
Dari 3 foto kandidat itu, Karen bingung menentukannya. Dia telah kalah dalam mencari jodoh sehingga menggunakan cara ini. Namun, tidak ada yang salah juga dari perjodohan. Dia telah mantap melakukan ini.
Targetnya, di usia sekarang, dia harus sudah menikah. Dia tidak peduli apakah nanti berakhir bahagia atau berakhir dengan perceraian, yang penting dia harus mengakhiri masa lajang segera.
3 foto pria itu terus dia amati. Semua memiliki wajah yang cukup tampan menurut standard tampan Karen.
***
Sudah 3 hari dia memandangi wajah di foto itu satu persatu dan menanyai benda mati tersebut.
"Kamu jodohku, bukan? Atau kamu? Atau kamu?"
Waktu terus berjalan, waktu Karen memilih tinggal 4 hari. Dia pun membalik foto-foto itu dan berdoa agar ditunjukkan yang mana yang harus dia pilih. Sambil memejamkan mata, dia berkata, "Begini ya Tuhan, selama tiga hari ini aku akan memilih satu dari tiga foto ini secara acak. Tolong tunjukkan yang mana jodohku."
***
Selama tiga hari berturut-turut setelah berdoa, Karen memilih foto yang selalu berbeda.
Aduh, kenapa bisa kepilih sehari satu gini sih? Emang bisa aku nikah sekaligus sama 3 laki-laki? (Karen).
Dia membanting 3 foto itu di atas meja dan 1 di antara nya terjatuh ke lantai. Dia memungut foto itu. Foto Daniel.
Apa ini jawabanMu ya Tuhan? (Karen).
Dia mengamati foto Daniel dan berpikir-pikir apakah dia akan bisa suka kepada laki-laki itu. Setelah berpikir semalaman, akhirnya dia tidak peduli pemikirannya tersebut. Yang terpenting baginya sekarang adalah mengakhiri masa lajang.
Entah nasib pernikahan itu akan bagaimana nantinya, dia tidak ambil pusing. Beruntung jika dia akhirnya bisa saling mencintai dengan suami asingnya nanti. Tapi jika tidak, tidak masalah.
Dia menelpon Mama Puri.
π"Halo Ma, ehm, aku udah ambil keputusan."
π"Oh ya? Siapa yang kamu pilih?"
π"Daniel, Ma."
π"Oke, 2 hari lagi Mama laporin ke ketua panitia saat pertemuan. Moga-moga Daniel juga milih kamu."
π"Maksudnya?"
π"Dia juga dikasih pilihan untuk memilih 1 di antara 2 gadis," jelas Mama Puri.
π"Halahhh, kirain aku nentuin."
π"Jangan kepedean gitu, kamu maunya jadi pihak yang memilih tapi mereka nggak boleh milih, gitu?"
π"Bukannya gitu, Ma. Tapi kan aku maunya tahun ini nikah. Kalau bisa sebulan lagi. Kalau dia nggak milih aku, gimana dong?"
π"Kalau dia nggak milih kamu ya berarti belum jodoh."
π"Jyah."
Karen terus berdoa semoga Daniel juga memilih dirinya.
__ADS_1
***
Di kantor Karen keesokan harinya
Karen dan para pegawainya bekerja seperti biasa. Inda salah tingkah saat itu.
"Cat Woman, ngapain kamu dari tadi krungkat-krungket kayak cacing dikasih garam? Kalau sakit, pulang aja."
Bos nggak ngerti juga kalau aku kayak gini ya gara-gara tingkah Anda yang semakin aneh, Bos. (Inda).
Inda menghela napas kemudian mengumpulkan segala keberanian untuk berbicara kepada bosnya. Dia mengambil sebuah amplop dari dalam tas.
"Ehem, Bos Black Widow, ini undangan pernikahan aku dan Soni." Inda menyerahkan undangan itu sembari menunduk, tak berani menatap Karen.
"Fyuh, kirain ada apa. Kamu ngasih undangan kok jauh begitu, nunduk pula. Ikhlas ngundang aku nggak sih?"
Hey, ini menghindari reaksi berlebihanmu Bos. Tapi sukur deh, nggak ada tanda-tanda ngamuk atau kesurupan. (Inda).
Inda mendekat. "Heheh, maap Bos. Ini ya." Dia memberikan undangan itu.
Karen menerima kertas yang tak lebih dari ukuran A4 itu, membaca sampul yang bertuliskan nama pegawai kepercayaannya dengan Soni. Karen menghela napas. "Selamat ya, Cat Woman, bentar lagi kamu nggak single lagi."
"Ma-makasih, Bos Black Widow. Soal janjiku dulu, maap banget nggak bisa nepati."
"Iya, nggak apa-apa. Ehm kita makan siang di luar yuk."
Menyadari bosnya tidak mengamuk, Inda menjadi ceria dan bahagia. "Nah, kebetulan banget, Bos. Aku rencananya mau makan bareng sama Soni di depan rumah sakit, ada nasi bakar enak banget."
