Emak Aku Pengen Kawin

Emak Aku Pengen Kawin
12. Ulang Tahun Ke 27


__ADS_3

"Oh kakak ya, hehehem, maaf, aku nggak tahu. Hai Kak, aku Monica. Temen Kendrik di karate," kata Monica sambil mengulurkan tangan.


Karen menjabat tangan itu dengan lemas. "Aku Karen."


Monica melihat mata Karen yang sembab, kemudian berpamitan. Sangat terlihat kakak perempuan Kendrik itu sedang butuh waktu privatnya.


Setelah Monica pergi, Kendrik mengeluarkan ponsel. Dia menunjukkan Faecesbook milik Ratih yang statusnya berpacaran dengan akun yang bernama 'Revo Rascal Roli'.


"Lhoh, statusnya berpacaran sama orang lain kok, bukan Tora."


"Buka aja biar tahu siapa itu 'Revo Rascal Roli'."


Karen menurut dan menelusuri laman akun itu dan terbelalak kaget. Ternyata itu Tora. Foto yang diposting adalah foto mesra Ratih dan Tora.


Kecoak buntung! Babi ngepet! Ternyata aku bener-bener cuma dijadiin tempat mampir. Emang udah bener namanya Rascal, beneran rascal. Eh tunggu, punya berapa akun cloningan nih orang? Jangan-jangan dia punya banyak akun dan pacaran sama banyak orang. (Karen).


"Nih, udah cukup." Karen mengembalikan ponsel Kendrik. "Ken, cewek yang tadi, siapa namanya, Monica ya? Pacar kamu?"


"Bukan, temen aja," jawab Kendrik.


"Dia kayaknya suka sama kamu. Kamu juga kayaknya suka. Kenapa nggak pacaran aja?"


Kendrik melihat Karen sembari tersenyum. "I'm okay, nanti waktuku ada sendiri."


***


Setahun berlalu


Karen telah menutup buku kisahnya bersama Tora. Dia tidak lagi menghubungi lelaki itu. Dia telah memblok semua kontak dan akun media sosialnya. Tora juga sudah tidak lagi tinggal di Koja. Dia kembali ke kota asalnya, Surbaya.


Karen melangkah menuju kantornya. Hari ini adalah hari istimewa. Kantor telah disulap menjadi cantik dan penuh akan balon berwarna merah, warna kesukaan Karen. Tak lupa banner kecil bertuliskan 'Selamat Ulang Tahun Bos Karen' dipajang di dinding. Kue ulang tahun juga telah tersedia.


Semua itu berkat Inda sang tangan kanan yang sangat perhatian terhadap bos. Sebenarnya, yang dilakukan Inda bukan hanya perhatian kepada Karen, tetapi juga pada karyawan yang lain.


Jika tidak ada yang menyiapkan office birthday party seperti ini, pasti bosnya akan menganggap tidak ada karyawan yang ingat pada ulang tahunnya. Inda menyelamatkan nyawa banyak orang di kantor dari amukan sang bos yang memang hobi mengamuk.


Setelah ritual tiup lilin dan potong kue, kado-kado yang ditujukan untuk Karen dimasukkan ke dalam bagasi mobil. Mereka kembali bekerja seperti biasa.


Karen memandangi Inda sang content writer yang merangkap tangan kanannya itu. "Nda, punya pacar belum? Kapan nikah?"


Kenapa, kenapa selalu aku yang dijadikan sasaran kestresan bos dalam mencari jodoh? (Inda).


"Belum, Bos."


"Umur kamu berapa sih?"


"Bos amnesia ya. Kan ada di surat lamaran." Inda tertegun bosnya tidak menanggapi candaannya. "26, Bos." Akhirnya dia menjawab dari pada membuat bosnya marah.


"Kamu lebih muda setahun dari pada aku. Ya wajar belum punya calon. Kalau orang yang seumuran aku udah pada nikah semua kali ya?"


"Tenang Bos, aku punya 2 temen kos yang umurnya 27 juga. Mereka masih single kok. Malah mereka lagi terlibat cinta segitiga sama seorang dokter di rumah sakit tempat kerjanya."


"Oh ya? At least (paling tidak) mereka punya kisah."


"Bos kan juga punya kisah cinta."

__ADS_1


"Itu udah tahun lalu, dan udah selesai. Sekarang nggak ada apa-apa. Nggak ada siapa-siapa." Wajah Karen mendadak panik. "AAARRRGGGHHH ...," jerit Karen sambil tangan dan kakinya menghentak-hentak menggebrak meja dan lantai.


"Bos. Tenang, Bos!" Inda panik.


Aduh, bosku kenapa ini, apa jangan-jangan kesurupan? (Inda).


