Emak Aku Pengen Kawin

Emak Aku Pengen Kawin
44. Terjebak Nostalgia


__ADS_3

Haris mengetuk pintu studio. Sudah beberapa kali mengetuk, belum juga pintu itu terbuka. Mungkin harus diketuk hingga jebol dulu baru dibuka oleh penghuninya.


Akh, sial. Pagi-pagi musti bikin emosi kayak gini. Di mana ARTnya Karen? (Haris).


Tidak lama pintu itu terbuka.


"Lho, Bu, tetangganya Bu Puri, kan?"


"Iya ... Mas ini siapa ya?"


"Lupa ya, Bu? Saya Haris. Dulu waktu SMA sering main ke rumah Karen."


Bu Minah berusaha mengingat-ingat. Dulu sewaktu Karen remaja, memang ada yang sering mengantar dan mengunjungi Karen.


"Oh ya ya, saya inget Mas Haris."


"Karen nggak bilang kalau saya ke sini?"


"Non Karen cuma bilang ada yang bakal ke sini setiap hari pakai studio, gitu doang, Mas. Mari masuk!"


"Dia juga nggak ngomong kalau ternyata Bu Minah yang kerja di sini. Dua hari yang lalu saya ke sini, Bu. Tapi Ibu nggak ada."


"Saya lagi ke pasar waktu itu, Mas. Mas Haris gimana kabarnya? Udah berkeluarga belum?"


"Belum, Bu. Menurut Bu Minah, saya masih cocok sama Karen?"


"Ya nggak lah, Mas, Non Karen kan udah jadi istri orang."


"Hahah, kan semua kemungkinan bisa terjadi, Bu. Siapa tahu nggak cocok sama Daniel. Yang nikah bertahun-tahun aja bisa cerai."


"Hush, Mas, jangan begitu! Doakan yang baik ya. Ngomong-ngomong, mau minum apa?"


"Teh aja, Bu. Makasih ya."


Haris memotret produk dengan berbagai angle. Setelah mendapatkan banyak foto, dia beralih ke pengambilan gambar berikutnya untuk artikel bertema 'bedroom colour scheme'.


Dia memasuki kamar Karen yang memang dibiarkan tetap menjadi kamar tidur untuk foto tema bedroom. Dia juga meminta tolong Bu Minah untuk mengganti-ganti sprei untuk mendapatkan berbagai ambience warna yang berbeda.


Sembari beristirahat, dia memandangi foto Karen yang terpampang besar di dinding kamar itu. Ingatannya tiba-tiba kembali ke masa SMA.


Saat itu Karen sedang duduk sendiri di tribun. Haris datang membawa 2 minuman di tangannya. Satu minuman cola, satu lagi es teh.


"Ren, boleh nggak aku jadi pacar kamu?"


"Ehm ...."


"Aku punya 2 minuman, kalau kamu pilih es teh ini, berarti kamu nggak mau, kalau kamu pilih cola ini, berarti kamu mau."


Karen langsung mengambil cola yang berada di tangan kanan Haris. Kemudian pemuda itu duduk di sebelah Karen.


Mulai saat itu, mereka melalui banyak kisah di SMA. Masa-masa terindah dalam hidup manusia itu mereka habiskan bersama-sama.


Angin bertiup membuat pintu kamar Karen tertutup dan menimbulkan suara keras. Haris terkaget dari lamunan dan memorinya. Dia pun memotret foto Karen yang tergantung di dinding itu.


Aku bukan nggak bisa move on. Aku jelas-jelas bisa mencintai wanita lain setelah putus dengan Karen. Tapi kalau pun tertarik kembali, bisa saja. Hati orang siapa yang tahu. Lagian, dulu kami juga dua orang asing yang saling bertemu, kan? (Haris).

__ADS_1


Masih terus memandangi foto besar Karen, Haris menyayangkan kenapa mantan kekasihnya itu harus menikah dengan saudara jauhnya. Jika menikah dengan orang asing, mungkin mereka bahkan tidak akan berhubungan sama sekali sekarang dan yang akan datang.


Pertemuan mereka membuat Haris mengingat dan membangkitkan segala memori nostalgianya bersama Karen. Apalagi setelah Stella memberikan info tentang perjodohan Karen dan Daniel. Haris menjadi semakin penasaran.


~


Kendrik.


Kendrik mengalami stres hebat karena dosen pembimbingnya harus pergi untuk study di luar negeri. Skripsinya pun dilimpahkan kepada dosen lain. Akan tetapi, dosen tersebut kurang begitu puas dengan skripsi Kendrik.


Setelah berdiskusi panjang, Kendrik menemui jalan buntu dan harus mengganti judulnya. Dia memulai skripsinya dari awal lagi.


Dia pun datang ke rumah pribadi Karen yang telah menjadi studio mini itu untuk sedikit menenangkan diri. Kendrik belum melihat rumah Karen yang telah berubah fungsi itu sehingga dia akan melakukan home tour kecil.


Saat dia membuka pintu kamar Karen, dia tertegun melihat Haris di sana.


"Lhoh, kirain aku tadi buka pintu kamar Kak Ren, ternyata pintu mesin waktu. Akh, berasa kembali ke 10 tahun yang lalu."


