Emak Aku Pengen Kawin

Emak Aku Pengen Kawin
13. Hari Yang Penuh Amukan


__ADS_3

Setelah Karen tenang, mereka bertiga bersantai.


"Ma, aku mau ke luar negeri. Mau tinggal di sana."


Mama Puri terkejut mendengar keinginan anaknya yang tiba-tiba saja ingin ke luar negeri. "Mau hidup di sana? Pake duit siapa? Emang omset usaha kamu udah milyaran?"


"Ya belum sih. Habisnya, di sini penuh tekanan."


"Kamu mendingan tutup kuping, nggak usah denger omongan orang, Ren!"


"Ken, ini salah kamu! Tahun kemarin kamu bilang 'everything will be okay'. Nyatanya, I'm not okay!"


Astaga, aku lagi yang disalahin. (Kendrik).


"I-itu frasa umum, Kak. Penyemangat."


"Tapi kan bo'ong, kamu dosa bo'ongin kakak kamu!"


Kendrik merasa bodoh sendiri. Namun, di lubuk hati yang paling dalam, dia sebenarnya kasihan kepada kakaknya. Dia mendoakan agar kakaknya itu segera mendapatkan tambatan hati. Pernikahan bukan segalanya, tetapi paling tidak bisa mengisi ruang hati yang kosong dan menghilangkan kegelisahan.


"Ma, jodohin Karen dong!" pinta Karen kepada ibunya.


"Mama sendiri nggak tahu gimana caranya ngejodohin orang. Mama kan bukan biro jodoh."


"Kapan Mama reuni? Aku mau ikut. Siapa tahu anak temen Mama ada yang lagi cari jodoh juga."


"Telat, Ren, reuni Mama udah lewat. Ada sih kemarin yang jodohin anaknya. Sekarang udah dinikahkan."


Karen merasa menyesal tidak pernah mau ikut datang ke acara orang-orang tua itu. Tadinya dia menghindari dijodoh-jodohkan dengan anak teman Mama Puri. Tak tahunya, sekarang malah dia sendiri yang ingin dijodohkan.


"Acara trahnya, tahun ini aku nggak ikut dulu ya, Ma."


Mama Puri mengangguk. Dia mengerti keadaan anaknya yang tidak ingin mendapat pertanyaan yang masih sama dengan tahun lalu.


Karen pun pamit pulang.


~


Sesampainya di rumah, dia membuka bagasi dan membawa semua kado ke dalam kamarnya.


"Udah pulang, Non, sapa Bu Minah, sang asisten rumah tangga.


"Iya, Bu Minah. Tolong bawa sisa kado yang di bagasi ya!" ucap Karen kepada ART-nya itu.


Bu Minah telah bekerja sebagai asisten rumah tangga Karen selama setahun ini. Berawal dari peristiwa pemaksaan yang dilakukan Tora sang mantan kekasih, dia takut untuk tinggal sendiri. Sejak itu juga, Karen diajari teknik bela diri oleh Kendrik. Dia tidak ingin lagi mendapat perlakuan kasar dari lelaki.


Kado ulangtahun sudah berada di kamar. Melihat kado-kado dari karyawan, adik, dan ibunya, dia merasa senang. Sejenak dia terhibur. Kado-kado itu hanya dibungkus koran bekas. Orang-orang terdekat Karen sudah tahu bahwa Karen tidak suka membuang kertas kado. Baginya, itu hanya pemborosan sumber daya alam.


Dia pun membuka sebagaian besar kado-kado di hadapannya. Rata-rata mereka mengucapkan selamat ulang tahun diikuti doa agar cepat dapat jodoh. Mood-nya kembali menurun.


"Aaarrrggghhh." Karen menjerit lagi. "Nggak usah doa yang itu napa?! Kalau bener mau doain, doa aja dalam hati! Nggak udah ditulis juga!"


Teriakan Karen terdengar oleh Bu Minah dan sukses membuatnya khawatir. "Non, ada apa Non?"


"Huwaaa, hiks."

__ADS_1


Bu Minah masuk ke kamar Karen dan menenangkan. "Nyebut Non, nyebut!"


"Nyebut apa? Huwaaa."


"Nyebut nama Tuhan Non, masak nyebut tukang cilok."


"Aaarrrggghhh, Bu Minah ...."


"Lhah malah nyebut nama saya. Cup cup cup ...."


Sekarang, segala yang berhubungan dengan pernikahan membuatnya stres.


~


Malam hari, dia melihat pantulan dirinya di cermin.


Karenina Damartya. Kalau dilihat-lihat, cantik kok. Body juga oke. (Karen).


Seketika otaknya teringat lagu penyanyi Soimah yang berbunyi:


🎶 Mas, opo aku iki


🎶 Isih kurang ayu


🎶 Opo kurang seksi to Mas?


🎶 Kurang ayu, kurang seksi


🎶 Kurang ayu, kurang seksi


Apa aku kurang cantik? Kurang seksi? Aku ini Karenina Damartya, mantan cheerleader lhoh, cheerleader! (Karen).


