
H-1 jelang pernikahan
Nathan dan Dion sudah mempersiapkan bachelor party atau pesta lajang privat bagi sahabat mereka. Mereka tahu karakter sahabatnya yang tidak begitu suka dengan keramaian itu sehingga pesta lajang itu hanya bertiga saja.
Pesta itu diadakan di rumah Daniel, tapi segalanya disiapkan oleh Nathan dan Dion. Saat persiapan, Daniel diusir dari rumahnya sendiri agar mereka lebih leluasa menyiapkan.
Pesta lajang ini bukanlah pesta yang sama persis dengan pesta lajang ala barat.
Tidak ada minuman beralkohol, tidak ada penari striptis. Mereka hanya akan menonton film, bermain games sembari berkelakar dan memakan cemilan.
Tulisan "Daniel is getting married" sudah terpampang di ruang tv. Sebuah mahkota plastik juga sudah tersedia di sana.
"Udah selesai, Bro! Telpon Daniel geh, suruh pulang!" kata Nathan kepada Dion.
"Okray."
Daniel yang sedari tadi menunggu di kafe dekat rumah segera pulang.
Sampai di rumahnya, dia disambut oleh 2 dokter yang dipertanyakan kewarasannya itu. Tangan Dion sudah memegangi mahkota yang langsung dipakaikan ke kepala Daniel saat datang.
"Surprise!"
"Ayo ke ruang TV! Nggak usah malu-malu, anggap aja rumah sendiri," ajak Dion. Padahal itu memang rumah Daniel.
Mereka memutar musik house dan RnB sembari menyantap pizza sebagai menu makan malamnya. Setelah kenyang, mereka menonton film.
"Hey, Niel, ini kan bukan stag party atau bachelor party kayak di luar negri, nggak ada stripper. Sebagai gantinya, kita nonton ini dia, blue film buwahahah," kelakar Nathan sembari menghidupkan smart TV yang sudah dihubungkan dengan flashdisk berisi film plus-plus.
"Buwahahahah ...." Dion ikut tertawa.
Sedangkan Daniel pucat pasi. "Kita nonton apa!"
"Tenang, Niel, ini kan malam terakhir kamu single. Besok-besok udah bisa praktik sendiri," kata Dion.
Musik house tetap diputar meski mereka sedang menonton film. Jadi, suasana tidak 'panas', tidak seperti suasana menonton blue film pada umumnya. (Emang umumnya gimana sih suasananya? Author kan polos😂).
Beberapa kali Daniel ingin menghindar dan pergi dari ruangan itu. Namun, Dion dan Nathan sigap menahan.
"Mau kemana, Niel? Tonton sampai habis dong!"
"Iya, Niel! Harus sampai habis dong, kan nanggung jadinya," timpal Dion.
"Wuih wuih, pernah kayak gitu belum, Bro?" tanya Nathan.
"Sering, buwahahahah ...."
"Hey, Niel, aku kasih wejangan ya! Nanti kalau mau malam pertama, ingat, jangan gegabah!" (Nathan).
"Berdoa dulu!" (Dion).
"Bilang I Love you!" (Nathan).
"Puji dia cantik dan seksi!" (Dion).
"Minum jamu kuat!" (Nathan).
"Hush itu belum perlu, Bro. Pengantin baru staminanya masih oke, nggak kayak elu." (Dion).
"Pppfffttt ...." Daniel terkekeh melihat tingkah sahabatnya itu.
__ADS_1
"Gue juga masih tergolong pengantin baru kali." (Nathan).
"Sedia handuk!" (Dion).
"Matikan lampu biar romantis!" (Nathan).
"Setel musik yang kenceng, biar kalau kalian teriak-teriak akh ikh ukh okh nggak ada yang denger!" (Dion).
"Temponya slow aja dulu!" (Nathan).
Tempo? Tempo musik? (Daniel).
"Nah, ini penyakit pengantin baru yang bikin pasangan kesakitan, sukanya srudak-sruduk kayak banteng." (Dion).
"Terus, yang bener gimana, Bro?" (Nathan).
"Yang bener, hidangan pembukanya yang ringan-ringan aja." (Dion).
Hidangan pembuka? Cemilan? (Daniel).
"Wow wow, stop dulu ngomongnya, adegan bagus ini." Nathan mengalihkan perhatian mereka pada layar di depannya lagi.
"Wow, nanti kita praktikkin ya, Bro," kata Dion sambil melayangkan tangan ke udara, mengajak tos.
"Kita praktik, ndyasmu!"
"Kita itu maksudnya gue sama bini gue, elu sama bini elu. Bukan kita berdua. Ngarep lu ya! Kegantengan gue emang dikagumi semua kalangan sih."
"Najis!" umpat Nathan sambil memberi ekspresi jijik.
Sampai pada adegan yang sangat panas, Daniel menutup matanya dengan kedua tangan.
Namun, tetap saja tangan Daniel menutup matanya sehingga Nathan dan Dion menurunkan tangan itu dengan paksa.
"Heh, buka! Pelototin gaya-gayanya, kalau perlu catet!"
