
Tengah malam, Mami terbangun. Dia bergegas menuju kamar Daniel dan Karen. Dengan hati-hati dan dengan meminimalisir segala suara, dia membuka pintu kamar dengan kunci yang dia bawa.
Pemandangan yang ia lihat bukanlah yang diharapkan. Dia tidak mengira aksinya gagal. Karen tidur sembari memeluk bantal, Daniel menutup wajah dengan bantal.
Padahal udah aku singkirin semua yang mungkin menghalangi. Bahkan AC-nya udah aku turunin suhunya, remotenya udah aku sembunyiin dan mereka pelukan aja enggak? Harusnya aku pilih lingerie yang transparan sekalian. (Mami Seli).
Dia meninggalkan kunci-kunci yang tadi dia sembunyikan di meja kamar Daniel. Mami Seli pergi ke dapur dan minum air mineral untuk menenangkan diri. Dia kembali membenturkan kepalanya ke dinding.
Ya Tuhan, kenapa bisa gagal. Padahal mereka seatap udah 2 bulan. Masak iya sekuat itu iman anakku ya Tuhan. Tolong lemahkan imannya sedikit aja biar dia khilaf. Lagian, khilaf sama istri sendiri apa salahnya. (Mami Seli).
Mami Seli kembali memikirkan cara untuk dapat menyatukan pasangan suami istri itu.
***
Pagi hari
Pukul 6 pagi Karen dan Daniel membuka mata hampir bersamaan. Mereka berdua kompak bersin-bersin karena kedinginan semalaman.
"Niel, kayaknya Mami 'tahu' deh, makanya dia sengaja kasih aku baju ini dan ngambil semua kunci di ruangan ini."
Daniel menaikkan kedua alisnya.
Dia tidak begitu memikirkan hal itu. Dia melihat semua kunci berada di meja, kemudian membuka pintu ruang baju. Karen yang masih memegangi bantal di dadanya berlari ke ruangan itu dan segera berganti baju.
"Aku pake ruang ganti duluan, mau ganti baju laknat ini."
~
Di ruang makan.
Karen merasa agak malu bertemu Mami. Aksi Mami semalam menandakan bahwa dia sudah tahu urusan ranjang Daniel dan Karen. Dia juga lebih waspada terhadap Mami Seli. Jika semalam gagal, bisa saja ibu Daniel melancarkan aksi berikutnya.
Apa aku konfrontasi langsung aja ya? (Karen).
Karen pun membayangkan percakapan antara Mami dan dirinya jika benar mereka berbicara blak-blakan.
💭Karen: Mi, kenapa semalam Mami kasih aku lingerie ini? Dan kenapa kunci closet disembunyiin? Kenapa kunci pintu kamar kami dari luar?
💭Mami Seli: Karena Mami tahu kalian belum berhubungan. Sudah 2 bulan menikah kenapa kalian belum berhubungan?
💭Karen: Karena aku nggak cinta sama Daniel, dan Daniel benci sama aku.
💭Mami Seli: Kalau kamu nggak cinta, kenapa menikah dengan Daniel? Kan dulu waktu masa perkenalan, kamu bilang kamu suka sama Daniel makanya kamu mau menikah sama dia.
💭Karen: Itu ... itu ....
Karen menggeleng-gelengkan kepalanya menyudahi imajinasi percakapan dengan Mami yang seperti bagaimana pun isinya, akhir-akhirnya tetap dia yang salah.
Mendingan kami saling pura-pura nggak tahu aja, tapi aku harus punya aksi pencegahan. Takutnya Mami beraksi lagi. (Karen).
"Mami," sapa Karen dengan ceria. "Mami udah segar bugar, udah sehat kan, Mi? Nanti sore, aku sama Daniel pulang ke rumah kami, ya."
Hah, sial, kenapa aku gerak sana gerak sini sih, jadi kelihatan nggak sakit. Kurang total actingnya. (Mami Seli).
"Ya udah nggak apa-apa kalian pulang." Mami tidak tampak kecewa sama sekali, malah dia tersenyum ceria.
Karen sangat lega. Dia mengira Mami Seli sudah menyerah. Dia pun menikmati susu coklat di hadapannya.
"Kalian pulang nggak apa-apa, biar Mami yang nginep di sana."
"Uhuk ... uhuk." Karen langsung tersedak karena kaget.
Suara Mami yang biasa saja di telinga Karen serasa seperti suara mercon. Atau malah seperti orang yang sedang menyanyi dengan suara sumbang. Dua-duanya tidak enak didengar.
__ADS_1
Hah, bisa-bisa Mami pasang jebakan permanen. (Karen).
"Ng-nggak usah, Mi. Kami masih pengen di sini kok. Iya kan, Niel?!"
Daniel mengangguk.
Karen membawa kunci kamar dan kunci walk ini closet untuk berjaga.
Mami nggak bisa pasang jebakan lagi, kuncinya aku bawa semua hahah. (Karen).
~
Kantor Ren's Writer
"Kenapa, Bos? Kok mukanya ditekuk gitu?" tanya Inda.
"Mertua."
"Hahah, di mana-mana persoalan wanita itu emang sama mertua."
"Kamu juga? Kayak gimana?"
