handphone kamu kan?"


Daniel tidak menjawab. Namun, dia terlihat sibuk mencari-cari ponsel di bawah bantal. Kemudian dia menjulurkan ponselnya dengan tangan tanpa membuka selimut yang menutupi seluruh badan.


Karen membuka dengan semangat berharap mendapatkan aib Daniel di sana.bDia menaikkan dan menurunkan layar, membaca satu persatu pesan yang di aplikasi Chatsapp.


Nihil. Chat dari teman-temannya rata-rata hanya mengucapkan selamat biasa saja. Hanya dari Nathan dan Dion yang sedikit nyeleneh. Itu pun tidak separah chat dari teman-teman Karen.


Dia kecewa tidak mendapatkan apa-apa di sana. Dengan berat, ia mengembalikan ponsel itu.


Dia memandangi suaminya yang terbalut selimut putih di seluruh badan. Jika dilihat-lihat, bentuknya menjadi mirip seperti kepompong. Karen tersenyum karena pikirannya.


Namun lama-lama, dia geregetan melihat si suami berada di bawah selimut. Dia pun mencubit lengan Daniel.


"Aw, sakit!" Daniel duduk terbangun dan membuka selimutnya.


"Hahaha, aku udah tahu tombol 'on' kamu sekarang biar kamu ngomong. Musti dicubit dulu ya ternyata."


Wajah Daniel terlihat menyeramkan. "Aku ngomong kalau ada perlunya!"


"Kamu tahu nggak kalau manusia itu perlu ngobrol yang nggak penting?"


"Nggak. Setahuku, manusia ngomong kalau ada keperluan."


"Temen-temen kamu nggak ada yang chat aneh-aneh seru gitu?"


Daniel menggeleng.


"Mulai lagi geleng-geleng doang. Jawab dong! Aku cubit lagi nih!"


"Jangan cubit! Iya aku jawab. Nggak ada."


"Ya ampun, itu yang namanya jawab?"


Dia mengangguk.

__ADS_1


"Jawab itu ya dijelaskan panjang lebar kenapa temen kamu begini begitu atau gimana, aaarrrggghhh ...."


Karen kesal dan frustasi sendiri. Dia mengacak-acak rambut Daniel kemudian merebahkan diri di samping suaminya itu. Tidak lupa guling penyekat dia letakkan di antara mereka.


Yang begitu dibilang jawab. Udah tanya panjang lebar jawabnya 'nggak ada'. Hah, aku bener-bener dinikahin sama patung Anubis. Emang harus dimantra-mantrain biar kamu bangkit hidup, kayak di film mumi. Aaarrrggghhh, kenapa aku bikin perjanjian setahun sih, minggu depan aja langsung sidang cerai. (Karen).


Karen berusaha memejamkan mata. Sedangkan Daniel merapikan rambut yang diacak-acak oleh Karen.


Kenapa orang ini belum-belum udah main cubit, main acak-acak rambut. Ini baru hari kedua menikah. Gimana hari ke 10? Hari ke 30? Diapakan lagi aku nanti? (Daniel).


Mereka pun sama-sama terlelap.


Tepat pukul 12 malam, tiba-tiba berbunyi alarm dari tempat tidur dan di tumpukan kado. Suara alarm itu mirip dengan suara alarm kebakaran, sangat berisik.


Daniel dan Karen pun terbangun.


"Danieeel, apa itu? Berisik!" kata Karen sembari menutup kedua telinganya.


"Nggak tahu," jawab Daniel sembari mencari-cari sumber suara.


Dia menemukan 1 terselip di antar kasur dan ranjang kemudian mematikannya.


Sementara Karen mencari sumber suara dari tumpukan kado.


Kecoak buntung! Yang mana ini. (Karen).


Karen kesulitan menemukan kado mana yang berbunyi karena masih sangat banyak yang masih terbungkus rapi.


Daniel pun ikut mencari.


Tidak lama, mereka menemukan sumber bunyi. Buru-buru mereka membuka kado dan mematikan alarm.


Tidak sulit ditebak siapa pelakunya. Pastilah Nathan dan Dion, dua sahabat Daniel yang sangat usil meski usia mereka sudah tidak muda lagi.


To be continued...


Jogja, May 9th 2021


***


Epilog:


Kilas balik saat Nathan dan Dion di teras sebelum pulang dari rumah Daniel seusai bachelor party.


"Bro, jebakan batmannya lu pasang di mana tadi?" tanya Nathan.


"Gue selipin di kasur."


"Sippp, nanti satunya gue jadiin satu sama kado. Mudah-mudahan belum dia buka sampai waktunya bunyi nanti, biar bingung dia buwahahah. Tos dulu Bro."


"Buwahahahah."


***


***


__ADS_1


__ADS_2