
"Kamu nggak tahu siapa dia?"
"Tahu! Dia Rose, pasangan kamu di luar!"
"Dia itu Rose Tini, psikolog dari Surbaya. Kata timnya sih dia terkenal di Outstagram. Tapi kamu aja nggak tahu, apa mungkin timnya melebih-lebihkan bahasa marketing-nya, ya?"
Karen belum mengerti apa yang dikatakan Daniel. "Terus kenapa kalau dia psikolog? Kamu mau nunjukkin kalau kamu segitu hebatnya bisa punya pasangan psikolog muda, cantik, dan terkenal, gitu?"
Daniel tersenyum gemas melihat istrinya marah-marah tidak jelas. Seharusnya dia kesal, tapi entah kenapa Daniel malah senang. "Aku konsultasi sama dia dan timnya."
"Heh! Nggak usah ngasih alasan klasik! Kamu tahu artis-artis terkenal itu tertangkap basah di apartemen lawan jenis ngomongnya lagi belajar agama. Ada juga yang ngaku ibadah, tapi ibadah apaan pake kolor warna pink!"
"Aku nggak pake celana pink kok."
"Maksudnya bukan kamu, tapi artis itu. Itu contohnya! Aaarrrggghhh, udah lah! Kesel ngomong sama kamu! Nggak nyambung melulu."
Mereka berdua terdiam sejenak. Daniel sedang merangkai kata untuk disampaikan kepada Karen. "Rose Tini dan teman-temannya itu tim psikolog dari Surbaya yang buka stand di expo. Stand non kuliner itu cuma sampai jam 6 sore. Waktu aku udah selesaikan tugasku, mereka juga selesai. Makanya aku konsultasi setelah itu. Di kamar itu aku satu tim lagi usaha selesein permasalahanku."
"Permasalahan apa?"
"Aku sering sesak napas."
"Jangan ngeledek! Meski aku nggak belajar kedokteran, aku tahu kalau sesak napas itu sumbernya di paru-paru. Kenapa kamu ke psikolog? Terus, kamu pikir aku percaya kalau dalam kamar itu kalian nggak cuma berdua?"
Daniel mengeluarkan ponselnya. "Ini chat dengan salah satu tim psikolog." Dia membuka aplikasi Chatsapp dan menunjukkan chat. Kemudian dia membuka attachment di chat itu. Ada video yang dikirim oleh tim psikolog itu. "Ini video waktu di kamar hotel itu."
Daniel memutar video itu untuk dilihat oleh Karen. Di sana Daniel tidak hanya berdua dengan Rose Tini tapi juga dengan para psikolog lain, 2 wanita dan 3 pria.
"Aku udah general check up, hasilnya bagus. Makanya aku periksa keadaan psikologisku. Dan mereka nggak bisa ngatasi. Mereka nyaranin aku ke psikiater. Jadi, aku ke psikiater ditemenin Kendrik."
"Jadi, selama ini kamu pergi sama Kendrik ke psikiater?"
Daniel mengangguk.
"Kenapa nggak ngomong?"
"Kamu tahu seperti apa rasanya pergi ke psikiater itu? Apa yang kamu pikirin kalau dengar ada orang pergi ke psikiater?"
Gila. Itu pendapat jujurku sebagai orang awam. (Karen).
"Gila? Psikopat? Apalagi?" Daniel penasaran dengan kemungkinan apa yang dipikirkan Karen.
"Terus? Apa kata psikiaternya?" Karen mengalihkan.
"Aku ...." Daniel menghela napasnya. Dia memasrahkan keadaan jika Karen tidak dapat menerima keadaannya. "Selective mutism."
Karen mendengarkan sembari masih melihat video di ponsel Daniel meski tidak fokus menonton. Telinganya tajam mencerna penjelasan dari Daniel. "Apa itu? Jelasin!"
"Kebisuan selektif. Aku kesulitan bicara sama orang tertentu dan sampai sesak napas karena kecemasan berlebihan."
Karen mengingat-ingat bagaimana Daniel berinteraksi dengan lancar dengan keluarganya tetapi diam ketika berhadapan dengannya. "Orang tertentu itu aku?"
Daniel mengangguk.
"Terus, kenapa kamu sekarang ngomong lancar dan panjang lebar begini? Udah sembuh?"
"Belum, tadi aku minum obat antiansietas."
"Jadi, besok kamu nggak bakal inget apa yang kita omongin?"
Daniel tersenyum lucu. "Yang aku minum itu obat antiansietas, bukan penghilang ingatan."
Hati Karen sangat lega meski belum sepenuhnya tuntas. Paling tidak, dugaan perselingkuhan itu tidak benar. "Obat itu boleh diminum tiap hari?"
Dia berharap bisa berkomunikasi dengan Daniel seperti ini untuk seterusnya. Dia juga ingin melihat senyum Daniel seperti malam ini karena di hari-hari biasa, senyum itu sangat jarang terlihat.
Daniel menggeleng. "Aku nggak berencana ngerusak ginjal. Dan ini obat antiansietas, bukan pengubah kepribadian. Aku tetap introvert dan pendiam yang hanya bisa ngomong panjang lebar jika penting aja."
"Jadi, nggak bisa diobati?"
"Bisa. Kata psikiater yang menanganiku, butuh peran kamu kalau kamu nggak keberatan. Kalau mau besok pagi kita ke psikiater itu."
__ADS_1
"Uhm, errr ...." Karen terbata. "Oke, aku ikut."
Mereka terdiam sejenak.
"Ehm, kamu dapat foto dan video itu dari siapa?"
"Ng-nggak penting dari siapa."
Daniel mengangguk. "Oke. Kenapa kamu kayaknya marah banget? Apa kamu cemburu?"
Karen melotot mendengar itu. jantungnya berdebar tidak karuan. "Uhm ...."
"Ren, kamu cinta sama aku?"
"Uhm ...." Karen menghela napasnya berulang kali kemudian mengangguk pelan.
Daniel hanya mengangkat alisnya.
Blangsak, ada orang ngakuin perasaan cinta dan didiemin aja?! (Karen).
Karen kesal sekesal-kesalnya kemudian menangis.
"Lhoh, kok malah nangis?"
"Karena aku menyedihkan banget. Aku ngakuin perasaan cinta dan kamu diem aja."
"Aku harus gimana?"
Kenapa susah amat ngomongin masalah ginian sama kamu? (Karen).
"Kamu harusnya ... lihat film sana! Lihat kamu musti ngapain. Bukan film adventure, tapi yang roman!" Karen meneruskan tangisnya. "Kenapa aku harus ngemis cinta sama kamu?"
"Kenapa begitu?"
"YA KARENA AKU CINTA SAMA KAMU DAN KAMU NGGAK CINTA SAMA AKU!" Karen kehilangan kesabarannya.
"Karen, aku cinta sama kamu."
"Aku cinta sama kamu. Makanya kamu nggak perlu, apa yang kamu bilang tadi, ngemis? Nggak perlu, karena aku cinta sama kamu."
Karen memandang suaminya lekat. Dia mencari tahu dari wajah Daniel, apakah pria itu serius dengan ucapannya?
"Sejak kapan?"
"Sejak 2 tahun yang lalu."
Daniel tahu tentang istrinya sejak dia mengenyam pendidikan di bangku kuliah kedokteran. Saat itu, Karen masih SMA dan menjadi cover sebuah majalah lokal bersama dengan Haris. Tak pernah terpikir untuk jatuh cinta.
Kemudian 2 tahun yang lalu Daniel melihat Karen sedang mengantar seorang laki-laki (Tora, mantan kekasih Karen) ke rumah sakit, hatinya tergetar. Namun dia tidak berani berharap apa-apa. Perasaan untuk Karen waktu itu dia luluhlantakkan begitu saja.
"Hah? Kalau kamu suka sama aku sejak 2 tahun yang lalu, kenapa nggak langsung deketin aku?"
"Kamu bayangin aja seperti apa kejadiannya kalau aku langsung deketin kamu. Apalagi kamu ke rumah sakit sama seorang laki-laki. Selain karena aku emang nggak bisa deketin wanita, nggak etis juga deketin wanita yang lagi bareng sama laki-laki lain."
Karen membayangkan seperti apa jika Daniel benar-benar mendekatinya dengan kondisinya yang tidak biasa itu. Sepertinya Karen memang tidak akan menyukainya jika Daniel mendekati dengan gayanya sendiri. Mungkin memang sudah kehendak Yang Kuasa mempertemukan mereka lewat perjodohan.
"Awal pernikahan, aku berencana ingin kita bisa hidup seperti orang kebanyakan. Tapi kamu malah mengajukan kontrak itu. Dan entah kenapa semakin lama aku semakin kesulitan bicara sama kamu, bahkan sampai sesak napas."
"Jadi semua ini salah kontrak itu? Jadi aku yang salah?"
Meski tidak begitu mengerti sarkas, petuah dari Mami Papi sebelum menikah tetap melekat di ingatan Daniel yaitu 'ketika bertengkar dengan istri, mengalah lah'. "Enggak kok, ini semua aku yang salah."
"Kenapa kamu bilang kamu yang salah? Kamu lagi nyindir aku ya?"
Daniel menutup kedua matanya dengan tangan kanan.
Ternyata begini rumitnya bertengkar dengan perempuan. Begini salah, begitu salah. Memang lebih baik kaum laki-laki diam aja. (Daniel).
Beberapa saat mereka diam. Daniel tidak berani berkata apa-apa karena takut memperkeruh suasana.
Karen juga tidak memiliki hal yang ingin diutarakan. Semua sudah jelas di matanya sekarang.
__ADS_1
Setelah keduanya tenang, Daniel meraih tangan Karen dan melepas cincin pernikahan dari jari manis istrinya. Dia juga melepas cincin miliknya.
"Mau apa dilepas? Kamu tadi bilang cinta sama aku, kenapa lepas-lepas cincin? Kamu udah berubah pikiran dan mau pisah sekarang?"
"Kamu selalu malu dengan pernikahan karena perjodohan dan ingin pernikahan yang seperti orang kebanyakan. Waktu lamaran, kamu nggak denger lamaran itu langsung dari aku. Jadi, aku mau melamarmu.
Karenina Damartya, aku mencintaimu. Maukah kamu tetap menjadi istriku?"
Karen mengangguk.
Daniel memasangkan cincin di jari manis Karen. Dia menyodorkan cincin kepada Karen agar memasangkan benda berbentuk mirip sekrup itu ke jari manisnya juga.
"Apa udah romantic as hell?"
"Wuoh, pengaruh obatnya hebat juga ya. Kamu bisa bilang 'hell' sekarang."
Tangan mereka berpegangan erat. Karen memandangi tangan yang saling bertautan itu. Daniel yang selama ini terkesan cuek, ternyata tak dapat berlaku dan berbicara dengan lancar kepada Karen karena keadaannya.
~
...Mana ada aku cuek...
...Apalagi gak mikirin kamu...
...Tiap pagi malam ku s'lalu...
...Memikirkan kamu...
...Bukalah pintu hatimu...
...Agar kau tahu isi hatiku...
...Semua perjuanganku...
...Tertuju padamu...
...('Cuek', by Rizki Febian)...
~
Daniel hampir melupakan sesuatu. Dia merogoh sakunya dan memperlihatkan test pack yang bergaris dua itu.
"Kenapa kamu nggak bilang kalau hamil?"
Seketika keringat dingin Karen bercucuran. "A-aku nggak hamil kok."
to be continued...
Jogja, July 6th 2021
***
👰Karen: 🥰
👸Author: Selamat ya, dan selamat atas kehamilannya🤰
👰Karen: Gimana sih Thor, katanya aku belum hamil.
👸 Author: Oh iya, lupa hehe.
👰Karen: Jadi gimana biar aku cepet hamil Thor?
👸Author: Tanya Dion sana.
👰Karen: 😒
👸Author: Diooon, Diooon, ini Karen ada pertinyiin.
👨⚕️Dion: 🛌💤
👸 Author: 😒
__ADS_1