Emak Aku Pengen Kawin

Emak Aku Pengen Kawin
82. Pelajaran Hidup


__ADS_3

Sore hari saat pulang kantor, Karen mengamati banyak orang di bus. Penumpang-penumpang itu bervariasi dari berbagai golongan dan usia.


Di samping Karen ada seorang ibu yang memangku anaknya yang berusia sekitar 5 tahun. Namun, salah satu kelopak matanya tidak dapat terbuka dengan sempurna.


Karen terus fokus memandangi anak itu.


"Kenapa, Mbak? Pasti heran ya lihat mata anak saya?"


Karen tersadar. "Oh enggak kok, Bu. Maaf."


"Nggak apa-apa, memang keadaan anak saya lain. Ini bawaan lahir. Sebentar lagi operasi. Ini saya habis dari kantor asuransi yang dari pemerintah. Maklum, orang nggak punya tapi tetep pengen anak sehat."


Karen mengangguk dan tersenyum. Hanya itu yang bisa dia lakukan. Dia tidak berani bertanya atau pun mengorek keterangan tentang anak itu mau pun kehidupan mereka.


"Mbaknya punya anggota keluarga atau saudara yang punya keadaan spesial?"


Karen menggeleng.


"Awalnya saya sedih banget anak saya lahir dengan keadaan begini, tapi lama-lama sudah nggak. Karena gimana pun dia anak saya."


Perjuangan seorang ibu melebihi segalanya. Bahkan ibu ini mengusahakan pengobatan meski dengan keadaan yang terbatas. (Karen).


Dia pun teringat Mama Puri yang berjuang untuknya dan Kendrik. Sepeninggal papanya, yang menghidupi kakak beradik itu adalah Mama Puri.


Setelah Karen bekerja dan membuka usaha sendiri, barulah peran itu digantikan oleh Karen.


"Ibu turun di mana?"


"Saya masih agak jauh, Mbak."


"Bu, saya sebentar lagi turun. Maaf, boleh nggak saya kasih uang saku untuk adik ini?"


"Oh, i-iya boleh, Mbak."


Karen melihat dompetnya yang berisikan 400.000.


Sial, uang cash segini doang. Diterima nggak ya kira-kira? (Karen).


Dia selalu berbelanja dengan kartu debit. Dia tidak membawa banyak uang cash waktu itu. Kemudian, semua uang di dompetnya itu pun dia berikan kepada ibu itu.


"Maaf ya, Bu, hanya segini."


"Terima kasih, Mbak, ini banyak banget. Terima kasih banyak, semoga Mbak sehat selalu."


"Aamiin, terima kasih doanya, Bu." Karen pun turun dari bus itu.


Dulu aku sering naik bus. Nggak berasa udah lama banget nggak naik. Sekalinya naik kayak newbie. Tapi asyik juga ketemu banyak orang asing dan banyak pelajaran hidup. (Karen).


~


Di rumah orang tua Daniel


Daniel baru saja pulang dari rumah sakit. Setelah melepas lelah dan membersihkan diri, dia mendatangi Mami Seli yang disambut dengan kata-kata pedasnya.

__ADS_1


"Mau apa, Niel? Mau ngomong apa? Pasti mau belain istrimu ya?"


Daniel menghela napas, kemudian dia menceritakan sakitnya yang dia periksakan ke psikiater. Beberapa bukti dia tunjukkan yang berupa nota pembayaran dan kartu nama psikiater yang menanganinya.


Dia juga menceritakan tentang kontrak pernikahannya dengan Karen sedari awal. Dia mengakui perasaan cintanya kepada sang istri di depan ibunya itu.


Mami Seli berusaha mencerna cerita dari Daniel sembari meneguk teh hangat di hadapannya. Dia tahu bahwa anak laki-lakinya itu tidak pandai berbohong.


"Jadi selama ini kamu sakit?" Mami sedih mendengar tentang sakit anaknya apalagi saat mendengar bahwa penyakitnya sudah ada sejak lama tapi karena terlambat penanganan, berlanjut hingga dewasa.


Daniel mengangguk.


"Mami merasa gagal jadi orang tua sampai nggak tahu kalau kamu sakit." Mami Seli menyesali kenapa tidak tahu sejak dulu.


"Nggak apa-apa, Mi. Kata psikiater, ini sulit dideteksi. Dan sekarang, aku udah ditangani."


Mami mengangguk-angguk. "Terus soal perasaanmu ke Karen, bener kamu cinta sama dia?"


"Iya, Mi."


"Yah, Mami tahu kamu nggak bohong. Tapi, gimana dengan istrimu ke kamu? Apa dia juga cinta sama kamu sekarang ini?"


"Iya, Mi. Dia juga."


"Juga apa? Lihat Niel, kamu aja ragu ngomongnya."


"Bukan gitu, kemarin malam kami saling menyatakan perasaan. Tapi setelah dari psikiater, dia sedikit berubah."


