Emak Aku Pengen Kawin

Emak Aku Pengen Kawin
58. Malam Yang...


__ADS_3

Semua penghuni masuk ke kamar masing-masing. Mami Seli berharap-harap cemas akan usahanya.


Karen masih di ruang televisi menonton acara meski pikirannya tidak fokus menghayati tontonan. Dia berpikir keras bagaimana Mami tahu tentang dirinya dan sang suami.


Oh, aku baru inget. Waktu itu aku lupa nggak kunci pintu. Mami ngintip? Dih. (Karen).


Sementara itu, Daniel berbaring di atas tempat tidur. Badannya menghangat. Rupanya, obat yang diam-diam dicampur dengan jus jeruknya itu mulai bereaksi.


Mami mendengar suara televisi yang masih menyala. Dia pun memeriksa. Benar saja, menantunya masih di sana.


"Karen, kok belum ke kamar?"


"Emangnya kenapa, Mi?"


"Nggak apa-apa. Cuma, mendingan kamu tidur aja, istirahat! Besok biar seger kerjanya."


Mencurigakan. Pasang apa lagi di kamar? Kuncinya aku pegang, tapi sekarang kamar nggak terkunci. Bisa aja Mami masukin sesuatu di sana. (Karen).


Hish, kenapa nggak masuk-masuk kamar sih? Putar otak. (Mami Seli).


"Aku belum ngantuk, Mi. Lagian aku punya asisten kok, kalau aku ngantuk, bisa digantiin sama asisten."


"Oh, gitu. Mumpung kamu belum tidur, Mami ambilin sesuatu yang baru aja Mami beli buat kamu, ya!Baju tidur yang lebih bagus daripada yang kemarin. Tunggu di sini! Mami ambil dulu."


"Eh, Mami ...."


Shitt, jangan-jangan dikasih lingerie yang lebih hot. (Karen).


"Kenapa, Ren?"


"Aku udah ngantuk, besok lagi aja, Mi. Ehm ... baju tidur yang kemarin juga masih bagus banget kok. Dah ya, Mi."


Karen berlari ke kamar. Dalam hatinya, dia terus bersyukur bisa lari dari jebakan Mami. Dia tidak tahu jika jebakan Mami yang sebenarnya sedang ada di dalam kamar.


Karen masuk ke kamar dan langsung mengunci pintu untuk menghindari Mami masuk ke kamar.


Daniel yang sedang berbaring, menoleh karena mendengar suara pintu yang dikunci. Karen berbaring di samping Daniel dengan disekat bantal dan guling. Dia memejamkan mata.


Daniel menyingkirkan guling dan bantal itu dan mendekatkan badan pada Karen. Tangannya melingkar ke perut Karen secara perlahan.


Menyadari ada yang menyentuh, Karen reflek memukul tangan itu.


"Daniel! Ngapain tanganmu?"


Daniel menggeleng. Dia juga tidak mengerti kenapa dia ingin sekali menyentuh istrinya.


Karen mendorong badan Daniel agar menjauh. Namun, Daniel selalu kembali mendekatkan badannya ke badan Karen hingga membuat istrinya itu geram.


Kemarahan Karen tidak membuat Daniel berhenti, malah semakin mendekat. Obat itu benar-benar telah bereaksi sepenuhnya.


"Niel, kamu ngelindur apa kenapa?"


Daniel sudah berada di atas Karen dan mencium bibir istrinya dengan lembut. Namun, karena Karen memberontak, Daniel menjadi kasar.


"Hmmmppphhh ... puahhh, Daniel!" Karen berhasil melepaskan bibir Daniel dan menampar keras wajah suaminya yang sedang brutal itu. "Sadar, woy!"

__ADS_1


Sayangnya, tamparan tidak membuat obat itu berhenti bereaksi. Daniel masih memburu Karen dengan mata merahnya.


Daniel mencengkeram tangan Karen sehingga dia kesulitan bergerak. Namun, kepalanya masih bisa menghindar dari serangan ciuman berikutnya. Dengan mengerahkan segala tenaga yang tersisa, Karen mengeluarkan jurus karate yang dia pelajari untuk menendang Daniel.


Dia pun berhasil bangun dan berlari. Tapi, Daniel berhasil mengejar dan memojokkan badan Karen di dinding.


"Mamiii, Papiii, Stellaaa, tolonggg!"


Sebenarnya, semua orang mendengar teriakkan Karen. Stella yang juga mendengarnya, diam saja di kamar dan berusaha memejamkan mata. Mami telah berpesan, apa pun yang terjadi, Stella tidak boleh keluar kamar.


Sedangkan Mami sekarang tersenyum bahagia.


"Mi, kenapa itu?" Papi penasaran.


