
Keesokan harinya...
Karen membuka mata dan melihat sarapan yang sudah tersedia di meja. Dia mengedarkan pandangan mencari Daniel, tapi hanya ada sekat guling di sampingnya.
Dia pun mandi kemudian sarapan di dalam kamar.
Setelah berpakaian rapi, dia keluar dari kamar, kembali mencari Daniel.
"Kudaniiil ... Kudaniiil ...." teriak Karen.
Dia melewati ruang keluarga masih sembari berteriak. "Kudaniiil ... Kuda--" Karen terkejut, ternyata semua orang berada di sana. "--nil."
Daniel, Papi Danu, Stella dan Mami Seli, semua lengkap berada di ruang keluarga sedang menikmati teh sembari membaca-baca koran dan majalah. Dan kini mereka semua sekarang sedang memandangi Karen.
"Apa, Ren? Kudanil?" Mami Seli keheranan dengan panggilan itu.
"Ma-maksudnya, Daniel-ku, Daniel-ku sayang, aku sering kebalik, Mi. Itu namanya fenomena slip of the tongue alias lidah kepleset, hehehem." Karen kemudian duduk di samping Daniel.
Gimana bisa mereka semua di sini? Tadi perasaan sepi kayak kuburan nggak ada suaranya sama sekali. (Karen).
"Kak Ren, aku sama Kak Daniel mau jalan-jalan ke pasar. Mau ikut nggak?" ajak Stella.
Karen berpikir-pikir sejenak. Jika Daniel dan Stella pergi, dia bisa menginterogasi Mami Seli tentang sejarah Daniel.
"Ehm, aku di rumah aja, Stel, masih agak lemes."
Daniel dan Stella pun pergi. Karen takjub melihat kakak beradik itu. Mereka memiliki hobi yang sama yaitu pergi ke pasar. Entah ada apa yang menarik di sana sehingga mereka rela pergi berjalan kurang lebih 1 kilometer jauhnya.
"Mi, aku mau ngobrol sebentar, boleh?"
"Boleh ... soal apa, Ren? Ayo kita ngobrol di kamar Mami aja!" Mami Seli dan Karen pergi ke kamar meninggalkan Papi Danu sendirian yang sedang berkonsentrasi membaca koran.
Papi Danu melipat korannya dan menyadari sudah tidak ada orang selain dirinya di sana.
Pada ilang ke mana semua orang? (Papi Danu).
Mami Seli dan Karen duduk di pinggir tempat tidur. Karen siap memberondong ibu Daniel dengan berbagai pertanyaan.
"Mi ...."
Belum sempat Karen bertanya, ponselnya berbunyi. Nama yang familiar tertera di layar, Haris. Dia pun berpamitan keluar untuk menerima telepon itu.
📞"Halo, ada apa, Ris?" Karen setengah berbisik.
📞"Halo, kok pelan amat suaramu? Kamu lagi di mana?"
📞"Lagi di rumah mertuaku. Ayo cepetan ngomong! Ada apa?"
📞"Oh, lagi di rumah Tante Seli? Aku ke sana deh."
__ADS_1
📞"Heh, mau apa sih?"
📞"Kenapa? Aku cuma mau main ke rumah saudaraku, nggak boleh?"
Mereka mengobrol agak panjang. Karen berusaha mencegah Haris untuk datang. Tapi Haris bersikeras tetap akan datang dengan alasan 'berkunjung ke rumah saudara'.
Karen menutup teleponnya dengan kesal.
Tidak lama Daniel dan Stella pulang dari berjalan-jalan di pasar. Karen kehabisan waktu. Gagal sudah rencana menginterogasi Mami Seli.
"Kak Ren, mau jajanan pasar nggak?" tanya Stella sambil menyodorkan makanan.
Karen mengangguk.
~
Haris sampai di kediaman keluarga Daniel dengan motor besarnya. Dia pun masuk dan menyapa keluarga Daniel.
"Oh, Daniel sama Karen lagi ada di sini. Kebetulan," kata Haris, berlagak tidak tahu bahwa Karen berada di sana.
Karen tersenyum canggung.
"Kebetulan banget kamu ke sini, Ris, Tante masak spesial lho. Ayo kita makan!"
Mereka semua menuju ruang makan untuk makan siang bersama. Daniel dan Karen duduk bersebelahan. Haris berada di sebelah Stella sehingga dia berhadapan dengan Daniel.
Mami Seli duduk di sebelah putranya. Dia mengambilkan tumis kecambah ke piring Daniel, sangat banyak. Tapi dasar Daniel, dia pasrah-pasrah saja ibunya mengambilkan sayur sebanyak itu.
"Nggak apa-apa, biar kalian cepet punya anak," jawab Mami Seli dengan santainya.
