
Daniel mencari Karen di seluruh penjuru kamar. Namun, Karen tidak ada di sana. Balkon juga tak luput dari matanya, dan tak ada sosok yang dia cari.
Dia menghubungi ponsel Karen. Tidak terhubung. Sejak kapan orang kabur bisa dihubungi? Karen memang selalu mematikan ponsel jika sedang ingin sendiri.
Ke mana dia? Akh, dia kesal, dia pasti makan. Kalau sedih, dia nggak doyan makan. Istriku memang aneh, sama anehnya dengan aku. Pantas aja kami jodoh. (Daniel).
Sebelum mencari istrinya di luar hotel, dia memastikan untuk mencari di seluruh hotel. Dia yakin Karen tidak jauh.
Dia pasti di resto hotel. (Daniel).
Dengan langkah cepat, dia menuju resto. Tidak ada.
Dia mencari lagi di sudut lain di hotel itu. Penyedia makanan di hotel tidak hanya bagian resto tapi juga lounge yang berada di dekat kolam renang dan yang berada di roof top.
Dia menuju kolam renang. Di pinggir kolam itu ada beberapa orang yang posturnya mirip Karen dengan rambut merahnya. Setelah dia dekati, ternyata bukan.
1 tempat tersisa di hotel itu yaitu roof top lounge. Itu juga jika Karen memilih tempat publik. Lain lagi ceritanya bila Karen memilih rest room umum atau tangga darurat untuk bersembunyi, pasti akan sulit ditemukan.
Atau jika sangat kurang kerjaan, dia juga bisa ngetem di lift dan mengikuti kemana benda itu naik turun seperti sedang naik angkot tanpa supir.
Daniel menaiki lift dan menuju lantai 19 hotel itu. Tak lupa dia berdoa agar Karen benar-benar ada di sana.
Pintu lift pun terbuka. Dia segera mencari keberadaan istrinya. Dan benar, dia ada di roof top lounge hotel itu. Bersama seseorang! Mantan kekasihnya!
Laki-laki itu yang beberapa kali papasan dengan kami. Aku ingat sekarang. Dia yang datang ke rumah sakit sama Karen 2 tahun yang lalu. Pantesan kayaknya familiar. (Daniel).
Daniel menggali ingatan tentang laki-laki itu yang pernah dia lihat dari kejauhan di rumah sakit 2 tahun yang lalu.
~
Kilas balik
Pukul 19.30, Karen terbangun dari tidurnya. Dia melihat ke arah Daniel yang terlelap.
Orang ngeselin ini bener-bener nggak mikirin perasaanku ya, malah ikutan molor. (Karen).
Dia mengambil ponsel Daniel dan memeriksa kembali chat pasien Daniel yang menjadi biang masalah itu. Entah apa motifnya, kenapa malah Karen seolah tidak ingin move on dari kekesalannya. Dilihat lagi, panas lagi, dilihat lagi, panas lagi.
Dia pun bersiap untuk keluar mencari hiburan di luar. Hiburan yang pas untuk Karen di kala kesal adalah makan. Dia pun langsung menuju roof top lounge hotel itu.
Dia memesan makanan dan segelas virgin mojito sebagai minumannya.
Di tengah dia menikmati makanannya, Tora datang untuk melaksanakan tugasnya. Karen menunduk agar tidak terlihat. Namun, percuma. Laki-laki itu mengenali Karen dengan baik.
Tora mendekati Karen. "Ren, boleh duduk?"
Karen tidak menjawab membuat laki-laki itu langsung duduk di hadapan Karen. Dia merasa Karen secara tidak langsung mengijinkan.
"Kamu nggak lupa kan sama aku?"
Karen menjawab dengan senyuman kecil.
"Pastinya kamu ingat, makanya kamu diem aja. Coba kalau chief engineeringnya bukan aku, pasti waktu itu kamu ngomong sama aku."
Karen masih terus dengan kegitan makannya. Sialnya, tinggal sedikit lagi makanan itu habis. Setelah, habis, Karen meneguk minuman miliknya.
__ADS_1
"Kamu pura-pura nggak kenal karena merasa bersalah udah ghosting-in aku?"
Karen berusaha diam saja, menahan diri. Tadinya dia mengira Tora sadar akan kesalahannya dulu dan melupakan semua. Malah saat ini dia menyalahkan Karen. Betapa tidak tahu diri orang ini, begitu pikir Karen.
~
Pukul 20.15, Karen yang sedang mendengar cecaran Tora melihat Daniel datang dari kejauhan.
Lounge hotel, mojito, mantan pacar dan didatangi suami. De javu minta ampun. Kenapa bisa hampir sama dengan waktu malam pernikahan sih. Tahu gitu tadi aku pesen sangria atau margarita aja. (Karen).
Daniel semakin mendekat dan semakin terdengar suara Tora yang sedang mencecar Karen dengan berbagai tuduhan. Sedangkan Karen masih berusaha diam, tidak menanggapi sama sekali.
Daniel langsung duduk di meja yang sama dengan Karen dan Tora. Dia pun menatap Tora dengan pandangan datar.