Dengan mobil Karen, mereka berangkat ke sebuah kedai nasi bakar di depan rumah sakit Keluarga Bahagia, tempat Soni bekerja. Setibanya di sana, Soni sudah menunggu. Mereka pun menikmati makan siang.
"Soni, kamu nanti harus jaga Cat Womanku ini!" kata Karen kepada Soni.
"Siap kalau itu sih," timpal Soni, bersemangat.
"Yang harus dijaga itu dia, Bos, nanti kalau ada pegawai baru di rumah sakit, dia musti dikasih kacamata kuda biar nggak jelalatan," sindir Inda.
"Hahah, aku udah tahu sedikit banyak kisah kalian," kata Karen yang mendapat sebagian cerita dari Inda. "Sekarang, ceritain detail-nya, mumpung kita lagi ngumpul."
"Begini, dulu aku deketin temen kerjaku yang juga temen kos Inda. Aku datangin sampai kosnya. Eh, malah ketemu seorang bidadari yang jauh lebih menawan yaitu Inda, jatuh hati deh aku sama dia."
"Halah, kamu bisa banget ngarang. Ngomong aja kalau kamu jadi tertarik sama aku karena udah ditolak sama temenku." Inda menyanggah dengan kesal.
"Heheh, itu juga iya sih. Tapi suwer, nggak ngerubah apa pun. Sekarang, aku cintanya ya sama kamu aja." Soni meyakinkan.
"Kalian tahu kan Christopher Columbus? Dia nggak sengaja nemu benua America. Ya kayak kalian gini." Karen menengahi.
Di tengah mereka sedang berceloteh, 3 orang laki-laki masuk ke kedai yang sama dan menikmati makan siang di sana. Mereka duduk agak jauh.
"Bos Black Widow, lihat 3 laki-laki di meja itu? Nah yang itu Dokter Nathan. Dia itu yang sekarang jadi suami temen kosku yang baru aja melahirkan."
"Oh." Karen mengangguk-anggukan kepala. "Kalau 2 itu?"
"Yang pakai kacamata itu kalau nggak salah dokter Dion, ya kan, Son?" kata Inda sembari mengingat-ingat.
__ADS_1
Soni menjawab dengan anggukan.
"Terus kalau yang posisinya membelakangi kita itu, aku nggak tahu itu siapa. Siapa Son?" Inda tidak begitu mengenal 1 orang lagi di situ.
Tiba-tiba orang itu menoleh ke arah tempat duduk Karen, Inda dan Soni.
Astaga, i-itu kan Daniel. (Karen).
"Yang itu Dokter Daniel, spesialis jantung," kata Soni.
3 dokter itu juga berbisik-bisik sembari melihat ke arah Karen, Inda dan Soni. Kemudian, salah seorang dari mereka berdiri dan mendekati mereka. Dia adalah Nathan, suami teman Inda.
"Hai Inda, Son," sapa Nathan, kemudian mengangguk dan tersenyum pada Karen yang masih asing baginya. "Aku udah terima undangannya, selamat ya. Aku sama Lana (istrinya) pasti datang."
"Iya lah, Dok, wajib datang. Oh iya, ini Bos Karen, bosku di kantor."
Karen mengangguk dan menjabat tangan Nathan.
"Oh ya, saya Nathan. Bosnya? Makan bareng di sini?"
Karen hanya tersenyum karena bingung akan menjawab apa.
"Bosku ini emang rock n roll, Dok."
"Kalau gitu saya balik dulu ke meja saya," pamit Nathan.
Setelah Nathan tiba di mejanya, Daniel menengok sekali lagi ke arah Karen. Wanita yang dekat dengan pegawainya juga melihat ke arah Daniel. Karen pun tersenyum karena salah tingkah ditatap oleh Daniel.
Dia udah tahu belum ya kalau aku pilih dia? Apa dia pilih aku? Mendadak deg-degan. (Karen).
***
Hari pertemuan para orang tua kandidat telah tiba. Mereka bertemu di sebuah kedai dan siap melaporkan hasil pilihan anak mereka masing-masing. Mereka gugup dengan hasilnya dan takut jika anak mereka tidak ada yang memilih.
Untuk menghindari kesakit-hatian yang mungkin timbul, pak Purnomo yang telah melihat hasil pilihan dari tulisan di balik foto masing-masing kandidat itu tidak mengumumkan secara gamblang. Dia langsung mempertemukan orang tua kandidat yang saling memilih. Sedangkan sisanya akan diproses ulang.
"Bu Puri dan Bu Seli, silahkan berbicara secara privat di meja terpisah," ajak pak Purnomo.
Setelah terpisah dari yang lain, Pak Purnomo memberikan informasi. "Karen dan Daniel saling memilih, jadi sekarang urusan selanjutnya dibicarakan secara privat antara kalian saja ya. Oh ya, selamat, semoga ini menjadi awal berita baik dan bahagia," bisik pak Purnomo.
Kemudian dia kembali ke meja untuk mengurus 3 kandidat yang lain.
To be continued...
Jogja, April 17th 2021
***
find me on Instagram @titadewahasta
please subscribe my YouTube channel Tita Dewahasta
thanks for readingπ
__ADS_1