"Iya, itu download-nya perlu perjuangan. Situs-situs begitu udah diblok di negeri ini. Aku relain download pakai VPN, tahu!" Nathan tidak rela hasil unduhannya tidak ditonton.
Daniel terus memberontak, Dion dan Nathan terus memegangi tangannya. Mereka memegangi tangan Daniel sepanjang film diputar. Sesekali mereka memaksa mata Daniel terbuka saat dia mencoba memejamkan mata.
Akhirnya film itu selesai juga.
"Thank God," kata Daniel, lega.
Tunggu dulu! Tak semudah itu, Bung Daniel! Ternyata, sesi menonton blue film belum sepenuhnya berakhir. Nathan memutarkan file lain yang sangat bervariasi.
Bahkan ada pula film dengan pemeran pria yang sudah lanjut usia tapi sangat terkenal dan kuat perkasa, si kakek 'S'.
"Heh, Niel, ni yang udah bau tanah aja bisa begitu. Kamu jangan kalah pokoknya wuahahah," kata Dion sembari tertawa.
***
Sementara itu, Karen juga sedang mengadakan bachelorette party bersama Inda dan Citra di rumahnya. Pesta itu tak jauh beda dengan pesta Daniel. Pembicaraan mereka adalah seputar malam pertama.
"Bos, pokoknya, malam pertama harus rileks. Jangan tegang, nanti sakit," kata Inda yang sudah berpengalaman.
"Oh ya? Eh emang gimana rasanya malam pertama?" Citra penasaran.
"Kamu lihat ini?" Dia mengambil buah apel dan mengirisnya dengan pisau. "Kayak gini rasanya."
__ADS_1
"Hah? Cat Woman, jangan bercanda! Kalau segitu sakitnya, kenapa banyak orang ketagihan begituan?"
"Nah, itu di yang bikin aku bingung, Bos Black Widow."
"Masak nggak ada enaknya sama sekali?" tanya Citra.
"Ya ada, hehe. 50:50 lah."
"Yeee, kalau gitu jangan khawatir, Bos, rasa sakit kebayar sama enaknya," hibur Citra.
Aku sih nggak khawatir, orang nggak bakal malam pertama sama Daniel. Gila kali mau berhubungan sama orang yang ngeselin kayak tembok begitu. Eh, aku gila ya mau nikah sama dia, haha, ya, aku gila! Bodo', yang penting ganti status. (Karen).
Inda mengeluarkan sebuah kue dari kardus yang dibawanya. Kue itu berbentuk alat kelamin lelaki.
"Anjirrr, gendeng kamu, Cat Woman! Aku disuruh makan kue yang bentukannya meriam tumpul!"
"Hayah, Bos jangan panik! Besok juga tiap hari lihat. Ya kan, Cit?"
"Iya, Bos. Lucu ya bentuknya, sayang kalau mau dipotong."
"Hyah, noh buat kamu aja."
"Eh, Bos, aku capek-capek nyari kue ini. Dan malu waktu pesennya. Jadi harus dimakan."
Citra dan Inda memaksa Karen untuk memakan kue itu sambil bersorak, "Makan, makan, makan!"
Akhirnya Karen membuka mulutnya. Inda memasukkan kue itu ke dalam mulut Karen. Belum sempat Karen menggigit, Inda menariknya lagi.
"Hahaha, nanti kayak gitu ya, Bos. Dimainin dulu."
Ponsel Karen berbunyi. Sebuah foto dikirim oleh Daniel melalui Chatsapp. Foto itu adalah foto Daniel yang menggunakan mahkota dengan wajah yang sudah dicoret-coret dengan spidol hitam.
Diperlihatkan pula background layar smart TV yang sedang memutar blue film. Terlihat Daniel dipegangi oleh Dion. Tentu saja Nathan yang memotret dan mengirimkannya kepada Karen. Daniel harus pasrah ponselnya dibajak Nathan.
"Apa tuh, Bos?" Citra mengintip dari belakang punggung Karen.
"Foto Daniel lagi dikerjain temennya nih." Karen memperlihatkan foto itu pada Inda dan Citra.
Mereka berdua pun berpandangan dan memiliki pikiran yang sama.
Inda merebut ponsel Karen, sementara Citra memegangi Karen. Inda memegang ponsel dengan tangan kanannya untuk mengabadikan momen itu. Tangan kirinya memegangi kue yang berbentuk tidak senonoh itu dan memasukkannya secara paksa ke dalam mulut Karen.
Foto itu kemudian dikirim kepada Daniel.
Nathan yang sedang menguasai ponsel Daniel terbahak-bahak melihat foto Karen.
"Bro sini Bro, calon bini Daniel juga lagi bachelorette party, hahaha, parah juga tuh orang," komentar Nathan melihat foto itu.
"Mana ... mana?" Dion tidak sabar.
Daniel penasaran dan merebut ponselnya dari tangan Nathan. Mereka bertiga pun tertawa melihatnya.
To be continued...
Jogja, May 2nd 2021
***
find me on Instagram: @titadewahasta
__ADS_1
find me on YouTube: Tita Dewahasta