"Dia nanyain kapan aku hamil mulu, nanyain bisa masak apa aja, ngatur caraku pegang panci, banyak pokoknya. Kalau mertua Bos, gimana?"
"Masak mertuaku pasang jebakan batman buat bikin aku sama Daniel ...."
Eit, hampir keceplosan. (Karen).
"Bikin Bos sama dokter Daniel kenapa?"
"Bikin aku sama Daniel bersin-bersin gara-gara nurunin suhu AC gitu. Hehe, udah akh sana kerja!"
"Ikh si Bos, kan baru mau ghibahin mertua. Lagi mulai asyik, malah eike disuruh kerja lagi."
Karen pun keluar dari ruangan dan mengecek seluruh karyawannya yang sedang bekerja. Dia memperhatikan beberapa penulis yang akhir-akhir ini terlambat menyelesaikan job. Akan diapakan mereka nanti saat evaluasi.
Dia juga melihat ke meja Haris yang kosong karena ditinggal pemiliknya untuk memotret di studio.
Dia kembali lagi ke ruangannya.
"Para freelancer gimana, Cat?"
"Ni Bos, lihat sendiri! Emailku banjir kiriman hasil tulisan mereka. Meski banyak yang belum bener ejaannya, mereka kerja cepet banget."
"Good lah. Soal ejaan nanti bisa kita benerin pake typo detector."
~
Rumah Mami Seli sore hari
Mami Seli berkacak pinggang sembari mondar mandir di dapur. Sebentar-sebentar, dia mengubah posisi tangan dan memegang dagunya.
"Stellaaa!"
Stella segera mendatangi sumber suara itu di dapur. "Apa, Mi?"
"Tolong kamu ke apotek beli ini ya." Mami Seli mengambil kertas dan menuliskan nama obat di sana.
"Sildenafil?" Stella yang tidak tahu apa fungsi obat itu pun mencari tahu di mesin pencari, Tugel. Dia kaget dengan temuannya. "Mami! Masak aku disuruh beli obat beginian? Aku ini anak gadis, malu, Mi! Lagian Mami beli ginian buat siapa sih?"
"Ada deh! Terus siapa dong yang beliin?"
"Minta tolong Mbok Idah aja, Mi."
__ADS_1
"Nah, bener. Tolong kamu panggilin dia, ya!"
Mbok Idah menerima kertas itu. "Sildenafil itu obat apa ya, Ndoro Mami?"
"'Pembangkit listrik', sssttt, udah beliin aja! Cepet ya, Mbok!"
"Baik, Ndoro."
Mbok Idah segera membelikan obat yang diminta oleh nyonya besarnya itu.
Para apoteker di sana berbisik-bisik melihat obat yang dibeli oleh wanita tua itu.
"Ini obat apa sih, Mbak? Kok yang nitip tadi bilangnya ini pembangkit listrik. Emang bisa ya hidupin listrik pake obat ini?"
Sembari tersenyum-senyum apoteker itu menjawab. "Ini obat disfungsi ereksi, Bu. Kasarannya obat perangsang gitu."
"Astaga!"
"Yang nitip siapa ya, Bu? Mohon maaf, 18 tahun ke bawah tidak boleh mengkonsumsi."
"Oh, yang nitip mah udah dewasa, tua malah. Orang nyonya saya yang nyuruh beli."
Eyalah Ndoro Mami, udah usia lanjut eh masih kepengen mantap-mantap. Kasihan Ndoro Papi sudah waktunya 'pensiun' malah 'dibangkitkan' pake obat. (Mbok Idah).
Mbok Idah mengira obat itu untuk Mami Seli dan Papi Danu.
~
Malam hari saat makan malam.
Seluruh penghuni rumah makan bersama. Sebelum bergabung bersama yang lain, Karen memeriksa kamar. Remote AC, kunci walk in closet dan kunci pintu, semuanya aman dalam kendali Karen.
Oke, saatnya makan malam dengan tenang. (Karen).
Karen menyusul makan malam. Dia menatap semua orang, sepertinya tidak ada yang mencurigakan. Dia pun makan.
Di samping masing-masing piring juga sudah tersaji jus jeruk instan yang telah dituangkan ke dalam gelas. Mami Seli sudah menambahkan obat perangsang di jus milik Daniel dan Karen.
Daniel telah selesai makan. Mami memandangi gelas Daniel sembari membaca mantra dalam hati.
Minum jusnya, Niel, minum jusnya! Habisin! (Mami Seli).
Seolah terkena mantra Mami, Daniel meminum jus itu hingga habis. Mami Seli tersenyum gembira.
Karen juga telah selesai makan malam. Dia hendak meminum jus itu, namun direbut oleh Daniel dan ditukar dengan air putih miliknya.
"Kenapa, Niel? Oh, ini merk Pupil Orang ya?"
Daniel mengangguk.
"Lhoh, kok Karen nggak minum jusnya?" Mami protes.
"Aku pusing kalau minum jus merk yang ini, Mi."
"Oh." Mami mengangguk.
Ya udah lah, Daniel doang yang minum nggak apa-apa. Mudah-mudahan berhasil. (Mami Seli).
to be continued...
Jogja, June 15th 2021
***
__ADS_1
find me on Instagram: @titadewahasta