Emak Aku Pengen Kawin

Emak Aku Pengen Kawin
66. Semakin Tidak Jelas


__ADS_3

"Gede banget, Cat."


Inda heran melihat bosnya yang terkagum melihat tempat besar itu. "Bos, beneran nggak tahu ini tempat apa?"


Karen menggeleng.


"Ini rumah singgah buat ibu-ibu hamil yang nggak terencana, contohnya hamil di hubungan pra-nikah, perkosaan, dan lain-lain, buat nyelametin nyawa anak-anak dalam kandungan."


Bos ini lagi ngetes aku apa gimana ya? (Inda).


"Terus, kenapa Lana tinggal di sini? Emang hamilnya nggak terencana?"


"Hamil anak pertama sih emang nggak terencana. Tapi bukan itu alasan dia tinggal di sini. Bos ini lagi ngetes aku apa beneran nggak tahu sih?"


"Heh, Cat Woman! Kalau aku tahu, nggak usah capek-capek nanya kamu kali!"


"Astaga, padahal suami Bos ikut resmiin tempat ini lho beberapa bulan yang lalu."


Hah?! Aduh jawab apa ni. (Karen).


"Oh, ehm, Daniel itu nggak banyak ngomong orangnya. Kamu tahu sendiri, kan?"


Oke, masuk akal. (Inda).


Ada 2 bangunan di hadapan mereka. Satu yang sebelah kiri sangat besar. Satu lagi di sebelah kanan memanjang berderet kamar-kamar besar seperti paviliun.


Inda mengetuk salah satu kamar itu.


Tidak lama, Lana membukanya.


"Hai, sssttt Althan lagi bobok. Oh ada Karen juga, yuk ngobrol di luar aja."


Karen tersenyum dan mengangguk.


Mereka pun duduk di kursi yang berada di luar kamar Lana.


"Gimana kabarmu, Na? Masih sering mual muntah?"


"Masih, Nda. Masih parah banget. Orang bilang morning sickness. Tapi malem juga tetep muntah-muntah tuh."


"Tapi nggak parah, kan?"


"Enggak kok, nggak separah waktu hamil Althan dulu."


Tidak lama, Nathan dan Dion pulang dari bekerja berjalan kaki.


"Lhoh, dokter Dion juga tinggal di sini?" tanya Karen.


"Lhah, iya," jawab Lana.


Lana dan Inda berpandangan keheranan Karen tidak tahu sama sekali tentang rumah singgah itu.


"Wah, ada tamu istimewa nih, Nyonya Daniel," sapa Nathan.


"Hai, cewek-cewek pada ngumpul ya. Bini gue mana?" tanya Dion.


"Mbak Asa tidur, kan ibu hamil harus banyak tidur," jawab Lana.


Dion dan Nathan masuk ke kamar masing-masing untuk berganti baju.


Dion keluar lebih dulu. Dia kemudian memperhatikan Karen dari ujung rambut hingga ujung kaki.


Hari itu, Karen mengenakan setelan hitam.


Setelan celana hitam plus rambut merah, kok ngingetin sama siapa gitu ya? (Dion).


Nathan juga keluar dari kamarnya.


"Bro, kok Karen kayak siapa gitu ya?" bisik Dion.


"Kayak emaknya? Namanya juga keturunan."


"Bukan, lihat aja penampilannya. Kayak siapa gitu."


"Ehm, rambut merah, baju hitam. Oh, mirip Black Widow ya?"

__ADS_1


"Nah, betul."


"Buwahahahah ...." Tawa Dion dan Nathan meledak tidak tertahan.


Karen, Inda dan Lana hanya menatap sejenak mereka berdua. Sudah biasa dua orang itu bertingkah seperti anak kecil.


"Sssttt, Althan lagi tidur, ketawanya direm donk Bapak-Bapak!" sergah Lana, pelan.


Mereka berdua pun menjauh dari sana dan duduk mengobrol berdua dengan suara kecil.


"Emang yang namanya jodoh itu saling melengkapi ya. Satunya Ironman, satunya Black Widow." Dion takjub melihat Karen.


"Dulu, kirain si Daniel bakal sulit dapet pasangan. Tahu sendiri kan dia kayak gitu orangnya. Eh di luar ekspektasi, dia lebih lihai gaet cewek. Ga ada angin ga ada hujan, langsung nikah. Kayaknya nggak melalui fase galau kayak gue."


"Mungkin aja dia galau juga, tapi nggak bocor kayak elu."


"Halah kayak gue doang yang bocor, elu juga kali. Inget nggak dulu lu numpang nginep di apartemen gue." Nathan menirukan dan meledek Dion. "Lu ngomong kayak gini 'Than, tolongin dong, gue mau dicerein bini gue, gue ngegembel di tempat elu ya' hahah."


Dion menutup wajahnya karena malu.


Dia berdiri dan mendekati Karen. "Ren, nih kunci kamar Daniel, siapa tahu kamu mau lihat kamarnya dulu di sini. Dibersihin tiap hari kok," kata Dion sembari memberikan sebuah kunci.


"Oh, Daniel dulu tinggal di sini?" tanya Karen.


"Lhoh, kamu nggak tahu?" Dion heran.


Aduh, banyak orang heran begitu. Aku harus tahan ekspresi kaget dan ingin tahu. Mendingan senyum aja nggak usah ngomong deh biar nggak kelihatan kalau nggak tahu. (Karen).


Karen tersenyum.


"Jangan bilang kamu juga nggak tahu kalau aku, Nathan dan Daniel yang diriin rumah singgah ini. Daniel yang ngeluarin duit paling banyak lho," jelas Dion.


Apa?! Tahan Ren, jangan ngomong. Cukup senyum. (Karen).


