
Malam hari
Daniel menelpon Dion dan meminta saran. Sahabatnya itu menyarankan untuk melakukan tes urine sekarang juga. Toh, suatu saat Karen tetap harus diberitahu jika memang benar bahwa dirinya hamil.
๐"Kalau dia shock?"
๐"Tenang aja, kita kan punya rumah singgah spesialis mencegah ibu-ibu gugurin kandungan."
๐"Oh, iya ya."
๐"Tadinya aku juga nggak kepikiran. Kita panik duluan sih."
Daniel memang sama sekali tak terpikir hal itu. Sebelum ini, belum pernah ada kasus seperti ini. Biasanya ibu-ibu hamil yang akhirnya masuk rumah singgah adalah remaja muda yang kebablasan.
Daniel sedikit mantap sekarang. Dia pergi ke apotek untuk membeli testpack dengan 3 merk yang berbeda. Malam ini, dia harus tahu keadaan istrinya.
Sesampainya di rumah, dia langsung menemui Karen di kamar. Perlahan dia mendekat.
Kalau bener dia hamil, selamatkan anakku ya Tuhan. Aku janji, aku akan kursus social skill. (Daniel).
"Mana cemilannya?" tanya Karen membuyarkan pikirannya yang sedang berdoa.
"Hm?"
"Kamu tadi bilang pergi keluar beli cemilan. Terus cemilannya mana?"
Gawat, Daniel justru lupa tidak membeli barang kamuflasenya. Dengan hati-hati, dia memberikan penampung urine.
Mata Karen menangkap bayangan benda familiar yang mirip dengan gelas itu. Dan jika telah terisi urine, gelas itu nampak seperti segelas teh hangat. (Tapi tidak untuk diminum. Tolong jangan, please!)
"Penampung urine? Daniel! Kamu mulai lagi?"
"Bukan gitu. Kamu terlambat haid."
"Apa iya?" Karen memeriksa aplikasi menstruasi di ponselnya. Ya, sudah terlambat. "Oh pantesan aku nggak keluar anggaran buat beli pembalut."
"Ehem, urine?"
"Denger ya tuan Daniel Stark, waktu kita konsul sama dokter Dion, kamu denger kan dia ngomong apa soal siklus haidku? Emang sering terlambat."
Daniel tetap menyodorkan penampung urine itu, tetap kukuh meminta Karen menampung sample urinenya. Pikiran Karen pun berandai bagaimana jika memang dia benar-benar hamil?
"Niel, kalau aku benar-benar hamil terus gimana?" panik Karen. Raut wajah Karen pucat pasi.
Daniel menutup matanya. Untuk saat ini, dia tidak dapat menjawab. "Tes dulu aja."
Karen mengambil penampung itu dan pergi ke kamar mandi. Tak lama, dia memunculkan kepala dari balik pintu kamar mandi.
"Niel, udah aku kencingin nih."
Nggak ada bahasa yang lebih bagus? (Daniel).
Daniel meminta Karen menunggu di tempat tidur. Hanya Daniel sendiri yang akan mengetes kandungan HcG pada urine Karen.
Karen meremass-remass jarinya sendiri. Suhu tangan itu menurun drastis. Dia sendiri tidak dapat mendefinisikan apa yang sedang dia rasakan. Campur aduk.
Bukan hanya takut, tapi telah tercampur rasa yang lain hingga seperti gado-gado. Bedanya, gado-gado itu enak, sedangkan ini ... entahlah.
Daniel keluar dari kamar mandi. Ekspresinya datar sehingga Karen tidak bisa menebak bagaimana hasilnya.
Dan memang begitu biasanya, datar. Barangkali jika tidak menjadi dokter, dia cocok menjadi model video clip 'Poker Face' Lady Gaga.
Mata Daniel dan mata istrinya beradu. Wajah Karen yang pucat tak dapat disembunyikan lagi.
Daniel pun berlutut di hadapan Karen yang duduk di pinggiran tempat tidur itu. Dia raih tangan istrinya yang tak berhenti bergerak meremass itu.
Dingin banget tangannya. (Daniel).
Daniel menenggelamkan wajahnya di pangkuan istrinya sejenak.
"Niel, gimana hasilnya?"
"Hasilnya ...
...negatif."
Daniel mendongak dengan wajah tetap datar sedangkan Karen tersenyum.
__ADS_1
"Fyuh, leganya," kata Karen dengan senyumnya.
Namun senyum itu bukan senyum seperti biasanya ...
Aneh ...
Lama kelamaan bibirnya berkedut ...
Matanya mengeluarkan air mata yang tak mampu ditafsirkan mengekspresikan perasaan apa ...
"Kenapa?"
"Nggak tahu." Dia menarik badan Daniel untuknya bersandar.
Tangisannya semakin keras ...
Menderu dan menyayat ...
Lama ...
Beberapa saat setelah Karen tenang, Daniel menginterogasinya. "Kamu nangis karena lega?"
Karen menggeleng. "Tadi aku sempet mikir kalau beneran positif, bahkan aku udah mikir mau kasih nama siapa."
"Kamu sedih hasilnya negatif?"
Karen mengangguk. "Mungkin."
Daniel bingung harus bagaimana. Dia pun tersenyum. Karen meliriknya dengan kesal. Ada orang bersedih di depannya, malah laki-laki itu tersenyum.
Ampun dah nih orang, nggak simpati sama aku yang lagi nangis, malah nyengir. Kalau bukan suami, udah aku krawus mukanya (Karen).
"Kenapa senyum? Ngejek?"
