Emak Aku Pengen Kawin

Emak Aku Pengen Kawin
105. Adik Darelle? Is that You?


__ADS_3

Kepala Karen pun pusing.


Aduh jambaknya terlalu semangat, jadi puyeng. (Karen).


Pening menggelayuti, rasa mual pun datang. Sejurus kemudian dia muntah hebat. Semua yang dimakan terkuras habis masuk pembuangan.


"Ren," panggil Daniel sembari mengetuk pintu kamar mandi.


Karen membersihkan wajahnya dan membuka pintu kamar mandi. "Tanggung jawab kamu Niel, gara-gara kamu, aku stres sampai pusing dan muntah."


"Maaf."


"Habis semua yang aku makan tadi. Beliin ayam goreng!"


Daniel mengangguk kemudian memesan ayam goreng. Tak butuh waktu lama, pesanan ayam goreng untuk Karen datang.


Makanan dambaan Karen sudah tersaji di hadapannya ditemani layar besar yang memutar drakor. Meski tak begitu suka drama, Daniel tetap menonton bersama istrinya demi perdamaian dunia pergelutan.


Karen menyuapkan ayam. Belum sampai ayam itu ke mulutnya, hidungnya mengendus bau yang tak sedap.


"Kamu pesen ayam di mana sih, kok bau?"


Daniel turut mengendus ayam tersebut. Aneh, hidungnya tak menangkap bau yang dimaksud Karen. Dia pun mencoba memakan ayam itu. "Enak kok."


Melihat suaminya lahap, Karen mencoba mengambil ayam lagi. "Uh, bau gini Niel. Kayaknya kamu musti periksa hidung kamu deh."


Karen berlari ke kamar mandi dan sekali lagi memuntahkan apa yang tersisa di perutnya.


Muntah dan tidak tahan dengan bau daging membuat ingatan Daniel tertuju pada ibunya saat tengah mengandung Stella dulu. Daniel sudah remaja sewaktu ibunya hamil sehingga dia mengingat dengan detail saat-saat itu. Bahkan, dia sering dimintai tolong untuk membelikan makanan yang diidamkan Mami Seli.


Gejalanya mirip Mami waktu hamil Stella. Apa dia ... (Daniel).


Dari 2 gejala itu masih belum dapat ditarik kesimpulan apa-apa. Daniel membuka ponsel Karen dan memeriksa jadwal menstruasi istrinya.


.


.


Sudah lewat tanggal.


.


.


Daniel mengatupkan mulutnya rapat-rapat.


***


Kantin Rumah Sakit Keluarga Bahagia siang hari berikutnya


"Hai Pretty Boy, kenapa mukanya ditutup begitu? Lupa nggak pake skin care?" sapa Dion yang baru tiba di kantin bersama Nathan.


"Kayaknya Karen hamil," jawabnya masih dengan tangan menutupi wajah.


Nathan dan Dion saling berpandangan.


"Ini gimana sih Bor, kita kasih selamat apa gimana nih kok malah dia kelihatan frustasi?" tanya Nathan.


Dion menaikkan bahunya. "Kalau Karen hamil, kamu seneng, kan? Kok malah begitu?"


"Masalahnya, kami nggak mau punya anak."


"Lhoh, perasaan waktu kita bahas childfree, kamu nggak bilang apa-apa. Yang nggak mau punya anak itu kalian berdua atau dia doang?" Dion mengkonfirmasi.


"Awalnya dia. Tapi, aku sebagai suami kan nggak bisa paksa dia untuk hamil. Akhirnya aku terima keputusan dia."


"Kalau kalian memutuskan nggak mau punya anak, kok dia bisa kebobolan? Kalian pakai proteksi, kan?" Nathan penasaran.


"Sebelum kami memutuskan untuk nggak punya anak, we did it twice without protection."

__ADS_1


"Lagian pakai proteksi juga bisa aja jebol. Proteksi yang portable begitu masih menyisakan 3% kemungkinan untuk hamil," terang Dion.


Nathan dan Dion pun ikut pusing memikirkannya. Untuk memastikan kehamilan Karen juga tidak bisa dilakukan secara gamblang.


Jika Karen menyadari dirinya ditest, Daniel takut istrinya itu akan menganggapnya menekan dia seperti beberapa waktu lalu.


Suami istri itu juga baru saja berbaikan pasca diam-diaman dalam waktu yang agak lama. Rasanya Daniel belum rela untuk ribut lagi dengan sang istri tersayangnya.


"Test urine sulit ya. Gimana kalau toiletnya dimampetin biar kamu dapat sample urinenya?" cetus Dion.


"How?"


"Heheh, iya juga ya, gimana mampetinnya. Cara lain. Ehm, Than, ada ide?"


"Bius dia, bawa ke sini buat USG," celetuk Nathan.


"Hush, ngawur."


"Atau ambil paksa urinenya pas dia tidur, pakai cateter," usul Nathan lagi.


"Eee, ya bakal bangun lah dia, masak iya diutak-atik nggak berasa?" Dion tampak berpikir-pikir. "Ehm, gini aja Niel, denyut nadi orang hamil itu lebih dari 90 per menit. Coba kamu periksa itu dulu."