Daniel memandang ke langit-langit. Dia telah memiliki ketertarikan kepada Karen sejak lama. Namun, seperti perasaannya kepada gadis lain yang pernah disukainya, dia tidak pernah berharap lebih.


Kemudian tiba-tiba saja dia dijodohkan dengannya. Baginya, itu merupakan keajaiban. Meski istrinya baru memiliki perasaan cinta belum lama ini, tapi dia merasa jauh lebih bahagia dari sebelumnya.


Kehidupan sebelumnya terasa sangat sepi. Sedangkan saat ini rumahnya dipenuhi dengan ocehan Karen. Meski kadang kesal, kadang marah, dia sangat suka mendengarkan suara Karen. Suara itu membuat rumah yang tadinya mati dan hening hidup kembali.


"Iya, Mi," kata Daniel dengan raut wajah yang sedih.


"Bahagia kok kamu begitu jawabnya, Niel?"


Daniel menunduk dan tampak jauh lebih sedih. Mami mengelus lagi bahu anak laki-lakinya yang sedang rapuh itu.


"Kalau kamu nggak bahagia, ngomong aja terus terang. Ini Mami, kamu bebas ngomong sepuasnya."


"Bukan nggak bahagia, Mi. Aku cuma takut kalau dia nggak bisa terima aku."


Mami Seli memeluk anaknya yang hampir menangis itu. Mungkin jika Daniel adalah seorang wanita, dia sudah menangis sedari tadi.


"Kalau dia nggak bisa terima kamu, Mami, Papi dan Stella selalu nerima kamu."


"Iya, Mi. Soal kontrak itu, maafin aku dan Karen ya, Mi."


"Mami ngerti perasaan kamu. Tapi soal kontrak itu, Mami belum bisa memaafkan kalian. Dan kalau perasaan kamu sedalam itu untuk Karen, sedangkan Karen masih sangat dipertanyakan, Mami kok jadi nggak ikhlas ya."


"Mami udah tahu sekarang kondisiku. Maklumin dia ya, pasti berat buat nerima aku."

__ADS_1


"Memangnya kenapa kalau kondisimu kayak gini? Mentang-mentang kamu lain terus boleh disia-siain?"


"Jangan salah paham dulu, Mi. Dia nggak pernah sia-siain aku. Sebagai istri, dia selalu nurut sama aku. Dia masak tiap hari, selalu cium tanganku kalau mau pergi atau pulang, dia ...."


Tiba-tiba kata-katanya terhenti. Dia teringat semuanya yang selalu dilakukan Karen di rumah. Bahkan, mie instan yang dimasak oleh Karen terasa sangat enak bagi Daniel. (Padahal karena ada micinnya, akh Daniel).


"Ya sudah, Mami akan kurangi hukumannya. Tadinya Mami mau minta kamu sebulan tinggal di sini. Sekarang, 3 minggu aja deh."


"Makasih, Mi."


"Tapi Mami juga sambil ngawasin kalian lho."


Daniel mengangguk.


Kalau ternyata Karen nggak cinta bahkan sia-siain Daniel, awas aja ya dia! (Mami Seli).


***


Seminggu berlalu


Hari itu adalah Hari Sabtu. Seminggu sudah Karen dan Daniel tak saling memberi kabar. Meski begitu, Daniel tetap meminta Bibi Sum untuk selalu menginap di rumah untuk menemani dan melayani Karen.


Karen masih menikmati bepergian dengan angkutan umum. Padahal beberapa hari lalu, Kendrik sudah mengantarkan mobilnya.


Saat melihat mobilnya, Karen malah jadi enggan menaiki. Dia asyik bernostalgia dengan kebiasaan lamanya saat sekolah dan kuliah dulu.


Dari menaikki angkutan umum, dia mendapatkan banyak pelajaran dan melihat banyak karakter.


"Sampai kapan Bos naik angkutan umum?" tanya Inda.


"Kayaknya hari ini terakhir, Cat. Kemarin udah hampir kecopetan."


"Hahaha."


"Hey, kok ketawa? Aku beruntung punya pilihan bisa pilih bus bisa juga kendaraan pribadi. Kalau mereka yang nggak punya pilihan lain, harus waspada naik angkutan umum. Jangan diketawain, nggak lucu."


"Maap, Bos Black."


"Eh, besok ada acara nggak? Berenang yuk."


"Boleh Bos, kebetulan Soni mau reuni sama temen SMAnya. Aku sebenernya diajak tapi males. Sekarang ada alasan deh."


"Eh, kamu memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan ya?"


"Iya Bos, hehe. Biarkan mereka bahagia, ngobrol sepuasnya tanpa ada bini ngawasin."


to be continued...


Jogja, July 11th 2021


***


Hukuman Mami (part 2) akan berlanjut setelah 2 episode ini ^~^

__ADS_1


__ADS_2