
π"Oh iya, lupa. Aku ke situ sekarang!"
Kemarin Karen terlalu malu dengan konsultasi kehamilannya dengan dokter Dion sehingga lupa pesannya sendiri kepada Haris.
π"Oke, I'm waiting."
Di studio, Haris yang sedang menyiapkan kameranya menyudahi sejenak kegiatannya.
"Bu Minah, Karen mau ke sini. Nggak usah dibikinin minum, saya mau beli minuman di luar buat kami."
Tidak lama setelah Haris pergi untuk membeli minuman, Karen datang.
"Bu Minah, Haris mana? Aku ke sini malah orangnya nggak ada, gimana sih?"
Duh, kok aku yang kena marah juragan. (Bu Minah).
"Anu, Non, katanya beli minuman."
"Oh jadi cuma 'katanya'? Terus faktanya ke mana?"
Lhah, jawab apa ini? (Bu Minah).
"Uhm ... ya nggak tahu, Non. Jangan marah gitu dong! Masih pagi lho, Non."
"Emang saya kayak orang marah, Bu?"
Bu Minah mengangguk ragu.
"Heheh, maaf ya, Bu, kalau bikin takut. Saya nggak marah kok, saya kadang emang begitu bawaannya, heboh. Bu Minah kan udah hapal saya sejak lama, bahkan sejak saya kecil. Jadi jangan takut ya, Bu."
Kalau dulu kan saya cuma tetangga, bisa bebas nge-ghibahin kalau situ aneh-aneh kelakuannya. Sekarang saya kerja sama situ, ya takut lah. (Bu Minah).
Bu Minah tertawa canggung. Candaan atasan meski tidak lucu, bawahan biasanya tetap saja tertawa. Di mana-mana berlaku seperti itu. Jika atasan adalah seorang yang suka bercanda, meski candaannya basi atau tidak lucu, rasanya tidak enak untuk diam dan tidak tertawa.
"Itu Mas Haris, Non." Bu Minah lega Haris datang seolah menyelamatkannya dari sidang dengan jaksa paling kejam di muka bumi ini.
Haris turun dari motornya dan membawa 2 minuman di tangannya. Cup yang digunakan adalah cup plastik transparan sehingga terlihat minuman apa yang dibawa oleh Haris. Es teh dan cola.
Jantung Karen berdegup kencang melihat pemandangan yang mirip dengan dulu saat Haris memintanya menjadi kekasihnya.
Saat Haris sudah ada di hadapannya, bibirnya terkunci seolah tidak bisa berbicara.
"Hai, Ren, aku beli minuman. Kamu pilih es teh atau cola?"
Dahulu saat SMA, Karen memilih cola sebagai tanda bahwa dia menerima cinta Haris. Kali ini dia memilih es teh.
"Yah, kok milih es teh sih?" Haris nampak kecewa.
"Emangnya kenapa?" Wajah dan nada bicara Karen mendadak serius seperti sedang terusik.
"Kok jadi serius gitu. Aku tadi kepengen es teh aja, malah kamu pilih, aku jadi dapet cola deh."
"Terus, kenapa nggak beli es teh 2 aja tadi? Kamu sengaja bawain minuman yang sama dengan waktu kita SMA dulu, Ris?"
"Ha? Kapan aku bawain kamu es teh dan cola?"
"Akh, udahlah!" Karen berusaha menutupi rasa malunya. Ternyata cuma kebetulan saja Haris membawakan minuman yang sama.
"Oh, aku inget sekarang. Waktu kita di tribun, aku bawain es teh sama cola. Hari itu kita resmi jadi ...."
"Stop!"
Haris tersenyum. "Kamu inget semuanya ya, Ren, sampai hal kecil begini juga kamu inget."
"Iya aku inget. Dan aku inget banget dulu aku pilih cola, sekarang aku pilih es teh."
Apa pun yang kamu pilih sekarang, tapi kamu inget dengan jelas. Itu artinya kenangan bersamaku masih selalu ada di pikiranmu kan? (Haris).
"Seandainya dulu kamu pilih es teh, kita nggak bakal pacaran ya?"
Aku nyesel kenapa dulu nggak pilih es teh aja. Eh, aku ini kenapa sih? Sebulan yang lalu aku antusias ketemu dan kerja bareng mantan pacar. Sekarang, semakin dia ngomongin hal-hal berbau nostalgia, aku malah jadi kesel. (Karen).
__ADS_1
"Ris, maaf aku lagi nggak minat ngomongin masalah sejarah kita. Aku pengen tahu sejarah saudaramu."
"Kamu pengen tahu apa lagi? Kan aku udah kasih tahu kamu. Kamu nggak tanya langsung sama suami atau mertuamu? Kenapa tanya aku?" Padahal saat di rumah Mami Seli, Haris sendiri yang menawarkan informasi jika Karen butuh.
