
Daniel menggaruk-garuk kepalanya dan keluar dari walk in closet.
"Kok nggak dijawab? Kenapa tidur di closet?" Karen mengulangi pertanyaannya.
Daniel hanya menatapnya datar kemudian beranjak mandi.
Karen bersiap-siap dan menunggu Daniel di meja makan. Dia mengumpulkan tenaga untuk marah.
"Bi Sum, masak apa?"
"Den Daniel kemarin minta dibikinin roti panggang keju, telur ceplok sama sosis, Non. Silahkan sarapan, Non," kata Bibi Sum sembari berlalu melanjutkan tugas lainnya.
"Makasih, Bi."
Melihat sarapan hari ini, selera Karen tergugah. Apalagi matahari sangat cerah membuat mood begitu sempurna. Dia duduk dan mulai menikmati roti yang diatasnya terdapat lumeran keju mozarela hangat dan telur mata sapi, ditambah sosis berukuran besar yang mengenyangkan. Benar-benar sarapan yang sempurna.
Tidak lama Daniel bergabung dan turut menikmati sarapan pagi.
Karen menatapnya tajam. Namun mood-nya yang sedang baik tidak mengijinkannya marah-marah pagi ini.
Akh, ya udah, ngomong baik-baik aja. (Karen).
"Niel, kenapa beli kasur baru?"
"Nggak apa-apa," jawabnya, singkat.
"Padahal kan aku udah bilang kalau bakal aku bersihin. Belum sempet aku apa-apain, kamu main beli yang baru aja. Kemarin aku marah banget." Karen berkata dengan nada biasa saja, tidak terdengar sedang marah.
"Maaf."
"Fyuh, ya udah deh ...." Biasanya Karen tidak melepaskan begitu saja dan akan memburu hingga Daniel bicara. Namun, keju mozarela hangat mampu membuat mood-nya baik pagi itu.
Karen malah tersenyum.
Enak banget sih ini keju. Hmm. (Karen).
Kayaknya dia sama sekali nggak inget ngatain aku brengsek sambil nunjuk mukaku kayak orang mabuk semalam. (Daniel).
Karen meneguk susu coklatnya.
Bersamaan dengan itu, sebuah pesan Chatsapp masuk ke ponsel Daniel.
"Ren," panggil Daniel sembari menunjukkan isi chat itu kepada Karen.
π±Haris: Niel, boleh aku minta nomor handphone Karen?
"Kasih aja nomerku," katanya sembari menghabiskan susu dan berdiri hendak berangkat mendahului Daniel. "Aku berangkat duluan ya!" Tak lupa mencium punggung tangan suaminya.
Daniel memberikan nomor ponsel Karen kepada saudaranya itu dan segera berangkat ke rumah sakit.
***
"Bos gendeng kita udah dapet fotografer belum sih? Ini kontennya udah butuh ilustrasi nih, terutama produk teh kelor, soalnya mau diekspor jadi harus yang HD dan bagus gambarnya."
"Sabar, baru juga kemarin ngiklan. Studionya juga baru jadi kemarin. Aku aja masih ada tunggakan kerjaan gara-gara ditinggal buat ngurus studio baru." Citra menenangkan rekan kerjanya.
__ADS_1
"Bilangin dong ke si Bos, suruh cepet cari fotografernya. Sehari ngiklan udah banyak yang masukin resume kok. Masak sih nggak ada satu pun yang memenuhi kriteria?"
"Bilang sendiri lah!" jawab Citra.
"Kamu aja, Cit, atau Mbak Inda. Aku takut kalau si Bos ngamuk kayak orang kesurupan."
"Sekarang udah beda, dia kan udah nikah."
Karen memasuki kantor.
"Hei kalian berdua, aku masuk kok langsung diem? Lagi ngomongin aku ya?"
"Enggak Bos, hehe, dah ya Bos, mau beli mie cup dulu di minimarket sebelah, bye bye."
"Bos Black Widow, para penulis lagi nunggu banget ilustrasi gambar, soalnya yang produk-produk ekspor butuh HD picture." Akhirnya Citra yang menjadi penyambung lidah para penulis.
"Ikh kamu nih, kan baru kemarin aku pasang iklan. Dari resume yang masuk, belum ada yang cocok. Sabar dikit nape! Pengen bikin aku tambah stres?"
"Eit eit Bos, jangan ngamuk dulu. Ini kan cuma menyampaikan aspirasi. Habis gimana, banyak yang minta cepet juga sih."
"Hmm, ya udah doain aja segera nemu fotografernya. Sementara ini, kamu cari gambar non watermark di search engine Tugel ya, semangat!" Karen berlalu dan memasuki ruangannya.
Citra menepuk dahinya sendiri.
Lhah kan, jadi aku yang musti cari gambarnya. Emangnya gampang cari gambar sesuai tema?! Non watermark pula. Gambar-gambar sekarang dikasih watermark segede gaban, tahu! (Citra).
Karen duduk dan menghidupkan laptop. Dia langsung memeriksa email, melihat-lihat para pelamar kerja.
Banyak yang memberikan portofolio yang bagus, namun tidak memiliki kamera. Ada yang portofolionya kurang baik, namun memiliki kamera.
