Emak Aku Pengen Kawin

Emak Aku Pengen Kawin
46. First Monthsary


__ADS_3

Setiap pulang bekerja, setelah memasak dan membersihkan kamar, Karen menghabiskan waktu untuk mencari-cari tahu apa saja di rumah itu yang bisa memberikan petunjuk tentang masa lalu Daniel.


Tapi, nihil. Di rumah itu bersih, tidak ada apa pun yang bisa dijadikan petunjuk. Hanya saja, ada 1 ruangan yang selalu terkunci rapat.


Selama ini Karen tidak pernah menggubris karena tadinya dia akan mengabaikan Daniel selama pernikahan itu. Praktiknya sama sekali tidak bisa.


Perkataan Haris justru memantik gejolak keingintahuan Karen tentang Daniel.


Kini, dia ingin sekali memasuki ruangan yang selalu terkunci itu.


"Kudanil, ini ruang apa? Aku boleh masuk?"


Daniel menggeleng.


"Kenapa? Kamu nyembunyiin apa di sini?"


Daniel menggeleng lagi.


"Apa sih kamu geleng-geleng melulu?" protes Karen sembari mengacak rambut Daniel.


Ya memang aku nggak sembunyiin apa-apa kok, bukan barang yang penting juga yang di dalam sini. Apa juga bedanya geleng-geleng dan jawab "nggak", artinya sama aja. Dan sama-sama bahasa manusia juga, bahasa verbal dan non verbal. Aku lebih suka non verbal. (Daniel).


Daniel menghela napas. "Pesen Mami, kamu nggak boleh masuk."


Begitulah setiap Karen memaksa ingin masuk ke ruangan itu, jawaban Daniel selalu sama. Mami Seli lah yang melarang Karen masuk ke ruangan itu.


Padahal, rumah itu rumah pribadi Daniel. Dia memiliki kuasa penuh untuk memberi akses kepada siapa saja yang dikehendaki untuk memasuki rumahnya.


Namun, dia patuh terhadap permintaan Mami Seli. Saat itu Mami Seli memohon dengan sangat kepada Daniel agar dia tidak membiarkan Karen masuk ke ruang misterius itu.


***


1 month later...


Dengan adanya ilustrasi yang baik yang dihasilkan oleh Haris, omset perusahaan Karen naik. Dalam satu bulan, Karen sibuk mengurus berbagai pekerjaan. Client baru bermunculan. Perusahaan-perusahaan besar beramai-ramai menggunakan jasa konten dari agency milik Karen.


Dia hampir melupakan rasa penasarannya terhadap sejarah Daniel karena tertutup sibuknya pekerjaan. Dia sering pulang dalam keadaan lunglai dan tertidur setelah makan malam.


Mami Seli dan Mama Puri sama-sama menagih pasangan pengantin baru itu untuk menginap.


Sebelum menikah, baik Daniel mau pun Karen rutin menginap di rumah orang tua mereka masing-masing paling tidak seminggu sekali. Sekarang karena mereka sudah menikah, mereka harus bisa membagi waktu agar bisa mengunjungi kedua orang tua.


Sabtu ini, Daniel dan Karen akan menginap di rumah orang tua Daniel. Karen sebenarnya kelelahan. Tapi dia juga tetap ingin bisa memenuhi janjinya.


Dalam perjalanan, Karen memijat-mijat tengkuk dan kepalanya sendiri.


"Sakit?" tanya Daniel.


"Enggak kok, kecapekan aja."


"Mau pulang aja?"


"Jangan! Ksihan Mami, udah dari kemarin telpon-telpon terus pengen kamu ke sana."


Daniel menurut saja.


~


Sesampainya di tujuan, Mami Seli, Stella dan Papi Danu menyambut kedatangan pasangan yang baru sebulan menikah itu.


Mami memeluk Karen. "Ren, badan kamu kok anget?"

__ADS_1


"Iya, Mi, kayaknya masuk angin."


"Kalau gitu, sana istirahat aja!"


Karen merebahkan diri di atas tempat tidur milik Daniel. Badannya sangat tidak nyaman. Tidak hanya sampai di situ, sakit kepala juga menghinggapi kepalanya. Perutnya serasa diaduk-aduk dan siap untuk mengeluarkan isinya.


Karen memegangi mulutnya kemudian sedikit berlari menuju kamar mandi. Dia memuntahkan semua isi perut. Penghuni kantung perut Karen pun berpamitan dari inangnya tanpa sisa. Namun, justru berkat memuntahkan isi perut itu, kepalanya sedikit terasa enteng.


"Niel, istrimu sakit apa?" tanya Mami Seli.


Daniel menaikkan punggungnya.


"Jangan-jangan dia hamil."


Daniel hanya melotot mendengar dugaan Mami Seli.


"Stel, sana ke apotek beli testpack!" pinta Mami Seli.


"Iya, Mi." Stella bergegas pergi menuruti perintah sang ibu.


"Mi, punya paracetamol?" tanya Daniel.