"Semalem aku tanya Daniel, dia nggak jawab."
Haris sedikit membaca hubungan Karen dan Daniel yang sepertinya tidak begitu terbuka. Dia menemukan celah kemungkinan bahwa perjodohan Karen dan Daniel sekarang ini belum mampu menumbuhkan cinta di antara keduanya.
"Oke, aku jelasin semua yang aku tahu, asal kamu jawab pertanyaanku. Apa kamu cinta sama Daniel?"
Karen terkejut dengan pertanyaan itu. Seharusnya, orang luar yang tidak tahu bahwa mereka dijodohkan, tidak akan bertanya begitu. Tapi Karen tidak begitu penasaran apakah Haris tahu atau tidak. Yang dia inginkan adalah tahu tentang keburukan Daniel sedetail-detailnya.
Karen mengangguk pelan dan terlihat ragu-ragu, "He'em. Tuh, aku udah jawab, sekarang ceritain semuanya!"
"Dulu waktu masih sekolah di SMA kita, waktu ulangan harian, ada siswa yang nggak belajar. Kemudian dia minta contekkan sama Daniel. Tapi Daniel nggak mau bantu. Siswa itu marah, terus nampar muka Daniel. Nggak ngira, Daniel mukulin siswa itu dengan brutal. Terus dikeluarin dan pindah ke SMA Vincitore."
Karen berusaha mencerna. "Berarti yang salah sebenernya bukan Daniel dong, kan dia ditampar duluan. Lagian, Daniel cuma usaha untuk ulangan secara fair, nggak contek-contekkan. Dia nolak untuk berbuat curang."
"Nampar ya balas nampar aja apa susahnya? Kenapa musti mukulin dengan brutal? Daniel memang pinter. Tapi orang pinter nggak harus arogan kan? Nggak ada salahnya bantu temen yang kesulitan. Kadang orang pinter emang keblinger, dan nggak punya emotional quotient yang bagus."
Karen merasa Daniel tidak sepenuhnya salah karena dia hanya tidak ingin melakukan kecurangan.
"Kamu kayaknya masih nggak percaya ya?" Haris melihat raut wajah Karen. "Kamu pikir aja kenapa Daniel yang dikeluarin. Ngeluarin siswa dari sekolah itu prosesnya panjang lho. Dan akhirnya Daniel yang dikeluarin, bukan siswa satunya."
Karen mengangguk-angguk pelan. Logika Haris memang masuk akal. Dia kini berusaha memahami semua cerita versi Haris. Dia berusaha terbuka untuk menerima kenyataan yang ada.
Meski sekarang sepertinya Daniel terlihat biasa saja, sifat liarnya pasti bisa muncul kapan saja.
Apa kontrak pernikahannya dipersingkat jadi 6 bulan aja ya? Kalau aku hidup sama monster berbulu domba begitu kan ngeri. Suatu saat bisa aja aku jadi sasarannya. (Karen).
"Selain itu, ada lagi?" Karen kini tidak ragu bertanya kepada Haris.
"Sementara ini cukup itu dulu. Oh, Tante Seli dulu sering bilang kalau Daniel itu korban. Dulu sih keluarga besar percaya aja kalau dia korban. Tapi lama-lama kami mikir juga. Gimana bisa korban dikeluarin dari sekolah? Jadi, kami anggap Tante Seli cuma lagi shock belum bisa nerima kenyataan kalau anak pintarnya itu bengal."
Karen merasa sudah cukup mendapat penjelasan dari Haris. Dalam hati, rasa bencinya terhadap Daniel meningkat. Namun dia juga sedikit berempati karena pada dasarnya Daniel tidak menyukai kecurangan.
Dalam hal ini, mereka sangatlah mirip. Meski tidak secerdas Daniel, Karen sangat tidak menyukai kecurangan. Dia bahkan pernah mendapat nilai ulangan 4 karena tidak belajar tetapi bersikeras tidak ingin mencontek. Sedangkan teman sekelasnya beramai-ramai bertukar jawaban.
Sore hari dalam perjalanan pulang dari kantor ...
Aneh juga kalau si patung kuno itu ternyata orang yang kejam. Sangat nggak matching gitu sama tampang dan perangai sehari-hari. Andai dulu kami seangkatan waktu sekolah, aku pasti lihat sendiri gimana dia ribut sama temennya. (Karen).
Sesampainya di rumah, dia membersihkan diri dan memasak untuk Daniel. Dia memasak tumis pare dan hati ayam sebagai makan malam.
