
Dua minggu kemudian
Kekosongan 2 pegawai membuat para penulis kewalahan. Dua minggu ini mereka lembur untuk nyelesaikan order artikel.
Inda pun ditugaskan untuk open recruitment penulis baru.
Hari Minggu, Karen mengundang 2 kandidat untuk interview di kantor. 2 orang itu sudah lulus dalam screening awal dan tes kompetensi yang dilakukan sebelumnya.
Karen ditemani Daniel menunggu di kantor Ren's Writer. Setelah kejadian tabrak lari yang dialami Karen 2 minggu yang lalu, Daniel menjadi sangat protektif. Karen diantar jemput ke kantor oleh Daniel.
Jiwa bandelnya sejenak terkungkung entah di mana sehingga dia menjadi penurut. Dia sedang waras jadi menurut saja dengan apa yang dikatakan suaminya. Entah bagaimana nanti jika paku di kepalanya dicabut. (Karen: Thor, aku bukan anak kuntil!).
Trio rumpi menjadi pegawai yang harus masuk di hari Minggu. Mereka sedikit kesal harus datang ke kantor meski hanya untuk keperluan membantu jalannya interview.
"Bos, kenapa sih interview musti hari Minggu? Kan pengen piknik," protes Citra.
"Siapa bosnya?"
"Bos Black Widow."
"Nah! Udah tahu aku bosnya. Suka-suka aku dong mau interview kapan."
Trio rumpi itu pun mendesis melihat tingkah bosnya. Karen pergi ke toilet sejenak. Selama ditinggal Karen, trio rumpi itu memandangi Daniel dengan takjub. Anggoro pun duduk di sofa mensejajari Daniel.
"Hai, Dok, akhir-akhir ini antar jemput si Bos terus. So sweet banget sih," puji Anggoro.
Daniel bingung sendiri akan menjawab apa sehingga dia hanya mengangguk kecil dan tersenyum tipis.
"Aku mau juga dong ada yang jemput," kata Anggoro.
Lagi, Daniel tidak bisa menanggapi perkataan Anggoro dan hanya tersenyum samar.
Pintu ruangan itu pun diketuk. 2 kandidat pegawai baru sudah tiba. Mereka dipersilakan duduk di kursi di depan meja Karen.
Ini adalah kali pertama mereka berdua masuk ke ruangan Karen. Juga, merupakan pertama kali bagi mereka akan bertemu dengan Karen. Sebelumnya, mereka melakukan serangkaian tes di lantai 1 bersama trio rumpi.
Dua kandidat itu kini sedang takjub melihat ruangan Karen yang lain dari yang lain.
Yang lain menggunakan meja dan kursi standar kantor. Sedangkan meja dan kursi Karen, sang bos besar di kantor itu, menggunakan meja berwarna keemasan. Kursi yang digunakan lebih mirip dengan singgasana ratu berwarna merah yang di sisi pinggirannya terdapat lapisan berwarna emas.
Tak lama, Karen kembali ke ruangan. Dia bersidekap di depan Anggoro.
"Kamu lagi ngapain? Pindah duduknya, jangan deket-deket Daniel," titah Karen.
"Halah si Bos, nggak aku dulit juga," gerutu Anggoro.
"Ini, Bos, para kandidat bibit unggul yang sudah kami seleksi dengan seksama," lapor Inda.
Karen berjalan menuju kursinya sembari mengamati. Dua orang itu tak hanya takjub dengan meja dan kursi bos besar, mereka juga takjub dengan calon bos mereka. Penampilan Karen yang modis dengan rambut merahnya sukes membuat dua orang itu melongo.
"Oh, ini kandidatnya. Halo!" sapa Karen sembari tersenyum dan duduk di kursinya.
"Halo, Bu," jawab kedua orang itu hampir bersamaan.
"Eh! Panggil apa tadi? 'Bu'?" Karen menepukkan tangan dua kali. "Mas Ang jelaskan sama mereka!"
