
Mereka mendatangi rumah pribadi Karen yang sudah dijadikan mini studio. Haris memotret dengan ponselnya.
"Besok, aku pulang dulu ke Purwaja ambil kamera dan semua keperluan," kata Haris.
"Terus nanti malam, kamu nginep di mana?"
"Pertanyaan bagus, gimana kalau aku nginep di rumahmu?"
"Apa!"
"Kamu lupa ya, aku kan saudaranya Daniel. Ada keluarga berkunjung, boleh dong numpang nginep?"
"Ehm ...."
"Hahah, bercanda Ren, nanti aku nginep di rumah Tante Seli atau ya nginep di hotel." Haris mengeluarkan sesuatu dari tasnya. "Oh iya, ini souvenir dari Spore buat kamu sama Daniel."
Karen merasa lega Haris hanya bercanda. Meski pun sekarang status mereka sudah menjadi saudara, tetap tidak menghilangkan sejarah di antara mereka berdua.
Setelah puas melihat-lihat mini studio itu, mereka melanjutkan perjalanan ke kantor Karen. Wanita berambut merah itu memperkenalkan Haris kepada pegawai-pegawai yang lain.
Karen juga telah meminta pegawainya untuk menyediakan tempat untuk Haris bekerja nanti.
~
Karen merasa sangat lega telah menemukan fotografer yang siap menyediakan ilustrasi dengan kualitas tinggi.
Sampai di rumah, Daniel sudah pulang terlebih dahulu.
"Hai Kudanil," katanya sambil mencium tangan Daniel. Senyumnya sangat cerah dan lebar. Bahagia terpancar dari wajahnya. "Mau dimasakkin apa?"
"Terserah kamu."
"Oke, siap Pak Dokter!"
Kenapa mulutmu nggak berhenti senyum sedari tadi? Kayak disangga pake tiang bambu. (Daniel).
Karen memasak sembari bersenandung. Sesekali dia melakukan gerakan tarian sembari tangannya tetap sibuk menyiapkan bahan masakannya. Alunan music RnB dari ponsel tak lupa dia putar sebagai background konser kecilnya di dapur.
Daniel memasuki dapur dan duduk di kursi makan. Dia memperhatikan tingkah istrinya.
Sesenang itu ketemu mantan pacar? (Daniel).
"Silahkan dinikmati makanannya, Dokter Daniel, hihi ...," kata Karen masih dengan senyum dan tawa cerianya.
Daniel mulai makan malamnya.
"Niel, mulai lusa, Haris tinggal di Koja lagi."
Daniel mengangguk kemudian menatap Karen dengan tajam. Karen merasa tatapan itu penghakiman terhadapnya. Ya, tidak salah, memang benar adanya.
"Apa? Aku belum balikan sama dia kok, nggak ada yang disembunyiin. Jadi, jangan ngancem mau batalin perjanjian, ya!"
__ADS_1
'Belum'? (Daniel).
Setelah menyelesaikan makannya, Daniel bergegas ke kamar dan berkutat dengan ponselnya.
Dasar Patung Anubis, habis makan langsung minggat aja. Biarin lah, aku lagi happy dapat pegawai baru yang skill-nya dewa. Plus alatnya mahal pula, sungguh di atas ekspektasi. (Karen).
~
Haris sudah tiba di rumah Mami Seli. Dia menaikki taksi untuk menuju ke sana.
"Halo Tante, Om, apa kabar?" sapa Haris sembari memberikan oleh-oleh untuk Mami Seli sekeluarga.
"Halo ... baik Ris. Ayo masuk! Pasti capek ya. Tante udah nyiapin makan malam spesial."
"Wah yang baru dari luar negeri, ayo kita makan dulu," ajak Papi Danu.
"Iya, Om. Akh keluar negeri cuma beberapa hari aja. Itu juga bukan dalam rangka liburan kok, Om, menimba ilmu aja di sana."
Mereka berkumpul di ruang makan.
"Tante, Om, saya nggak ngira lhoh kalau Daniel menikah tahun ini. Kok sebelumnya nggak pernah ada kabar?" tanya Haris.
"Kan kamu tahu sendiri Ris, kalau diumumkan jauh-jauh hari, takutnya batal gitu lho. Kamu sendiri, kapan mau nikah?"
"Saya masih lama, Tan, calonnya juga masih belum ada. Oh iya, mulai lusa, saya tinggal di Koja lhoh Tan, kita bisa sering ketemu."
"Oya? Lagi ada kerjaan di sini?"
~
Menjelang tidur malam, Haris mengetuk kamar Stella.