"Hahah, bisa aja kamu Ken. Apa kabar?"


"Buruk. Kirain habis dari nikahan Kak Karen itu nggak bakal ketemu lagi. Kak Haris kok bisa ada di sini?"


"Aku hobi fotografi, aku di sini motret aja."


Mereka kemudian duduk di gazebo di halaman sembari minum teh.


"Kamu belum cerita tadi, kenapa kabarmu buruk?"


"Skripsi, bikin pusing. Jangan tanya tentang itu lagi deh! Aku ke sini pengen ngelupain itu."


"Dulu kamu pengen banget main basket. Belum sempet aku ngajarin kamu, eh udah putus aja aku sama Karen."


"Nggak apa-apa, lagian setelah dicoba, aku nggak cocok main basket. Aku lebih cocok main congklak heheh."


"Kalau pendapat pribadimu, kamu pilih aku atau Daniel yang jadi kakak iparmu?"


"Wah, ini semacam kuis trivia? Kalau jawabanku bener, dapet doorprice?"


"Dapet lah."


"Aku pilih siapa pun yang dipilih Kak Ren hahah. Lagian ngapain Kak Haris merelakan diri jadi opsi, emangnya masih suka sama si Koreng?"


"Enggak kok, cuma iseng aja. Selfie yuk! Buat kenang-kenangan."


Haris mengeluarkan ponsel dan mengambil foto mereka berdua. Dia mengirimkannya kepada Daniel.


~


Saat makan siang, Haris kembali ke kantor dan mengajak Karen untuk makan siang bersama. Karen mengiyakan. Mereka pun makan bersama.


"Tadi Kendrik datang ke studio. Kami ngobrol banyak. Akh anak itu ... masih suka berantem sama kamu?"


"Kadang masih."


"Rasanya asyik ya kalau kita ketemu sama orang yang udah tahu karakter kita sejak lama. Cerita juga nyambung."

__ADS_1


Haris menunggu reaksi Karen terhadap kata-katanya yang mungkin menggelitik hati itu.


Karen mengangguk. "Tapi jangan juga terjebak nostalgia. Masa lalu itu bisa hanya jadi sejarah yang dipelajari untuk diambil pelajarannya aja, nggak untuk diulang."


"Hahah, siapa juga yang mau ngulang, kepedean banget kamu, Ren!"


"Pppfffttt ...." Karen malu sendiri.


"Kalau Daniel, kamu udah tahu sejarah kelam dia?"


Karen tertegun dengan pertanyaan itu.


Aku sama sekali nggak tahu apa-apa tentang si patung anubis itu. Langsung kayak kena smash tepat di muka kalau ditanyain ini. (Karen).


Aku tahu kamu jadi penasaran sama orang yang baru kamu kenal seumur jagung jtu. Kamu bakal kaget sekelam apa sejarah dia. (Haris).


"Aku tahu banyak tentang Daniel kok." Karen berusaha menyelamatkan wajahnya.


"Kalau sebatas tahu tentang kesukaan tokoh superheronya, belum bisa dibilang tahu." Haris tersenyum sembari menaikkan kedua alisnya.


Pengetahuan Karen tentang Daniel memang hanya sebatas Ironman, komik dan sifat obsessive cleaning-nya.


Karen menghela napas dalam-dalam. Dia penasaran, sejarah kelam macam apa yang mungkin dipunyai Daniel sang dokter yang sangat sulit untuk bicara itu.


"Sejarah kelam yang kayak gimana maksud kamu Ris?"


"Oh, jadi kamu belum tahu? Kamu bilang kamu kenal dia udah lama, kok belum tahu?" kata Haris sembari menikmati paniknya wajah Karen.


Kena smash lagi aku. (Karen).


To be continued...


Jogja, May 27th 2021


***


Hai readers, hari ini adalah hari yang bersejarah bagi kami warga Yogyakarta.


Sekilas cerita, 27 Mei 2006 jam 6 pagi, Yogyakarta diguncang gempa. Saat itu author tinggal di kawasan Bintaran.


Di depan tempat tinggal author ada sekolah dengan tembok yang udah tua dan jaraknya sangat mepet dengan pemukiman.


Saat gempa, tembok tua itu runtuh. Alhamdulillah author selamat dari reruntuhan. Tapi banyak banget temen author di situ yang kakinya patah terkena reruntuhan tembok😭😥.


Karena author sehat wal afiat, author+sahabat author yang juga sehat, dikasih tugas untuk kirim makanan ke RS di mana teman-teman dirawat.


Masuk PKU Muhammadiyah (jln ahmad dahlan), pasien membludak sampai trotoar. Author sampai sesenggukan nangis di situ.


Dan yang menyayat hati adalah bau anyir yang tercium di situ. Semua terluka, ada yang terluka di kepala, badan, kaki, 😥😥😥.


Masuk juga kami ke RS Sardjito yang juga dengan keadaan yang sama. Paling sedih adalah mereka yang sedang dirawat di ICU😥, salut untuk para nakes yang tetap merawat para pasien meski gemeteran dan dilanda ketakutan.


Semoga para korban meninggal diterima di sisiNya.


Semoga kita diberi perlindungan dan kesehatan dariNya. aamiin🙏.

__ADS_1


__ADS_2