
Selama satu bulan mereka menghabiskan honeymoon di California. Mereka tak peduli dengan pekerjaan mereka yang menunggu.
Buat apa ada asisten jika tak bisa di andalkan.
Fatih dan Shofi benar-benar menghabiskan waktu mereka bersama karena mereka tahu kesibukan apa yang akan mereka jalani. Mungkin nanti antara Shofi dan Fatih akan jarang bertemu dan menghabiskan waktu bersama di lihat dari kesibukan keduanya yang sama-sama memegang sebuah perusahaan besar.
Untuk itulah mereka berlibur selama satu bulan memuaskan satu sama lain. Fatih berharap kerja kerasnya segera membuahkan hasil yang sangat baik.
Walau Fatih juga tak terlalu memaksa Shofi untuk segera hamil bagi Fatih kenyamanan Shofi adalah hal yang paling utama.
Sudah lama menghabiskan waktu bersama Fatih dan Shofi di sibukkan dengan pekerjaan nya masing-masing mereka akan bertemu di malam hari. Itupun kadang Shofi sudah tertidur atau Fatih yang tertidur duluan.
Namun hubungan mereka tetap harmonis seperti biasanya.
Pada akhirnya pekan mereka akan menghabiskan waktu bersama entah liburan atau jalan keluar mencari suasana baru untuk menumbuhkan kisah mereka.
Terlintas di ingatan Shofi bagaimana kabar keponakan cantiknya. Apa Mentari sudah tumbuh kuat. Ingin sekali Shofi membicarakan amanah ini pada sang suami namun Shofi belum cukup keberanian. Mengingat suasana di Indonesia juga belum stabil.
Namun Shofi tak lepas tanggung jawab dengan amanah itu. Shofi memerintahkan anak buahnya untuk selalu menjaga keponakan cantiknya.
Walau Shofi tahu kekuatan mertuanya jauh lebih hebat dari dirinya terbukti sampai empat tahun Shofi tak bisa mendapatkan kabar Fatih.
Namun, Shofi akan tetap memantau perkembangan keponakannya sampai waktu tiba di mana Shofi harus membawa Mentari ke Jerman.
Indonesia terlalu banyak kenangan yang tentu membuat Mentari merindukan sosok kedua orang tuanya.
Rencananya Shofi akan meminta sang suami berkunjung ke Indonesia guna melihat perkembangan keponakan cantiknya.
Ting ...
Sebuah pesan masuk membuat Shofi sejenak menghentikan pekerjaan nya.
Shofi tersenyum melihat Poto baby mungil yang begitu lucu. Ingin sekali Shofi memeluknya. Wajah begitu melekat campuran dari kedua orang tuanya. Namun, tatapan teduh itu sama persis seperti Amira.
Tanpa sadar Shofi mengelus perutnya sendiri. Shofi membayangkan bagaimana jika ia mengandung keturunan Al-biru.
Sepertinya keluarga kecil mereka semakin lengkap dengan kehadirannya.
"Kapan kamu tumbuh nak, kamu pasti senang punya kakak yang sangat cantik!"
Gumam Shofi sambil mengelus perutnya dengan tatapan tak lepas dari photo Mentari.
Belum ada tanda-tanda Shofi hamil padahal pernikahan mereka sudah menginjak bulan ke tiga tapi belum ada tanda-tanda Shofi hamil.
Padahal walau pun waktu mereka padat Shofi dan Fatih selalu berusaha tetap dinas.
Drett ...
Shofi terkejut ketika ada panggilan masuk membuat lamunan Shofi seketika buyar.
Tapi rasa terkejut itu berganti oleh senyuman melihat siapa yang menelepon.
"Hallo sayang,"
"Iya Dear!"
"Sudah makan siang belum!"
Shofi menggelengkan kepala membuat Fatih tersenyum.
"Buka pintunya aku mau masuk!"
"Hah, dear!"
Shofi terperangah sambil menegakan duduknya ternyata Fatih ada di depan pintu ruangannya.
Dengan cepat Shofi menekan tombol remote dengan otomatis pintu itu terbuka.
__ADS_1
Fatih masuk sambil membawa makan untuk sang istri dan dirinya.
Shofi berhambur memeluk Fatih dengan Fatih langsung mengecup puncak kepala sang istri.
"Kangen!"
"Maafkan aku ya, jarang ada waktu buat kamu!"
"Kapan libur dear?"
"Kurang tahu, kenapa?"
"Aku mau berkunjung ke Indonesia!"
Seketika Fatih menghentikan aktivitas memindahkan makanan ke atas piring.
"Kamu mau ke Indonesia?"
Tanya Fatih memastikan membuat Shofi mengangguk cepat.
"Sayang kapan ambil libur?"
"Mungkin akhir bulan depan, seperti nya proyek sudah selesai!"
