Emak Aku Pengen Kawin

Emak Aku Pengen Kawin
99. Dua Gadis Kecil


__ADS_3

Kantor Ren's Writer


Haris, Olive, Linggom dan Neni kembali ke kantor. Mereka kembali bekerja seperti biasa sesuai permintaan Karen. Pegawai yang lain berusaha bersikap biasa. Namun, keempat pegawai yang sedang dalam masalah itu tak dapat menyembunyikan kecanggungan mereka.


Haris berjalan menuju mejanya sembari menatap Anggoro dengan intens. Anggoro pun salah tingkah dengan tatapan itu. Dia menunduk dan tak berani menatap balik sang fotografer.


"Mas Ang," panggil Haris.


Pemilik nama itu mendongak dengan cepat karena terkejut. "I-iya Mas Haris. Ada apa?"


Haduh, apa dia tahu kalau aku yang investigasi? Ya pastinya tahu lah yaw, di sini kan dayang bos cuma aku, Citra sama Inda. (Anggoro).


"Mas Ang sakit? Dari tadi kok nunduk terus? Kalau sakit pulang aja. Kalau nggak berani ijin, biar aku yang ijinin ke Karen."


"Ng-nggak apa-apa kok, Mas," katanya sembari tersenyum canggung.


Haris menyeringai penuh makna seolah mengejek bahwa hasil temuan investigasi Anggoro tidak mampu membuatnya dikeluarkan dari Ren's Writer.


"Tadi Karen bilang, dia bakal istirahat beberapa hari. Kita bebas kerja tanpa diawasi bos kita."


Citra yang berada di dekatnya turut mendengar percakapan mereka berdua. Inda pun keluar dari ruangan dan mendekati Anggoro. Dia mengedarkan pandangan dan mendapati 4 pegawai bermasalah itu masih masuk dan bekerja di sana.


"Kenapa, Nda? Heran kami masih di sini?" Pertanyaan Haris membuat para pendengarnya dilanda ketakutan.


"Hmmmppphhh ...." Anggoro menutup mulutnya sendiri dengan tangan. Citra mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Sementara Inda menatap Haris, Olive, Linggom dan Neni bergantian.


"Nggak tuh, aku malah seneng kalau kalian masih ada di sini. Aku jadi nggak usah repot-repot open recruitment. Tahu sendiri kan bos kita punya kriteria yang sulit. Pesenku untuk kalian, benahi kinerja."


~


Istirahat siang


"Tuh delivery food kita udah dateng. Yuk makan di ruanganku aja," ajak Inda.


Trio rumpi pun masuk ke ruangan Inda. Karena Karen tidak berada di kantor, Inda pun menduduki kursi singgasana yang biasa dipakai oleh bos mereka.


"Heh, jangan duduk di situ, Nda. Kualat lho nanti," kata Citra.


"Yah beberapa hari ini ngerasain duduk di kursi bos yang cantik ini nggak apa-apa, kan? Siapa tahu nanti aku juga jadi bos betulan."


Haris tiba-tiba masuk ke ruangan itu karena pintunya memang tidak ditutup. "Lagi pada pesta apa nih?"


"Apa sih? Makan siang biasa aja kok," jawab Citra.


Haris mengeluarkan ponselnya dan memotret mereka bertiga.


"Mas Haris, apaan sih foto-foto?" protes Anggoro.


"Ini mau aku kirim ke bos kita biar kita impas," jawabnya sembari menyeringai konyol. "Ey, kenapa jadi pada tegang gitu mukanya? Aku nggak marah kok, jangan takut sama aku. Aku ngerti kalian cuma mejalankan tugas."


Mereka berusaha tersenyum meski tetap saja di hati mereka ada sedikit rasa takut terhadap fotografer itu.


~

__ADS_1


Malam hari


"Niel, malem ini aku mau tidur di ruang komik. Aku lagi pengen sendiri. Boleh kan?"


"Kamu di kamar, aku di ruang televisi."


"Oke. Maaf ya, aku bener-bener lagi pengen sendiri."


Daniel mengangguk kemudian keluar membawa bantal dan selimutnya.


Karen sendiri di dalam kamar sembari mengelus perut ratanya. Dia berpikir dan mengandai tentang segumpal darah yang pernah dia kandung yang tak lain adalah anaknya. Pikirannya juga berkelana memikirkan Olive dan anaknya, Meylani, yang berumur 6 tahun.


Meylani mengingatkannya kepada ibu dan anak yang pernah dia temui di angkutan umum beberapa waktu lalu. Ibu itu dan Olive sedang berjuang untuk tujuan yang sama yaitu kesembuhan buah hati tercinta mereka.


Rasa sedih menghujam jantungnya. Dia merasa gagal menjadi bos yang baik bagi karyawannya. Dia teringat uang yang dia sumbangkan kepada ibu dan anak di angkutan umum itu. Dia berbuat baik kepada orang yang tak dikenalnya, tapi kenapa orang dekatnya sendiri malah luput dari penglihatan?


~


Karen berjalan di padang rumput hijau yang indah, subur dan bersih. Cuaca cerah hari itu. Dari kejauhan terlihat dua orang anak perempuan bermain di sana. Dua anak itu mengenakan gaun putih yang cantik. Mereka pun menoleh ke arah Karen.


Ternyata salah seorang di antara 2 gadis kecil itu adalah Meylani. Meski hanya melihat wajahnya melalui foto di ponsel, Karen mengingatnya dengan baik. 2 gadis kecil itu pun mendekati Karen.


"Kamu Meylani anaknya Mbak Olive, kan?"


Gadis kecil itu mengangguk sembari tersenyum.


"Ini siapa? Adikmu?" Karen menanyakan tentang gadis kecil satu lagi yang tampak jauh lebih muda daripada Meylani. Tinggi badannya setinggi telinga Meylani.


Gadis kecil itu menggenggam tangan Karen dan berkata, "Mama."


Gadis kecil itu mengangguk. "Ma, aku suka bermain sama Kak Meylani. Aku ajak dia ke surga ya. Di sana banyak mainan bagus dan tempat bagus. Ada sungai yang airnya warna biru jernih. Kak Meylani pasti suka. Iya kan, Kak?"


Meylani mengangguk ceria.


Kemudian gadis kecil itu melepaskan genggaman tangan Karen dan berganti menggenggam tangan Meylani. "Ayo kita ke surga, Kak."


Dia berlari menarik Meylani menjauhi Karen dan terbang tinggi ke atas. Karen hanya bisa berteriak sembari tangannya berusaha menggapai tangan Meylani. Dia tidak bisa mengejar dua gadis kecil itu. Kakinya berat serasa tertancap dalam di bumi.


"Jangaaan ... jangan pergi!"


~


Pukul 12 malam Daniel terbangun karena teriakan Karen.


"Aaarrrggghhh ... jangaaan ... jangan pergi!"


Daniel berlari ke kamar dan membangunkan istrinya yang memejamkan mata namun basah di kedua pipinya. Karen menangis dalam tidurnya. Tangannya melambai-lambai seolah sedang menggapai sesuatu.


"Ren, bangun." Daniel mengguncang tubuh Karen beberapa kali. "Ren, Ren."


Akhirnya Karen terbangun setelah beberapa saat. Daniel memeluk dan menenangkan Karen. Namun, tangisannya malah makin menjadi.


"Ssshhh, cuma mimpi." Daniel berusaha menenangkan.

__ADS_1


"Mimpi buruk, buruk banget," kata Karen sembari masih terisak. "Aku mimpi anak kita bawa Meylani pergi ke surga."


***


Pagi itu, Karen tidak memiliki semangat. Matanya sedikit menghitam. Semalam setelah bermimpi buruk, dia kesulitan untuk tidur kembali. Daniel sebenarnya tidak tega meninggalkan istrinya sendiri di rumah. Namun, dia sudah terlalu sering minta ijin sehingga hari itu dia harus kembali bekerja.


Saat Karen mencium tangannya, Daniel terasa berat untuk meninggalkan rumah. Dia tidak melepaskan tangan Karen.


"Sana berangkat, aku nggak apa-apa. Ada Bi Sum juga."


"Telepon kalau ada apa-apa."


"Iya. Aku juga udah minta Inda ke sini nanti. Biar dia nemenin aku."


Daniel pun sedikit lebih tenang dan berangkat ke rumah sakit.


Beberapa saat kemudian, Inda sampai di rumah Karen.


"Hai, Cat, enak duduk di kursiku?" sindir Karen.


"Heheh, maaf Bos, kepengen. Bos Black Widow, aku penasaran kok 4 orang itu Bos lepasin gitu aja? Nggak jadi dikeluarin atau dikasih sanksi apa gitu?"


"Aku nggak lepasin Linggom sama Neni. Aku bakal kasih hukuman buat mereka. Tapi nanti aku tanyain dulu alasan mereka membelot itu apa."


"Kalau Haris sama Mbak Olive?"


Karen pun menceritakan semua tentang Olive dan niat Haris untuk membantu. Inda menyimak dengan seksama.


"Eh, ayo kita ke rumahnya Mbak Olive. Anaknya itu dijagain sama neneknya kalau Mbak Olive lagi kerja," ajak Karen.


"Tapi kan Bos harus istirahat di rumah."


"Bentar aja kok, pengen nengok."


"Masalahnya, tadi sebelum aku ke sini, dokter Daniel kirim Chatsapp ke aku katanya jangan bolehin Bos Black ke mana-mana."


"Cat Womanku sayang, yang bosmu itu aku apa si Kudanil?"


"Ha?! Kudanil?!"


"Eh, itu panggilan sayang. Kamu itu anak buahku, jadi nurutnya sama aku, oke? Bentar aja kok, nggak lama-lama."


"Tapi Bos, aku diamanati sama suaminya bosku. Aku harus amanah dong."


"Oke oke, kamu kirim Chatsapp ke Daniel minta ijin kita pergi bentar."


Inda mengirim pesan kepada Daniel. Karen juga mengirimkan pesan serupa kepada Daniel. Jawaban untuk keduanya sama, 'tidak boleh'. Daniel tidak mau mengambil risiko apalagi semalam Karen kurang tidur.


"Eh, aku ini niatnya mau berbuat baik. Aku mau bawain susu sama keperluan lain buat Meylani. Lagian, sekarang ini aku ngerasa sehat banget kok. Kita pergi bentaaar aja. Nggak usah bilang-bilang sama Daniel. Oke?"


Mendengar niat Karen, Inda luluh juga. Mereka pun pergi ke rumah Olive.


To be continued...

__ADS_1


Jogja, August 13th 2021


__ADS_2