Emak Aku Pengen Kawin

Emak Aku Pengen Kawin
8. Lamaran Tora


__ADS_3


***


Beberapa orang menyambut mereka. Yang pertama dituju Karen adalah ibunya dan Kendrik yang telah berada di sana lebih dulu. Karen memperkenalkan Tora kepada mereka.


"Aku Kendrik, adiknya Karen."


"Aku Tora."


Wajah ini kok familiar banget ya? Tapi si Koreng bilang dia nggak kuliah di kampusku kok. Apa cuma mirip sama salah satu mahasiswa? (Ken).


Tora dan Karen kemudian menuju pelaminan untuk memberi selamat kepada Mila dan suaminya.


"Selamat ya Mil, selamat ya, Mas." Karen memberikan selamat setulus mungkin tanpa sarkas sama sekali. Akan tetapi, lagi-lagi Mila tetap saja tergelitik untuk menggoda Karen dan Tora.


"Makasih ya Ren, oh ini calon kamu ya? Selamat juga ya untuk kalian, aku tunggu undangannya Desember tahun depan." Mila memberi selamat.


Mendengar itu Karen panik sendiri. Dia dan Tora bahkan belum jelas statusnya. Belum ada satu pum dari mereka yang menyatakan perasaan cinta. Mereka melanjutkan langkah kemudian menyalami orang tua Mila yaitu tante Rini dan om Aldi.


"Makasih udah datang ya, Ren, dan calon suami."


Tora melotot mendengar hal itu. Karen menatapnya dengan canggung. Dia segera mengajak Tora untuk mengambil makanan.


"Ren, tadi apa maksudnya saudara-saudara kamu? Apa kamu ngenalin aku sebagai calon suami kamu?"


"Ehm, eh, anu ... itu mereka sendiri yang mengasumsikan. Biasa kan kalau perempuan kondangan sama laki-laki pasti dikira pasangan. Iya, kan? Nggak usah dimasukkin ke hati ya?"


Aduh, gimana kalau Tora jadi takut sama aku? Aku kelihatan kayak perempuan yang terobsesi pengen segera nikah.(Karen).


"Halo, Karen," sapa seorang saudara. "Akhirnya kamu juga bakal nyusul Mila ya. Kirain kamu bercanda waktu bilang bakal nikah bulan Desember tahun depan."


Tora menatap Karen lagi.


"Oh, hehehem ...." Karen hanya bisa menjawab dengan tawa canggungnya.


Dia tidak punya pembelaan apa-apa.


Itu salahnya yang dulu pernah mengatakan akan menikah bulan Desember tahun depan. Kini dia berharap Tora akan mewujudkan rumor pernikahannya menjadi nyata. Akankah laki-laki itu akan segera melamarnya? Sedangkan mereka saja belum menyatakan perasaan masing-masing.


Tora melonggarkan dasinya dan mengibaskan kemejanya di bagian dada.


Dia kayaknya kepanasan sama pertanyaan dari saudara. Mendingan aku ajak dia segera pulang aja deh. (Karen).


"Tor, kamu nggak nyaman ya ditanya-tanya terus dari tadi?"


Laki-laki itu tersenyum. "Nggak apa-apa kok."

__ADS_1


Dada Karen berdegup kencang mendapat balasan senyuman itu. Jika Tora menerima segala pertanyaan itu dengan senang hati, apa itu artinya dia memang akan menikahinya suatu saat nanti Meski Tora berkata tidak apa-apa, Karen tetap tidak enak hati. Setelah berfoto bersama mempelai, dia mengajak Tora pulang ke rumahnya.


Saat berjalan menuju pintu keluar, Tora menggenggam tangan Karen membuat semua mata tertuju pada mereka. Mereka semakin yakin dengan apa yang mereka lihat bahwa Tora adalah calon suami Karen.


~


Sesampainya di rumah, Karen membuatkan mi instan untuk Tora.


"Maaf ya, karena buru-buru mau pulang malah nggak sempet makan besar." Karen memberikan mie itu kepada Tora yang sedang duduk di ruang TV rumah Karen.


"Nggak apa-apa, udah sempet ngicipin salad sama pastry kok."


Wohoho, bikinin dia mi rasanya kayak melayani suami. (Karen).


Wanita 26 tahun itu tersenyum melihat Tora memakan mie nya dengan semangat.


"Kamu nggak makan, Ren?"


"Aku nanti aja."


Tora menyuapkan mi yang dia makan ke mulut Karen. "Nggak usah nanti-nanti, ntar sakit lho."


Karen akhirnya memakan mie yang disodorkan ke mulutnya itu. Selesai makan mie, mereka bersantai sembari menonton televisi.


"Menurut kamu, kapan sebaiknya kita menikah?" Tora menanyakan kesanggupan Karen untuk menikah dengannya!


Karen tergagap dengan pertanyaan itu. Tapi, memang itu yang dia tunggu. "Ehm ...."