Apa aku pakai head hunter aja ya buat cari fotografer. Akh, emang sebesar apa perusahaanku sampai pakai jasa head hunter? (Karen).
π"Pagi Nyonya Daniel," sapa pria di seberang sana.
Meski lewat sambungan telepon, Karen tahu itu Haris.
π"Pagi. Haris ya? Ada apa, Ris?"
π"Aku lagi lihat website kamu, lagi cari fotografer ya?"
π"Yap, kamu betul, Bung."
π"Aku mau daftar, boleh?"
π"Hah? Ehm, bo-boleh. Langsung aja kirim resume ke e-mail yang ada di situ."
π"Nggak mau, aku kan kenal orang dalem."
π"Oh ya? Siapa?"
π"Ya kamu, orang dalem sekaligus punya jabatan tertinggi alias bosnya. Jadi gimana? Boleh aku daftar tapi aku kirim resume lewat Chatsapp pribadi bu bos?"
π"Ah ya, boleh kok. Eh, kamu udah pulang dari Spore?"
π"Iya, hari ini aku turun di Koja International Airport. Gimana kalau nanti jam makan siang kita ketemu bahas ini?"
__ADS_1
π"Oh, ehm, nanti aku kabarin lagi. Aku mau diskusi sebentar sama asistenku."
π"Oke, aku tunggu kabar baiknya."
Mereka mengakhiri panggilan telepon itu.
Duh gimana nih, masak mantan sendiri mau kerja di sini. Diterima, bakal canggung. Kalau nggak diterima, bakal nggak enak. Hush, tenang Karen, obyektif dan profesional. (Karen).
Haris pun mengirim resume kepada Karen melalui Chatsapp. Karen melihat-lihat hasil foto dan editing yang dilakukan Haris.
"Hai, Bos Black Widow," sapa Inda yang baru saja datang. "Kenapa tuh si Citra mukanya ditekuk gitu? Bos marahin dia?"
"Enggak tuh, aku cuma nyuruh dia cari gambar HD non watermark sebelum kita dapet fotografer."
"Jyah, pantesan aja! Udah ada yang cocok belum, Bos? Keburu botak kepala si Citra."
"Buka aja e-mail-nya, kamu bantu pilih lah!"
Inda segera turut memilih. Pendapat Inda pada resume-resume itu sama dengan Karen.
"Kalau aku sih belum ada yang cocok, Bos. Ada satu yang menarik nih, angle-nya bagus, tapi kualitas gambarnya kurang bagus. Mau coba dipanggil?"
"Telepon aja."
"Nggak langsung interview aja di kantor, Bos?"
"Gini lho, alamat dia ini jauh dari sini. Kita telepon aja dulu. Kalau misalnya ada kesinkronan, baru dipanggil. Kalau nggak ada, kasihan dia dia jauh-jauh ke sini. Hemat waktu juga, fast screening."
Karen tidak ingin menyusahkan para pelamar kerja. Dia tidak akan menyuruh mereka mengirim lamaran dalam bentuk cetak karena memakan banyak biaya dan menimbulkan sampah kertas terlalu banyak, hal yang dibenci Karen.
Dia juga tidak akan menyuruh mereka jauh-jauh datang ke kantor jika memang tidak sesuai. Sebagai tahap awal penyaringan, dia akan memeriksa resume dan melakukan panggilan telepon.
"Di-chat dulu, dia available untuk panggilan telepon atau enggak. Jangan-jangan dia lagi mandi atau lagi nyetir, atau lagi boker. Kan nggak lucu telponan sambil ngeden."
"Hahah, jijay amat Bos ini."
Inda menuruti perintah bosnya untuk mengirim pesan terlebih dahulu. Setelah mendapat konfirmasi, Inda menelpon. Namun, pelamar itu pun belum masuk kriteria yang dicari.
"Bos denger sendiri kan tadi, dia pakai kamera handphone, Bos."
Karen memandang Inda sambil memanyunkan bibirnya, tanda kecewa. Dia pun membuka aplikasi Chatsapp dan memeriksa resume dari Haris.
"Kalau yang ini?" Karen menyerahkan ponselnya kepada Inda. "Coba kamu lihat! Menurut kamu gimana?"
Inda melihat-lihat foto-foto hasil tangkapan Haris.
"Nah ini bagus, Bos, jernih dan angle-nya tepat. Dan yang paling penting, dia punya kamera sendiri."
Sedari tadi, Karen juga berpikir begitu. Namun, dia sengaja mengesampingkan Haris dan mengutamakan para pelamar lain.
Hah, apa boleh buat. Emang hasil jepretan Haris bagus. Tapi kenapa ya, ehm kenapa dia mau jadi fotografer di sini? Kerjaannya yang dulu gimana? (Karen).
Karen mengingat-ingat saat mereka bertemu di lounge hotel. Dia memang tidak banyak membicarakan pekerjaannya sekarang.
Namun, dia bahkan baru saja pulang dari Spore. Kenapa dia ingin bekerja di sebuah perusahaan kecil seperti perusahaan Karen?
__ADS_1
To be continued...
Jogja, May 23rd 2021