
Selama satu bulan, Karen selalu saja menjahili Daniel. Segala ide telah Karen kerahkan sedari memasak yang terlalu asin, kadang terlalu banyak gula, terlalu pedas, memindahkan furniture, dan kelemahan Daniel yang paling parah yaitu masalah kebersihan.
Karen sengaja tidak melakukan kewajibannya membersihkan kamar dan membiarkannya kotor. Tidak satu pun berhasil memancing Daniel untuk mengamuk.
Hanya saja, jika kamar sangat berantakan dan kotor, Daniel akan segera membersihkan dan membereskan semuanya.
"Niel, maaf ya aku nggak bisa bersihin kamar. Kerjaanku lagi banyak banget." Karen ber-acting minta maaf.
Daniel mengangguk.
"Kamu nggak marah sama aku? Aku nggak jalanin kewajibanku lho."
Dia ini minta dimarahi atau gimana sih? (Daniel).
Daniel menggeleng.
"Hih!" Karen mengacak rambut Daniel dengan dua tangannya. "Jawab pake kata-kata yang lengkap, kenapa kamu nggak marah?"
"Aduh." Daniel merapikan kembali rambutnya sembari menghirup napas dalam-dalam. "Karena sebenarnya menyediakan sandang, pangan dan papan itu kewajiban suami termasuk papan yang bersih. Kewajiban istri cuma menurut sama suami. Secara teknis, kamu nggak salah."
"Tapi kan aku nggak nurut sama kamu. Kamu nyuruh aku bersihin kamar dan aku nggak bersihin. Kok kamu tetep nggak marah?"
"Kamu banyak kerjaan, aku ngerti kok."
"Kamu sempurna amat jadi suami, aku heran kenapa bisa-bisanya kamu dapat istri yang buruk, susah diatur, suka ngomel dan nggak nurut kayak aku gini!" kata Karen penuh dengan sarkas.
"Aku juga heran."
"Apa!" Karen kembali mengacak rambut suaminya. "Dasar Patung Anubis!"
Dia sendiri yang ngomong, aku ngikut dia aja tuh, kenapa malah marah? (Daniel).
Dia ini nggak ngerti aku lagi sarkas apa? Tapi kalau dipikir, dia emang sempurna kecuali satu, nggak bisa ngomong layaknya manusia. Karena dia emang bukan manusia, dia ini patung anubis hahah. (Karen).
"Pppfffttt." Karen tertawa kecil.
Daniel menatap Karen keheranan. Istrinya itu sangat mudah berubah mood-nya. Baru saja dia marah, sejurus kemudian dia tergelak menahan tawa. Kadang, tawanya sama sekali tidak ditahan dan lepas begitu saja.
Sedangkan Daniel berbanding terbalik dengan Karen. Dia jarang tersenyum, apalagi kepada Karen. Dia lebih bisa tersenyum dan berbicara kepada orang lain daripada kepada istrinya sendiri.
~
Kendrik ....
Pergantian dosen pembimbing membuatnya frustasi. Beberapa kali berjibaku membuat proposal skripsi yang baru, dosennya yang terkenal alot itu belum menyetujui.
Kini Kendrik sedang sangat buntu dan penat. Seakan sudah tidak punya semangat, dia tidak pergi ke kampus selama beberapa hari.
__ADS_1
"Ken, nggak ngampus?"
"Enggak, Ma. Ngapain juga, malah ujung-ujungnya cuma lontang lantung. Mendingan di rumah."
"Kamu bisa ke perpustakaan kampus, baca-baca skripsi kakak tingkat biar dapat inspirasi."
"Udah, Ma, aku udah dapet banyak inspirasi, tapi dosenku belum setuju. Biar dulu aku di rumah ya, Ma."
Mama Puri mengelus dada. Dia ke ruang televisi dan memandangi foto mendiang suaminya.
Tuh Pa, anakmu lagi nggak semangat. Padahal tinggal skripsi setelah itu dia bakal lulus. (Mama Puri).
Di tengah pikirannya yang sedang kemana-mana, anak perempuan satu-satunya menelpon.
📞"Halo, Ma, Sabtu besok aku sama Daniel mau nginep di rumah ya."
📞"Iya, Ren. Kebetulan banget, tolong sekalian kamu semangatin adik kamu buat ngerjain proposal skripsi."
📞"Emangnya sama dosen yang baru belum disetujui?"
📞"Belum, dia sampai kehabisan ide."
📞"Iya, Ma. Nanti aku semangatin dia sebisaku."
