Emak Aku Pengen Kawin

Emak Aku Pengen Kawin
77. Rumitnya Menjelaskan


__ADS_3

"Emangnya kalian lagi berantem?"


"Aku nggak tahu. Seingatku, kami baik-baik aja."


"Kalau Kak Ren sampai pergi itu artinya dia bener-bener marah. Mungkin Kak Daniel ngelakuin kesalahan yang nggak disadari dan bikin Kak Ren minggat kayak gini."


Daniel mengerutkan alis matanya kemudian mengangguk menyetujui. "Bisa juga."


"Kita ke mana sekarang, Kak?"


"Ke kantor Karen."


Daniel menduga mungkin Karen berada di sana.


Di atas dashboard mobil, Daniel meletakkan test pack yang ditemukannya di kamar mandi tadi.


"Apa ini, Kak?" Kendrik mengambil test pack itu dan mengamatinya. "Ini alat tes kehamilan, kan? Hmmmppphhh, ini hasil tes Kak Ren? Berarti sekarang dia lagi hamil?"


"Iya. Aku nemu test pack itu di kamar mandi kamarku. Milik siapa lagi kalau bukan kakakmu."


"Ya ampun, sebentar lagi aku bakal jadi om." Kendrik merasa sangat terharu.


"Ken, masalahnya sekarang Karen belum ketemu."


Kendrik menepuk dahinya untuk yang ke sekian kali. "Oh iya, ya Tuhan? Kita cari dulu Kak Ren, terharunya nanti aja."


Mereka sampai di depan kantor Ren's Writer. Namun, tidak kendaraan terparkir di sana. Lampu di kantor itu juga mati, hanya lampu luar yang hidup dengan pancaran sinar yang tak seberapa terang.


"Kayaknya kosong, Kak. Ehm, udah nyari ke mana aja tadi?"


"Ke rumah teman-teman akrabnya, ke rumahmu, dan ke sini."


"Udah ke studio alias bekas rumah pribadi Kak Ren?"


"Astaga! Nggak kepikiran!" Saking paniknya, Daniel lupa belum mencoba mencari di rumah pribadi Karen yang telah berubah fungsi menjadi studio itu.


"Ayo ke sana, Kak!"


Dalam perjalanan, Kendrik menelpon Mama Puri untuk memberitahukan kabar gembira kehamilan Karen. Mama pun histeris karena saking gembiranya.


Sedangkan Daniel sibuk berdoa dalam hatinya agar Karen benar-benar ada di studio.


Mereka memasuki pelataran. Lampu menyala, namun Daniel tidak mau terlalu yakin dulu. Ada Bu Minah yang menjaga rumah itu. Bisa saja itu Bu Minah.


Dia memasukkan test pack ke dalam sakunya dan masuk ke dalam studio itu menggunakan kunci duplikat miliknya.


Daniel dan Kendrik langsung menuju kamar Karen. Ya, Karen berada di sana, tidur membelakangi pintu kamar sehingga yang terlihat pertama kali adalah punggungnya.


Kedua laki-laki itu mengelus dadanya masing-masing. Mereka lega Karen berada di sana.


"Kak, minum obatnya!" saran Ken.


"Hmm?"


"Sekedar saran aja sih, ini kan keadaan darurat. Kalian perlu ngomong, kan?"


Daniel mengangguk. "Iya juga. Makasih Ken."

__ADS_1


"Aku ke ruang TV ya." Kendrik tidak mau mengganggu kegiatan dua kakak dan kakak iparnya itu. Kemungkinan akan terjadi pertengkaran besar. Bisa saja ada perabot melayang karena dilempar oleh kakaknya.


Aaah, ruang TV ini jadi bagus banget setelah didekor ulang. (Kendrik).


Daniel ke dapur untuk meminum obat. Setelah itu dia memejamkan mata sembari menunggu obat itu bereaksi.


Kemudian dia kembali ke kamar. Dia menatap istrinya yang sedang tidur itu sejenak. Dia pun merebahkan dirinya di samping Karen sembari memeluk dari belakang.


Tangannya mengelus perut istrinya itu.


Insting Karen membimbing untuk bangun karena ingatan bawah sadarnya memberitahu bahwa dia tidak sedang berada di rumah. Pelukan itu terasa tidak masuk akal karena dia hanya bersama Bu Minah di studio.


Dia tersadar dari tidurnya dan memukul tangan yang berada di perutnya itu.


"Aaarrrggghhh." Daniel mengerang dan melepaskan pelukannya.


"Ngapain? Pulang sana ke rumahmu sendiri!" usir Karen.


"Kalau aku pulang, kamu ikut pulang."


"Nggak mau!"


"Sebenernya ada apa? Kenapa tiba-tiba pergi nggak pamit?"


Karen terdiam, masih bingung akan memulai dari mana.


"Ren?"


"Kamu nggak ngerasa ada yang harus kita omongin? Ada dua hal penting yang seharusnya kamu omongin ke aku."


"Bukannya kamu seharusnya ngomongin, ehm, kejadian waktu itu?"


