Emak Aku Pengen Kawin

Emak Aku Pengen Kawin
65. Sindrom Hanger


__ADS_3

"Tahu lah, di SMA Vincitore. Kita kan pernah ngomongin soal ini Ken, masak kamu lupa."


"Hahah, tuh kan begonya kebangetan. Tahu nggak SMA Vincitore itu SMA internasional. Masuk ke sana itu susah Kak, dan harus berkelakuan baik. Kalau emang bener Kak Niel dikeluarin, masak dia pindah ke sekolah yang lebih bergengsi?"


Sebenarnya Karen tahu tentang SMA itu, tapi dia tidak pernah sampai pada pemikiran seperti Kendrik.


Astaga, iya juga. Aku nggak pernah kepikiran sampai ke situ ya? Siswa yang dikeluarin karena kasus seperti itu nggak bakal bisa sekolah di sekolah se-bergengsi Vincitore. Mereka diblacklist. Kalau nggak diperjuangkan dengan gigih, banyak yang bahkan nggak bisa sekolah di SMA biasa dan harus kejar paket. (Karen).


"Jangan terbiasa berasumsi doang, lihat fakta juga. Plus pake logika. Ngomong-ngomong, kamu denger dari orang lain itu dari siapa sih?" Kendrik penasaran dengan sumber berita Karen.


"Dari ... ada lah."


"Haris?"


"Lhoh kok tahu?"


"Asal nebak aja, heheh."


Kendrik pun segera mengerjakan proposal skripsinya dibantu Daniel.


~


Malamnya, mereka makan bersama kemudian adik kesayangan Karen itu pun pulang.


"Makasih ya, Niel, l udah bantu Kendrik ngerjain proposal skripsinya," kata Karen.


Daniel mengangguk kemudian masuk ke kamar untuk tidur.


Sikap Daniel semakin lama semakin dingin. Dia bahkan lebih jarang bicara kepada Karen. Tapi Karen tidak begitu masalah dengan itu.


Setelah dia tertidur, Karen kembali mengamati wajah Daniel.


Meski kamu tambah nggak bisa ngomong sama aku, kenapa tetep aja gemesin dasar Kudanil. (Karen).


Seperti biasa, Karen mengganggu tidur Daniel hingga beberapa kali terbangun.


"Pppfffttt."


Karen pun ikut terlelap setelah puas mengganggu Daniel.


***


Kantor Ren's Writer, keesokan hari


Karen melihat ke arah jendela di ruangannya. Tangannya menyangga dagu. Dia tenggelam dalam imajinasi indah bersama Daniel.


Inda masuk ke ruangan setelah mengecek postingan artikel client.


Duh Bos kok ngelamun sambil senyum-senyum kayak orang gila gitu ya? Apa dia stres karena profit perusahaan lagi turun? (Inda).


"Bos Black Widow, 10 artikel terlambat."


"Diam!" jawab Karen sembari matanya masih fokus ke jendela.


"Bos, beberapa artikel di-complaint karena acak-acakan."


"Diaaam!" Masih sembari tersenyum dan fokus ke jendela. Dalam bayangannya, dia sedang digendong oleh Daniel ala bridal style.


Dia pernah gendong aku waktu ketiduran di ruang komik. Sayang banget aku tidur jadi nggak ngerasain apa-apa. (Karen).


"Booos!"


"Apa sih?" Akhirnya perhatiannya teralih kepada Inda.


"Gimana?"

__ADS_1


"Gimana apanya?"


"10 artikel terlambat sama ada yang di-complaint acak-acakan."


"Apa?! Kok nggak bilang dari tadi?!"


"Tadi udah bilang kali, Bos. Bos aja yang bengong."


Setelah sekian lama, akhirnya si Bos kumat lagi. (Inda).


Hampir saja Karen marah, tapi tidak jadi. Dia malah menjadi bersemangat. "Aku percaya kamu Cat Woman-ku. Kamu bisa atasin kan? 10 artikel kasih aja ke freelancer, artikel yang acak-acakan suruh penulisnya buat ngedit dipandu Citra. Oke?"


"Bi-bisa sih, lha Bos mau ngapain?"


"Aku pergi dulu ya, bye."


Karen pergi dari sana meninggalkan Inda sendiri. Inda bersama Citra mengatasi beberapa problem tersebut.


~


Rumah sakit Keluarga Bahagia


Daniel menyelesaikan konsultasi dengan seorang pasien. Kemudian perawat memberikan map pasien berikutnya.


"Langsung panggil aja, Suster."


"Baik, Dok. Pasiennya istimewa lho, Dok. Silahkan Bu Karenina."


Daniel terkejut. Dia pun membuka map dan memastikan nama pasien. Benar, Karen adalah pasien berikutnya.


Dia memberi kode kepada perawat untuk keluar.


Karena Daniel belum juga menanyai Karen, wanita berambut merah itu memulai bicara terlebih dahulu. "Ehm, jantungku akhir-akhir ini sering deg-degan kenceng banget."


Daniel mengangguk. Dia membuat rujukan untuk EKG di lab.


Daniel memberikan kertas itu kepada Karen.