Tiba-tiba Karen menelpon pas saat Kendrik sedang jatuh-jatuhnya. Ternyata mereka berdua masih sama-sama kuat feeling-nya. Kirain setelah nikah, ketajaman feeling mereka bakal berkurang. (Mama Puri).
***
Karen dan Daniel sedang dalam perjalanan menuju rumah Mama Puri.
"Kasian Kendrik, padahal skripsi yang sebelumnya tinggal dikit lagi, eh dia harus ngulang lagi. Aku juga nggak bisa bantu pula, jurusanku beda jauh sama jurusan dia. Aku sastra, dia biologi."
Karen seperti sedang bermonolog karena tidak mendapat tanggapan dari lawan bicara. Dengan kesal, dia melirik suaminya.
Barusan aku ngomong sama dashboard mobil ya? Bodo' amat deh. (Karen).
Sesampainya di rumah Mama Puri, Karen langsung menuju kamar Kendrik. Pemuda itu tidak keluar kamar meski mendengar mobil kakaknya tiba di rumah.
"Hai, aku dataaang!" Karen mengelus bahu adiknya.
"Hai, Koreng, lama nggak ribut. Mau ngajak ribut?"
"Iya, hahah, nanti kita latihan karate ya, aku udah 2 bulan terakhir nggak latihan, takutnya lupa."
"Lupa juga nggak apa-apa, kamu kan karateka ilegal."
"Eh, kalau aku lupa ya kamu harus ngajarin lagi. Apalagi sekarang, aku butuh banget latihan buat lindungi diri."
__ADS_1
"Ha?"
"Sssttt, jangan cengoh aja, nanti aku ceritain sambil latihan. Aku bantu Mama bentar ya."
Karen berlalu sebelum rasa penasaran Kendrik terjawab. Setelah Karen keluar dari kamar Kendrik, Daniel memasuki kamar itu.
"Hai, Ken."
"Hai, Kak. Kalian masuk ke kamarku gantian begitu, pasti mau kasih nasihat ya? Si Koreng ngajakin latihan karate nanti ujung-ujungnya pasti mau nasehatin juga."
Kendrik sudah memasang kuda-kuda sebelum dikuliahi oleh Daniel.
"Bukan nasehatin tapi kasih semangat."
"Akh ... sama aja."
"Beda, aku juga bisa bantu. Kedokteran nggak begitu jauh dari biologi."
"Oh ya? Coba, Kak Daniel punya ide apa buat skripsiku? Terus gimana hubunginnya sama biologi?"
Kendrik seakan tak percaya. Sebenarnya semua mahasiswa yang berkuliah di jurusan biologi juga tahu bahwa biologi dan kedokteran berhubungan erat. Kendrik hanya kurang yakin Daniel akan benar-benar membantunya atau hanya akan menghiburnya saja.
"Banyak. Kamu bisa meneliti kondisi jantung orang dengan penyakit jantung dilihat dari anatomi fisiologi. Atau banyak lagi. Aku punya banyak buku, jurnal, e-book, semua yang kamu butuhin ada. Aku juga punya biologi yang nggak ada hubungannya dengan kedokteran, tapi berhubungan dengan farmasi misalnya penelitian vitamin b17 pada buah aprikot. Kalau kamu suka biotek, kamu juga bisa menghubungkan dengan medis."
"Contohnya?"
"Misalnya rekayasa genetika."
Kendrik menganggukkan kepala dengan ceria.
Sepertinya kakak iparnya itu serius ingin membantunya. Dan memang Daniel berniat membantu, bukan hanya untuk sekedar menasehati. Hal itu juga didukung oleh profesi dan keahlian Daniel di bidang kedokteran.
"Kendrik, keluar!" Karen berteriak dari luar rumah. Dia sudah berganti baju dan siap untuk berlatih bersama adiknya.
"Ayo, Kak Niel, ikut keluar!" ajak Kendrik.
"Nanti aku nyusul."
Kendrik dan Karen sudah berada di halaman samping rumah. Karen melihat wajah adiknya yang sudah lebih cerah sekarang.
Ajaib, ngobrol apa sama si patung, kok adikku yang tadi nggak ada semangatnya jadi senyum-senyum begini. (Karen).
Sembari memulai, mereka mengobrol. "Kamu ngomong apa sama orang itu? Kok jadi ceria begitu?"
"Hish, 'orang itu'? Kok gitu sih sama suami sendiri? Kenapa? Lagi marahan?"
Karen menghentikan aktivitasnya dan tiba-tiba merasa lemas. Pada saat itu, Daniel berada di dekat pintu. Dia berencana menyusul mereka namun urung karena mendengar pembicaraan kakak beradik itu.
__ADS_1
to be continued...
Jogja, June 11th 2021