Anggoro maju mendekati kandidat. "Aturan pertama, dilarang panggil 'Bu'. Panggil Bos Black Widow."
"Hah?"
__ADS_1
"Sssttt, udah nurut aja."
"Ba-baik Bos Black Widow."
"Name please! You!" tunjuk Karen.
"Saya Sena."
"You!" tunjuknya kepada kandidat satu lagi.
"Saya Ulya."
Karen memperhatikan Sena. Semua orang terdiam, tidak ada yang bersuara.
Aku suka dia, tapi rambutnya, ehm aku nggak suka gaya rambutnya. Kukunya panjang! Nggak suka! Dia cukup percaya diri. Aku lihatin dia, dia lihatin aku balik. (Karen).
Kenapa calon bosku ngelihatin aku begitu ya? Dan semuanya pada diem aja. Nggak ada yang mau nolongin aku gitu? (Sena).
Krik ...
Krik ...
Heningnya suasana membuat dua kandidat itu bergidik. Kini Karen beralih ke Ulya. Dia memandangi kandidat itu dari ujung rambut hingga ujung kaki. Kesunyian kembali tercipta.
Krik ...
Krik ...
Yang satu ini sama sekali nggak bermake-up. Bajunya, siapa yang milihin? Atasan kemeja bunga-bunga, roknya rok jadul motif garis-garis. My eyes! My eyes! (Karen).
Karen mengucek matanya.
Kenapa ya kok ngucek mata? Jangan-jangan lagi belekan. Duh, bisa ketularan. (Ulya).
Sena dan Ulya sama-sama mengangguk.
"Harus bersih, wangi, hargai diri sendiri dan orang lain di sekitar, jangan sampai mereka pingsan gara-gara bau badan kita. Kuku nggak boleh panjang, harus dipotong. Penampilan harus modis, baju modis, semua modis."
Daniel menutup matanya dengan satu tangan mendengar aturan kerja dari istrinya itu.
"Tapi, Bos, kami kan pegawai baru, nggak punya budget buat beli barang branded," protes Sena.
"Siapa suruh pake barang branded?" Karen menunjukkan sepatunya yang modis dengan sedikit sentuhan blink blink clink. "Ini 50ribuan. Tasku? 100ribuan. Nggak ada yang mahal dan nggak ada yang branded. Pilih pengrajin lokal, bagus-bagus, harga murah."
Karen menepukkan tangan dua kali. "Dayang dayang dayang, fashion show! Ini dia, Cat Woman alias Inda. Dia dulu rambutnya cepak dan kusam, sekarang rambutnya indah panjang berkilau, penampilannya cantik memukau."
Inda menuruti bosnya untuk melakukan fashion show di depan dua kandidatnya itu.
Ini sebenarnya agensi kepenulisan atau agensi model sih? (Sena).
"Berikutnya Citra. Lihat perpaduan bajunya yang cantik dengan sentuhan warna berkelas. Berikutnya Mas Ang, dia adalah laki-laki termodis di Ren's Writer."
Sena dan Ulya mengangguk.
"Oh iya, ada aturan berikutnya yaitu harus bermake up tapi nggak boleh menor. Harus yang netcyurel." Karen mengeluarkan kartu debit dan memberikan pada trio rumpi. "Cat Woman, Citra, Mas Ang, permak mereka. Tapi ingat, pilih barang bagus tapi non branded. Produk lokal aja. Understand?!"
"Mam yes Mam!"
"Dan untuk kalian bertiga karena hari ini kalian masuk kantor di hari Minggu selama 3 jam, kalian dapat bonus lembur, dan besok kalian masuk jam 11."
__ADS_1
"Yes yes, makasih, Bos Black."
"Enak, kan? Aku aja besok masuk jam 8 lho, dan nggak ada yang ngasih aku uang lembur lho."
Lalu apa mau si bos berandal ini akh bikin bingung. (Citra).