"Anda siapa? Maaf kami berdua sedang berbicara masalah pribadi," kata Tora.
Melihat sedari dia datang, bibir Karen bahkan tidak bergerak sedikit pun, Daniel pun tidak menjawab.
"Ayo Niel, kita balik ke kamar aja," ajak Karen. Dia benar-benar tidak menanggapi Tora.
"Oh, ini pacar baru kamu. Jangan-jangan kamu ninggalin aku demi orang ini?"
"Tora, kamu itu kerja di sini. Kamu mau aku laporin ke atasan kamu?" Karen tak tahan, akhirnya bicara pada Tora.
Laki-laki itu kemudian melepaskan name tag yang dia kenakan. "Aku ngomong sama kamu bukan sebagai chief engineering, tapi sebagai Tora, tamu."
Karen sungguh tidak ingin menanggapi. "Ayo Niel, kita pergi." Karen berdiri.
"Tunggu, kita belum selesai ngomong! Hai, Mas. Hati-hati sama dia, dia dulu ninggalin aku tanpa alasan apa-apa. Tapi kamu lebih beruntung daripada aku, Mas. Kamu diajak liburan jauh dan nginep di hotel bareng. Sama aku dulu, dia ini jual mahal banget. Nggak nyangka ternyata diobral juga. Kamu itu berlian palsu yang sok mahal. Murahan!"
"Aku suaminya!" kata Daniel dengan suara pelan dan lirih tapi terdengar menyeramkan.
Karen panik melihat suaminya siap melayangkan kepalan tangannya. Untung di sana sepi dan jauh dari para kru hotel. Namun, Karen tiba-tiba merasa ngeri karena mereka berada di meja paling pinggir.
Meski pun terhalang teralis setinggi dada orang dewasa, bisa saja orang terdorong dan jatuh.
"Niel jangan!" Karen memegangi tangan Daniel. "Tor, aku nggak pernah ghosting karena kita itu nggak bener-bener pacaran. Kamu nganggep aku cuma selingan, aku udah tahu semua tentang Ratih."
Tora tidak mampu menjawab. Dia tidak mengira Karen tahu semua belangnya.
"Dan di sini justru kamu yang murahan! Kamu cari pacar bukan karena cinta, tapi cuma mau cari gratisan! Kenapa? Nggak mampu bayar PSK?"
"Heh! Kamu ...." Tora hendak mendekati Karen, tapi tangan Daniel menahannya.
"Udah, udah, stop! Kita udah lama selesai. Dan masing-masing udah punya hidup sendiri-sendiri. Nggak usah saling ganggu, oke?!" Karen mengakhiri.
Tora membetulkan baju yang berantakan karena cengkeraman Daniel. Karen menarik Daniel untuk segera pergi dari sana.
Mereka berjalan dengan tergesa tanpa ada kata apa pun keluar dari mulut keduanya. Daniel mengeluarkan ponsel dan menelpon pihak hotel, hendak melaporkan kelakuan Tora yang mengganggu mereka.
Karen merebut ponsel Daniel. "Mau telpon siapa, Niel?" Tertera nama hotel itu di layar ponsel Daniel. "Kamu mau telpon atasan Tora?"
Daniel mengangguk.
"Jangan!" Karen memasukkan ponsel Daniel ke tasnya.
__ADS_1
"Hm?"
"Nanti aku jelasin di kamar."
Dalam perjalanan ke kamar, mereka masih sama sekali tidak bicara. Masih belum selesai perkara cemburu Karen, ditambah lagi perkara Tora membuat mereka masih enggan bicara.
Jika dihitung dengan skor, seharusnya sudah impas. Namun, Karen menahan tangan Daniel saat akan memukul Tora, skor cemburu Daniel menjadi lebih tinggi.
Pun saat Daniel akan melaporkan Tora ke atasannya, Karen juga menahannya. Itu membuat Daniel tambah kesal.
Kini mereka sudah sampai di kamar.
"Mulai dari mana kita ngomongnya? Dari hubungan kamu dengan pasien kamu, atau kejadian barusan?"
Daniel memegangi dahinya. Bagaimana bisa ada peristiwa besar yang baru saja terjadi dan istrinya itu lebih dulu membahas perkara cemburu yang bisa dibilang hampir basi.
To be continued...
Jogja, August 4th 2021
***
Hai readers, terimakasih sudah mampir dan membaca karyaku.
Novel ini sebentar lagi tamat. Tinggal tersisa 1 konflik yaitu kehamilan Karen yang mungkin akan sedikit panjang (dibumbui sedikit konflik lainnya).
Dan akan diakhiri dengan 2 ending (happy and sad endings).
Daniel dan Karen happy, tapi ada juga yang membuat mereka sedih.
Sebagai bonus di chapter ini, author mau kasih visual walau burem heheh...
Karenina Damartya
Daniel Putra Mandala
Nathan
Lana
Trio Rumpi (Anggoro, Inda, Citra)
Anggoro & Citra lagi investigasi hosyip...
__ADS_1
(Ada yang tahu itu artis siapa aja? Jangan kasih tahu artisnya ya, ntar eike musti bayar royalty๐๐๐)