Emak Aku Pengen Kawin

Emak Aku Pengen Kawin
59. Kelesuan Karen


__ADS_3

Dari dalam kamar sudah tidak ada suara lagi. Daniel sudah terlelap. Meski begitu, Karen belum berani masuk lagi ke dalam. Dia takut sewaktu-waktu Daniel bangun dan menyerangnya lagi.


Dia pun tidur di sofa di ruang televisi.


***


Pagi hari


Daniel yang sudah rapi membangunkan Karen di ruang televisi. Begitu membuka mata dan mendapati Daniel yang menyentuh bahunya, dia langsung berdiri dan menjauh.


"Mau apa?"


Daniel hanya memandangi istrinya.


Pagi ini Daniel tidak tampak seperti semalam. Sepertinya dia sudah waras, pikir Karen.


"Jelasin yang semalem! Kalau penjelasan kamu nggak memuaskan, awas aja."


Daniel menaikkan kedua bahunya.


"Heh, tadi malem kamu hampir aja perkosa aku, sekarang kamu cuma angkat bahu?! Cepet jelasin! Jangan sampai kita bikin ribut di rumah Mami Papi.


Daniel bernapas dengan dalam dan seperti berusaha sekuat tenaga untuk berbicara. "Aku juga nggak tahu semalam aku kenapa."


"Kalau kamu bener-bener nggak tahu, aku curiga Mami ngasih kamu obat perangsang diam-diam. Mendingan kamu ngomong sama Mami sekarang."


Daniel sudah mulai tidak tenang dan napasnya tidak beraturan. Dia segera pergi dari sana.


Karen segera ke kamar untuk mandi dan bersiap.


Daniel memegangi dadanya yang terasa sesak. Dia agak kesulitan untuk bernapas. Setelah beberapa saat, napasnya kembali normal.


Kemudian dia mendatangi Mami yang sedang berada di dapur bersama Mbok Idah.


"Mami, aku mau ngomong sebentar," kata Daniel wajah yang sangat serius.


Mami memberi instruksi agar Mbok Idah keluar dari sana. "Ada apa, Niel?"


"Apa bener Mami ngasih aku obat perangsang?"


"Astagaaa." Mami tidak membenarkan, tapi juga tidak menampik.


Daniel tidak menggubris ekspresi pura-pura kaget Mami dan tetap menunggu pengakuan.


Mami menghela napas. "Iya Niel, memang Mami kasih obat itu ke minuman kamu. Habis, Mami gemes sama kalian. Gimana bisa kalian udah nikah 2 bulan tapi belum... Ehem."


"Dan Mami tahu itu dari...?"


"Ehm, eheheh waktu itu handphone Karen ketinggalan di dapur, lalu Mami masuk ke kamar kalian."


"Mami, soal aku dan Karen itu biar kami sendiri yang menyelesaikan. Mami jangan ikut-ikutan. Terus soal obat, Mami kasih obat jenis apa?"


"Ehm, sildenafil."


"Astaga, itu obat harus pakai resep, nggak bisa sembarangan. Jangan kayak film yang kasih obat diam-diam. Kasih obat itu harus tahu riwayat alergi, riwayat obat apa yang sedang dikonsumsi, dan makanan atau minuman apa yang dimakan. Kalau kontraindikasi gimana Mi?"


Mami memeluk Daniel. "Maafin Mami ya Nak."


"Iya, iya, Mi. Tapi jangan lagi ya."


"Mami nggak bakal gitu lagi, asal, kamu segera..."


"Aku nggak janji Mi."

__ADS_1


"Hah, kok gitu sih?!"


Daniel melepaskan pelukan Mami dan mendudukkannya di kursi. Mami mengelus-elus dada kemudian memijat-mijat kepalanya yang mendadak pusing.


"Mami tenang dan sabar aja," hibur Daniel.


Karen hendak memasuki dapur-ruang makan dan melihat Papi sedang di depan pintu.


"Lhoh, Papi nggak masuk? Ayo sarapan Pi."


"Oh, iya, ayo."


Mereka memasuki ruangan itu.


Karen merasa kesal terhadap Mami tapi juga merasa bersalah apalagi melihat Mami sedang memijat-mijat kepalanya sendiri. Karen dan Daniel pastilah alasan utama beban pikiran Mami.


"Mami, sini aku pijitin." Karen hendak mengambil hati Mami agar ibu suaminya itu tidak terlalu terbebani pikirannya. "Dulu Daniel itu aku pijitin langsung tidurnya nyenyak banget lho, Mi."


Karen memijat Mami namun orang tua itu berteriak kesakitan.


"Aaarrrggghhh sakit Ren. Aduh Ren, Mami tahu kamu marah tapi jangan begini caranya dong, aduh."


"Eh, Mami maaf. Pijitanku terlalu keras ya? Aku nggak sengaja Mi, maafin aku Mi."