"Dulu Daniel tinggal di sini. Tapi beberapa waktu sebelum nikah, dia udah nggak pernah lagi nginep di sini. Dia nggak pernah bilang kenapa, eh ternyata nyiapin nikahan kalian. Emang misterius itu si Pretty Boy," jelas Dion.


Karen berhasil menahan ekspresi terkejut dengan tersenyum. Kemudian dia menerima kunci itu dan masuk ke kamar Daniel di rumah singgah itu.


Semua furniture sangat bersih. Memang benar apa yang dikatakan Dion. Meski tidak dipakai, ruangan itu dibersihkan setiap hari.


"Bos." Inda memasuki kamar itu. "Aku udah ditelpon sama Soni, pulang yuk, Bos!"


Karen mengangguk.


"Udah mau pulang ya? Hati-hati ya kalian," kata Nathan.


"Eh Ren, kalau suatu saat kamu sama Daniel mau tinggal di sini, langsung aja datang. Seru, rame. Kasih juga motivasi buat ibu-ibu muda yang lagi hamil di dalem situ," kata Dion sambil menunjuk gedung besar yang berisi calon ibu dengan kehamilan tidak terencana itu. "Kamu bisa kasih motivasi bisnis biar mereka punya keterampilan baru."


Karen mengangguk kemudian berpamitan.


Setelah mengantar Inda, Karen tersenyum-senyum sendiri di dalam mobil.


Emang ungkapan 'jangan menilai buku dari sampulnya' itu beneran ya. Kamu yang dingin kayak es batu itu ternyata begitu. (Karen).


~


Di ruang buku, Kendrik dan Daniel berdiskusi panjang tentang skripsi Kendrik.


"Buku methodology penelitiannya punya, Kak? Kurang 1 kutipan aja nih."


"Qualitative research, kan? Ada di rak yang deket meja."


Kendrik mengambilnya dari sana dan mencari-cari teori yang dia gunakan. "Aku nggak bisa bikin kuesioner, jadi emang cari penelitian yang bisa pakai pendekatan kualitatif aja sih, Kak, hehe."


"Sekarang itu ...."


Di tengah mereka yang sedang asyik membicarakan skripsi, Karen masuk ke ruangan itu. Daniel menghentikan bicaranya.


"Hai, Niel. Mau dimasakkin apa? Pare apa jamur?"


Hening.


"Kalau nggak jawab, aku masakin pare yang banyak lho."


"Jamur aja," jawab Daniel.

__ADS_1


Karen pun pergi.


"Kak Niel, kenapa, Kak?" Kendrik panik melihat kakak iparnya sesak napas.


"Nggak apa-apa, udah biasa kok. Cuma bentar."


"Udah pernah diperiksain belum?"


Daniel mengangguk.


"Hasilnya?"


"Hasilnya baik semua. Aku lagi mikirin kemungkinan alergi."


"Oh, jadi kesimpulannya Kak Daniel nggak apa-apa, kan?"


"Semoga aja."


Daniel mencatat waktu-waktu dia terserang sesak napas dan mencari alergen apa yang membuatnya menjadi seperti ini.


Mereka makan malam, kemudian Kendrik pulang dari sana.


Daniel dan Karen masih berada di ruang makan. Daniel berdiri mengambil sesuatu di rak dan menyerahkannya pada Karen. Oatmeal.


Karen menerima sambil masih fokus melihat wajah Daniel. "Ma-makasih Niel."


Dia takut aku sakit jantung betulan? Yah, pokoknya anggap aja dia khawatir dan perhatian sama aku. (Karen).


Daniel duduk dan memperhatikan ponselnya.


Karen tetap fokus memperhatikan wajah suaminya sembari mengingat-ingat kata-kata Dion tadi sore. Dia tidak menyangka pria yang menikahinya sedermawan itu.


Kenapa semakin lama kamu semakin menggiurkan gini sih. (Karen).


Karen membatin sembari terus memperhatikan bibir Daniel yang bersemu merah alami.


How would it feel if I kissed those lips? (Karen).


"Aaarrrggghhh." Karen berteriak dan menampar pipinya sendiri.


Daniel terkejut dengan tingkah istrinya.


Dia nampar pipinya sendiri lagi? Bukan karena nyamuk deh, nggak ada nyamuk kok. Ruang ini udah aku semprot obat nyamuk tadi. Apa ada yang lolos dari obat? (Daniel).


Karen pun buru-buru berlari dan masuk ke kamar. Dia menenggelamkan wajahnya di bawah bantal.


Daniel segera menyusul istrinya ke dalam kamar. Dia mengambil bantal yang menutupi wajah Karen dan meletakkan punggung tangannya di kening Karen.


Apa dia sakit? Apa ada hubungannya sama tadi siang waktu dia periksa ke rumah sakit? (Daniel).


to be continued...


Jogja, June 24th 2021


***


find me on Instagram: @titadewahasta


***


sekilas tentang Daniel. Dia itu sebenarnya bawel lhoh kalau di depan keluarganya (terutama Stella).


Dan sehari-harinya, dia bawel (dalam hati heheh). ini cuplikan novel Hamil Tanpa Suami episode 68



sekilas tentang rumah singgah yang didirikan Nathan, Dion dan Daniel.


Membujuk para gadis dengan kehamilan tidak terencana untuk tidak menggugurkan kandungannya itu sulit. juga menghadapi keluarga si gadis yg kadang banyak maunya.


Mereka pernah lho disuruh nikahin salah satu penghuni. (di novel Hamil Tanpa Suami episode 69)



Mampir ya gaessss di novel Hamil Tanpa Suami😍😍😍

__ADS_1


__ADS_2