Emak Aku Pengen Kawin

Emak Aku Pengen Kawin
7. Hai Dunia, Aku Mampu Cari Jodoh


__ADS_3

Tora kembali ke kamar lebih cepat dari dugaan Karen. Belum sempat dia mengembalikan jendela Microhard Word, laki-laki itu sudah berada di sampingnya.


Sama-sama melihat foto mereka berdua di komputer itu membuat keduanya salah tingkah. Tora terdiam dengan tingkah canggung. Tangannya sibuk memegangi tengkuk karena malu. Wajah pemuda itu merah padam sama seperti Karen.


"Maaf, aku tadi cuma pengen ehm ... numpang browsing." Karen memberi alibi sekenanya.


"Ng-nggak apa-apa, Ren."


Mereka segera bertukar posisi. Karen beranjak dan memberikan tempat duduknya untuk Tora. Wallpaper komputer itu masih terpampang di depan mereka.


"Maaf ya, Ren, aku pajang foto ini. Kalau kamu nggak suka, aku ganti."


"Jangan, biar aja! Aku suka kok."


Mereka saling tersenyum malu. Karen terdiam seakan menunggu Tora untuk bicara. Tapi laki-laki itu malah menyibukkan diri dengan revisi skripsinya.


Kalau udah kepergok, kenapa nggak sekalian bilang cinta sih? Halo, Mas, apa aku ini invisible? Atau, musti aku duluan yang ngomong? Seumur-umur, aku belum pernah bilang cinta duluan. Apa ini saatnya aku merubah sejarah? (Karen).


Karen memejamkan mata dan mengumpulkan semua keberanian yang dia punya. Kenapa ragu? Sudah jelas kan Tora juga menyukainya? Dia menghela napas berkali-kali.


"Tora." Karen memulai pelan-pelan.


Pemilik nama itu menoleh. "Iya ... kenapa, Ren?"


"Aku ... ehm ... aku su--" Tenggorokan Karen tercekat rasanya. "Aku su--"


"Kamu kenapa?"


Cuma bilang "aku suka kamu" susah amat sih. Ayo Ren, bayangin aja kamu lagi ngobrol santai. Aku suka kamu, aku suka kamu. Selesai, kan? (Karen).


Berkali-kali Karen berlatih dalam hati. Tapi lidah itu tak kunjung mengeluarkan kata-kata manis. Dia mencoba mengulangi lagi karena melihat Tora yang menantikan kalimatnya.


"Tora, aku su-- ehm ... aku su--" Tetap saja Karen tidak bisa mengatakan.


Tora mulai tidak sabar melihat Karen yang tergagap.


"Ehm, Tora ... aku su--"


"Kamu su--? Apa, Ren?"


"Aku su-- aku su-dah mau pulang." Akhirnya, mulut Karen tidak kuat melantunkan pernyataan cinta itu. "Aku mau balik ke kantor."


"Oh, kirain apa. Mau pulang aja ngomongnya gagap gitu."


"Hehehem, mungkin gemeteran belum makan," kata Karen dibarengi tertawa canggung.


"Belum makan? Kita makan dulu yuk!"


Mereka pun pergi keluar untuk makan siang.


__ADS_1


~


Sepulangnya dari kos Tora, Karen terus mengutuki dirinya sendiri. Dia tidak habis pikir pada lidahnya yang pengecut itu.


Tapi kalau dipikir-pikir, apa biar begini dulu aja ya? Kasihan juga dia lagi mau sidang skripsi, nanti jadi beban dia kalau aku ngomong sekarang. (Karen).


Sore hari setelah bekerja, Karen pulang ke rumahnya. Ponselnya berdering, Tora menelpon.


📞"Halo, Ren. Aku mau kasih tahu sesuatu."


📞"A-apa, Tor?" Jantung Karen berdegup kencang. Akankah Tora menyatakan cinta melalui telepon?


📞"Tadi setelah kita makan, aku ke kampus. Skripsiku udah di-acc. Aku sidang bulan depan tanggal 1."


📞"Wah, selamat ya Tor, aku seneng banget dengernya." Padahal Karen sebenarnya lebih senang mendengar Tora menyatakan cintanya.


📞"Kamu bisa datang, kan?"


📞"Iya, aku pasti datang."


Hari ini sudah tanggal 29. Tanggal 1 bulan depan tinggal beberapa hari lagi. Dia menandai kalendernya dengan spidol berwarna merah dan melotot melihat bulatan merah yang lain di bulan yang sama.


Astaga, hari minggu tanggal 7, NIKAHAN MILA! (Karen).


Karen kebingungan sendiri. Mungkinkah mengajak Tora dalam keadaan status yang masih mengambang ini? Nantinya dia memperkenalkan Tora ke keluarga sebagai apa? Jika saudara menodong lelaki itu untuk segera menikahinya, pasti dia malah ketakutan.


Karen menelpon Tora lagi.


📞"Kenapa Ren? Udah kangen?"


Mendengar kalimat itu, Karen semakin terbang tinggi.


Kangen? Dia baru aja bilang apa aku kangen kan? (Karen).


📞"Ren, halo, kok diem? Ada apa?" Tora tidak sabar menunggu lawan bicaranya terdiam dalam sambungan telepon.


📞"Oh, maaf. Gini, hari minggu taggal 7 kamu ada acara nggak? Saudaraku nikah. Kalau kamu ada waktu, temenin aku ya?"


📞"Minggu tanggal 7 ya?" Tora terdengar sedang menimbang-nimbang. "Iya, bisa. Nanti aku temenin kamu."


Mereka mengakhiri pembicaraan telepon itu.


Dia mau diajak ke nikahan saudaraku, berarti dia nggak takut ketemu saudara-saudaraku. Pertanda baik kah? (Karen).


Karen bernapas lega. Hubungannya dengan Tora akan dia gunakan untuk membuktikan banyak hal kepada orang-orang yang selama ini meragukannya. Bukti bahwa dia mampu mencari pasangan akan dia dedikasikan untuk Mila. Sedangkan perbedaan usia antara Tora dengannya akan dia gunakan untuk membuktikan pada Kendrik bahwa cinta tak pandang usia.


Karen tersenyum puas dengan takdir hidupnya dan berkali-kali mengucap syukur.


Hahahah, sambil menyelam, minum air empang. (Karen).


***

__ADS_1


Tanggal 1 bulan berikutnya


Karen sudah berpakaian rapi. Tidak lupa, dia telah membeli bunga untuk diberikan kepada Tora. Dia tiba di ruang sidang dan mengisi daftar hadir. Orang luar diperbolehkan menyaksikan sidang skripsi tersebut. Teman-teman satu kos Tora juga ada di sana.


Dia mengenali salah satunya, Robie. Meski mereka belum berkenalan, tapi mereka telah saling melihat foto sehingga Karen merasa sudah mengenal Robie.


"Hai, Robie," sapa Karen.


"Hai juga, Karen," balas Robie, ramah. "Nervous?"


"Enggak lah, kan bukan aku yang sidang." Karen berbohong, sebetulnya dia sangat gugup mengkhawatirkan Tora. "Agak khawatir juga sih, takut dia nggak bisa jawab pertanyaan dari dosen penguji."


Sidang skripsi pun berjalan dengan lancar. Meski Tora kesulitan menjawab beberapa pertanyaan, tapi akhirnya dia menemukan jawaban juga. Tora dinyatakan lulus dengan predikat yang baik.


Tora berfoto bersama dengan teman kos dan sejawatnya. Kemudian berfoto dengan Karen di depan ruang sidang dengan membawa bouquet bunga yang dibawakan Karen. Rasa bahagia menyelimuti hati Karen. Satu beban Tora sudah hilang, Karen berharap laki-laki itu bisa lebih fokus padanya.


~


Sore hari pukul 3, Tora meminta ditemani memeriksakan diri di rumah sakit Keluarga Bahagia.


"Mau periksa apa? Kamu sakit apa?"


"Nggak sakit, cuma minta surat keterangan sehat. Ada rekrutmen di perusahaan internasional bulan depan."


"Nggak seneng-seneng dulu sama temen-temen?"


"Itu bisa dilanjut ntar malem kok."


Karen semakin bahagia karena Tora akan segera memiliki pekerjaan. Entah diterima atau tidak di perusahaan besar itu, namun Karen melihat etos kerja Tora yang sangat besar.


***


Hari Minggu tanggal 7


Karen telah memberitahu Mama Puri bahwa dia akan pergi ke pernikahan Mila bersama seseorang.


📞"Halo, Karen, kenalin ke Mama dulu laki-laki yang mau kamu ajak!"


📞"Nggak usah, Ma, nanti di lokasi nikahan aja kenalannya. Kan sekalian."


Ibunya dengan berat menyetujui untuk berkenalan di lokasi pernikahan Mila. Padahal dia ingin sekali bertemu Tora.


Karen dan Tora pun berangkat ke lokasi pernikahan Mila. Laki-laki yang baru lulus kuliah itu mengenakan jas hitam dan nampak sangat gagah. Karen mengenakan gaun berwarna biru laut yang sangat kalem membuat dirinya terkesan elegan.


Mereka masuk ke ruangan pesta. Semua yang memandang pasti akan iri melihat Karen dan Tora yang terlihat sangat serasi.


To be continued...


Jogja, April 8th 2021


***

__ADS_1



__ADS_2