Jam 6 sore, Daniel dan Karen sudah siap untuk makan malam. Daniel memandangi masakan Karen. Karen mengambilkan nasi dan tumis pare itu ke atas piring suaminya.
"Kok nggak dimakan, Niel?"
Daniel segera meraih sendok dan garpu. Dengan ragu-ragu dia menyuapkan makanan itu ke mulutnya. Karen juga mulai memakan sajian makan malam buatannya sendiri.
Sebenarnya Karen tidak begitu menyukai pare, tapi karena Daniel juga tidak menyukai pare, Karen sengaja memasakkannya untuk membuat Daniel kesal.
Mereka makan lebih lama dari biasanya karena berusaha menelan makanan yang bukan favorit mereka.
"Gimana masakanku, Niel?"
"Enak," kata Daniel, datar.
"Kalau gitu, aku masak pare tiap hari ya?"
"Uhm, jangan."
"Kenapa, kamu nggak suka? Pare kan bagus untuk kesehatan."
"Mengkonsumsi pare dengan porsi yang cukup bisa menghindarkan berbagai penyakit. Tapi mengkonsumsi berlebihan juga tidak baik. Bisa membuat irama jantung jadi nggak teratur."
"Iya ya ya ya, aku ngerti."
Ish, rencananya bikin dia kesel, malah aku yang dikuliahin. (Karen).
Karen seakan lupa bahwa tadi pagi dia takut menjadi sasaran Daniel. Sekarang, dia malah penasaran dan ingin memancing kemarahan Daniel.
__ADS_1
To Be Continued...
Jogja, June 9th 2021
***
epilog:
Karen mampir di sebuah supermarket untuk berbelanja. Pikirannya masih tertuju pada Daniel yang katanya kejam itu. Dia pun tergelitik untuk memasak makanan yang tidak disukai Daniel.
Makin penasaran pengen bikin dia marah. Kalau bisa sampai ngamuk sekalian. Kemarin sekedar makanan asin masih bisa ditolelir. Kalau makanan yang dibenci gimana? Coba! (Karen).
π"Halo, Bi Sum. Mau tanya Bi, makanan yang paling dibenci Daniel itu apa ya, Bi?"
π"Pare Non, meski menyehatkan, Den Daniel nggak suka pare."
Mata Karen langsung memburu mencari sayuran hijau dengan relief keriting itu.
***
Dear Readers...
dengan ini author ingin meminta maaf (aduh minta maaf kok tiap hari ya, kemarin udah, skrg lagi.)
yah begitulah karena memang manusia tempatnya khilaf.
Novel ini memang alurnya slow (sesuai pengumuman yg pernah author sampaikan dulu)
malam pertama Daniel dan Karen akan terjadi nanti di quarter akhir. Jadi kalau mau diskip dan langsung indehoy, akan langsung tamat dah novel iniπ.
Oleh karenanya, maaf beribu ribu maaf untuk yang menantikan malam pertamanya/daniel buka kado (heheh), masih akan lama.
Episode2 berikutnya masih akan menguak Daniel dan sejarahnya.
Nanti juga akan ada pihak yang tahu bhw ternyata daniel-karen belum ngapa2in dan berusaha bantu. heheh.
siapa hayo? siapa lagi yg paling mendukung karen-daniel, pastilah *teeeeeeeet sensor
dan akan terjadi keadaan yang berbalik 180 derajat. (part ini bikin gemoy, asli).
Mohon sabar ya.
Kalau ingat drakor Full House yang akhirnya Han Ji En dan Lee You Jay bersatu di episode akhir, nah kira2 mirip begitu dah ya.
πππ
love love dari Karen dan Danielβ€οΈβ€οΈβ€οΈ
sembari menunggu up, boleh lho mampir di novel author sebelumnya "Hamil Tanpa Suami" (kisah cinta Lana dan Nathan, temennya Daniel)
emuahhhhππππ
***
Ada yang pengen tahu kisah Daniel waktu SMA? Ada lhoh di novel baru di bawah ini:
...KEMBALI KE MASA SMA...
...(Tita Dewahasta)...
...Madya gagal dalam rumah tangganya. Mantan suaminya kemudian menikah dengan mantan baby sitter yang bertahun-tahun bekerja padanya....
...Dia pun frustasi dan berandai kembali ke masa lalu untuk memperbaiki keadaan. Dalam sebuah perjalanan, kepala Madya terantuk setir mobil....
...Beberapa saat setelahnya, dia kembali ke 18 tahun silam....
...Dapatkah Madya memperbaiki hidupnya?...
...Dan bisakah Madya kembali ke masa sekarang, atau dia akan terjebak selamanya di kehidupan baru masa mudanya?...
__ADS_1
...Ikuti kisahnya dalam novel 'KEMBALI KE MASA SMA'...