Karen bingung akan menjawab apa. Sebenarnya dia ingin lebih cepat. Dia menyebutkan bulan Desember tahun depan kepada saudara-saudaranya sebetulnya hanya asal saja. "Kamu ... pengen kita nikah?"


"Karen, aku bohong kalau bilang enggak. Kita selama ini jalan berdua memang tujuannya ke sana kan?"


Karen tersenyum dan menganggukan kepalanya. Memang itu yang dia rasakan saat ini.


"Karen, aku sayang sama kamu. Kamu mau menikah dengan aku?"


Tidak ragu-ragu, wanita itu menganggukan kepalanya. "Iya, aku mau."


Tora terlihat senang sekali mendapat lampu hijau dari Karen. "Maaf ya, aku lamar kamu tanpa cincin. Nanti pasti akan kubawa saat lamaran."


Mereka duduk di sofa. Karen berada dalam pelukan Tora. Tangannya membelai-belai punggung Karen dengan lembut. Tanpa disadari, tangannya sudah bermain-main dengan pengait yang ada di sana.


Karen tersadar dan duduk dengan posisi biasa sembari menatap Tora, tajam. "Ba-barusan kamu ngapain?"


Laki-laki tidak menjawab dan berusaha mencium bibir Karen. Karen berdiri menghindar.


Mau apa dia? (Karen).

__ADS_1


"Kenapa, Ren? Aku baru aja ngelamar kamu lho." Tora berdiri dan berusaha memeluk Karen.


Karen berhasil menghindar lagi. "Tor, aku sayang sama kamu tapi bukan dimulai dengan begini! Kita mulai dengan menikah dulu."


"Oke, oke."


Seketika Karen takut kepada laki-laki itu. Dia tetap berdiri sedangkan Tora kembali duduk. Kecanggungan yang luar biasa terjadi. Melihat Karen yang tegang dan ketakutan, lelaki berusia 23 tahun itu berpamitan.


"Aku pulang aja, Ren!" kata Tora sembil mengambil jas yang dia letakkan di sofa. "Aku nggak maksa kok."


Bibir Karen tidak mempu menjawab. Dia hanya mengangguk dan menunduk. Setelah laki-laki itu keluar dari rumahnya, Karen mengunci pintu sembari menghela napas lega. Dia berjalan dengan langkah terhuyung-huyung seperti orang mabuk. Dia tidak percaya dengan kejadian yang dia alami hari ini yang semuanya terasa seperti roller coaster.


Pertama, dia datang ke pernikahan Mila dan berhasil menjadi primadona karena Tora. Kedua, mendapat lamaran mendadak dari Tora. Ketiga, lelaki itu meminta 'bayaran' akan jasa-jasanya. Karen menghamburkan dirinya di atas tempat tidur, tengkurap dan menenggelamkan wajahnya di atas bantal.


"Aku butuh ART! Nggak boleh sendiri di rumah! Apa aku tinggal di apartemen aja ya yang banyak orang? Aaarrrggghhh kenapa dia bikin aku takut begini sih?!" Karen meracau pada dirinya sendiri. "Pasang gazebo di depan, tamu laki-laki nggak boleh masuk!"


Dia kini bingung harus menghubungi Tora atau tidak. Dilihatnya Chatsapp Tora. Online. Jantungnya masih berdegup kencang, belum stabil sepenuhnya.


Dia tadi narik br* ku kan? Dia mau lepasin br* ku kan? Untung aku masih waras. Habis kejadian ini, status lamaran yang tadi gimana? Lanjut atau batal? Hubungan kami gimana? Kenapa tiba-tiba dia berubah kayak sampah di mataku? (Karen).


Deringan telpon di ponselnya menyadarkan Karen dari segala pikirannya. Kendrik.


📞"Halo, Kak."


📞"Iya ... kenapa, Ken?"


📞"Lagi apa?"


📞"Nggak lagi apa-apa, cuma lagi rebahan aja. Ada apaan?"


📞"Nggak apa-apa, Kak, tiba-tiba pengen telpon aja."


Ken, adikku sayang, meski kadang kita ribut, tapi feelingmu peka banget sama aku. Aku nggak mungkin bohong sama dia. (Karen).


Setiap Kendrik tergugah firasatnya, Karen kadang menghindar menutupi kesedihannya. Namun, pada akhirnya Kendrik dan ibunya akan tahu juga. Sama sekali tidak ada gunanya berbohong.


📞"Aku tadi, ehm, ribut dikit sama Tora."


📞"Tapi kamu nggak apa-apa kan, Kak?"


📞"Nggak apa-apa. Oh iya, tolong bilang sama Mama, minta tolong carikan ART yang mau nginep di sini, di rumahku. Dari daerah situ aja yang udah lama kenal."


📞"Iya, nanti aku bilangin Mama."


To be continued...


Jogja, April 8th 2021

__ADS_1


***



__ADS_2