Fatih terdiam sejenak mengingat-ingat jadwal dirinya. Akhir bulan depan seperti Fatih masih sibuk tapi Fatih juga tak mungkin menolak keinginan sang istri.
Pekerjaan Fatih dan Shofi memang lebih padat Fatih. Apalagi Fatih CEO baru yang mungkin harus banyak yang Fatih pelajari apalagi Fatih sedang merekrut karyawan baru dari berbagai divisi karena yang sebelumnya sudah Fatih keluarkan bagian orang-orang yang terlibat korupsi.
Sedang Shofi sudah ada orang-orang handal jika ia tak ada. Terutama Elsa dan Philip yang selalu bisa di andalkan.
Melihat Fatih terdiam membuat Shofi merasa tak enak. Sudah di pastikan pekerjaan Fatih masih banyak.
"Kalau gak bisa gak apa, Dear!"
"Akan ku usahakan, sabar ya!"
"Iya,"
Fatih menyuapi Shofi dengan senang hati Shofi menerimanya.
Mereka saling suap menyuapi satu sama lain sampai habis.
Fatih kembali membereskan bekasnya sendiri tanpa menyuruh Shofi. Bagi Fatih tak harus Shofi melulu yang melayaninya apa salahnya Fatih yang melayani Shofi.
"Sayang,"
"Hm!"
"Besok aku harus pergi!"
"Sudah ku duga!"
Ketus Shofi mengerucutkan bibirnya kesal dengan apa yang sang suami ucapkan. Selalu saja mendadak memberi tahunya.
"Cuma satu hari sayang, gak apa kan!"
"Hm,"
"Jangan cemberut dong!"
Fatih mengangkat sang istri ke atas pangkuannya. Shofi hanya diam saja dengan wajah yang di tekuk. Fatih selalu saja begitu andai saja memberi tahunya dua atau tiga hari keberangkatan mungkin Shofi akan meluangkan waktu bersama sang suami. Jika mendadak begini bagaimana bisa mereka menghabiskan waktu bersama.
"Aku janji hanya satu hari!"
"Kemana?"
"Paris!"
__ADS_1
"Janji satu hari?"
Cup ...
Bukannya menjawab Fatih malah mencium bibir Shofi. Awalnya hanya sebatas menempel namun Fatih menggerakkannya perlahan sangat lembut hingga membuat Shofi terbuai. Jika begini Shofi tak bisa menolak dan di pastikan mereka akan menghabiskan waktu siangnya dengan mengarungi surga dunia.
"Dear!"
Lilir Shofi menatap sang suami penuh damba begitu pun dengan Fatih.
Fatih mengangkat Shofi seperti koala tanpa melepaskan ciumannya.
Mereka masuk kedalam kamar pribadi Shofi lalu Fatih mendudukkan sang istri di bibir ranjang.
"Tunggu .. tunggu ...,"
Cegah Shofi menahan dada bidang Fatih membuat Fatih menggeram karena sudah tak bisa menahan lagi bahkan wajahnya sudah sangat memerah.
"Ada apa sayang, ini sangat menyiksa!"
"Aku ada rapat!"
Duarr ...
Fatih melotot tak percaya dengan apa yang sang istri ucapkan. Bagaimana bisa tak memberi tahunya sejak awal padahal kepala Fatih sudah ingin meledak.
"Tak bisakah di tunda!"
"Tak bisa Dear,"
"Sial!"
Geram Fatih mengacak-acak rambutnya prustasi.
Bagaimana bisa begini ini sangat tanggung sekali membuat Fatih benar-benar prustasi.
Bruk ...
Tubuh Fatih terlempar ke atas shopa dengan mata melotot dengan apa yang sang istri lakukan.
"Sayang!"
Shofi naik keatas pangkuan sang suami tanpa bicara lalu mengecup bibir merah Fatih. Fatih yang kembali di pancing tentu tak bisa melewatkan ini semuanya. Seperti nya kali ini Shofi yang akan memegang kendali.
Fatih pasrah saja dengan apa yang sang istri lakukan pada dirinya.
"Sayang, bukankah ada rapat?"
"Tapi boong!"
Dam ...
Fatih menatap tak percaya pada sang istri bagaimana bisa sang istri mempermainkan dirinya.
"kau harus di hukum!"
"Hukumlah, aku siap!"
Mereka berdua malah terkekeh sungguh Fatih tak bisa marah walau sedetikpun. Melihat wajah sang istri yang menggemaskan membuat Fatih ingin selalu menerkamnya.
Pada akhirnya dinas siang ini tak bisa mereka hindari. Apalagi Fatih sudah sangat merindukan momen ini begitu juga dengan Shofi.
Mereka benar-benar mengarungi lautan terdalam yang begitu indah. Entah berapa lama mereka menyelam satu sama lain seolah tak ada puasnya.
"Terimakasih sayang,"
Ucap Fatih tersenyum puas menatap sang istri penuh cinta.
__ADS_1
Bersambung ...
Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ...