
Extra part 1 (Kursus Social Skill)
Daniel menepati janjinya untuk kursus social skill di sebuah kursus kepribadian.
"Jika ada yang memuji Anda pintar, maka apa jawaban Anda? Misalnya saya yang memuji ya. 'Wah Anda cerdas sekali dokter Daniel'. Nah, apa yang akan Anda katakan?"
"Saya tidak cerdas."
Lhoh, dia punya skill merendah kok. Kayaknya nggak perlu kursus deh. (Guru).
"Bagus sekali jawaban Anda. Alternatifnya, bisa juga dijawab dengan berterimakasih. Oh iya, boleh tahu kenapa Anda menjawab itu?" tanya sang guru.
"Karena saya superior. Kalau dibilang cerdas, berarti saya harus kehilangan banyak point IQ saya."
Aaarrrggghhh, ternyata dia butuh kursus. Sangat butuh! (Guru).
***
Extra part 2 (Lana Melahirkan)
Usia kandungan Karen memasuki 4 bulan. Meski dia sudah mantap dengan kehamilannya, tetap saja ada setitik rasa takut yang kadang datang.
Hal itu membuat Daniel sangat protektif. Dia melindungi istrinya dari segala tontonan dan apa pun yang dapat menimbulkan kembali rasa takut Karen.
Ketika mendapat kabar kelahiran anak kedua Lana dan Nathan, dia pun meminta semua orang untuk tidak membicarakan proses persalinan Lana.
"Bantar lagi Karen sama Daniel ke sini. Kamu jangan ngomongin proses lahiran kemarin ya," pesan Nathan kepada istrinya.
"Iya, Na. Kadang, dia masih takut," tambah Asa.
Lana mengangguk.
Terdengar suara mobil memasuki pelataran rumah singgah.
"Pppsssttt mereka dateng," kata Dion.
"Halo semua, selamat ya Na, dokter Nathan," sapa Karen yang langsung mendekati si bayi mungil yang masih merah itu.
"Hai Ren, Niel, udah kami tunggu."
"Na, ceritain dong waktu melahirkan kemarin gimana? Sakit nggak?" Karen langsung menembak Lana dengan pertanyaan mematikan itu.
Semua orang mengatupkan bibir rapat-rapat.
"Ehm, ehm, hahaha nggak sakit dong malah enak banget."
"Ha?!"
"Kalau kamu udah berapa bulan sekarang?" tanya Lana, berusaha mengalihkan perhatian.
"Empat bulan. Eh masak nggak sakit? Sama sekali?"
"Bener kok, aku rasanya santai kayak liburan di pantai."
Semua yang di sana tambah mengatupkan bibir lebih rapat lagi.
Nathan berbicara tanpa suara kepada istrinya dari kejauhan. "Jangan lebay juga!"
Lana mengangguk kecil tanda mengerti. "Begini Ren, sebenernya sakit juga sih. Tapi, pas jalan lahir robek dan perlu dijahit, itu nanti dibius. Jadi nggak bakal berasa kok. Sakitnya pas suntik aja. Itu pun nggak berasa karena kita udah fokus sama kontraksi dan pembukaan."
Astaga, malah ngomongin robek, jahitan, kontraksi, pembukaan. (Dion).
"Eh Karen, Daniel, ayo minum tehnya sama dinikmati cemilannya." Dion memecah ketegangan.
~
Perjalanan pulang ke rumah...
__ADS_1
Karen terdiam sejak tadi. Dia memikirkan kata-kata yang dilontarkan Lana. Seketika ingatannya kembali kepada video melahirkan yang pernah dia tonton.
"Ren ..."
"Ya?"
"Kenapa?"
"Nggak apa-apa." Khas jawaban wanita yang sedang menyembunyikan masalahnya.
"Apa kamu mikirin kata-kata Lana?"
Karen menggeleng. Beberapa detik kemudian dia menatap Daniel dan berkata, "Ya iyalah, kamu nggak denger tadi dia ngomongin robek, jahit, suntik, kontraksi, pembukaan. Itu masih kurang, darahnya belum dia omongin. Dan kamu masih nanya 'apa', 'kenapa'?"
"Kan kamu yang nanya sama dia."
"Jadi itu salahku? Nggak sekalian aja jadiin semuanya salahku. Nanti kalau dirobek, suntik, jahit, bongkar-pasang itu juga salahku. Salahmu nggak ada!"
Bongkar pasang? Aku sungguh tyduck mengerti. (Daniel).
Daniel menyetir, sembari mencerna kata-kata Karen, dan mata Daniel malah berkali-kali melirik bibir istrinya yang meliuk-liuk begitu menggoda.
Sampai di rumah, di garasi, tanpa ba bi bu, langsung saja Daniel menyerbu bibir Karen. To the point. Tanpa basa basi, kelamaan.
Daniel menyerangnya tanpa ampun. Lidah mereka bermain-main. Atas-bawah, kanan-kiri. Daniel seperti sedang belajar anatomi fisiologi. Eksplorasi yang sungguh luar biasa, dokter Daniel. Bravo.
Karen pun akhirnya menyerah tanpa syarat. "Huh hah, ampun dokter Daniel Putra Mandala. Aku mau napas dulu."