Napas Karen terengah-engah. "Huh hah, Inda, kamu lebih muda setahun dari pada aku. Kamu nikahnya setelah aku, oke?"


"Ba-baik, Bos, lagian aku juga nggak punya calon kok."


"Kamu janji nggak bakal biarin aku single sendiri menghadapi dunia ini kan, Nda?" Mendadak nada bicara Karen sedih dan memohon.


"I-iya Bos, tenang aja."


"Kamu emang the best Nda! Mulai sekarang ...."


"Apa, Bos?"


Naik gaji? (Inda).


"Aku ...."


"Ya? Ya? Ya?"


Naikkin gajiku? (Inda).


"Aku akan panggil kamu Cat Woman. Dan kamu panggil aku Bos Black Widow, oke!"


"Siap Bos Black Widow!"


"Dan, gaji naik mulai besok tanggal 1. Dollar naik, tarif artikel naik, semua naikkk! Kecuali aku yang belum naik pelaminan!"


"Hore!"


"Hore? Kamu bersorak denger bos kamu belum naik pelaminan?"


"Ampun, Bos Black Widow, maksudnya hore naik gajinya, bukan pelaminannya."


"Awas kamu, Cat Woman, kalau kamu sampai langkahin Bos Black Widow-mu ini, nggak bakal aku kasih ampun!"


"Iya, Bos. Jodohku masih terdampar di pulau antah berantah, nunggu ada angin badai bawa dia ke sini."


"Kalau jodohku, di mana?"


"Mungkin lagi barengan sama jodohku, Bos, sama-sama terdampar di pulau antah berantah."


"Oke, Cat Woman. Kalau gitu kita tos!"


Mereka menepukkan tangan mereka.


~


Jam makan siang


"Cat Woman, kamu beresin semuanya! Aku mau makan siang bareng Mama sama Kendrik."

__ADS_1


"Aku boleh ikut, Bos Black Widow?"


"Nggak boleh! Eh, kenapa kamu mau ikut? Kepincut adikku ya?"


"Heheh, udah sana Bos pergi aja, biar aku beresin semua yang di kantor."


"Habis makan, aku mau langsung pulang, nggak balik kantor. Jadi kamu bener-bener urusin semua ya. Aku lagi ulang tahun, mau berbuat apa pun sesuka hati."


"Siap, Bos Black Widow!"


"Ingat, jadwal posting artikel client jangan sampai lewat. Kalau lewat, you will be a dead meat. Understand!" (Kamu akan menjadi daging mati-bangkai. Mengerti!)


"Mam yes Mam!"


~


Mama Puri sudah menunggu di rumah. Kendrik sedang dalam perjalanan dari kampusnya. Karen dan Kendrik sampai bersamaan.


"Koreng, selamat ulang tahun yang ke ...."


"Ssshhh ... cukup segitu aja, nggak usah versi kalimat lengkap. Jangan sebutin angka, dari dulu aku nggak suka matematika. Oke?"


"Hayah!"


Mereka memasuki ruang makan. Sudah ada kue tart mini menunggu di sana.


"Selamat ulang tahun anak Mama," kata Mama Puri sembari memberi pelukan.


Mereka pun merayakan ulang tahun Karen dengan makan bersama sembari mengobrol.


"Pertemuan trah tahun ini dimajukan, soalnya bertepatan sama syukuran ...." Belum selesai Mama Puri bicara, Kendrik memberi kode agar ibu mereka tidak meneruskan kalimatnya.


"Ssshhh ...." Kendrik mendesis dengan suara amat kecil diiringi kode diam dengan telunjuk di depan mulut.


Terlambat, Karen telah melihat tingkah adiknya. "Syukuran apa? Kok nggak diterusin?" tanya Karen, penasaran.


"Ehm, syu-kur-an ke-ha-mil-an Mi-la, sekaligus nujuh bulanan." Ibu Karen terbata-bata saat mengucapkan berita itu.


"Ken, kamu tadi nyuruh Mama diam karena ini?" Karen bersiap akan marah.


Kendrik mengangguk lemas dan sangat pelan.


"Kamu pikir, aku se-enggak dewasa itu denger Mila udah hamil besar?" Napas Karen kian memburu.


"Maaf, Kak. Aku salah. Kirain kamu bakal gimana-gimana."


"Gimana apanya? Kamu pikir aku bakal ngamuk?" Nada Karen sudah sangat tinggi. "Karena emang bener! Iya, aku ngamuk dan stres! Aaarrrggghhh ...." Karen kembali berteriak.


"Kamu sih, Ken!"


"Kok aku sih, Ma? Kan Mama yang mulai tadi."


To be continued...


Jogja, April 12th 2021

__ADS_1



__ADS_2