"Udah, kita tutup kuping aja! Biasa anak muda."


"Memangnya anak muda begitu, Mi?"


"Iya lah, Pi, mereka kan heboh."


"Heboh ngapain sih?"


"Yaelah, masak gitu aja nggak ngerti, Pi? Ya heboh gini-gini," kata Mami sambil tangannya memperagakan gerakan seperti dua burung saling mematuk.


Papi hendak turun dari tempat tidur untuk mengecek.


"Papi, mau ke mana?"


"Nge-check, Mi."


"Yang kayak gitu jangan di-check, biar aja mereka berekspresi bebas, teriak-teriak sekerasnya."


Eh, iya juga ya. Paling banter oh yes oh no. Apa dosisnya terlalu banyak terus Daniel jadi brutal sampai Karen kesakitan? (Mami Seli).


Mami Seli mulai khawatir.


"Ya udah, biar Mami aja yang ke sana. Papi tidur aja!" Mami pun menuju kamar Daniel dan Karen.


Daniel kembali mencium kasar istrinya.


Aku harus lepas dari si gila ini. Mendingan aku pancing dia ke sisi sana. (Karen).


Karen melepaskan diri dan berlari ke arah yang berlawanan dengan pintu. Sengaja dia berhenti dan menunggu Daniel di sana. Daniel mengejar dan mendapatkan Karen dengan mudah. Di sana, Karen meladeni ciuman Daniel.


Ketika Daniel lengah dan tenggelam dalam ciuman, Karen menendang perut Daniel dengan lutut kemudian berlari ke arah pintu.


"Aaarrrggghhh." Daniel merasa sedikit sakit pada perutnya. Meski tendangan Karen tidak begitu terasa bagi perut kekar Daniel, tapi berhasil membuatnya teralih.


Bingo! Karen berhasil keluar dan mengunci pintu itu dari luar.


Di depan pintu, Mami sudah menunggu dengan khawatir. "Kenapa, Ren?"


"Daniel, Mi. Kenapa dia jadi kayak orang kesurupan begitu?"


"Kesurupan gimana? Apa dia kasar?"

__ADS_1


"Enggak, Mi. Tapi dia jadi ehm ... ehm ...."


Mami mengelus dadanya lega. "Jadi dia nggak kasar, kan?"


Karen menggeleng. "Enggak kasar sih, tapi agresif."


"Lhoh, ya nggak apa-apa, kalian kan suami istri. Udah sana masuk, diladeni suaminya!" kata Mami sembari mengarahkan badan Karen ke kamar dan hampir membuka kunci pintu itu.


"Tapi, Mi ...."


"Tapi apa? Sssttt, udah nggak usah malu, nanti Mami tutup kuping."


"Tapi ...."


"Apa, Ren?"


"Tapi aku lagi haid, Mi."


"Ha? Masak sih? Jangan bohong deh!"


"Nggak bohong, Mi, sumpah! Baru tadi sore mulainya. Ini aja pembalutnya minta sama Stella."


Mami melemas, kemudian kembali ke kamar dengan frustasi.


Sementara Karen berada di depan pintu kamarnya.


Daniel menggebrak-gebrak pintu itu dan memanggil-manggil Karen. "Karen! Ren!" Terdengar suara Daniel terus berteriak menyebut nama sang istri.


Karen terduduk di lantai di depan pintu kamarnya.


Kenapa orang itu? Apa dia udah nggak bisa nahan diri? Semalem aku pake lingerie, tidur nggak pake sekat juga baik-baik aja kok. Kenapa sekarang belingsatan kayak orang dikasih obat perang- (Karen).


Karen baru menyadari keanehan Daniel.


Apa Mami kasih obat perangsang? (Karen).


Karen mencocok-cocokkan kejadian tadi sore. Dia juga berpikir di mana Mami memasukkan obat itu? Semua makanan bisa diakses seluruh penghuni dan semua baik-baik saja kecuali Daniel.


"Karen! Kareeen!" Daniel masih berteriak.


Untung aja aku haid. Kalau enggak, jebol deh. Sempet kena sosor juga nih mulut. (Karen).


Karen mengusap-usap bibirnya sendiri membersihkan bekas bibir Daniel.


Beberapa saat kemudian dia lelah dan tidur terlelap sembari duduk bersandar pada pintu kamar.


Karena pintu itu tidak segera dibuka, Daniel yang masih seperti orang kesetanan itu masuk ke kamar mandi dan mengguyur badan dengan air dingin. Dia berlama-lama di bawah siraman air itu hingga hasratnya hilang dan pikirannya kembali tenang.


to be continued...


Jogja, June 16th 2021


***


find me on Instagram @titadewahasta

__ADS_1


***


belum sayang...sabar ya🥰


__ADS_2