
Dengan gemetar, Mama Puri meraih mic yang disodorkan oleh MC. Keringat dingin mengucur, membuatnya terasa kepanasan. "Ehem, ehem, bulan Desember tahun ini sepertinya Karen belum akan melangsungkan pernikahan." Mama Puri membuka suara.
Mendengar itu, semua orang menjadi ramai. Sebenarnya mereka saling berbisik kepada sebelahnya masing-masing. Namun, suara bisikan serentak itu tetap saja sampai di telinga Mama Puri. Mama Puri memejamkan mata dan berpikir apa yang harus dikatakan untuk menyelamatkan nama anaknya.
Tiba-tiba suara MC membuatnya buyar. "Kalau boleh tahu, kenapa pernikahan Karen ditunda? Apa karena mungkin calon suaminya ada kontrak kerja tertentu?"
"Enggak kok. Mereka memang sudah tidak berhubungan lagi. Jadi begini saudara-saudaraku yang baik hatinya, manusia berencana, tapi bila Tuhan tidak mengijinkan, itu tidak akan terjadi. Saya minta doa yang terbaik untuk Karen." Mama Puri undur diri dari panggung, kembali ke tempat duduknya.
"Menurut kamu gimana, Ken?"
"Bagus, Ma, Mama tadi sangat keren di panggung."
"Eh!" Mama Puri menoyor kepala Kendrik lagi. "Maksudnya bukan penampilan Mama, itu sih udah pasti keren. Alasan Karen belum menikahnya gimana? Bisa diterima akal sehat?"
"Bisa, Ma, Mama paling pinter cari alasan."
"Mau ditoyor berapa kali sih kamu?"
Lhah, salah lagi. (Kendrik).
~
Pulang dari acara trah, Karen sudah menunggu di rumah Mama Puri. Seminggu sekali di akhir minggu, Karen memang menginap di sana.
"Mama, Kendrik. Gimana tadi pertemuan trahnya?" sapa Karen.
Mama Puri yang masih agak shock, merasa kesusahan menjawab sapaan Karen. Dia pun berbisik pada Kendrik. "Kamu yang jawab, Ken!"
"Ehm, lancar kok, Kak."
"Aku bawain batagor paling enak lho! Yuk kita makan sambil nonton tv!" ajak Karen. Kendrik dan Mama Puri menurut saja.
Di ruang TV Karen sudah membaca gelagat ibunya yang tidak seperti biasa. "Ma, sakit?"
Mama Puri menggeleng.
"Kok dari tadi diem aja, Ma?"
Mama Puri menyikut Kendrik, memintanya membantu menjawab.
"Oh, Mama sedang ... ehm ... sariawan. Ya kan, Ma?" kata Kendrik.
Mama Puri mengangguk dengan cepat serasa mendapat pencerahan alasan yang tepat.
Sariawan kok makan batagor lahap bener. (Karen).
~
Menjelang petang, Karen dan Kendrik berlatih beladiri di halaman samping rumah.
"Ken, Mama kenapa?" tanya Karen sembari melayangkan tinjuan ke arah Kendrik.
__ADS_1
"Kayak yang aku bilang tadi, Kak, sariawan," jawab Kendrik sembari menangkis tinjuan Karen.
Karen menghentikan aktifitasnya sejenak dan menatap Kendrik dalam-dalam. "Nggak usah bohong! Mana ada orang sariawan makan batagor selancar itu."
"Hehehem ...." Kendrik tertawa canggung sembari menggaruk kepalanya.
"Hup!" Karen melayangkan tinju tepat ke wajah Kendrik. Dia menghentikan kepalan tangan itu di depan wajah Kendrik. "Ngomong yang jujur! Tadi ada apa di pertemuan trah?"
Kendrik menurunkan tangan Karen. "Mama tadi didaulat maju ke panggung mini, ditanya-tanya soal gosip pernikahan kamu bulan Desember nanti."
"Ya ampun ...." Karen tertunduk. "Bahkan aku nggak datang pun bikin Mama jadi bulan-bulanan."
"Tapi Mama nggak apa-apa kok, jangan nyalahin diri gitu."
"Nggak apa-apa gimana? Lihat kan tadi Mama diem aja? Terus, aku tanya-tanya, Mama takut jawab."
"Yang penting Mama pulang nggak dalam keadaan pingsan, berarti dia baik-baik aja, Kak."
"Ken!" Karen beranjak dan duduk di teras samping diikuti Kendrik. "Tahun ini aku harus nikah!"
"Jangan nikah cuma karena mikirin omongan orang."