Pikirannya kembali pada memorinya bersama Tora. Laki-laki itu memiliki tutur kata manis, mampu membuat pendengarnya tersipu.


"Ya Tuhan, tolong kirimkan jodohku. Hamba minta jodoh yang baik, sayang padaku. Hamba minta jodohku itu orang yang bukan manis di mulut, bukan yang pintar bersilah lidah kayak si Tora sialan itu. Hamba minta jodohku yang setia, yang perfect buat aku. As soon as possible ya, Tuhanku yang baik. Aamiin."


Sesegera mungkin, dia menutup matanya dan berharap keesokan harinya mendapat keajaiban.


***


Beberapa hari berlalu, tibalah acara pertemuan trah untuk yang ke sekian kali. Tahun ini dihelat di rumah Tante Rini dan Om Aldi sekaligus nujuh bulan kehamilan Mila. Mereka hendak meminta doa kepada semua saudara.


Karen tidak hadir. Dari keluarga Karsa Damartyo (mendiang ayah Karen) hanya Mama Puri dan Kendrik yang hadir.


"Halo, Jeng Puri dan Kendrik. Mari sini silahkan masuk!"


"Terimakasih, Jeng Rini, selamat ya sudah mau jadi nenek."


"Terimakasih lho, Jeng Puri bisa aja. Kan dirimu juga nggak lama lagi mau mantu kan? Menurut slentingan, Desember tahun ini ya? Aku tunggu sangat lho undangannya."


"Ehm, errr, sepertinya ditunda dulu, Jeng."


"Lho kenapa? Udah serasi banget lho Karen sama calonnya itu."


"Hehehem, gimana lagi, Jeng, mereka belum berjodoh."

__ADS_1


Tante Rini kemudian menarik Mama Puri untuk berbicara secara privat, menjauhi kerumunan orang. Dia berbisik pelan. "Jeng, apa anak gadismu itu perlu diruwat? Kok sepertinya setiap pacaran kandas melulu, nggak ada yang berlabuh di pelaminan?"


"Saya juga nggak tahu. Apa iya ya?"


"Mungkin aja, coba dibawa ke orang pinter!"


"Tapi yang begitu kan dosa, Jeng."


"Nggak apa-apa sedikit dosa, yang penting anak bahagia. Kepengen anaknya segera nikah, kan?"


"Aduh saya pikir-pikir dulu kalau pakai jasa orang pintar, soalnya saya takut dosa."


Tante Rini pun berlalu menyambut tamu-tamu yang lain. Sepanjang acara tersebur, tak terhitung berapa kali Mama Puri ditanya perihal rencana pernikahannya di bulan Desember. Dia mengipas-ngipas wajahnya dengan kipas lipat dan meminta Kendrik mengambilkan minuman dingin.


"Es es, Ken, tolong ambilkan es buat Mama!"


"Iya, Ma."


Segera dia meneguk minuman dingin itu. "Huh hah, Kareeen, kamu bikin Mama pusing begini. Siapa juga yang bilang dia mau nikah bulan Desember? Kamu, Ken?"


"Enggak, Ma, sumpah. Aku nggak pernah ngomong apa-apa soal si Koreng."


Kendrik memijit-mijit pundak Mama Puri yang lemas.


"Nih, kipasin Mama." Mama Puri menyerahkan kipas kepada Kendrik.


Padahal dingin begini. Apa iya perkara


nikah udah mampu bikin suhu ruangan berubah? (Kendrik).


Acara doa dan segala ritual nujuh bulanan sudah berlalu. Kali ini memasuki acara bebas, MC itu menodong Mama Puri untuk berbicara di depan khalayak membicarakan rencana pernikahan Karen. Apa mau dikata, gosip pernikahan Karen sudah terhembus sangat santer akan dihelat bulan Desember tahun ini.


Padahal, pada pertemuan trah tahun lalu, Karen hanya berseloroh mengatakan kepada Mila bahwa dia akan menikah bulan Desember tahun mendatang (yang berarti adalah tahun ini). Sebenarnya gosip itu tidak begitu kuat pada awalnya. Namun saat Karen datang bersama Tora tahun lalu, semua menjadi sangat yakin kebenaran gosip itu.


Mama Puri mengelus dadanya sendiri. "Gimana ini Ken, Mama harus ngomong apa?"


"Jujur aja kalau belum jadi nikah, Ma."


"Iya tahu, tapi alasannya apa?"


"Bilang aja jodoh si Koreng baru lahir heheh."


Mama Puri langsung menoyor kepala Kendrik. "Hush, jangan nyumpahin kakak sendiri!"


Mama Puri maju ke depan dengan langkah yang sangat berat, serasa ada beban ratusan kilo di kakinya.


To be continued...


Jogja, April 13th 2021


***


halo readers kesayanganku, terimakasih untuk yang sudah membaca karyaku.


hari ini adalah hari pertama puasa, saya ucapkan 'selamat menjalankan ibadah puasa, semoga puasa kita diterima oleh Allah SWT'

__ADS_1


__ADS_2