~


Rumah Daniel dan Karen


Sore hari, Karen duduk di ruang makan. Dia menuangkan minuman cola untuk dirinya. Belum sempat meminumnya, tangan Daniel sudah merebut minuman itu.


"Daniel! Kalau kamu mau, ini yang di botol, masih banyak."


"Kamu nggak boleh minum cola."


"Kenapa?"


"Ehm, errr, banyak gulanya. Cegah diabetes."


Karen mengangguk tanpa rasa curiga.


Karen mengerjap beberapa kali mendengar ceramah suaminya yang panjang tapi tidak lancar. Beberapa kali Daniel terhenti dan berpikir.


Karen memegangi perutnya.


"Kenapa? Sakit?" Daniel seketika sangat khawatir melihat Karen memegangi perutnya. Dia masih ingat dengan jelas peristiwa pagi di mana Karen kesakitan dan anak di dalam perut yang masih berumur beberapa minggu harus luruh.


"Hishhh, lebay amat sih. Gatel ini lho."


Daniel memfokuskan pikiran lagi. Dia membuka kancing baju Karen.


"Heh, mau apa di ruang makan?"


Dengan wajah tanpa dosa, Daniel menunjukkan termometer, "Ngecek suhu."


"Oh, ehem." Karen malu sendiri dengan pikirannya. "Kirain mau ngajak nananina di dapur."


Sok jual mahal, padahal jika Daniel mengajaknya 'bereksperimen' di dapur pun dengan senang hati dia mengabulkan.


Termometer itu berbunyi, tanda pemeriksaan suhu sudah didapat hasilnya. 36,4 derajat. Normal.


Daniel melanjutkan investigasi berkedok memeriksa kesehatan Karen itu. Dia pun meraih tangan Karen untuk memeriksa nadinya.


Dia menyentuhkan jari telunjuk di nadi tangan Karen sembari memperhatikan hitungan waktu di jam tangannya.


"Kamu jangan bikin aku takut Niel, kamu tiba-tiba cek suhu, cek nadi, ngelarang makan ini itu. Apa aku sakit?" Karen mulai khawatir.


"Ssshhh ..."


88, 89, 90, 91, 92 .... Terlewat sudah pulse ke 90 bahkan lebih. Daniel menghela napas panjang dan berat berkali-kali.


Antara bahagia, tapi juga frustasi.

__ADS_1


"Aku kenapa Niel? Sakit apa?"


"Sehat," jawabnya singkat.


Terdengar suara motor tiba di halaman rumah mereka, disusul ketukan pintu. Daniel bergegas membukanya.


"Helo Kak Niel, helo Koreng. Ayo cepetan latihan karatenya, aku nggak punya banyak waktu," kata Kendrik.


"Apa?! Latihan karate?!" Daniel terkejut.


"Iya Niel, aku udah lama nggak latihan takut lembek," kata Karen.


"Nggak boleh!"


"Kenapa?"


"Ehm, err, biar aku yang gantiin latihan."


"Lhah, mana bisa yang latihan kamu terus yang tambah kuat aku."


Daniel memeluk Karen. "Bisa, aku yang latihan, aku yang lindungin kamu."


Melihat kakaknya berpelukan, Kendrik menutup matanya. Maklum, takut ternodai pandangannya yang masih suci itu. Suci dari liveshow. (Kalau yang rekaman pernah lihat, itu pun anime hent-sensor).


Daniel menarik Kendrik untuk bicara berdua saja. Karen mengikuti di belakang.


"Kamu nggak boleh ikut, urusan laki-laki," cegah Daniel.


2 laki-laki itu masuk ke dalam ruang komik. Daniel berbisik. "Kayaknya kakakmu hamil."


"WAH!"


"Sssttt, jangan keras-keras. Masalahnya dia nggak tahu dan nggak pengen hamil."


"Lhoh kok?"


"Kapan-kapan aku jelasin."


Daniel meminta Kendrik berpura-pura tidak tahu tentang hal ini. Lagi pula, ini masih sebatas dugaan. Belum dilakukan tes urine mau pun USG.


~


"Kak Ren sorry, aku lupa aku ada janji sama temen. Aku pulang dulu ya," pamit Kendrik yang membatalkan acara latihan sore itu.


Mata Karen menyipit memperhatikan wajah Kendrik. "Ada janji atau kenapa? Kok pamitnya pulang? Jadi kamu mau pergi sama temen atau mau pulang?"


"I-itu gini lho, aku pulang dulu ambil barang. Terus pergi lagi."


Karen mengangguk-angguk meski masih curiga.


Kendrik tidak bisa menyembunyikan keharuannya kemudian memeluk Karen. "Kak Ren sayang jaga kesehatan, jangan capek-capek ya, jangan lupa minum vitamin ya."


"I-iya, tumben amat."


"Sini Kak Niel, ikutan peluk."


Daniel ikut memeluk mereka berdua.


"Hmmmppp ...." Karen merasa tergencet dua laki-laki besar itu. "Kalian mau bikin aku kehabisan oksigen?!"


Daniel dan Kendrik melepaskan pelukan. Kendrik pun pulang dari sana.


~


to be continued


Jogja, August 23rd 2021


***

__ADS_1



__ADS_2