"Jadi gimana Bos, besok kami masuk jam 8 apa jam 11?"
"Kalian jam 11, aku bosnya masuk jam 8," kata Karen.
Kalau kami beneran masuk jam 11 bakal dikatain apa sama si Bos gemblung ini. (Inda).
Trio rumpi itu saling berpandangan seolah mengatakan 'iya iya, kami tahu diri'.
"Habis permak mereka, kalian boleh makan sepuasnya pake kartu debitku."
Trio rumpi itu pun berbinar. Tugas masuk kantor di hari Minggu itu akan terbayar lunas dengan tugas jalan-jalan di mall dan makan-makan.
"Ulya, Sena, kalian lihat yang duduk di sofa, namanya Daniel. Ganteng?"
Ulya dan Sena memandang laki-laki tampan berekspresi datar yang duduk di sofa itu dengan mata berbinar. "Iya, Bos."
"Ingat-ingat wajahnya, jangan ada yang coba-coba jatuh cinta! Itu suamiku!"
Raut wajah kecewa tergambar di wajah kedua gadis itu. Padahal, jika mereka jatuh cinta pada wajahnya pun belum tentu mereka akan jatuh cinta pada sikap Daniel yang dingin. Selama ini, baru Karen yang punya mantra untuk menghidupkan manusia setengah patung anubis itu.
~
Malam hari
Karen sengaja mandi dengan lulur green tea yang pernah dia pakai untuk menggoda Daniel. Tak lupa dia mengenakan gaun tidur alias lingerie.
"Ehm, Niel, udah 2 minggu, bandaranya udah nggak kebanjiran. Siap buat mendarat pesawat," kata Karen sembari tersenyum nakal.
"Hm?! Pengen liburan?" tanya Daniel tanpa melihat ke arah istrinya.
"Bukan hih!" Karen menata kembali moodnya. "Daniel ...," panggil Karen dengan suara lembut manja.
Daniel yang duduk di atas tempat tidur sembari membaca komik itu tertegun melihat istrinya. Karen mengeluarkan beberapa pelindung mengingat dia belum boleh hamil selama 2 bulan ke depan.
"Aku udah siapin yang aroma stroberi, jeruk, kesemek, atau rendang jengkol. Pilih mana sayang?"
Daniel hanya memandanginya sembari mengerjapkan mata beberapa kali.
"Niel, halooo ...."
Daniel masih diam. Dia pun beranjak dari sana menuju ruang komik. Karen mengikutinya dari belakang.
"Daniel, mau ke mana?"
"Ruang komik." Dia mengembalikan komik yang dia baca ke rak yang ada di sana.
Dari belakang punggung Daniel, Karen mengomeli suaminya itu. "Ikh, kamu dasar patung anubis! Kira-kira dong, masak istrinya cantik-cantik begini kalah sama komik. Lama-lama aku bakar ... hhhmmmppphhh ...."
Daniel berbalik dan melahap bibir istrinya itu. Sudah sejak tadi dia menahan dan sudah selama 2 minggu ini singa dalam dirinya dikurung. Malam ini, singa itu dilepas dan mengaum kembali dengan lebih keras.
Malam itu juga menjadi malam pertama untuk mereka berdua (malam pertama di ruang komik maksudnya). Kasihan komik-komik itu harus menyaksikan dua tuannya melakukan adegan menantang, guling-guling, gedebak gedebuk disertai teriakan religius (oh my God) dan teriakan kebingungan (yes/no, yes/no ).
Untung saja tadi sore mereka meletakkan bantal, guling dan selimut di ruangan itu saat membaca komik sehingga lutut mereka tidak sakit. (Sengaja sudah disetting sama Author untuk ditinggal di sana biar 'terjadi' di ruang komik. Besok-besok boleh deh di dapur sambil cuci piring biar suaranya kemlontang).
__ADS_1
to be continued
Jogja, August 16th 2021