Semua orang menatap Karen. Sejenak Karen salah tingkah, namun kemudian memandang Daniel dengan penuh marah.


~


Perjalanan pulang ke rumah.


"Kamu benci banget sama aku ya Niel?" tanya Karen dengan nada sedih.


Daniel menggeleng.


Kesimpulan dari mana itu? (Daniel).


Daniel menggeleng pelan.


Itu karena aku jaga perasaan kamu aja. Coba aku bilang 'nggak enak', pasti kamu tersinggung. (Daniel).


"Maaf," kata Daniel tanpa menjelaskan apa-apa.


Sesampainya di rumah, Karen segera mengambil kunci mobil dan berangkat ke kantor tanpa berpamitan atau pun berjabat tangan dengan Daniel.


~


Rumah orang tua Daniel


Mami sedang berbaring di kamar. Hari ini badannya tidak enak. Tidak dapat dipungkiri, salah satu penyebabnya adalah kehidupan pernikahan anak pertamanya.


"Mi, Papi tadi denger pembicaraan Mami sama Daniel."


"Terus kenapa, Pi?" tanya Mami Seli sembari memijat kepalanya.


"Mami kok sampai pakai obat segala."


"Ya gimana sih Pi, mereka itu... Akh udah deh Pi, jangan ikut-ikutan."


"Itu buat Mami juga, jangan ikut-ikutan. Mami harus ingat, mereka itu menikah karena perjodohan. Mereka butuh adaptasi. Apalagi tahu sendiri karakter anak kita seperti apa."


Mami akhirnya merenungi semua. "Apa kita dulu salah ya ngijinin dia koleksi mainannya itu, keterusan sampai dewasa, sampai nggak tertarik sama wanita."


"Eh, ya enggak lah. Justru kalau kita larang, bisa-bisa tambah parah karena dia nggak punya hiburan. Sudah biarin aja mereka. Lagian kalau pakai obat, mereka terpaksa kan jadinya?"

__ADS_1


"Kadang, sesuatu memang harus dipaksakan Pi."


"Ya nggak gitu Mi, nanti malah kesannya kayak penjahat. Ingat kan tadi malam Karen sampai teriak minta tolong. Kalau Daniel malah dituntut karena marital rape gimana?"


"Iya juga ya."


"Biarin aja mereka saling mengenal satu sama lain pelan-pelan. Kan berat buat mereka yang baru kenal 1 bulan, tiba-tiba menikah terus langsung tinggal seatap 2 bulan ini."


Mami manggut-manggut mengerti.


~


Kantor Ren's Writer.


"Hai Ren," sapa Haris.


"Hm," jawab Karen sembari memaksa tersenyum kecil.


"Suntuk ya?"


"Iya gara-gara tantemu sama sepupumu!"


"Kenapa sama Tante Seli?"


"Akh biasa, perkara menantu-mertua. Udah lazimnya begitu kan?"


Haris mengangguk-angguk. "Udah dapet cerita lengkap dari tante Seli tentang Daniel?"


Karen menggeleng. "Malah lupa nggak nanya. Besok-besok aja deh, lagi kesel aku."


"Ya udah, aku ke studio dulu. Kalau ada tambahan, langsung chat aja ya."


Karen mengangguk.


Haris pun pergi dari sana.


Inda masuk ke ruangan setelah mengecek pengiriman artikel ke client.


"Bos Black, para freelancer udah beres dan udah dikasih fee semua," kata Inda melaporkan selesainya pekerjaan para freelnacer namun raut wajahnya tidak begitu bahagia.


"Bagus Cat, 2 hari selesai, cepet banget. Kenapa kamu sedih?"


"Masalahnya, untuk job yang baru udah ada beberapa artikel yang telat."


"Astaga, oke, evaluasi sekarang." Dengan mood yang tidak begitu baik, Karen memutuskan untuk mengevaluasi kinerja 3 writer yang terlambat menyetorkan artikel dan membuat kekacauan.


Karen sedang sangat tidak bertenaga untuk marah. Dia memberikan ultimatum bagi para penulis itu dengan nada kecewa.


"Wah, bos kita hebat banget, sekarang udah nggak ngamuk-ngamuk." Citra yang menyaksikan evaluasi tadi terkagum dengan bosnya.


"Hebat apanya, justru itu lebih serem. Kamu nggak lihat muka si Bos angker begitu?" sanggah Inda.


"Iya ya."


"Justru kalau ngamuk-ngamuk itu belum marah yang sebenarnya karena dia kan emang tukang ngamuk."


"Siapa yang tukang ngamuk, Cat Woman?" Suara Karen mengagetkan Inda dan Citra yang sedang bergosip.


"Anu Bos, tetanggaku eheheh."


to be continued...


Jogja, June 17th 2021

__ADS_1


***


find me on Instagram: @titadewahasta


__ADS_2