Emak Aku Pengen Kawin

Emak Aku Pengen Kawin
56. Mami Beraksi


__ADS_3

Jam makan malam telah tiba, Mami Seli memanggil Karen dan Daniel untuk makan malam bersama.


"Katanya lagi banyak deadline yang nggak terkejar ya, Ren? Makan yang banyak dan bergizi ya, biar nggak gampang sakit!" ucap Mami Seli.


"Iya, Mi, tapi udah beres kok. Bisa santai sekarang," terang Karen.


Dia sedikit terkejut Mami Seli tahu detail pekerjaannya. Dari siapa lagi? Tentu saja dari laki-laki di sebelahnya. Karen melirik Daniel yang sedang sibuk dengan makan malam itu.


Kirain dia sama sekali nggak dengerin kalau aku ngomong, ternyata kupingnya masih normal. (Karen).


Selesai makan malam, semua penghuni masuk ke kamar masing-masing.


~


Pukul 11 malam, Mami Seli kehausan. Dia dapur untuk mengambil minum. Di dekat dispenser tergeletak sebuah ponsel dengan case berwarna perpaduan hitam dan merah. Milik Karen.


Handphone Karen ya ini? (Mami Seli).


Mami hendak mengembalikan handphone itu ke kamar Daniel dan Karen. Dia mengetuk pelan pintu kamar itu. Beberapa kali ia mengetuk, pintu kamar itu tidak juga terbuka. Karena tidak ada jawaban, Mami mencoba membuka sendiri pintu itu, dan terbuka.


Daniel mau pun Karen lupa mengunci pintu. Keduanya terlalu lelah dengan pekerjaan masing-masing sehingga melewatkan hal kecil yang sebentar lagi membuat Mami Seli geger.


Dia mengucek matanya, menutup sedikit pintu itu kemudian membukanya lagi seakan tidak percaya yang dilihat.


Lhoh kok tidurnya disekat guling dan bantal begitu? Apa mereka belum .... (Mami Seli).


Mami berjingkat-jingkat untuk meletakkan ponsel Karen di meja. Tidak dapat dipungkiri, rasa penasaran sudah menjalari pikiran Mami Seli. Dia masih berusaha positive thinking dan berpikir kemungkinan pasangan suami istri itu sedang bertengkar.


Namun, tetap saja dia ingin memastikan. Kunci kamar yang menggantung di pintu itu kemudian diambil dan disimpannya.


***


Minggu pagi


"Ren, ehm ... kamu lagi berantem sama Daniel, ya?"


"Enggak kok, Mi. Kenapa?"


Nggak berantem? Berarti ... jangan ambil kesimpulan dulu deh. Investigasi dulu. Gimana nanyanyanya? Masak begini "Ren, kamu sama Daniel udah berhubungan belum?" nggak etis. (Mami Seli).


"Nggak apa-apa kok, Mami pengen tahu aja." Mami Seli memutar otaknya lagi, bagaimana cara memastikan. "Eh, Ren, kamu tahu nggak, Daniel itu punya tanda lahir. Kamu pernah lihat?"


"Ta-tanda lahir?"


"Tanda lahirnya itu di paha atas dekat pinggang."


Hah? Kenapa pula dia punya tanda lahir di area itu. (Karen).


"I-iya Mi, aku tahu. Aku lihat kok."


"Bentuknya kayak gimana sekarang? Hehe maaf Mami tanya-tanya, soalnya Mami kan lihatnya sebelum Daniel dewasa. Siapa tahu bentuk atau ukurannya berubah. Kalau waktu kecil tanda lahirnya sebesar ini," kata Mami Seli sembari menunjukkan jempolnya.


Kalau waktu kecil aja sebesar itu, pas dewasa pastinya melar dong ya. (Karen).


"Bentuknya ... aduh aku lupa, Mi. Tapi kayaknya nggak beraturan dan ukurannya tambah besar. Kan badan orang melar, Mi. Iya, kan?" kata Karen, ragu-ragu.

__ADS_1


Keringat Karen bercucuran karena panik dengan pertanyaan Mami. Dia pun mencari alasan untuk segera pergi, menghindar dari pertanyaan Mami berikutnya.


~


Mami Seli mengingat-ingat segala pembicaran dengan Karen dan mencocokkan dengan keadaan saat ini.


Oh, pantesan aja waktu konsultasi kehamilan itu Karen tutup telinga waktu ditanya soal hubungan badan. (Mami Seli).


Segalanya menjadi masuk akal sekarang. Sebelumnya, dia mengira Karen hanya malu karena masih pengantin baru. Ternyata mereka benar-benar belum pernah melakukan hubungan suami istri.


Di dinding dapur, Mami Seli membentur-benturkan kepalanya dengan perlahan, saking frustasinya.


"Mami ... kenapa, Mi? Jangan dibenturin nanti benjol lho, Mi." Stella mencegah ibunya melakukan hal konyol.