"Ada apa, Kak Haris?"
"Ayo ke ruang tamu, aku mau tanya sesuatu," ajak Haris.
Dengan malas, Stella mengikuti langka Haris ke ruang tamu. Sungguh dia mengantuk sebenarnya.
Setelah mereka duduk Haris memulai investigasi.
"Aku mau tanya soal Daniel. Gimana Daniel bisa nikah sama Karen? Mereka udah lama pacaran?"
"Kenapa sih kayaknya dari tadi Kak Haris tanya-tanya soal pernikahan Kak Daniel melulu? Emangnya ada apa, Kak?"
"Ehm, gini lho Stel, aku dulu satu sekolah sama Karen. Aku kenal dekat sama dia. Rencananya aku mau kasih tips buat Daniel biar mereka bisa tambah harmonis." Haris tak membuka sejarahnya bersama Karen. Dia berasumsi bahwa gadis di hadapannya ini tidak tahu soal itu.
Stella adalah seorang yang polos dan tak berbakat berbohong. Dia sangat mudah mempercayai lawan bicaranya. "Oh gitu. Mereka itu kenalnya baru sebulanan terus langsung menikah gitu, Kak."
"Hah? Kok bisa? Apa mereka itu dijodohin?"
Stella mengangguk. "Iya, Kak, dan cepet banget prosesnya."
__ADS_1
Udah kuduga, Daniel sama sekali bukan tipe Karen. Dari dulu Karen lebih suka dengan tipe laki-laki yang aktif, bukan seperti Daniel. (Haris).
"Menurut kamu, mereka itu saling cinta nggak?"
"Wah itu sih aku nggak tahu, Kak. Coba tanya aja ke mereka."
Haris mengangguk sembari tersenyum senang.
***
2 Hari berlalu, Haris telah berpidah di Koja. Ini adalah hari pertamanya bekerja.
Dia memasuki ruangan Karen. "Hai, Bu Bos, aku siap menerima tugas pertama."
"Hai pegawai baru. Oke, untuk yang pertama, tolong buat ilustrasi untuk 3 client ini, aku kirim lewat Chatsapp detail-nya. Produk dan property-nya minta ke Citra."
"Oke, Bos. Tapi, aku mau tanya sesuatu dulu," kata Haris sambil melirik ke arah Inda. "Aku pengen tahu kapan kamu dan saudaraku pertama kali ketemu."
Inda turut menyimak.
"Dulu waktu jaman Fir'aun Ramses 2 memerintah."
"Aku serius Ren, apa salahnya cerita dikit aja," bujuknya. Kemudian dia mengarahkan badan ke arah Inda. "Atau, Inda tahu kapan mereka ketemu? Kalian kan nggak sekedar atasan dan bawahan, tapi juga sahabat."
"Nah, menarik. Aku juga nggak tahu tepatnya, Ris," jawab Inda.
Haris dan Inda pun memandang Karen, menunggu jawaban. Haris sengaja bertanya di depan Inda untuk mengetahui sejauh mana Karen bercerita tentang pernikahannya kepada orang lain.
Karen tersenyum. "Aaa ... kalian berdua! Sini, Ris! Sini!"
Haris mendekatkan wajahnya kepada Karen, Inda pun ikut mencondongkan badan agar bisa mendengar apa yang akan dibisikkan oleh bosnya.
Karen berbisik, "Get the hell out of here and do your job. Hahah, sana pergi!"
Haris tersenyum sinis, berdiri dan segera keluar dari sana. Inda yang tadinya sudah tak pernah bertanya tentang kisah cinta bosnya itu tergugah lagi rasa penasarannya.
"Bos Black Widow, aku jadi penasaran lagi. Waktu kita makan nasi bakar di rumah sakit, sebelum aku nikah sama Soni, Bos bukannya nggak kenal sama Dokter Daniel ya?"
Duh, jawab apa ni. (Karen).
Karen panas dingin dibuatnya.
"Terus, Bos kayaknya pernah tanya tentang Dokter Daniel itu kayak gimana orangnya."
"Uhm, gini lho, aku cuma pengen tahu pendapat orang tentang dia. Jadi, aku tanya itu bukan karena nggak kenal. Uhm, kan sebelum nikah kita harus tahu calon kita seperti apa. Iya kan Cat Womanku sayang? Sekarang kerja sana, jangan tanya-tanya soal rumah tanggaku lagi!"
Jantung Karen masih berdebar-debar. Hampir saja dia kehilangan ide untuk memberi alasan kepada Inda.
To be continued...
Jogja, May 25th 2021
__ADS_1