"Punya, tuh di kotak obat. Jamu masuk angin juga punya. Yang kita nggak punya itu testpack, makanya Mami suruh Stella beli. Kalian kan udah satu bulan nikah, nggak ada salahnya di-test," kata Mami dengan raut wajah sumringah.


Karen kembali dari kamar mandi dan berbaring di tempat tidur. Daniel membawakan baskom berisi air hangat untuk mengompres Karen.


"Kok pake air anget?" tanya Karen.


Daniel mengangguk.


Hash, nggak ada gunanya nanya sama patung Mesir ini, nggak bakal dijawab juga. (Karen).


Stella kembali dari apotek dan menyerahkan testpack yang dibelinya kepada Mami Seli.


"Ha?" Karen memelototi Daniel. "Niel, ini ...."


"Udah, nurut aja! Lagian kalian udah sebulan menikah, siapa tahu udah postitif hehehem ...." Mami Seli sangat bersemangat. "Mami keluar dulu aja deh, nanti kalo udah ketahuan hasilnya, kasih tahu Mami ya!"


Mami Seli keluar dari kamar itu.


"Kudanil, ini gimana?"


Dokter itu menaikkan kedua bahunya.


"Test urine kamu aja nih!"


Astaga, masak mau test urine laki-laki?! (Daniel).


Daniel meraih tangan Karen dan meletakkan tempat urine yang baru dibeli itu di tangan istrinya.


Dengan langkah berat, Karen menuju kamar mandi dan melakukan test urine. Dia meneteskan urine di pad yang tersedia di testpack itu dan membawanya keluar dari kamar mandi.


"Nih, aku taruh di sini kalau Mami mau lihat nanti." Karen meletakkan testpack itu di atas meja. "Kudanil, punya jamu buat masuk angin nggak?"


Daniel mengangguk.


"Tolong dong ambilin 1 jamunya."


Daniel bergeming, tak menuruti permintaan Karen. Dia melihat jam tangannya.


"Niel, kenapa sih? Aku butuh jamu biar enteng. Suhunya udah turun jadi nggak perlu penurun panas kan?"

__ADS_1


"Nunggu hasil test," kata dokter itu sembari melihat jam tangannya.


"Apa! Heh, kamu tahu sendiri kita belum pernah .... Gimana aku bisa hamil?"


Dia ini dokter yang pinter tapi kenapa hari ini bego? (Karen).


Karen berguling ke arah sebaliknya membelakangi Daniel yang tengah duduk di pinggir tempat tidur.


Tunggu, pengetahuan tentang reproduksi manusia itu umum. Semua orang yang sekolah dapet pengetahuan tentang reproduksi manusia di pelajaran biologi kelas 9 sekolah menengah pertama, kan? (Karen).


Karen menengok ke arah Daniel.


"Heh Patung Anubis, kamu pikir aku hamil sama siapa, hah?" sentak Karen.


Daniel tidak berani menatap, dia melihat ke langit-langit.


"Haris? Kamu curiga aku sama dia udah ...."


Daniel melihat ke arah lain lagi. "Siapa tahu," katanya dengan sangat lirih, tetapi masih tertangkap telinga Karen.


"Kamu pikir aku ini perempuan apaan!" Karen marah dengan suara yang dipelankan. Dia takut suaranya terdengar oleh anggota keluarga.


Bisa nggak sih manusia ini diam dan lihat aja hasilnya daripada marah-marah begitu. (Daniel).


Karen berdiri dan mengambil testpack itu. Waktunya memang sudah memenuhi untuk melihat hasilnya. Dia menunjukkan hasil test urine itu tepat di hadapan wajah Daniel.


"Lihat, pelototin! Hasilnya NE-GA-TIF!"


Daniel mengangguk, kemudian beranjak mengambilkan jamu untuk Karen. Di dapur, dia bertemu dengan Mami Seli.


"Gimana hasilnya, Niel?"


"Negatif."


"Hyah ...." Mami Seli nampak kecewa. Dia pun menemui Karen.


Untung negatif, kalau positif, aku yang pusing nyari siapa bapaknya. (Daniel).


Karen masih memegang hasil pemeriksaan urine itu di tangannya ketika Mami Seli masuk.


"Kalau masih negatif, nggak apa-apa, Ren. Sabar ya!" hibur Mami Seli.


Lhah, kata-kata itu untuk Mami, kan Mami yang ngebet tadi. (Karen).


"Hehehem ... iya, Mi. Aku sama Daniel sabar kok. Ehm ... dan kami nggak buru-buru kok, Mi."


Mami Seli duduk dan memijat bahu Karen.


"Apa metodenya udah bener?"


"Metode apa ya, Mi?"


"Bikin adonannya."


"Hah? Adonan kue?"


"Bukan, ikh kamu ini. Maksudnya, bikin adonan baby. Perlu diperhatikan posisinya."


Seketika tenggorokan Karen tercekat. Menelan ludah serasa seperti menelan obat yang sangat pahit. Dia pun mengeluarkan keringat dingin.


to be continued...

__ADS_1


Jogja, May 31st 2021


__ADS_2