***
Extra part 3 (Sidang Skripsi Kendrik)
Sidang skripsi Kendrik dihelat semi tertutup. Itu artinya, orang luar diperbolehkan menyaksikan, namun sangat terbatas. Karen, Daniel dan Mama Puri sudah siap untuk menyaksikan dan memberi semangat kepada Kendrik.
Saat itu kehamilan Karen memasuki 7 bulan. Perutnya sudah membulat dan besar.
"Sssttt..." Moderator memberi kode untuk diam.
Karen tersenyum canggung.
Dia pun pelan-pelan mencoba duduk di kursi itu dibantu Daniel. Bisa sih bisa, tapi ya gitu deh, sempit. Itu membuatnya kurang nyaman dan membuat rasa eneg datang.
Untuk menghilangkan rasa enegnya, dia hendak memakan permen mint andalannya. Tapi saat dibuka, permen itu malah mencolot dan terjatuh.
"Yah jatuh!" Karen reflek berteriak.
Moderator kembali memberikan kode kepadanya untuk diam.
Karen mengangguk-angguk.
Tak jadi memakan permen itu karena sudah kotor dan terjatuh jauh ke samping. Daniel pun tak bisa mengambilkannya.
Suasana tenang kembali.
Kakiku gatal. (Karen).
Karen berusaha meraih kakinya yang sudah merasa gatal hingga ke ubun-ubun. Karena tidak bisa terjangkau, dia menaikkan sedikit kakinya.
Akan tetapi, kaki itu malah menyenggol tempat tas yang berada di bawah kursi itu hingga menimbulkan bunyi yang keras.
Dasar Sukaren Markoreng, malu-maluin. (Kendrik).
Kendrik mengusap-usap dahinya sendiri.
Sudah 3 kali membuat keributan, moderator pun mendatangi Karen dan mempersilahkan Karen menunggu di luar.
"Jangan usir saya Bu moderator, saya janji nggak berisik lagi," mohon Karen.
"Mohon maaf, Ibu, sidang ini hanya 1 jam, selanjutnya akan digunakan sidang kembali. Mohon Ibu tunggu di luar."
__ADS_1
Karen pun keluar ditemani Daniel.
"Itu tadi saudara?" tanya dosen penguji.
"Anu Pak, saudara jauh sekali kok Pak, hampir nggak kenal. Dia cucunya nenek saya. Keponakannya om saya. Anaknya mama saya."
***
Extra part 4 (Jalan Jalan Di Taman)
Sejak usia kehamilan menginjak ke 7, Daniel sering mengajak Karen berjalan-jalan di taman. Selain baik untuk kesehatan, baik juga untuk mental sang calon ibu. Dia akan merasa lebih rileks dan merasa lebih disayang suami.
Sore itu, Karen dan Daniel berjalan-jalan di taman. Di sana banyak sekali penjual-penjual makanan. Jika Karen menginginkan makanan, mudah bagi Daniel untuk membelikannya.
Apakah Karen tertarik melihat booth-booth yang berjejer itu? Tentu tidak Bung Daniel. Yang menarik perhatiannya justru seorang laki-laki gagah berjambang dan kumis sedang bermain bersama entah anak atau keponakan (atau anak tetangga yang dia ajak main, atau entah siapa pokoknya anak-anak).
Umur laki-laki itu terlihat jauh lebih tua dari Daniel, tampaknya sekitar 45an.
Daniel cemburu? Pastinya. Wajah Daniel tidak pernah ditumbuhi kumis dan jambang. Dia selalu membersihkannya. Dan sekarang istrinya memperhatikan laki-laki berkumis?
"Kumis!" kata Karen.
"Hm?!" Daniel memegang mulutnya. "Nggak punya. Kumis yang lain mau?"
"Bukan! Kumis bapak ganteng itu!"
"Kumisku aja, nanti aku tumbuhin."
"Maunya sekarang!"
"Hm???!!!"
"Mau pegang!"
"Kamu nggak boleh pegang laki-laki lain!"
"Bukan aku yang pegang, tapi kamu."
"Hah?! Ta-tapi."
Mata Karen mulai basah. Suaranya sudah terisak.
Daniel mendengus. "Ya udah." Daniel pun mengelus perut besar Karen.
Awas kamu Nak, ngerjain papa kamu ya. Nanti malam papa tengok kamu, papa kasih hukuman. Siapin jas hujan. (Daniel).
Daniel pun mendekati laki-laki berkumis itu pelan-pelan. "Pe-permisi."
"Iya, ada apa, Mas?"
"Maaf, istri saya sedang hamil," kata Daniel sembari menunjuk Karen dari kejauhan.
Laki-laki itu mengangguk kaku.
Ya, terus kenapa kalau hamil, kok laporan sama aku? Aku nggak ikut nanam saham lho. (Bapak berkumis).
"Dia minta saya pegang ku-kumis bapak, boleh?"
"Ha?!" Laki-laki itu mengernyit, tapi mengingat itu permintaan ibu hamil, dia mengijinkan. "Ya ya ya, silahkan. Tapi jangan lama-lama ya, ini ada jimatnya."
Daniel memegang kumis itu. Karen belum nampak puas. Dia mengacungkan jari telunjuknya, meminta sekali lagi. Untuk yang kedua, laki-laki itu agak kesal.
Setelah itu Daniel meminta maaf yang sebesar-besarnya pada orang asing berkumis itu.
Sementara Karen tersenyum bahagia sembari mengelus perut besarnya.
...👋👋👋...
__ADS_1