"Nggak gitu juga kok. Nggak cuma omongan orang tapi aku sendiri ngerasa kesepian. Lihat temen-temen yang udah nikah, rasanya pengen banget di posisi mereka."
***
Hari senin di kantor
Karen mengawali pekan ini dengan hati suram. Dia merasa hampa dan semakin ingin menemukan jodoh sejati. Dia berangkat ke kantor dengan semangat yang sangat rendah, hampir 0. Kini, mobil yang dikendarainya sudah hampir berbelok menuju pelataran kantornya. Akan tetapi, dua orang di sana menarik perhatiannya.
"Son, cepet sana pergi! Bosku udah datang," kata Inda kepada Soni.
Inda sedang dekat dengan Soni, seorang pegawai rumah sakit Keluarga Bahagia bagian radiology.
"Emang kenapa sih kalau aku ketemu bos kamu? Nggak apa-apa, kan?"
"Nggak boleh, sana pergi!"
Soni pun menuruti permintaan Inda untuk segera pergi.
Karen turun dari mobilnya dan memandangi Inda yang sedang salah tingkah. "Cat woman, siapa itu tadi? Pacarmu?"
"Hehehem, bukan, Bos Black Widow. Kami cuma temen."
Karen manggut-manggut. Dia merangkul dan mengajak Inda untuk memasuki ruang kantornya. "Kamu tenang aja, aku bakal usaha cari jodoh tahun ini biar kamu nggak perlu merasa bersalah kalau mau nikah," kata Karen dengan penuh perasaan.
"Tenang, Bos Black Widow, aku akan menjaga janjiku. Lagian aku belum punya pacar. Yang tadi itu bener-bener temen aja. Dia itu deketin teman kosku. Kebetulan aja tadi berangkat bareng."
***
Few months later ....
__ADS_1
"Sayang, nanti aku jemput jam setengah 5 ya," kata Soni kepada Inda.
"Sssttt, iya iya, udah sana pergi!" usir Inda. Soni pun pergi.
Karen yang baru turun dari mobilnya kemudian mendekati Inda. "Udah pacaran sekarang?"
"Hehe, i-iya, Bos." Takut-takut, Inda mengakui.
Sudah beberapa bulan berlalu sedari Karen mengatakan kepada Inda bahwa dia akan mendapatkan jodohnya sesegera mungkin, tapi hingga saat ini belum juga ada. Sementara itu, hubungan sang asisten dengan Soni berlanjut.
***
Few few months later ....
Jodoh belum juga datang. Padahal, hari ini adalah H-1 sebelum ulangtahun Karen yang ke 28. Wanita itu frustasi di dalam kamarnya. 2 tahun ini, ulang tahun benar-benar membuatnya pusing. Dia melihat dirinya di cermin, membolak balik rambutnnya, mencari rambut yang berwarna putih di sana.
Apa bener kata-kata Mila dulu, aku musti nunggu ubanan dulu baru ketemu jodoh? Hah! Kata orang, sibukkan diri dengan bla bla. Aku udah sibukkin diri tuh, tetep aja kepikiran kepengen nikah. (Karen).
Dia bergegas menuju kantornya karena jam telah menunjukkan pukul 7.30. Seperti biasa, saat memasuki kantor, dia melihat pemandangan asistennya diantar sang pacar. Sekarang, Karen tidak begitu terganggu dengan pemandangan itu. Karen sudah 100% merestui hubungan Inda dan Soni.
Pukul 9.30 pagi, Inda mendapat telpon dari teman sekosnya, Syafira, yang bekerja di rumah sakit.
📞"Halo, kenapa Fir?"
📞"Kamu bisa ijin keluar sebentar nggak? Buruan ke rumah sakit, penting!"
📞"Penting kenapa?"
📞"Pokoknya penting, kamu cepetan ke sini ya. Langsung ke bagian rawat inap, aku tunggu di depan bangsal Lavender."
📞"Ya-ya-ya, tapi aku nggak janji. Aku coba minta ijin sama bosku dulu."
Inda mengakhiri panggilan selulernya.
"Bos Karen, aku mau minta ijin ke rumah sakit sebentar, boleh?"
"Mau ngapain?"
"Temenku, ehm, darurat."
"Oke, tapi jangan lama-lama ya! Lagi banyak deadline."
"Siap Bos, makasih ya."
"Eit tunggu, panggil aku apa tadi?"
"Oh, astaga, maaf, Bos Black Widow!"
"Oke, sana pergi, Cat Woman sedeng!"
Ikh, yang sedeng itu ya si bos ini, malah aku yang kena. (Inda).
__ADS_1
To be continued...
Jogja, April 14th 2021