"Ini nggak sakit, Stel. Kan pelan-pelan. Yang sakit itu hati sama pikiran Mami. Haduh Gusti!"


"Emangnya kenapa sih, Mi?"


"Kakakmu bikin Mami pusing tujuh keliling."


"Kak Daniel kenapa, Mi? Yang jelas dong, Mi."


"Huh hah, tolong ambilin minum." Mami meneguk air minum dan mengatur napas. "Kakakmu itu belum ... belum ...."


"Belum apa, Mi? Belum makan? Udah kok tadi aku lihat sendiri."


"Pokoknya 'belum'. Ehm, mereka di mana sekarang?"


"Lagi di taman samping."


"Kenapa, Mi?" Karen panik.


"Mami nggak tahu ini lagi kurang enak badan. Mami pengen ditemani kamu Karen, anak perempuan Mami."


"Lhoh, emangnya aku bukan anak perempuan, ya?" protes Stella, polos.


"Kamu kan sibuk belajar. Kamu konsentrasi aja, nggak usah urusin Mami." Mami kesal karena hampir saja Stella menggagalkan rencana. "Mau ya, Karen? Daniel?"


Karen dan Daniel bertatapan. "Gimana, Niel?"


Daniel mengangguk.


"Oke, Mi. Tapi beberapa hari aja, ya."


"Iya, nggak apa-apa, beberapa hari cukup kok, nanti pasti Mami cepet sembuh," kata Mami Seli, semangat.


~


Malam harinya, Mami Seli melancarkan aksi rahasia.


"Karen, sini sebentar! Ini Mami belikan baju tidur buat kamu. Nanti harus dipakai, ya!"


"Makasih ya, Mi. Ehm, Mami udah sembuh?"


"Belum. Mami kelihatan sehat karena ada kamu sama Daniel. Kalau kalian pergi, nanti Mami kambuh lagi." Mami memberikan alasan sekenanya. "Ayo, Mami anter kamu ganti baju!"

__ADS_1


Mereka ke ruang baju untuk membuka kantong kertas itu. Karen pun terbelalak melihat baju tidur yang dimaksud adalah lingerie.


Sebenarnya lingerie yang dibelikan oleh Mami Seli ini masih tergolong sopan, tidak transparan, dan lebih mirip seperti gaun tanpa lengan.


Tapi bagian dada sedikit terbuka, membuat Karen panas dingin.


"A-aku pake ini, Mi?"


"Iya, ayo pake! Mami di sini aja nungguin kamu ganti baju, nggak usah malu, sesama wanita." Mami betul-betul memastikan Karen memakainya.


Jangan panik Karen, nanti setelah Mami pergi, aku bisa pake kaos. (Karen).


Nanti kalau aku pergi, pasti dia ganti baju. (Mami Seli).


Mami Seli sudah memikirkan segala kemungkinan. Setelah mereka keluar dari ruang baju, Mami mengunci ruang itu dan membawa kuncinya diam-diam.


"Mami tinggal ya!" pamit Mami sembari tersenyum penuh arti.


Mami keluar dari kamar dan mencari Daniel. Dia menyuruh Daniel untuk segera masuk ke kamar.


"Udah malam, Niel, sana kamu ke kamar. Tapi jangan tidur ya! Hehe ...." Mami mendorong Daniel ke kamar.


Gimana sih, nyuruh ke kamar tapi nggak boleh tidur. (Daniel).


"Iya, aku masuk. Jangan dorong, Mi!" protes Daniel.


Setelah berhasil mendorong Daniel masuk ke kamar, Mami mengunci kamar itu dari luar.


Astaga, kenapa dikunci dari luar? Aku kan bisa kunci sendiri. (Daniel).


Dia membalikkan badan. Dia terkejut melihat Karen hanya mengenakan lingerie dan sedang berusaha membuka pintu ruang baju. Daniel langsung mengalihkan pandangan ke arah lain.


"Niel, kamu punya duplikat kunci ruang lemari nggak? Kuncinya dibawa Mami."


Daniel menggeleng.


"Duh gimana ini, masak aku pake ini tidurnya?!"


Daniel terus mengalihkan pandangan ke arah lain, sedangkan Karen memunggungi suaminya agar bagian depan tidak terlihat.


"Niel, selimutnya di mana? Guling sama bantal yang lain mana kok tinggal 2?"


Daniel menggeleng lagi.


Mami sudah menyingkirkan segala barang di sana yang bisa mengganggu dan menyisakan 2 bantal saja.


Karen sudah mulai tidak dapat menahan kantuk. Sementara Daniel berusaha memejamkan mata, tapi belum berhasil tidur. Karen pun berbaring dan menggunakan bantal untuk menutupi dada. Sedangkan Daniel menenggelamkan kepala di bawah bantal, menepis segala pikiran nganu-nya.


to be continued...


Jogja, June 14th 2021


***


find me on Instagram: @titadewahasta

__ADS_1


__ADS_2