"Kejadian? Yang mana?"


Karen memejamkan matanya. Dia diam dan menunggu Daniel menemukan jawabannya sendiri.


"Apa yang kamu maksud itu kejadian waktu kita having intercourse?"


Karen mengangguk.


"Baik, ayo kita omongin. Kamu mau ngomong apa tentang itu?" Daniel berbicara datar dan pelan.


Kenapa jadi aku sih? (Karen).


"Harusnya kamu yang ngomong, kenapa malah aku? Kan kamu yang mulai duluan waktu itu!"


"Aku harus ngomong apa?"


"Kamu nggak ngerasa harus minta ijin dulu? Kamu nggak ngerasa bersalah dan harus minta maaf?"


"Baik." Daniel berbicara jauh lebih lembut dri sebelumnya. "Aku minta maaf karena nggak minta ijin. Aku minta maaf sudah khilaf berhubungan dengan istriku sendiri." Daniel sedikit tergelitik dan merasa lucu dengan kata-katanya sendiri. Bukankah wajar berhubungan dengan istri sahnya sendiri? Bahkan itu suatu kewajiban.


"Kamu minta maaf karena aku marah begini, kan? Dari hati kamu sendiri, apa kamu nggak ngerasa bersalah atau gimana?"


Ternyata minta maaf belum cukup. Daniel tetap bersabar dan berbicara dengan lembut kepada istrinya yang sedang marah itu. "Waktu aku bangun pagi harinya, aku ngerasa bersalah. Tapi aku ingat detail kejadian itu, aku jadi nggak terlalu merasa bersalah."


"Jadi, kesimpulannya kamu nggak ngerasa salah?"

__ADS_1


Daniel menggeleng.


Ya ampun, ngeselin bener. (Karen).


Karen memukul bahu dan dada suaminya. Matanya mulai mengeluarkan buliran bening di pipinya. "Jahat! Gampang banget kamu ngambil keuntungan dari aku tanpa rasa bersalah!"


Daniel memegangi tangan Karen, mencegahnya melayangkan pukulan ke arahnya. "Aku nggak ngerasa salah karena ingat reaksimu waktu itu."


Seketika Karen merasa malu, wajahnya memerah.


"Aku inget ekspresi wajah kamu ...."


"Stop!"


"Suaramu ...."


"Diaaam!" Karen teramat malu mendengar Daniel membuka aibnya saat mereka menghabiskan malam bersama itu. Karen berusaha menutup mulut Daniel dengan tangan, tapi pria itu memegangi kedua tangan Karen.


"Dari reaksimu, ekspresimu, bahkan suaramu, you seemed enjoying it [Kamu terlihat menikmati]. And satisfied [Dan puas]. Jadi, rasa bersalahku hilang. Dan itu artinya kita saling mengijinkan, kan? Nggak melanggar isi kontrak."


Karen kesal sekaligus malu. Dia pun tertunduk. Dakwaan tentang seputar mereka melakukan hal itu pun secara otomatis hilang karena Karen tidak menolak waktu itu.


"Niel, kalau kamu mau nikah sama orang lain, silahkan. Tapi tunggu setahun dulu baru kita pisah. Selama nunggu, aku tinggal di sini." Karen berbicara dengan suara yang amat lirih.


"Lhoh, kok jadi ngomongin pisah? Aku kan udah minta maaf."


"Di kontrak itu, masing-masing boleh memiliki pasangan di luar asal kasih tahu. Kamu kenapa nggak ngomong kalau punya seseorang?"


"Seseorang yang mana?"


"Udah sih, Niel. Kita lagi ngomong blak-blakan semuanya biar jelas dan terang. Nggak usah sok nggak ngerti segala."


Daniel tambah bingung dan tidak mengerti. "Aku beneran nggak ngerti apa yang kamu maksud. Tolong ngomong yang lebih jelas."


Karen mendengus kesal. Dia pun mengeluarkan laptop dari tas kerjanya dan menunjukkan foto dan video Daniel bersama seorang wanita bernama Rose.


Dalam foto dan video itu sangat jelas wajah Daniel. Itu membuatnya tidak dapat mengelak.


"Kamu nggak bisa ngelak. Kamu nggak bisa bilang kalau orang dalam foto dan video ini bukan kamu. Ini jelas-jelas kamu."


Daniel mengangguk. "Ya, itu aku."


Melihat Daniel yang datar menanggapi, Karen jadi tambah kesal.


"Keterlaluan banget sih kamu, udah ketangkap basah malah santuynya bukan main. Kamu nggak mikir ini semua serius?"


"Serius gimana?"


Karen menepuk dahinya. Daniel yang kadang tidak begitu mengerti makna implisit kambuh di saat yang tidak tepat.


"Begini lho,Dokter Daniel Putra Mandala. Kamu ketahuan pacaran sama wanita yang bernama Rose ini, padahal kita punya kontrak kalau kita harus memberitahu jika punya pasangan di luar! Hah!"


Sialan, kenapa musti didikte?! (Karen).


to be continued


Jogja, July 6th 2021

__ADS_1


__ADS_2