
"Hahaha." Kendrik tertawa terbahak-bahak.
"Aku tahu kamu cuma bercanda, Ken. Tapi bercandaanmu itu menyakitkan, tahu! Dan kalau suatu saat benar-benar terjadi, aku marah sama kamu!"
"Kak, pernah lihat aku jalan sama cewek?"
Karen menggeleng.
Dia mengingat-ingat. Memang benar, adiknya itu tidak pernah terlihat berkencan dengan wanita. Sebelumnya, dia mengira bahwa mungkin dia pacaran secara diam-diam. Ternyata memang benar-benar tidak punya pacar.
"Kamu belum punya pacar?"
Kendrik menggeleng.
Seketika rasa kasihan merasuk ke hati Karen. "Tapi pernah pacaran, kan?"
"Pernah lah, tapi sekarang enggak. Jadi, tenang aja, nggak bakal aku langkahin kamu."
"Misalnya kamu tiba-tiba punya pacar, terus gimana?"
"Ya nggak gimana-gimana. Aku masih 20 tahun, belum pengen nikah juga."
Kendrik memandang Karen dengan serius kali ini. "Memangnya, misal aku dan calon istriku nantinya siap menikah, kamu tetep nggak mau dilangkahin?"
Karen menggeleng. "Kata orang, kalau adik menikah duluan, nanti jodoh jadi seret."
"Kamu percaya begituan?"
"Percaya nggak percaya sih."
"Secara hukum alam dan sebab akibat, itu salah lho, Kak."
Sebenarnya Karen juga berpikir demikian, tapi bukankah hukum-hukum yang tak kasat mata terkadang memang tidak masuk akal? Jadi, dia berusaha menyingkirkan pikiran logisnya dan menerima mitos.
"Coba kamu pikir, Kak, kamu membantu orang lain, nanti kamu juga akan dibantu. Nah, kamu melancarkan urusan orang lain, nanti urusan kamu akan dilancarkan juga. Termasuk urusan jodoh."
"Iya sih. Ya aku selalu ikut bantu temen masalah jodoh dan selalu support kalau ada yang mau menikah. Itu cukup, kan?"
"Kalau adik sendiri menikah melangkahi kamu, kamu nggak support?"
"Ehm ...." Karen ragu-ragu.
__ADS_1
"Pikir lebih dalam lagi, Kak. Kamu datang ke pernikahan teman dengan gembira. Masak adik sendiri menikah, kamu malah mau menjegal?"
Iya juga ya. Tapi kalau dibiarin nikah duluan, bakal seret jodoh nggak sih? Kalau dia siap nikah dan aku nggak mau dilangkahi, kasihan dia dan wanitanya. Masak aku kakaknya malah jadi peran antagonis? (Karen).
Karen terdiam merenungi kata-kata adiknya.
"Menikah itu melibatkan dua orang, nggak cuma aku aja. Kasihan calon istriku dan keluarganya dong. Kalau disuruh nunggu kamu, kalau kamu segera menikah sih nggak apa-apa. Kalau enggak? Mau digantung berapa lama nasib kami?"
"Terus, gimana dengan mitosnya?"
"Kita hidup itu berpegang teguh pada dasar hukum yang dipilih. Mau pilih mitos, maka hiduplah dengan berpegang teguh pada mitos. Kalau mau ikut hukum alam, peganglah dengan teguh."
"Kalau kamu?"
"Aku memegang teguh hukum agama dan hukum alam. Hukum sebab-akibat itu termasuk hukum alam. Karma juga masuk ke dalamnya. Jadi, tanamkan karma baik, nanti kamu akan panen akibat yang baik pula. Sementara, mitos melangkahi itu menyimpang dari hukum karma dan sebab akibat. Kamu jegal pernikahan saudara sendiri, nanti kamu pengen dijegal sama saudara sendiri juga?"
"Nggak mau lah. Eh, tapi, menikah melangkahi saudara, bukannya itu perbuatan yang nggak sopan kepada saudara yang lebih tua?"
"Sejak kapan menikah dimasukkan ke dalam perbuatan nggak sopan? Nggak sopan itu misal aku tonjok kepala kamu, atau aku tendang kepalamu, atau aku umpat pakai kata-kata kotor."
"Hm ...."
"Menikah itu mensahkan pasangan, menghindari zina dan termasuk ibadah. Menghalangi orang menikah itu seperti menghalangi orang mau ibadah. Tahu artinya, kan? Kamu berhadapan langsung dengan Tuhan. Berani lawan Tuhan?"