Daniel yang sedang minum langsung terbatuk.
"Kalau Karen, makan ikan yang banyak ya!" kata Mami Seli sambil mengambilkan ikan yang banyak ke piring menantunya.
Menu hari itu sengaja dia buat menurut kaidah kesuburan agar Karen cepat hamil.
"Mi, emang ikan bisa bikin cepat hamil?" Stella penasaran.
"Iya, begitu menurut sumber yang Mami baca. Ikan mengandung banyak protein."
Stella menyingkirkan ikan yang sudah dia ambil.
"Lho, kenapa nggak jadi makan ikan?"
"Aku masih SMA, Mi. Nanti kalau tiba-tiba hamil gimana?"
"Makan ikan doang nggak bisa bikin hamil, Stel. Aduh kamu ini!" Mami gemas dengan kepolosan anaknya.
Karen sedikit tergelak dengan tingkah adik Daniel itu.
__ADS_1
Emang ya, dua bersaudara ini ada jam pinternya, ada jam polosnya, ada jam ogebnya juga. (Karen).
Haris tersenyum kecut mendengar keluarga itu sedang semangat menanti kehamilan Karen. Entah mengapa, dia tidak begitu senang mendengar hal itu.
Setelah kehebohan mereda, Haris pun mulai mengobrol. "Niel, waktu kamu SMA dulu, Bu Tuti udah ngajar belum ya?" tanya Haris.
Daniel mengangguk.
"Bu Tuti? Maksudnya Bu Tuti yang ngajar matematika? Dia pernah ngajar di SMA-nya Daniel?" Karen penasaran karena sepengetahuannya, Daniel tidak bersekolah di SMA Pioneer (SMA Karen dan Haris).
"Oh, kamu belum tahu, Ren? Jadi dulu, Daniel ini ...."
Belum selesai Haris bicara, Mami memotongnya. "Eh, sssttt, udah nanti aja ngomongin masa SMA. Sekarang makan aja dulu ya!"
Haris tersenyum penuh arti. Dia merasa menang mengetahui ternyata Karen memang tidak tahu apa-apa tentang Daniel.
Setelah selesai makan siang, Mami Seli mengikuti Haris ke mana pun dia bergerak seolah ingin mengawasi dan mencegah Haris mengatakan hal-hal tentang Daniel.
Namun, Papi Danu memanggil Mami Seli sehingga dia harus meninggalkan Karen dan Haris. Sedangkan Daniel sedang menemani Stella belajar dan berdiskusi.
"Kamu lihat Tante Seli tadi ngikutin aku terus? Dia khawatir aku cerita tentang Daniel ke kamu."
"Udah, Ris, kamu buruan cerita dari pada bikin aku penasaran terus."
"Kamu ngaku dulu kalau kamu nggak tahu tentang Daniel!"
Karen sedikit menggeram. "Begini deh, aku tahu tentang Daniel. Tapi bagian yang kamu sebutin emang aku belum tahu detailnya. Tapi aku tahu kok kalau Daniel pernah pukul orang."
Belum sepenuhnya ngaku, tapi nggak apa-apa deh. Aku kasih sedikit info sebagai hadiah. (Haris).
"Oke, aku kasih tahu. Dulu Daniel itu sekolah di sekolah kita. Terus karena kasus pemukulan itu, dia dikeluarin dan akhirnya nerusin di SMA Vincitore."
Haris melihat dan menikmati raut wajah Karen yang tampak shock.
"Biar kutebak, kamu lagi mikir kalau ternyata Daniel nggak sesempurna penampilan dan sikap pendiamnya?"
Benar apa katamu Ris, aku emang lagi mikir gitu. Tapi tenang, Daniel nggak akan nyakitin aku kan? Udah aku tambahin di perjanjian biar Daniel nggak berani-berani main kekerasan sama aku. (Karen).
Karen hanya menatap Haris.
"Aku mau pamit pulang dulu Ren, besok kamu boleh nanya ke aku kalau masih penasaran. Soalnya, dilihat-lihat dari cara tante ngikutin aku, dia nggak bakal kasih tahu kamu. Jadi, nara sumber cuma aku. Iya, kan?"
Karen tak menjawab. Dia hanya termangu dengan berbagai informasi yang dia terima hari ini. Dia masih bertahan di ruang tv dan berpikir-pikir tentang Daniel.
Haris pun mencari Mami Seli untuk berpamitan. Mami Seli mengantar Haris hingga ke depan rumah.
Sore harinya, Daniel dan Karen juga pulang ke rumah mereka menyisakan banyak tanda tanya di hati Karen.
to be continued...
__ADS_1
Jogja, June 2nd 2021