Buru-buru Daniel kembali ke wajah datarnya.
Karen memegangi kepalanya yang kembali sakit. Mual menyerang tak tertahankan.
Dia berlari ke kamar mandi meninggalkan Daniel sendiri. Karen memuntahkan apa yang dia makan. Setelah selesai dengan urusan permuntahan, dia membasuh wajahnya di wastafel sembari melihat bayangan dirinya di cermin.
Kok bisa? Kemarin aku bener-bener nggak pengen punya anak. Dalam hitungan detik, tiba-tiba aku malah sedih hasilnya negatif. Bodohnya aku, aku kayak kehilangan anak yang emang dari awal nggak pernah aku kandung. (Karen).
Belum dibuang? (Karen).
Dia pun mengambil benda itu, hendak membuangnya ke tempat sampah. Benda yang masih di tangannya itu dia perhatikan benar sembari mengerjap berulang-ulang.
Dia buru-buru menemui suaminya. "Niel, ini kok garisnya dua semua? Bukannya garis dua itu positif?"
Daniel mengangguk tanpa merasa berdosa.
Daniel sengaja berbohong karena saat keluar dari kamar mandi tadi, tangan istrinya begitu dingin. Dia berencana menyimpan kabar itu hingga Karen benar-benar stabil.
Akan tetapi, istrinya justru memberikan respon yang tak terduga.
Kini Karen tak kuasa menahan haru, airmata kembali menetes. Dia pun menghambur ke pelukan suaminya.
"Yang ini karena bahagia, kan?"
Karen mengangguk mantap.
Ketakutannya hilang, terhapus oleh rasa cinta yang mendalam kepada zat yang belum dikenalnya tapi sudah dicintainya.
Belum pernah ditemui, tapi sudah ingin dia lindungi.
Dia akan melahirkannya, meski harus mengeluarkan darah.
Meski harus menyayat dagingnya sendiri.
Dan meski harus bertaruh antara hidup dan mati.
***
8 Bulan Berlalu
8 bulan bukanlah waktu yang sebentar (bagi bayi tentunya, kalau buat orang dewasa sih sebentar). Beberapa hal telah berubah, terutama usia.
Kendrik menyelesaikan perjalanan panjang studynya. Dia telah melaksanakan sidang skripsi 2 bulan yang lalu.
__ADS_1
Stella telah lulus SMA sebulan yang lalu.
Putra Nathan dan Lana (Althan) telah berusia 16 bulan. Putri kedua mereka (yang diberi nama Alita) telah berusia 4 bulan.
Putri Dion dan Asa (Radisa) menginjak usia 8 bulan.
Sedangkan kandungan Karen sudah menginjak usia 38 minggu.
Apakah bulan-bulan kehamilan Karen dilalui dengan lancar? Tidak selalu.
Ada kalanya Karen manja, ngidam macam-macam dan membuat ulah aneh lainnya. Dia sepertinya tidak membiarkan Daniel nganggur.
Jenis kelaminn anak yang dikandungnya sudah diketahui yaitu laki-laki. Mereka kini sedang berdebat nama apa yang akan digunakan. Daniel memilih Darren. Karen memilih Karel.
"Karel aja namanya, Niel."
"Kenapa?"
"Karena artinya bagus," katanya sembari menaikkan alisnya dua kali.
Karena namanya jadi mirip namaku, aku menang banyak hahah! (Karen).
Daniel mengangguk.
"Kamu setuju, Niel?!" pekiknya. "Oke, tulis di sini!" pinta Karen sembari menyodorkan catatan kecil.
Daniel menuliskan: 'Darren'.
"Ikh, kok Darren sih? Kenapa kamu suka yang berawalan Da- Da- Da- kayak namamu?!" <~ nggak ngaca.
"Kamu suka Ka-."
"Tapi aku kan ibunya."
"Aku ayahnya."
Dengan kesal Karen melirik suaminya. "Kalau gitu, biar adil namanya Dakar aja deh, atau Kadal."
"Eh. Karel aja," kata Daniel sembari mencium perut besar istrinya.
Daripada kamu dikasih nama Kadal, papa ngalah ya. (Daniel).
"Yes yes yes, Karel." Tiba-tiba Karen merasa aneh. "Darren aja dink."
"Lhoh, kenapa?"
"Nama Karel kedengerannya kayak nama ikan. Ikan Makarel."
to be continued...
Jogja, August 26th 2021
***
Halo readers semua, mulai lagi deh authornya mbrebes mili๐ญ.
InsyaAllah episode berikutnya adalah episode terakhir (kalau muat dalam 1 episode).
Setelah itu akan ada printilan extra part pendek-pendek.
Sekian pemberitahuan ini saya buat dengan penuh kesadaran dan air mata untuk digunakan sebagaimana mestinya.
tertanda: author ter-gembeng๐ญ
***
Madya gagal dalam rumah tangganya. Mantan suaminya kemudian menikah dengan mantan baby sitter yang bertahun-tahun bekerja padanya.
Dia pun frustasi dan berandai kembali ke masa lalu untuk memperbaiki keadaan. Dalam sebuah perjalanan, kepala Madya terantuk setir mobil.
Beberapa saat setelahnya, dia kembali ke 18 tahun silam.
Dapatkah Madya memperbaiki hidupnya?
Dan bisakah Madya kembali ke masa sekarang, atau dia akan terjebak selamanya di kehidupan baru masa mudanya?
__ADS_1
Ikuti kisahnya dalam chat story 'KEMBALI KE MASA SMA'