"Lhoh periksa di lab? Nggak diperiksa kamu?"


Daniel menggeleng.


Karen kecewa karena bukan Daniel yang memeriksa. Dengan malas dia pergi ke laboratorium diikuti Daniel.


Para perawat yang melihat berbisik-bisik.


"Kalau pasiennya istri sendiri diikutin sampai ke lab gitu ya, hihi," bisik seorang perawat.


"Iya lah, kalau di ruang poli itu tugas dia sebagai dokter. Kalau nganter pasien sampai ke lab itu tugas dia sebagai suami," bisik perawat yang lain.


Para perawat merasa Daniel berlaku istimewa. Sedangkan Karen tidak merasa begitu karena dia tidak tahu bahwa pasien biasa tidak pernah diantar Daniel sampai ke laboratorium.


Setelah selesai proses EKG, mereka kembali ke ruang poli dengan print out EKG. Daniel melihat hasilnya.


"Hasilnya bagus, kamu nggak apa-apa," kata Daniel.


"Oke, terus diresepin apa?"


Daniel menggeleng.


Karen pun keluar dari sana dengan membawa kekecewaan. Dia berharap dicolek-colek oleh Daniel. Satu-satunya cara agar tidak terlihat sedang menggoda adalah dengan menjadi pasien. Meski sedikit kecewa, dia bahagia bisa bertemu Daniel.


~


Sepeninggal Karen dari ruang periksa, sakit Daniel kambuh. Dia memegangi dada dan menahan sesak napas.

__ADS_1


"Dok ... kenapa, Dok?" tanya perawat.


"Nggak apa-apa, Sus, udah biasa. Cuma sebentar kok."


~


Kantor Ren's Writer


Inda menugaskan 3 freelancer untuk mengerjakan 10 artikel yang terlambat. Citra memeriksa dan membantu penulis yang artikelnya harus direvisi.


"Beres, Nda?"


"Beres, Cit. Tinggal nunggu kiriman mereka. Paling nanti jam 3 udah selesai."


"Syukur deh."


"Cit, menurut kamu, aku pantes jadi ibu nggak?"


"Ya pantes lah, kamu kan perempewi. Kalau kamu bapak-bapak ya jadi ayah."


"Wkwkwk, ngaco! Bukan itu maksudnya. Udah beberapa bulan nikah kok belum ada tanda-tanda hamil."


"Kata orang sih kalau pengen hamil, coba minta temen yang lagi hamil buat injekin kaki kamu. Atau asuh anak kecil buat pancingan."


"Hayah, mitos! Eh ngomong-ngomong soal temen hamil, temen kosku dulu lagi hamil. Ntar sore aku mau main ke tempat dia pengen ketemu sama anaknya yang besar. Mau ikut nggak?" ajak Inda.


"Aduh maaf aku nggak bisa ikut nanti, Nda," tolak Citra.


"Main ke tempat siapa, Cat?" Karen yang baru saja tiba di kantor mendengar buntut pembicaraan Citra dan Inda.


"Lana, Bos. Istrinya dokter Nathan. Kangen sama anaknya. Dianya kan lagi hamil juga. Eh, Bos ikut aja sekalian yuk."


"Nggak mau akh, aku mau cepet pulang, mau masak," kata Karen sembari tersenyum.


"Tumben Bos jadi pengen pulang awal waktu, biasanya ngeloyor dulu ke mall atau ke mana." Citra keheranan.


"Adikku nanti ke rumah mau ngerjain proposal skripsi, jadi aku harus pulang cepet," jawabnya, masih sembari tersenyum.


"Bos kayak lagi kena sindrom hanger lagi deh, tuh mulut dikondisikan dong. Hanger-nya dilepas biar nggak senyum mulu, kayak orang stres tahu," protes Inda.


Karen hanya mengangkat kedua bahunya.


"Ayo dong Bos, ikut aku nanti sore. Bentar aja kok. Ini permohonan dari asisten setia lho. Tadi juga aku udah selesein problem di kantor, kalau Bos ikut, aku anggep jadi hadiah spesial," rengek Inda sembari menarik-narik lengan Karen seperti sedang menarik lengan ondel-ondel.


Akhirnya Karen luluh juga. "Ya udah, oke deh! Tapi nggak boleh lama-lama karena aku harus masak."


Padahal biasanya Karen akan ogah-ogahan memasak jika dia pergi dengan Inda. Tapi sekarang, dia seperti mendapat nyawa baru.


~


"Rumah Nathan sama Lana itu di mana sih, Cat Woman?"


"Deket rumah sakit. Di kiri rumah sakit ada gang, masuk dikit udah sampai kok."


"Oke, deh!" Karen memacu mobilnya setelah tahu perkiraan letak rumah Lana.


Saat memasuki pelataran 'rumah' Lana, Karen takjub dengan 2 bangunan yang amat besar. Lebih pantas disebut vila atau mansion daripada rumah.


Buset, gedhe amat nih rumah. (Karen).


To Be Continued...


Jogja, June 23rd 2021


***

__ADS_1


find me on Instagram: @titadewahasta


__ADS_2