Karen adalah orang yang sangat peduli lingkungan. Dia berusaha menghemat penggunaan kertas dan plastik. Betapa ironisnya dirinya yang peduli pada lingkungan tapi tidak peduli pada nasib adik sendiri.
"Kalau gitu, misalnya kamu mau nikah duluan, aku akan dukung kamu, Ken. You got my full support."
Karen dan Kendrik saling tersenyum. "Kalau dukung, sana cariin aku pacar," kata Kendrik yang malah membuat kakaknya geram.
"Kamu lupa ya aku ke kamar kamu ini ngapain?! Aku aja minta dicariin pacar."
Kendrik menggaruk-garuk kepala dan melanjutkan mengerjakan tugas. Karen kembali ke kamarnya, melanjutkan mengemasi barang yang akan dia bawa ke rumah barunya.
Ibunya datang membantu. "Kalau masih sedih dan sedih mikirin jodoh, pindahannya ditunda dulu aja, Ren!"
Ish, kok kesel ya dengernya. (Karen).
Entah kenapa di telinga Karen, kata-kata ibunya itu seperti meledek. Atau mungkin telinga Karen yang telah terlalu banyak congek sehingga salah persepsi?
"Nggak, Ma. Aku tetep pindah besok. Hidup mandiri itu harga diri, Ma. Udah umur segini juga."
__ADS_1
Semangat Karen sudah sedikit kembali. Bertukar pikiran dengan adiknya tadi telah membawa kesegaran tersendiri pada hidupnya.
Aku ijinin kamu nikah duluan nantinya kalau memang kamu siap lebih dulu dari pada aku, Ken. (Karen).
Hufh, kalau kamu tahu, Ren, Mama sebenernya pengen kamu segera berkeluarga. Lihat anak-anak temen-temen Mama udah berkeluarga, Mama kasihan sama kamu yang masih sendiri. (Mama Puri).
Mama Puri mengingat-ingat kapan terakhir kali Karen memperkenalkan kekasih kepadanya. Ternyata sudah lama sekali, kira-kira 2 tahun yang lalu.
"Ren, sebenernya tipe laki-laki idaman kamu itu kayak gimana sih?" Mama Puri khawatir anaknya terlalu tinggi standarnya hingga tidak ada yang bisa memenuhi syarat.
Karen kaget ibunya menanyakan hal itu. "Ehm, aku suka yang ... ehm, gimana ya? Yang mandiri, yang ganteng, yang kata-katanya bisa bikin berbunga-bunga."
Mama Puri menepuk dahinya. "Ren, mendingan syarat ganteng sama kata-kata berbunga-bunga itu kamu hapus aja. Mana ada orang sesempurna itu."
"Ganteng itu maksudku ganteng di mataku, Ma. Relatif."
"Ya ganteng kayak artis Korea pun nggak masalah, tapi jangan jadikan itu patokan. Ganteng itu bonus. Yang penting karakter dan rasa sayangnya ke kamu. Terus masalah kata-kata berbunga-bunga itu ...." Belum selesai ibunya berkata, Karen memotong.
"Tenang, Ma! Aku nggak mengharap penulis lagu atau pujangga. Yang penting orangnya bisa nyenengin dengan kata-kata yang baik. Misalnya memuji atau ngegombal yang bikin seneng, gitu lho, Ma."
"Oh." Ibunya manggut-manggut. Dia memang khawatir anaknya berharap seorang yang pintar membuat sajak atau lagu yang mana jarang ada. Kecuali para artis atau penulis lagu hebat sekelas Mamad Dhani.
Karen kali ini mengepak buku-buku bacaannya. Terjatuhlah sebuah foto dari tumpukan buku itu. Foto mantan kekasihnya. Ibunya ikut melihat foto itu. "Mantan kamu itu udah punya pacar lagi apa belum?"
"Nggak tahu, Ma. Nggak pernah kontak dan nggak tertarik kontak lagi."
"Nggak apa-apa, Mama juga nggak begitu suka sama dia."
"Emangnya menantu idaman Mama itu yang kayak gimana?"
"Yang penting kamu nyaman sama orangnya, bertaqwa, bertanggungjawab terhadap keluarga dan nggak main kasar, Mama pasti suka."
"Kalau gitu, kita harus sama-sama sabar, Ma! Susah cari orang yang bikin nyaman sekaligus memenuhi kriteria."
"Jadi, bulan depan di nikahan Mila, kamu masih bisa sabar nunggu jodoh yang tepat dan sabar ngadepin orang-orang, kan?"
Karen terlonjak kaget.
Oh iya, nikahan Mila. Kalau gitu nggak bisa sabar-sabar melulu, harus bergerak. (Karen).
To be continued...
__ADS_1
Jogja, April 4th 2021